
Tadi sebelum pulang Kim memberi hadiah pada Sraya berupa kartu sakti berwarna hitam yang diterbitkan secara resmi dan eksklusif oleh pihak bank.
Cara mendapatkan black card memang tidak seperti pengajuan kartu kredit reguler, sebab kartu ini eksklusif sehingga hanya diperuntukkan bagi nasabah prioritas.
"Kakek terlalu berlebihan ngasih aku kartu itu, Mas."
Sraya memperhatikan wajah Akram. Suami tampan nya itu terlihat puluhan kali lebih tampan saat sedang memakai kacamata baca dan menatap maacbook dalam mode serius.
"Kamu bisa make kartu itu kalau mau, karena kakek sendiri yang maksa kamu buat nerima," ucap Akram melipat macbook nya dan fokus pada Sraya.
"Aku belum kepikiran, lagian suami ku ini orang kaya. Jadi aku belum ada alasan untuk make kartu itu," jawab Sraya yang membuat Akram tersenyum.
Bila wanita lain mungkin akan langsung memanfaatkan fasilitas apa saja yang akan didapat saat mengeluarkan kartu sakti itu. Belanja barang mahal, layanan VIP, menutup sebuah toko untuk bisa berbelanja secara pribadi dan masih banyak lagi.
"Istriku ini orang yang pelit sama diri sendiri," seru Akram.
Entah itu sindiran atau sebuah pujian yang di ucapkan nya, ia memeluk istrinya dan memberi ciuman beberapa kali di pipi Sraya dengan gemas.
"Mas, udah ah. Geli," seru Sraya.
"Mas gemes sih, soalnya."
"Mas mau makan siang sekarang?" tanya Sraya untuk menghentikan aksi suami nya.
"Hmm ... kamu mau masak apa, Dik?"
"Di kulkas masih sisa udang dan kangkung, Mas. Aku belum belanja mingguan."
"Yaudah, abis makan siang gimana kalo kita belanja?"
"Mas, aku juga mau beli bahan-bahan untuk buat kue ya." Sraya bergelayut manja di lengan Akram.
"Boleh-boleh aja ... tapi kamu harus cium Mas dulu," pinta Akram.
Sraya mengecup pipi Akram kanan dan kiri, hidung mancung suaminya, kening, dan terakhir bibir. Sebelum suaminya itu meminta lebih dari dirinya, Sraya bergegas ke dapur untuk memasak.
"Loh, kok kabur sih, Dik. Mas belum balas ciuman kamu loh," ucap Akram terkekeh.
"Gak mau, yang ada nanti aku gak jadi masak," teriak Sraya dari dapur.
Sraya membersihkan udang lalu memetik daun kangkung yang bagus untuk di masak, kemudian ia mengiris beberapa bumbu dan menghaluskan nya dengan cooper.
Aroma bumbu sangat harum tercium saat Sraya mulai memasak. Membuat Akram sangat penasaran dengan istrinya itu yang sedang sibuk di dapur, Akram menghampiri Sraya dan memeluk nya dari belakang.
__ADS_1
"Dari aroma nya aja udah pasti enak ini masakan istri, Mas." Akram membenamkan wajah nya di ceruk leher Sraya.
"Mas, aku lagi masak ih," protes Sraya.
"Yaudah kamu masak aja, Mas gak ganggu kok."
Sraya hanya memandang suami nya sekilas, dan tidak lagi menghiraukan aksi Akram. Dengan cekatan Sraya menambahkan beberapa bumbu dan saus tiram untuk memperkaya rasa dari udang yang sedang ia masak.
"Mas, coba cicip gimana rasanya?"
Akram menerima suapan sendok dari Sraya dan merasakan hasil masakan istrinya yang sangat lezat dan pas di lidah.
"Enak banget, masakan apapun yang kamu buat selalu enak." Ia memuji masakan istrinya dan mengecup pipi mulus Sraya.
Ting.
Suara bell berbunyi, Akram melepaskan pelukan pada Sraya dan dengan santai menuju pintu untuk membuka kan nya. Terlihat Amel pada layar kecil di samping pintu apartement Akram yang canggih.
"Assalamualaikun, Mas," sapa Amel dengan Senyum cerah nya saat Akram yang membuka pintu.
"Walaikumsalam, Mel," jawab Akram.
Sraya yang sudah mulai menata makanan yang ia masak ke meja makan melihat kedatangan Amel.
"Naik taxi online, Mba. Tadi aku nelpon Mas Akram minta jemput ga di jawab," jawab Amel.
"Maaf mel, Mas ga denger. Tadi aku bantuin Sraya masak," jawab Akram datar.
Amel memasang bersikap biasa saja dan memcoba tersenyum padahal hatinya kesal karena Akram tak menjawab telepon nya. Apalagi saat melihat Sraya menuangkan nasi untuk Akram yang di balas ciuman Akram di punggung tangan Sraya.
"Mel, kok malah bengong. Cuci tangan terus kita makan samaan," tegur Sraya.
Amel hanya menganggukan kepala dan mengikuti perkataan Sraya.
"Mba masak apa?" tanya Amel sambil mendudukan pantat nya di kursi makan.
"Mba masak udang saus padang sama tumis kangkung, Mel."
Amel memandangi udang yang Sraya masak. Ia ragu untuk memakan nya karena ia alergi makanan sejenis itu, tapi bukan alergi yang parah. Lalu ia tersenyum dan ingin mengambil keutungan dari masakan Sraya.
Sraya hendak duduk tapi ia urungkan karena terdengar tangis Sagara, dengan sigap ia menghampiri anak angkat nya di kamar.
"Anak ibu udah bangun. Kenapa, Nak. Sagara haus ya?" tanya Sraya pada bayi yang belum bisa apa-apa.
__ADS_1
Sraya membuatkan Sagara susu formula dan membawa nya ke meja makan. Ia melihat Amel yang mengelap mulut Akram dengan tissue karena terdapat saus di sudut bibir Akram.
Sraya berdehem membuat Amel tersenyum penuh arti menatap kedatangan Sraya, Akram yang melihat Sraya menggendong Sagara segera menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Mas tuh kebiasaan banget kalo makan suka belepotan. Tuh, Amel sampe kerepotan ngelapin mulut, Mas," sindir Sraya untuk Amel.
"Maaf ya, Mba. Tadi aku reflek bersihin mulut Mas Akram." Amel meremat lembut tissue bekas Akram dan senyum menantang.
"Abisnya makanan yang kamu buat selalu enak. Mas semangat banget makan masakan kamu, Dik."
Sraya tersenyum puas mendengar pujian dari Akram dan melirik Amel yang sedikit kesal. Ia tidak mau lengah dari gadis kecil yang ingin mengganggu keluarga kecil nya.
"Dik, kamu makan bareng Mas aja. Sini mas suapin, kamu pasti laper juga abis masak. Sagara juga udah bangun ya." Akram menyuapi Sraya.
"Anak Ayah juga laper ya?" Akram mengajak Sagara mengobrol dan menyuapi Sraya lagi.
Amel yang melihat hal itu segera menghabiskan makan nya dan pamit lebih dulu ke kamar, setelah makan siang Akram dan Sraya beriap-siap untuk pergi berbelanja.
Sraya selalu senang mengenakan dress selutut, ia memulas blushon di pipi mulusnya dan lipstik berwarna peach untuk membuat tampilan nya terlihat segar.
Akram sendiri memilih kaos oblong hitam yang membungkus tubuh sixpacknya dengan celana jeans biru dongker yang terlihat casual. Sraya tidak lupa mendandani Sagara dengan baju bayi yang sangat menggemaskan, sepatu dan juga topi.
"Mba dan Mas mau kemana?" tanya Amel yang sedang menonton tv di ruang keluarga.
"Mel, titip apartement ya. Aku sama Mas Akram mau pergi sebentar belanja mingguan," jawab Sraya menjekaskan.
"Loh, kok ga bilang-bilang sih. Tau gitu Amel juga mau ikut."
"Kami bentar aja kok, Mel." Sraya menepuk bahu Amel sebelum berlalu.
"Amel takut kalo di tinggal sendirian, Mas." Amel menatap Akram dengan tatapan mengiba.
"Gak usah takut Mel, nanti juga kan kalo kamu udah mulai ngekost bakal tinggal sendiri. Ya, hitung-hitung membiasakan diri dari sekarang." Sraya melingkarkan tangan nya pada pinggang Akram dan menatap Amel.
"Sraya benar Mel, yaudah Mas dan Mba pergi dulu ya bentar."
Akram dan Sraya meninggalkan Amel sendirian di apartment. Kata-kata Sraya untuk menyuruhnya membiasakan diri hidup sendiri sangat menusuk perasaan nya, terlebih dia tidak diberi kesempatan untuk ikut dengan mereka.
Perkiraan Amel benar. Selang beberapa jam setelah makan masakan Sraya, timbul ruam merah di tubuh Amel. Tetapi ia tidak panik karena sudah menyiapkan obat alergi yang selalu ia bawa dan langsung meminumnya. Tak apalah berkorban sedikit, yang penting nanti ia akan mendapat perhatian Akram.
Ia memasang wajah sedih nya dan melakukan panggilan ke nomor Akram.
..."Kenapa Mel?" tanya Akram di seberang sana....
__ADS_1
"Mas, bisa pulang sekarang? Badan amel ruam merah, kayaknya amel kena alergi gara-gara makan udang."