Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Draft


__ADS_3

"Mas, kita mau kemana? Kok mata aku sampe ditutup gini, Mas?"


Sraya berjalan dengan hati-hati karena Akram saat ini menutup matanya dengan sebuah kain hitam. Setelah makan siang tadi, tiba-tiba Akram mengajak Sraya ke suatu tempat.


Awalnya Sraya tidak curiga, tetapi saat mereka sudah melakukan setengah perjalanan, Akram bilang kalau ia memiliki kejutan untuk Sraya.


"Iya, Bu. Ini kita sudah sampe kok, kamu pasti bakal suka dengan tempatnya," ucap Akram.


"Bu?" tanya Sraya dengan nada suaranya yang menahan agar tidak tertawa.


"Iya, Ibu. Mulai sekarang, Mas, akan manggil kamu dengan panggilan Ibu."


"Hahaha ... terus, Mas. Sendiri panggilannya apa?"


"Ayah! Mas pingin dipanggil ayah dengan anak-anak kita nanti."


Dengan sangat hati-hati, Akram menuntun Sraya menaiki anak tangga, dan membawa masuk ke dalam caffe yang akan segera ia buka, sedangkan Sagara tidur dengan nyaman dalam gendongan Sraya.


Perlahan Akram membuka penutup mata Sraya. "Ini kejutan buat kamu, Dik. Semoga kamu suka."


Sraya menelusuri setiap sudut caffe dengan pandangan yang bingung, kejutan apa? Ia masih belum mengerti apa yang dimaksud Akram. Tidak ada meja yang dihias, kue, ataupun yang berhubungan dengan kata kejutan seperti pada umumnya.


"Dimana meja yang udah, Mas. Pesan?" tanya Sraya.


Akram menahan tawa melihat wajah polos Sraya. "Semua meja yang ada di caffe ini sudah aku pesen semua, untuk kamu, Dik."


"Mas booking caffe ini?" tanya Sraya masih dengan wajah bingung nya.


Akram membelai rambut hitam Sraya yang terurai indah, kemudian menatap istrinya dengan penuh kasih. "Mas udah membeli caffe ini untuk kamu, mas tau kamu hobi masak dan kamu punya potensi yang besar. Mas, mau kamu memulai apa yang udah jadi impian kamu, semoga kamu suka."


Sraya mendengar dengan baik setiap kata yang keluar dari bibir tipis Akram, ia merasa terharu dan bahagia. Menikah dengan Akram adalah satu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Pernikahan dia dan Akram yang dilakukan secara mendadak, ternyata tidak kalah hangat dengan pasangan-pasangan yang didasari rasa cinta sebelum menikah. Dan Sraya sangat bersyukur akan hal tersebut.


"Mma–as beli caffe ini, untuk aku?"


"Iya, surat-surat dan kepemilikianya sudah tertulis nama kamu, Dik. Sini biar Sagara aku yang gendong, kamu lihat-lihat dulu aja isi caffe ini." Akram mengambil Sagara dan bergantian menggendongnya.


Sraya memperhatikan setiap detail dan sudut caffe ini. Terdapat beberapa set meja dengan sofa, maupun meja dan kursi yang memiliki kapasitas berisi dua, empat, dan enam tamu. Dengan berbagai bentuk dan jenis yang unik.


Area kasir yang memiliki ukuran panjang dua meter, dilengkapi sistem MPOS dengan dua buah tab minimalis, yang dapat disesuaikan dengan layout caffe untuk menginput pesanan dan pembayaran. Serta etalase kaca untuk meletakkan produk.


Di samping meja kasir ada sebuah meja barista, berisi mesin ice cream dan mesin pembuat kopi, dengan toples kaca berisi contoh biji kopi yang tersusun rapih di rak kayu. Tidak lupa sebuah papan dibagian atas yang menampilkan iklan dan info produk.


Beberapa pot tanaman yang diletakan di beberapa sudut caffe, semakin menambah kesan natural.


Akram mengikuti setiap langkah istrinya, mata Sraya berbinar dan menahan haru. "Mas, aku gak tau harus bilang apa? Makasih karena, Mas. Udah mewujudkan apa yang aku cita-citakan selama ini."


Akram semakin bangga dan bahagia dengan reaksi Sraya, ia memeluk hangat tubuh istrinya. "Mas sangat yakin kamu mampu, dengan kemampuan kamu mengolah makanan, juga pengalaman kamu bekerja dengan Willian. Pasti kamu bisa membuat maju caffe ini."


"Bukan aku, Mas. Tapi kita, aku dan kamu. Pasti bisa sukses dan memulai bisnis ini dengan baik."


"InsyaAllah ... Dik, habis dari sini kita beli beberapa furniture dan alat-alat baru buat caffe kita, dan kamu tidak akan bekerja sendiri, Mas. Akan mempekerjaan beberapa koki untuk membantu kamu."


"Makasi banyak, Mas. Aku sayang bangettt sama kamu." sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Akram, hal yang sangat disukai Akram tentu saja tidak akan cukup kalau hanya sekali. Akram melumatt bibir manis Sraya.


Mereka menghentikan kegiatanya sebelum Akram lepas kendali, terlebih Sagara sudah merengek karena merasa dihimpit diantara ibu dan ayah sambungnya itu.

__ADS_1


Mereka tertawa kecil. "Kamu laper gak, Dik? Kita cari makan dulu yuk, sebelum kita belanja," ajak Akram.


"Iya aku udah laper, Mas. Mau makan apa?" tanya Sraya.


"Belum kepikiran, sambil jalan aja. Siapa tahu kita nemuin makanan yang menarik." Mereka berdua keluar dari caffe dan melanjutkan perjalanan mereka.


Siang ini cuaca sedikit mendung, Akram membuka sedikit jendela mobilnya. Tercium aroma soto yang sangat harum, ia melihat sisi kiri jalananan, terdapat sebuah warung soto sederhana dengan tenda biru.


"Kita makan di warung soto itu yuk, Dik. Dari harumnya aja kayaknya udah enak," ajak Akram.


"Boleh, Mas. Lagian aku udah laper banget."


Akram menepikan mobilnya tidak jauh dari warung soto tersebut. Ia keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Sraya, mereka berdua berjalan berdampingan menuju warung soto dan mihat spanduk bertuliskan warung soto haji Usman.


Akram memilih meja panjang paling pojok. Dan seorang lelaki paruh baya segera menghampiri mereka. "Selamat siang, Pak, Bu. Ini menunya silahkan dibaca. Nanti kalau mau pesen panggil saya aja."


"Langsung aja, Pak. Saya pesen soto ayam kampung dua porsi, soalnya tadi saya udah nyium aromanya udah enak banget," ujar Akram.


"Soto ayam kampung dua porsi, mau pakai lontong atau nasi, Pak?"


"Kamu mau pakai nasi atau lontong, Dik?" tanya Akram pada Sraya.


"Saya nasi aja pak, minumnya teh hangat gula nya dikit aja ya, Pak."


"Saya juga, Pak. Samain dengan istri saya."


Lelaki itu dengan segera membuatkan pesanan Akram dan Sraya. Panci tempat kuah soto yang baru dibuka semakin membuat Akram merasa lapar.


Warung soto ini tampaknya baru ramai pengunjung, terlihat dari bekas-bekas mangkuk kosong yang sedang dibersihkan oleh seorang gadi yang umurnya tidak jauh dari Sraya.


"Mas, kayaknya gadis itu seumuran dengan Nastiti ya," ucap Sraya. Rupanya ia juga ikut memperhatikan seisi warung ini.


"Dia namanya Labiqa, Pak. Gadis itu ikut bantu-bantu diwarung saya, biasanya dari pagi sampe siang dan sorenya kerja ditoko bunga. Tapi sayang kemarin baru dipecat. Saya pak Usman, yang punya warung ini." ucap pak Usman sambil menghidangkan pesanan Akram.


"Gadis itu kerja didua tempat dalam sehari, Pak?" tanya Sraya.


"Iya, Bu. Dia kerja di dua tempat, soalnya dia membiayakan adiknya sekolah di Jawa Tengah. Orangtua nya udah gak ada."


"Pekerja keras juga," gumam Akram.


"Dia lulusan SMK tata boga, Pak. Masakan nya enak, saya sudah nyuruh dia kerja di restaurant tapi katanya susah, dia juga gak enak karena udah ikut saya dari jaman sekolah."


Akram dan Sraya mengangguk-anggukan kepala mendengar cerita dari pak Usman. "Eh maap loh, Pak. Saya udah banyak omong, silahkan dinikmati makananya, saya permisi dulu kalo gitu."


"Eh iya gak apa-apa, Pak," ucap Akram sopan.


Akram dan Sraya menikmati soto hangat buatan pak Usman. Benar tebakan Akram kalau soto ayam kampung ini sangat enak. Kuahnya gurih dan kental, saat dikasih perasan jeruk nipis menambah kesegaran.


Ditengah makan siang mereka, Sagara yang semula anteng tiba-tiba menangis. Membuat Sraya menghentikan makan nya. "Mas kayaknya Sagara haus. Aku buatin susu dulu."


"Air panas nya ada gak, Dik?"


"Di mobil, Mas."


"Yausah, Biar aku ambil dulu." saat Akram ingin bangun dari duduknya, gadis yang bernama Labiqa menghampiri mereka. "Bapak dan Ibu butuh air hangat ya?"


"Eh iya, Mba. Anak kami haus mau susu, tapi air panasnya ada di mobil," jawab Akram.

__ADS_1


"Biar saya buatkan, Pak, Bu. Kalau boleh, kita ada kok air panas, bentar saya ambilkan dulu." Labiqa dengan cekatan membawakan segelas air panas untuk Sraya.


"Makasih ya, Mba. Jadi nerepotkan." ucap Sraya.


"Gak apa-apa, Bu. Anaknya lucu banget, boleh gak kalau saya yang ngasih susunya. Ibu bisa lanjut makan, saya duduk disebelah kok jadi Ibu bisa awasin."


Sraya berpikir sejenak dan memperhatikan Labiqa dengan seksama. "Boleh, tapi duduknya disini aja ya, sekalian kita ngobrol-ngobrol." Sraya menunjuk bangku kosong di depannya mengisyaratkan agar Labiqa duduk disana.


Labiqa menuruti Sraya dan mengambil Sagara untuk ia gendong dan memerikannya susu. "Nama dedeknya siapa, Bu?" tanya Labiqa.


"Sagara, Tante. Mau jalan tiga bulan."


"Kenalin Bu, nama saya Labiqa." Labiqa tersenyum dan memperkenalkan dirinya.


"Saya Sraya dan ini suami saya, Mas Akram."


Akram hanya diam saja sedari tadi, biasanya ia waspada pada orang baru. Apalagi dengan orang yang ingin menyentuh anaknya. Tapi dengan Labiqa, ia seperti melihat adiknya, Nastiti.


"Tadi saya dengar dari Pak Usman, kamu lulusan SMK tataboga ya?" tanya Akram mengawali pembicaraan.


"Iya, Pak Akram. Labiqa lulusan tataboga."


Sraya memperhatikan interaksi Labiqa pada Sagara, terlihat gadis yang saat ini sedang menggendong Sagara, terihat lembut dan dewasa. "Kebapa gak nyoba kerja di restaurant atau caffe, Biq?


"Labiqa udah pernah kerja di restaurant, Bu. Tapi gak lanjut karena kontrak habis. Terus mau cari kerjaan lagi susah karena pandemi, kemarin Labiqa sempat kerja di toko bunga tapi dipecat."


"Dipecat kenapa, Biq?"


"Ada customer yang komplain, Bu. Padahal bukan kesalahan Biqa sepenuhnya. Labiqa udah berusaha ngirim pesanan orang itu, tapi kena macet. Walupun saya tepat waktu tetap aja dia marah-marah dan nelpon bos saya, akhirnya saya dipecat deh." Labiqa bercerita dengan wajah yang sedikit sendu.


"Belom rejeki, Biq. Namanya, kamu bisa masak apa aja?"


"Saya bisa beberapa masakan nusantara, Bu. Kue kering dan kue basah."


Sraya lebih dulu menyelesaikan makannya, dan sedangkan Akram ingin menambah. "Biq, tolong buatkan saya setengah porsi lagi ya."


"Ah ... iya, Pak. Sebentar Labiqa buatkan dulu." Ia menyerahkan Sagara kembali pada Sraya, dan menuju gerobak soto.


"Mas laper apa doyan ... hahahaha," goda Sraya.


"Laper dan doyan, Dik. Sotonya enak banget. Oh iya gimana kalau Labiqa kita suruh dateng ke caffe aja, kita minta dia buat satu menu, kalau enak dan sesuai kriteria kamu, kita bisa mempekerjakan dia," cetus Akram.


"Aku setuju, Mas. Kebetulan banget ya kita ketemu sama dia."


Setelah Akram menyelesaikan makannya ia membayar dengan selembar uang seratus ribu rupiah, dan menolak pak Usman untuk mengembalikan sisanya.


Selain itu Akram meninggalkan nomor handphone Sraya pada Labiqa. "Ini nomor handphone istri saya, kalau kamu berminat kamu bisa datang ke caffe kami. Emang belum buka sih, kami masih nyari karyawan."


"Pak Akram, makasih banget. Saya pasti datang, Pak."


"Nanti saya dan istri saya kabarin ya, kapan kamu bisa demo masak di caffe kami, kalau begitu saya pamit dulu."


Akram menyusul Sraya yang lebih dulu ada dimobil. Mereka berdua melanjutkan tujuan mereka ke sebuah mall yang ada di Jakarta.


Sraya membeli beberapa furniture unik yang akan ia letakkan di caffe nya nanti. Beberapa lusin piring dan gelas yang cukup estetik juga beberapa peralatan dapur.


Keranjang yang semula kosong, kini hampir terisi penuh. Ditengah mereka berbelanja sepasang suami istri yang tak lain Sofi dan Aslan menyapa mereka.

__ADS_1


"Akram, Sraya. Kalian juga lagi belanja?"


Sraya menoleh pada suara yang tidak asing lagi dan tersenyum ramah pada Sofi, beda dengan suaminya, Akram. Yang datar dan tanpa ekspersi saat disapa.


__ADS_2