
Orang itu adalah pak suseno. Salah satu tetangga Akram di Jawa Tengah, sejak dari lobi tadi saat pak seno menunggu pesanan makanan nya diantar kurir.
Pak seno melihat kedatangan Akram dengan seorang gadis dan juga bayi, tidak ada yang lain nya lagi. Akram terkenal menjadi suami dan mantu incaran di sekitar desa nya.
Tidak menyangka setahun dia pergi meninggalkan desa, Akram telah menikah dan memiliki anak. Bahkan pak Permana dan bu Masayu tidak memberitahu warga desa. Ya itulah isi pemikiran pak Seno.
Pak seno terus mengikuti Akram, dirasa orang itu adalah benar benar Akram. Pak seno langsung menyapa nya.
''Nak Akram …"
Merasa namanya disebut oleh seseorang, Akram langsung menoleh. Ia langsung mengenali lelaki itu.
''Pak Suseno?"
''Oalah, Nak. Akram setahun di Jawa Timur ternyata sudah punya anak dan istri toh, kenapa gak undang-undang Nak Akram? pak Permana juga ndak bilang-bilang.''
''E--mm … anu Pak''
Akram bingung harus jawab apa. Mereka memang terlihat seperti keluarga, mau menjawab anak Nastiti tidak mungkin, akhirnya Akram hanya diam saja sedangkan Sraya melirik tajam pada Akram.
''Bapak, menginap di hotel ini juga?'' tanya Akram mengalihkan pembicaraan.
''Iya, Nak. Akram, Bapak menginap disini. Kamar Bapak ada di ujung lorong situ.''
Pak Suseno menunjuk kamar tempat dia menginap. Setelah berbasa-basi akhirnya Akram dan Sraya berpamitan dengan pak Seno.
''Makasi ya, kamu mau bantuin saya.''
''Sama-sama Mas Akram, sebaiknya, Mas. Bersih-bersih dulu, setelah itu kita akan bertemu dengan mister Willem.''
Akram tengah memperhatikan interaksi Sraya dan Sagara, bayi Nastiti itu sangat anteng dalam gendongan Sraya yang sedang memberikan susu formula.
''Terus kita ketemu mister Willem dimana, di Caffe nya atau ada tempat lain?'' tanya Akram.
''Di hotel ini aja, Mas. Nanti aku akan menelpon mister Willem untuk datang, Mas. Bersiaplah.''
Akram menuruti perkataan Sraya, ia langsung mandi, sedangkan Sraya yang merasa lelah tertidur disamping bayi sagara dengan memeluk bayi itu.
Akram membuka pintu kamar mandi, sekarang dirinya merasa lebih segar. Akram mengganti bajunya dengan kemeja flanel hitam dan celana dasar chino dari brand ternama, terlihat lebih santai.
Akram memandangi wajah polos Sraya saat tidur, ia tidak menyangka sama sekali takdir membawa mereka pada suatu kenyataan yang tidak dapat diduga.
Akram membiarkan gadis itu tertidur, sengaja tidak membangunkannya. Akram memilih mempersiapkan bahan bahan yang akan dia presentasikan pada mister Willem saat bertemu nanti.
Sraya terbangun saat mendengar Sagara menangis, ternyata Sagara sudah dalam gendongan Akram.
''Maaf Mas aku ketiduran.''
''Ga apa-apa, Dik. Kamu pasti capek.''
''Sudah tidak, Mas. Sini biar aku gendong Sagara.''
''Hmm biar saya saja kamu mandilah. Habis ini kita makan, pasti kamu lapar.''
Sraya lebih dulu memandikan sagara setelahnya ia lalu bersiap. Mereka memilih makan di restaurant hotel.
__ADS_1
Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. sesuai janjinya Willem menemui Akram dan Sraya yang masih ada di restaurant.
''Sraya, anak siapa ini?'' tanya Willem yang sudah duduk bersama Akram dan Sraya.
''Keponakan Mas Akram Boss, anak Nastiti,'' jawab Sraya jujur.
''Nastiti gadis yang menjadi langganan kita? Yang beberapa bulan lalu kita bawa kerumah sakit karena pingsan di caffe ?'' tanya Willem memastikan.
''Ya Boss benar, Nastiti yang setiap hari makan di caffe kita. Gadis cantik yang suka kak Ferdi dan Hendi goda tetapi tidak mempan.''
Willem dan Sraya terkekeh.
Akram diam memperhatikan mereka.
''Jadi maksud kamu Akram adalah kakak Nastiti? Sangat kebetulan sekali. Lalu dimana Nastiti, aku ingin mengucapkan selamat.''
Willem sangat antusias, sedangkan Akram tertunduk sedih. Sraya menyadari perubahan Akram dan mengalihkan pembicaraan.
''Ada Boss. Boss silahkan lanjutkan kontrak kerja dengan Mas Akram, aku mau membawa bayi ini ke kamar. Kasian disini sangat dingin.''
Sraya meninggalkan kedua lelaki itu dan langsung ke kamar. Akram dan Willem tengah membahas kontrak kerja dan berbincang santai setelahnya.
Beberapa kali Willem merasa kagum dengan Akram yang bisa mengimbangi obrolan nya. Sebagai petani wawasan Akram cukup luas, ia bisa berbahasa inggris dengan lancar, dan mengerti dunia bisnis. Willem senang berkenalan dengan lelaki ini.
Setelah menandatangi beberapa berkas mereka saling berpamitan, dan Akram kembali ke kamarnya.
''Kamu belum tidur, Dik?'' tanya Akram.
''Belum, Mas. Aku sengeja menunggu Mas Akram.''
''Apa ada yang mau kamu bicarakan?''
''Untuk beberapa waktu kedepan sepertinya Mas akan tinggal sementara di kota ini. Kasian membawa Sagara bepergin jauh, umurnya baru beberapa hari.'' Akram duduk di sofa dan Sraya memilih duduk di sisi ranjang.
''Lalu, Mas. Akan tinggal dimana? Bagaimana dengan perkebunan kopi mas Akram?''
''Kamu bisa carikan Mas apartment? Untuk kebun kopi tenang saja, sudah banyak yang mengurus. Ada paman dan beberapa pekerja.''
''A--apartment, Mas. Ingin menyewa?''
''Tidak, Mas. Akan membelinya,'' jawab Akram santai.
Sraya tidak menyangka dengan jawaban Akram. membeli apartment? Mudah sekali bagi Akram, mungkin dia petani yang sangat sukses pikir Sraya.
''Baik, Mas. Akan aku bantu carikan.''
Sraya bangkit dari duduknya dan mengambil tas hendak pergi.
''Kamu mau kemana, Dik? Kamu bisa mencari nya besok bukan sekarang.''
''Emmm iya, Mas. Aku akan carikan besok, tapi untuk sekarang aku mau pulang ke kosanku.''
''Apa kamu bisa menginap disini? Kalau kamu tidak nyaman, Mas. Akan memesan kamar lain,'' pinta Akram.
Sraya tampak berpikir kemudian mengalihkan pandangan nya pada Sagara, bayi itu menggeliat. Lalu Sraya menghela nafas.
__ADS_1
Benar juga dia tidak bisa meninggalkan Akram dan Sagara berdua karena Akram adalah lelaki dan tidak memiliki pengalaman.
Sebenarnya sama dengan Sraya tetapi Sraya adalah seorang wanita, tentu saja naluri keibuan nya keluar begitu melihat bayi.
Sraya meletakan lagi tas yang tadi sudah ia ambil.
''Baiklah.''
Akram tersenyum puas, lalu dia memesan kamar yang berbeda dari Sraya dan Sagara.
Semalam Akram sendiri sudah menemukan sebuah apartment yang ia cari lewat media sosial. Pagi harinya setelah mengurus Sagara dan meminta ijin pada Willem karena tidak bisa masuk kerja, Sraya pergi ke apartment yang dipilih Akram.
Sebuah apartment dengan dua kamar tidur dan isi perabotan yang lengkap. Bukan itu saja Sraya dibuat tercengang saat Akram meminta Sraya membeli unit tersebut atas nama dan data diri Sraya. Pembayaran langsung dilakukan Akram melalui M-banking.
Akram berpikir kalau Sraya adalah gadis yang bisa dipercaya. Selama ini juga ia dan ibunya telah mengurus dan menjaga Nastiti saat adiknya hamil.
Menunggu tiga hari Akram dan Sagara sudah pindah ke unit apartment yang terletak di Jakarta Selatan. Sraya dibuat bolak balik antara kosan, tempat kerja, dan apartment Akram untuk melihat sagara.
Pintu apartment terbuka, Akram melihat Sraya masuk. Akram memang memberikan sandi apartment nya pada Sraya.
''Assalamualaikunm.''
Sraya datang dengan menerbitkan senyum manis nya, ia membawa bungkusan belanjaan yang berisi bahan makanan dan meletakan nya di pantry.
''Walaikumsalan. Kamu sudah pulang kerja, Dik?'' tanya Akram yang melihat Sraya masih mengenakan seragam nya.
''Iya, Mas. Aku tadi mampir ke supermarket dan langsung kesini.''
Sraya menghampiri Akram yang sedang meletakan Sagara ke sofa, bayi itu tertidur pulas.
''Sagara baru aja tidur." Akram menjelaskan pada Sraya.
''Mas Akram sudah makan?'' tanya Sraya dan mulai menciumi pipi Sagara kanan dan kiri.
''Belum, Dik. Nanti aku pesan kamu mau makan apa?''
''Engga usah pesan, Mas. Tadi aku beli bahan makanan. Biar aku masak aja.''
Sraya bangkit dari duduknya menuju pantry dan mengeluarkan isi belanjaan nya. Ada udang, ayam mentah, beberapa sayuran segar, dan tahu tempe, serta buah buahan.
Akram duduk di sisi Sagara dan memperhatikan apa yang sedang Sraya kerjakan. Sampai terdengar suara handphone nya berbunyi.
''Hallo assalamualaikum, bu.''
''Walaikumsalam Akram, kamu dimana?''
''Akram ada di apartment, bu,'' jawab Akram keceplosan karena sebelumnya Akram sendiri tidak pernah berbohong pada ibunya.
''Apartment mana, nak. Kamu di Jakarta. Iya kan, Akram?''
''Gi-gimana ibu bisa tau?'' tanya Akram gugup.
''Ibu sudah tau, nak. Ibu sudah tau semuanya.''
''Halo nak, kirimkan alamat kamu sekarang juga.''
__ADS_1
Itu adalah suara ayah Akram, bapak Permana.
Jantung Akram langsung berdebar tidak karuan. Sraya berhenti memotong sayuran karena penasaran dengan Akram yang berubah tegang.