
''Apa yang Bapak bilang barusan, mas Akram sudah menikah?'' tanya Amel.
"Saat Akram ke Jakarta dia menikahi seorang gadis, Bapak sendiri baru tau dari bude Masayu."
Amel yang baru saja diberi tahu oleh ayahnya tentang kabar pernikahan Akram diam-diam hatinya meradang.
Selama ini dia telah menyimpan rasa pada Akram, sehingga meminta sang ayah untuk membujuk Akram agar mau tinggal bersama mereka.
Trisna sendiri murni menyayangi Akram sebagai ponakan dari adik perempuan nya, dia tidak pernah memaksakan Akram pada pilihannya. Hanya saja dia kecewa dengan berita yang dia dapat.
''Resepsi nya akan di adakan di Jawa Tengah sepuluh hari lagi, setidaknya kita datang kesana satu minggu dari sekarang. Amel kamu pesankan tiga tiket pesawat untuk kita."
Setelah memberi perintah pada Amel Trisna langsung pergi ke kebun. Meninggalkan anak dan istrinya di ruang tamu.
Amel menyalurkan kemarahan nya dengan membating sebuah vas bunga ke lantai.
PYARRRRR.
Vas sudah sudah menjadi kepingan yang berserakan di lantai.
"Amel tenanglah! Bagaimana kalau bapak kamu sampai melihat sikap mu yang seperti ini!" bentak Lita.
"Bagaimana Amel bisa tenang, Bu! Mendengar mas Akram tiba-tiba menikah, kalau tau akan seperti itu seharusnya Amel ikut mas Akram ke Jakarta kemarin."
"Bagaimana kamu mau ikut? Kamu sendiri saja sibuk dengan teman-teman kamu yang enggak jelas itu Amel!"
"Amel enggak akan ngebiarin semua ini, Bu. Ibu harus bantu Amel cari tau istri mas Akram dan cari cara untuk mencegah semua ini!"
Empat hari sebelum resepsi dimulai, Akram dan keluarga kecilnya serta bu Emah dan mbo Darmi sudah bertolak ke desa Akram.
Semua warga antusias menyambut kedatangan lekaki yang sempat mendapat slogan 'calon suami dan mantu idaman' itu.
Sebagian warga penasaran dengan istri dari Akram dan anaknya. Mereka telah mendengar Akram sudah menikah satu tahun yang lalu, dan baru melaksanakan resepsi sekarang.
Banyak desas-desus diantara mereka, tetapi tidak ada yang berani untuk mengungkap kan. karena keberadaan keluarga Akram yang terpandang.
Di hari yang sama keluarga Trisna juga telah sampai. Masayu dan Permana mungkin bisa menutupi fakta kepada warga, tetapi tidak dengan keluarga nya. Apalagi Akram selama setahun tinggal bersama Trisna.
Permana menceritakan tentang Nastiti dan Sagara kepada mereka. Amel merasa diatas angin setelah mendengarnya, dikepala nya ia sudah memiliki rencana yang akan dia lakukan.
__ADS_1
Akram menunjukkan surat pernikahannya dengan Sraya kepada keluarganya, hal itu ia lakukan untuk mencegah kecurigaan keluarganya pada Sraya. Di surat itu tercatat tanggal pernikahan mereka.
Saat tengah malam Amel mengendap-endap masuk ke kamar Akram dan Sraya, ia mencari surat keterangan menikah yang tadi Akram perlihatkan dan memotret surat itu dengan ponselnya.
Dengan nomor lain. Amel mengetik pesan yang berisi fitnahan kepada Sraya disertai sebuah foto sebagai bukti.
Dalam pesan itu Amel menuliskan bahwa Sraya telah hamil sebelum menikah, pernikahan mereka lakukan setelah anaknya lahir.
Amel mengirim pesan itu kepada beberapa nomor warga yang ia dapatkan dari ponsel sang ayah.
Tidak ingin ketahuan Amel langsung menghapus pesan yang telah ia kirim. Kabar itupun menyebar luas dari satu warga, dan diteruskan ke warga lain.
Alhasil Sraya dan Akram menjadi buah bibir di seluruh desa sekitar mereka. Banyak yang mengatakan Sraya telah menggoda Akram, ada juga yang bilang Sraya menjebak Akram.
Meski mereka tidak secara membicarakan langsung, tetapi berita itu sampai juga di telinga Masayu dan Permana.
"Siapa yang tega menyebarkan fitnah pada Akram dan Sraya?" tanya Permana kepada keluarganya.
"Yang pasti bukan orang lain, Permana."
"Apa yang Mba Rus maksud?" tanya Trisna pada kakak sulungnya.
Amel yang mendapat tatapan tajam dari Rusnina menundukan kepala dan pandangan nya menyapu lantai.
"Siapa yang Mba Rus maksud?" tanya Masayu penasaran.
"Kalian tidak perlu tahu, aku akan mengurus masalah ini. Warga tidak akan berani lagi menghina Sraya!" tegas Rusnina.
Malam itu dengan cepat Rusnina mengambil tindakan untuk mematahkan gosip yang beredar.
Wanita paruh baya yang terkenal tegas dan bermulut tajam itu mengumpulkan kamituwo dan perangkat desa di balai warga.
Rusnina menjelaskan kalau berita itu tidak benar, surat yang telah mereka ketahui adalah hasil editan yang disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Alasan Akram dan Sraya baru melaksanakan resepsi dikarenakan PPKM beberapa waktu yang lalu.
Ada sebagian warga yang percaya, dan juga ada yang tidak percaya. Rusnina menindak tegas bagi siapapun yang masih berani menghina atau mencibir Sraya dan Akram.
Dengan pengaruh nya sebagai janda kaya raya yang gemar membantu siapapun meski terlihat tegas, Rusnina mengancam tidak akan memberi bantuan bagi mereka lagi.
__ADS_1
Permana dan Masayu yang merasa tidak enak dengan Sraya dan keluarga nya, merasa malu dan tidak enak hati. Mereka meminta maaf atas kegadian yang tidak bisa mereka duga.
Dua hari sebelum acara dimulai, para warga ramai membantu mempersiapkan segalanya dirumah Permana.
Damar, putra Rusnina datang dari kota untuk ikut menghadiri acara Akram.
"Mas Damar ini sombong sekali, kita di kota yang sama tapi Mas Damar engga pernah menengok aku," ungkap Amel.
"Mas, sibuk bekerja disana jadi tolong maafkan aku."
Rusnina yang mendengar pembicaraan Damar dan Amel segera menghampiri mereka.
"Damar benar, Amel. Disana dia tidak ada waktu untuk sekedar bersenang-senang. Bahkan diumur Damar yang sudah menginjak dua puluh lima tahun ini, Bude yakin Masmu belum pernah merasakan minuman ber-alkohol. Iya, kan Nak?"
Damar sangat paham apa arti perkataan sang ibu. Ibunya itu sedang menyindir Amel, Damar memperhatikan perubahan pada wajah gadis itu. Amel mengeraskan rahan nya tanda tak suka.
Saat Amel pamit untuk mereka, Rusnina menahan tangan gadi itu.
"Kenapa terburu-buru, Nduk Amel?" tanya Rus pada Amel yang terlihat gugup.
"A--anu, Bude. Amel ingin ke kamar kecil …" ucapnya lirih.
"Kamu tidak banyak minum, kan?"
""Enggak Bude, tapi Amel ingin mencuci muka saja," ujar Amel.
"Baguslah! Bude hanya takut kebiasaan minum kamu itu terbawa sampai tempat ini. Jangan sampai kamu mabuk seperti kemarin."
"Ma--maksud, Bude?"
"Saat kemarin kamu mengambil surat nikah Akram dan Sraya. Bude yakin kamu sedang mabuk, sehingga kamu tidak sadar sudah memfitnah Sraya."
Damar hanya memperhatikan obrolan kecil ibu dan sepupunya itu. Dia juga tahu orang seperti apa Amel itu.
Hanya saja dia tidak ingin mengurus urusan orang lain. Hanya saja ia tidak menyangka Amel melakukan hal demikian.
"Ingat Amel! Jaga sikapmu itu, sekali saja kamu menyakiti Sraya, Akram, maupun anak mereka. Bude engga segan-segan mengatakan apa saja yang kamu lakukan saat dikota pada bapakmu!"
Amel membuang muka. Rusnina melepaskan cengkraman nya di tangan gadis itu, ia menatap punggung Amel sampai gadis itu tidak terlihat lagi.
__ADS_1