Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Tanda-tanda


__ADS_3

Labiqa cukup pandai dalam menilai situasi. Melihat Daren yang saat ini tengah duduk dengan Sraya dan Akram, bisa ia simpulkan kalau mereka memiliki hubungan. Labiqa berusaha untuk bersikap biasa saja, padahal di dalam hatinya ia merasa tidak senang, gadis itu menekan perasaannya sendiri dan berharap kalau Daren-- tidak memprovokasi Sraya dan Akram.


Labiqa meletakkan sumpit di atas meja. "Ini, Pak, Bu."


"Makasih ya, Biqa. Oh iya ini Pak Daren, temennya suami saya. Beliau akan ikut mencicipi masakan kamu."


Perkataan Sraya sukses membuat jantung Labiqa semakin berdebar, semangat yang awalnya dimiliki Labiqa, tiba-tiba saja menurun. iya khawatir kalau Daren masih menyimpan ketidaksukaan pada dirinya.


"Biqa, kok diam aja?" tanya Sraya.


Labiqa mengerjapkan matanya dan mencoba tersenyum. "Tentu, Bu. Silahkan dicicipi, semoga sesuai dengan selera, Bapak, Ibu, dan Pak Daren."


Daren sendiri bersikap acuh pada Labiqa, iya ingat betul siapa gadis yang ditemuinya saat ini. Daren juga bisa menilai, sorot mata Labiqa menunjukan rasa terkejut dan ketidaksukaan. Ia mengabaikan semuanya. Toh, dia tidak ada urusan lagi dengan Labiqa. Mereka bertiga satu-persatu mengambil sebungkus nasi bakar yang masih terasa hangat.


Asap tipis yang keluar saat daun pisang dibuka, menguarkan aroma lezat. Mereka mencicipi nasi bakar cumi buatan Labiqa. racikan bumbu yang tepat membuat rasanya pas di lidah, Sraya dan Akram saling pandang. Pasangan suami-isteri itu puas dengan menu pertama Labiqa, Daren yang semula menunjukan ekspresi datar, cukup tidak menyangka kalau Labiqa pandai memasak. Namun karena gengsinya ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


"Labiqa, kamu duduk aja, kalau kamu berdiri terus nanti kamu capek," ujar Akram.


"I-iya, Pak. Makasih." Labiqa mengambil kursi lain dan duduk terpisah dengan mereka bertiga yang duduk di sofa, ia merasa enggan dan segan untuk bergabung duduk di sana.


Setelah menghabiskan menu pertama, mereka mencicipi kwetiaw yang tercium aroma khas udang dan bawang putih. sama dengan nasi bakar, rasa dari menu kedua ini sama- sama lezat. hingga akhirnya mereka mencicipi penuh terakhir yaitu otak-otak ikan.


Labiqa duduk dengan tegang, harap-harap cemas, menunggu penilaian dari Sraya, Akram dan Daren.


"Gimana menurut, Mas. Dari ketiga menu yang Labiqa buat, mana yang paling, Mas, suka?" tanya Sraya.


Akram mengambil selembar tisu dan mengelap mulutnya. "Mas suka dengan nasi bakarnya, rasanya gurih banget, dan cuminya matang sempurna," puji Akram.


Satu penilaian dari Akram-- membuat Labiqa senang dan ia bersyukur di dalan hatinya. "Alhamdulillah."


"Sama, aku juga suka rasa nasi bakarnya, kwetiaw nya juga enak banget dan gak bikin eneg. Kalau menurut, Pak Daren. Gimana hasil masakan, Labiqa?"


Uhukkk


Daren yang sedang minum sedikit terbatuk karena pertanyaan dari Sraya. Tidak ia pungkiri kalau masakan dari Labiqa sangat lezat, lelaki itu tidak pernah menghina makanan, ia akan menilai dengan jujur sesuai rasa. Berhubung pertemuan terakhirnya dengan Labiqa tidak begitu baik, ia jadi malu kalau memuji sekarang harus memuji.


"Jadi gimana?" tanya Sraya sekali lagi.


"Semua masakannya sangat lezat," ucap Daren spontan. Tadi ia sedang memikirkan kata-kata apa yang bisa ia ungkapkan.

__ADS_1


"Jadi, kira-kira pada setuju atau tidak kalau Labiqa akan menjadi koki di cafe ini?" tanya Akram meminta pendapat.


"Tentu saja, aku gak mau melepaskan orang berbakat seperti, Labiqa," ucap Sraya dengan semangat.


"Selamat ya, Labiqa. Kamu kami terima bekerja di Caffe ini." Akram bangun dari duduknya dan menghampiri Labiqa untuk mengucapkan selamat dengan menjabat tangan gadis itu.


Labiqa menerima uluran tangan Akram, ia sangat bersyukur dan merasa senang. "Makasi banyak, Pak Akram dan Bu Sraya. Saya akan bekerja dengan baik dan mendedikasikan kemapuan saya pada caffe ini."


"Sama-sama, untuk kontrak kerjanya. Mungkin dua hari lagi bisa tanda tangan."


"Iya, Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya."


Sraya ikut menghampiri Labiqa dan memeluk gadis itu. "Selamat, Biqa. Semoga betah." Labiqa merasa terharu dengan sikap Sraya, ibu satu anak ini sangat rendah hati. "Makasih banyak, Bu."


"Karena test nya udah selesai, kamu bisa pulang sekarang, Biq."


"Hmm ... boleh gak, Pak. Kalau saya bantu-bantu dulu di sini, saya juga ingin jadi bagian dari cafe ini dari awal."


"Tentu aja boleh, kalau kamu gak merasa keberatan."


"Enggak sama sekali, Pak. Saya malah saya sangat senang."


Akram dan Daren menuju ruang kerja yang ada di samping kitchen. sedangkan Sraya dan Labiqa sibuk mengatur peralatan masak baru yang akan ia gunakan. Keduanya semakin menjadi akrab, dan saling bertukar cerita.


Di dalam ruang kerja, Akram dan Daren membicarakan hal yang serius terkait masalahnya dengan Maxwell. Akram meminta pada Daren untuk mempercepat rencananya, ia ingin agar adiknya, Nastiti-- cepat menerima keadilan dan bisa pulang kembali ke Indonesia.


Daren menyanggupi permintaan dari orang yang selama ini telah membantunya. Apapun akan ia lakukan untuk Akram dan keluarganya, berkat bantuan Akram dan kedua kakeknya. ndak ada yang bisa berada di posisi sekarang ini.


"Kalau begitu saya pamit sekarang, Tuan."


"Kamu lupa sama apa yang udah aku katakan?"


Daren mengernyitkan alisnya, mencoba berpikir hal apa yang sudah ia lupakan.


"Berenti manggil saya dengan sebutan tuan, panggil saya, Mas."


"I--iya, Mas."


"Ya sudah kamu pergi sekarang, aku gak mau Amel sampe ngeliat kamu ada di sini."

__ADS_1


Mereka berdua pun keluar dari ruang kerja, terlihat Sraya dan Labiqa yang sedang menyusun pernak-pernik baru yang dapat membuat suasana Cafe semakin nyaman dan estetik. Sebelumnya Daren berpamitan dengan Sraya, tetapi ia masih cuek pada Labiqa.


selepas kepergian Daren, Amel yang sejak tadi ada di lantai dua bersama Sagara-- turun karena bayi itu tengah menangis. iya menyerahkan Sagara kepada Sraya.


"Mel, aku mau gantiin Pampers Sagara dulu, kamu bisa bantuin Labiqa, kan?"


"Bisa, Mba, aku harus apa?"


"Tolong cuciin peralatan yang mau dipake di area kasir ya, Mel." Sraya beranjak dari duduknya. "Oh iya di kitchen ada masakan dari Labiqa, kalo kamu mau makan aja, Mel."


"Iya, Mbak," jawab Amel singkat, di dalam hatinya ia merasa tidak senang. padahal kemarin Amel baru saja melakukan perawatan kuku di salon. Amel sama sekali mengacuhkan keberadaan Labiqa.


Siang berganti menjadi sore, semua pekerjaan hampir selesai. Sebelum memutuskan untuk pulang, mereka berempat membicarakan tentang rencana pengolahan dan manajemen Cafe. Sraya membutuhkan dua orang barista, tiga tiga orang yang akan bekerja di section dining, dan dua tambahan orang untuk di dapur.


dengan bantuan media sosial, Akram berinisiatif untuk memasang iklan di beberapa akun yang menginfokan tentang lamaran pekerjaan di sekitar kota Jakarta.


Seminggu telah berlalu, karyawan yang dibutuhkan oleh Akram dan Sraya sudah didapat dengan masing-masing pengalaman kerja yang sesuai di bidangnya, Cafe pun sudah siap dibuka. Sraya mewujudkan idenya dengan tema keluarga untuk cafenya.


Selain itu, Akram mengadakan kerjasama dengan berapa pengepul dan penyedia bahan makanan untuk cafenya. sebuah panggilan masuk dari handphone genggam milik Akram.


"Hallo ... Assalamualaikum, Bu," sapa Akram.


"Walaikumsalam, nak. Ibu sudah di bandara." Masayu yang hari itu datang ke Jakarta, langsung menelpon Akram.


"Oh ... iya, bu, Akram langsung kesana. tunggu ya bu."


Setelah memutuskan panggilannya Akram bergegas mengambil kunci mobil yang ada di meja kerjanya.


"Ibu sudah sampe, Mas?" tanya Sraya.


"Iya, baru landing, Dik."


"Aku mau ikut jemput ibu ya, Mas."


"Kamu di sini aja ya. Kamu, kan, lagi gak enak badan. Mending kamu istirahat aja di dalam ruang kerja," bujuk Akram.


Dua hari belakangan ini, Sraya tampak lemas dan pucat. Sudah Akram bujuk agar istrinya mau periksa ke dokter, namun Sraya menolak.


"Tapi aku mau ik--"

__ADS_1


Belum saja Sraya menyelesaikan perkataan nya, ia sudah berlari ke kamar mandi, sejak tadi pagi perutnya terasa tidak nyaman. Sraya memuntahkan merasa mual. Akram segera menyusul Sraya ke kamar mandi dan mengusap-usap lembut punggung Sraya. "Kamu muntah lagi, Dik?"


__ADS_2