
Masayu dan Akram segera membawa Sraya ke salah satu rumah sakit untuk memeriksa dan memastikan dugaan yang ada dalam benak ibu Akram itu. Setalah beberapa saat menunggu antrean, akhirnya nama Sraya dipanggil masuk ke dalam ruangan salah satu dokter wanita. Beberapa pemeriksaan dilakukan dan menunjukan kalau Sraya hanya mengalami gangguan lambung dan juga stress ringan akibat tenaga dan pikirannya terlalu fokus pada pembukaan caffe.
Harapan Masayu untuk mendapatkan cucu baru pupus, ia kira kalau Sraya saat ini sedang mengandung anak Akram. Berbeda dengan Sraya yang hanya sakit maag, Amel. Gadis itu kini merasakan kalau kepala nya pusing dan perutnya terasa kram. selain itu, saat dia makan, Amel selalu memuntahkan kembali isi perutnya.
Kegelisahan mulai menghinggapi perasaan Amel, tadi setelah ia buang air kecil di kamar mandi kantornya. Amel mendapati pakaian dalamnya terdapat bercak darah, padahal ia sudah menstruasi di bulan ini.
Amel segera membeli tiga buah testpack di apotek yang ada di sebrang kantor tempat ia bekerja. Setelah ia membuka bungkus dari alat pengecek kehamilan itu, Amel segera mencelupkannya ke dalam urine yang sudah ia tempatkan dalam sebuah cup kecil, beberapa menit menunggu, testpack yang Amel gunakan menunjukkan garis dua yang masih samar.
"Sial," umpat Amel dengan membenturkan kepalanya pada dinding kamar mandi.
Amel mengingat kembali pergumulaan panasnya dengan Joe beberapa waktu yang lalu. Malam itu, saat mereka berdua dalam keadaan mabuk setelah berpesta di club malam, Amel dan Joe langsung memesan hotel dan saling melepaskan hasrat satu sama lain untuk yang kesekian kalinya. Dan sialnya, Joe tidak memakai alat kontrasepsi seperti biasanya.
"Garisnya dua, tapi samar. Gimana nih ... kalau aku sampai hamil bisa gawat," ucap Amel panik. Amel mulai memikirkan kembali apa yang akan terjadi kedepannya kali sampai ia hamil.
"Mungkin hasil ini salah, besok aku akan cek lagi pagi-pagi." Amel merapikan pakaian dan riasannya kemudia mulai bekerja seperti biasanya.
Di apartemen, Akram terlihat mengurus Sraya yang tengah sakit dengan begitu baik. Ia sangat memperhatikan isterinya dari hal yang paling kecil. bahkan, Akram tidak menginginkan Sraya bangun dari tempat tidur mereka. Labiqa yang sore itu mengantarkan tas Sraya yang tertinggal di Caffe, menawarkan diri memasak makan malam untuk keluarga atasannya.
"Makasih ya, Nduk. Kamu jadi repot masak buat kita," ujar Masayu pada Labiqa yang tengah mengolah bahan-bahan yang akan gadis itu masak.
"Gak apa-apa, Bu. Labiqa enggak keberatan kok. Ibu Sraya lagi sakit, Bu, Masayu juga harus ngurus Sagara, kan."
"Sekali lagi makasih ya, Nduk."
__ADS_1
Masayu dan Labiqa berbincang-bincang membicarakan banyak hal, mereka berdua menjadi dekat, tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi. Labiqa yang saat itu ingin membukakan pintu, Masayu segera menahannya.
"Kamu lanjut masak aja, Nduk. Biar ibu yang bukain pintunya," ucap Masayu yang berjalan ke depan sambil menggendong Sagara. Dari layar yang ada di samping pintu, terlihat Amel yang sedang berdiri menunggu untuk dibukakan pintu.
"Kamu, Mel. Tumben pulang cepet?" tanya Masayu.
Amel tidak langsung menjawab pertanyaan Budenya, ia terlebih dulu menyalami punggung tangan Masayu. "Iya, Bude. Amel lagi gak enak badan jadi Amel pulang lebih awal, Amel ke kamar dulu ya, Bude." Ia langsung menuju ke kamarnya.
"Mau pulang cepet, mau pulang telat. Mesti ada aja jawabannya," gerutu Masayu.
Labiqa menata masakannya di meja keluarga atas perintah Masayu. Mereka semua menikmati makan malam bersama, termasuk Sraya dan Amel yang terlihat sedikit lesu dan pucat.
"Akram sebaiknya kamu beli rumah aja, kalo tinggal di apartemen kaya gini terlalu kecil. liat aja, masa kita makan malam di ruang keluarga," protes Masayu.
Akram yang tengah menyuapi Sraya hanya tersenyum masam mendengar perkataan sang ibu, ia sendiri tidak menyangka kalau ibunya akan sering menginap dan datang berkunjung. Akram yang awalnya berpikir akan hidup damai untuk beberapa waktu bersama Sraya dan Sagara di apartemen miliknya, nyatanya tidak demikian.
"Iya, Bu, nanti Akram akan cari rumah yang lebih besar dari apartemen ini," jawab Akram.
"Jangan mikirin biaya, ibu dan bapak kamu masih sanggup untuk membeli sebuah rumah untuk anak, mantu, dan cucu kesayangan kami."
"Makasih banyak, Bu. Tapi aku sama Mas Akram gak mau merepotkan, Ibu dan bapak lagi," ucap Sraya.
"Ibu gak merasa direpotkan sama sekali, Nak. Kalo kalian punya rumah yang lebih besar. Ibu dan ibu kamu bisa menginap lama-lama bersama kalian."
__ADS_1
"Ibu doakan saja rejeki kami lancar, dan usaha cafe kami sukses." Akram mengelus punggung ibunya sambil tersenyum.
Setelah selesai makan malam Masayu membantu Labiqa membersihkan peralatan makan yang tadi mereka pakai. "Labiqa, kamu ini mirip sekali dengan adiknya Akram." ucap Masayu.
"Adiknya pak Akram, Bu?"
"Iya, Nduk, anak perempuan ibu. Dia mirip dengan kamu, kalem gak banyak omong dan rajin, sekarang dia tinggal di Aussie." Masayu mulai menceritakan Nastiti pada Labiqa, tanpa terasa waktu semakin larut dan akhirnya Labiqa memutuskan untuk segera pulang ke kontrakannya.
Pagi-pagi sekali Amel sudah terbangun dan segera mengambil testpack yang kemarin ia simpan di dalan tas kerjanya. Buru-buru ia masuk ke dalam kamar mandinya untuk memastikan sekali lagi kalau yang kemarin adalah kesalahan.
Sama dengan hari kemarin, Amel menunggu beberapa saat untuk mengetahui hasilnya pagi ini. Dengan membuka kelopak matanya pelan-pelan dan disertai rasa cemas, Amel mendapati hasil yang sama, bahkan dua garis biru yang ada di testpack menunjukkan hasil yang jelas.
Amel menghela nafasnya berat dan tubuhnya merosot ke lantai kamar mandi yang dingin. Amel menahan suara tangisnya agar tidak terdengar sampai keluar kamarnya. Ia tidak menyangka sama sekali kalau kecerobohannya kali ini, membuat dirinya sampai berbadan dua.
"Aku harus bicara pada Joe."
Setelah bersiap-siap dan berdandan seperti biasa, Amel segera memesan taxi online ke kantornya. Orang yang paling ingin Amel temui pagi ini adalah Joe, ayah dari jabang bayi yang sedang ia kandung. Ia ingin membicarakan hal ini pada Joe.
Amel memasuki ruang kerja friend with benefitsnya, namun. Amel tidak mendapati keberadaan Joe, bahkan dari pagi nomor ponsel lelaki itu tidak dapat dihubungi.
"Mbak cari pak Joe?" tanya seorang rekan kerja yang berada satu divisi dengan Joe.
"I-iya, Mbak Rani. Pak Joe belum datang ya?"
__ADS_1
"Loh, Mbak Amel belum tau? Pak Joe udah gak kerja di perusahaan ini lagi."
"A-apa?"