
Nastiti memandang dengan seksama sosok bayi laki-laki pada layar gawainya. Bayi itu telihat tenang dalam tidurnya, tubuh nya terlihat sehat dan gemuk untuk bayi berumur tiga bulan. Pipi Sagara berisi dan merona kemerahan selaras dengan warna bibirnya. Bulu mata nya panjang dan hidung yang sangat mancung.
Nastiti semakin menangis karena rasa rindu yang bercampur dengan rasa bersalah. Ia tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu sebagaimana mestinya, ia belum pernah sekali saja memberikan susu secara langsung, memandikan, menggendong, mendadani, maupun menidurkan Sagara dalam pelukannya.
Wajah Sagara mirip dengan ayah biologisnya, Maxwell. Mungkin hanya tiga puluh persen saja raut mukanya terlihat seperti Nastiti.
"Mba, berjanjilah untuk mengirimi aku foto Sagara setiap harinya, dan selalu kabarkan aku bagaimana perkembangan Sagara. Maaf aku sudah merepotkan, mba Sraya. Hanya, mba. Saja yang bisa aku percaya untuk menitipkan dan mengasuh anakku."
"Kalau saja aku tau nomormu, tanpa kamu mintapun aku akan selalu memberitahu perkembangan Sagara setiap harinya, Nas. Mba enggak tahu apa rencana kamu? Tapi kalau kamu rasa itu yang terbaik, maka selesaikanlah, Nas. Dan untuk Sagara, kamu tidak perlu mengkhawatirkanya. Sagara sudah aku anggap layaknya anak kandungku sendiri, Nas."
Setelah mereka puas mengobrol dan melepas rindu lewat sambungan video, Akram meminta berbicara empat mata dengan Nastiti. Untuk itu, ia sengeja mengambil tempat di balkon apartement. Akram memastikan lebih dulu, baik Sraya atau Amel tidak bisa mendengarkan apa yang akan ia bicaran dengan adiknya.
"Nas, bagaimana kehidupan kamu di Brisbane? Apa semua baik-baik saja?" tanya Akram penuh perhatian.
"Nastiti disini baik-baik saja, mas. Nas, juga sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus di kota ini, selain itu--" Nastiti menjeda kata-katanya, ia ragu untuk jujur kalau saat ini dirinya tinggal berdua saja dengan dr. Rei tanpa ada ikatan apapun.
__ADS_1
Nastiti tidak mau kalau sampai Akram berpikiran macam-macam mengenai dirinya, tanpa Nastiti tahu. Akram selalu menerima laporan tentang Nastiti setiap harinya. "Kamu di sana tinggal bersama siapa, Nas?"
Nastiti berusaha tetap tenang untuk menjawab pertanyaan dari Akram. Setelah terdiam beberapa lama tanpa ada jawaban, akhirnya Nastiti memberanikan untuk jujur.
"Nas disini tingga serumah dengan dr. Rei, mas," ucap Nastiti dengan suaranya yang terdrngar lirih.
"Dengan dr. Rei?" tanya Akram pura-pura tidak tahu, dalam hatinya, ia merasa lega karena Nastiti sudah mau jujur.
"Maafkaan, Nas. Mas, tapi selama Nas tinggal seatap dengan dokter Rei, kami berdua cukup tahu batasan dan tidak pernah melakukan apapun, dokter Rei selalu menjaga Nastiti dan melindungi Nastiti, mas. Terlebih Nas baru di kota ini," jelas Nastiti.
"Mas bersyukur kalo ada seseorang yang menjaga kamu dengan baik, Nas. Mas sudah tau tentang dokter Rei dari Sraya dan juga mbok Darmi. Jaga diri kalian baik-baik, Nas. Dan ingat unggah-ungguh yang telah diajarkan oleh bapak dan ibu, walaupun sekarang kamu ada di negara orang."
"Ibu Emah dan mbok Darmi alhamdulillah sehat, Nas."
"Sampaikan salamku untuk mereka, mas. Nastiti juga belum mengucapkan selamat atas pernikahan mas dan mba Sraya. Pilihan mas sudah sangat tepat dengan menjadikan mba Sraya sebagai istri, mas."
__ADS_1
"Kalau tidak ada masalah ini, mas tidak mungkin bisa menikah dengan Sraya, Nas. Setiap hal pasti ada baik dan buruknya. Mas ingin bicara dengan serius, Nas. Tolong jawab dengab jujur, tanpa ada yang kamu tutup-tutupi lagi," ucap Akram.
Nastiti sedikit gelisah dengan perkataan Akram barusan yang tampak serius. Ia memegang dada dan terasa kalau jantungnya berdegup sedikit kencang. "Ta--tanya apa, mas?"
"Maxwell, pasti kamu kenal dengan lelaki itukan, Nas?"
Mata Nastiti membulat dengan sempurna, manakala Akram menyebut nama dari seorang lelaki badjingan yang sudah merebut kesuciannya dan membuat hidup gadis itu hancur. Bagaimana kakaknya bisa tahu?
Setelah menghembuskan nafasnya yang agak sedikit berat, Nastiti berbicara dengan suaranya yang sedikit bergetar. "Dia adalah orang yang sudah membuat Nas seperti ini, mas."
Meski Akram sudah mengetahui semuanya, tetapi mendengar langsung dari bibir Nastiti, hatinya bagai dicubit. Akram mengeraskan rahangnya sampai terdengar suara gigi yang bergemeretak. Matanya merah karena sangat marah, tetapi Akram mampu mengontrol kembali emosinya. Ia tidak ingin membuat adiknya itu bertambah beban hatinya.
"Katakan pada mas, Nas. Apa rencana kamu?"
"Nastiti ingin membalas dendam, mas. Nastiti tidak bisa mengikhlaskan lelaki yang Nas yakin, hidupnya masih berjalan baik-baik saja sampai saat ini."
__ADS_1
"Kamu jangan mengotori tanganmu sendiri, Nas. Biarkan mas yang melakukan semuanya untuk kamu, mas sudah tau semuanya."
"Ta--tahu apa, mas?" tanya Nastiti penasaran.