Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Mereka selamat


__ADS_3

"Tapi kenapa, Mbok ?"


Nastiti melirik jam dinding dikamar nya, masih jam dua dini hari. Tapi kenapa mbok Darmi mengajak nya pergi.


"Rumah kita ada yang ingin membakar, Nduk!"


"A-apaa Mbok?" tanya Nastiti terkejut jantung nya hampir turun ke usus.


"Mbok barusan melihat ada dua orang yang sedang menyiram rumah ini dengan bensin, Nduk. Seperti nya mereka merencanakan untuk membakar rumah ini!"


Mbok Darmi sangat panik, dengan asal ia meraih jaket dan memakaikan kepada Nastiti.


"Bagaimana mungkin, Mbok?"


Belum sempat mbok Darmi menjawab pertanyaan Nastiti, dari dalam kamar mereka bisa melihat cahaya merah mulai mengelilingi rumah mereka. Tidak hanya itu saja, asap pun mulai memenuhi seisi rumah.


Mereka berdua sangat ketakutan, namun mbok Darmi berusaha untuk tetap tenang.


"Nduk, dengarkan si Mbok, kita harus bisa keluar dari rumah ini tanpa bersuara. Jangan membuat mereka curiga."


Mereka mencoba keluar dari rumah ini namun semua pintu terkunci dan tidak dapat dibuka. Air mata Nastiti lolos begitu saja, ia tidak akan menyangka akan mengalami ini semua dalam hidupnya.


Dalam kepanikan dan ketakutan mereka, mbok Darmi melihat celah ventiasi di gudang yang cukup untuk mereka lewati. Mbok Darmi mengambil selimut untuk melindungi Nastiti dari api yang berkobar dengan cepat.


Setelah mbok Darmi bersusah payah membuka ventilasi, ia keluar lebih dulu untuk memastikan keadaan diluar. dirasa ia tidak melihat kedua orang yang telah melakukan pembakaran mbok Darmi membantu Nastiti untuk keluar.


Nastiti meremas perutnya dengan kuat karena guncangan yang ia alami saat meloncat. Keduanya berlari mengendap-endap menjauhi rumah yang sedang terbakar oleh si jago merah. Takut kalo ada yang mengikuti mereka.


Kedua orang suruhan Natt tidak menyadari kalau Nastiti sudah keluar dari rumah itu dengan selamat. Setelah mereka melakukan aksinya mereka mengambil jarak untuk bersembunyi.


Mereka kira telah berhasil karena tidak ada suara teriakan dari dalam rumah, mereka juga telah mengunci rumah agar Nastiti dan mbok Darmi tidak bisa keluar. Mereka mengira Nastiti tewas dalam keadaan tertidur.


Kedua orang itu meninggalkan rumah Nastiti saat warga mulai berdatangan untuk memadamkan api.


"Kita belum memastikan keadaan mereka, Bang," ujar salah seorang pelaku.


"Besok kita kembali lagi saat keadaan aman, kalau kita muncul sekarang warga akan mencurigai kita."


Nastiti bersembunyi di kandang kambing salah satu warga. Pak Dani nama nya, kambing kambing itu gelisah karena kehadiran Nastiti dan mbok Darmi.


Mendengar kambing peliharan nya bersikap seperti tidak biasanya dan membuat keributan, pak Dani keluar untuk memeriksa. Takut kalau ada maling.


Ia mengedarkan cahaya senter ke seluruh sisi kandang. Dan sangat terkejut saat melihat dua orang wanita meringkuk duduk di pojok kandang, ia membawa masuk Nastiti dan mbok Darmi kedalam rumah

__ADS_1


"Kamu bukan nya wanita yang tinggal dengan dokter Reihan ?" tanya pak Dani.


"Iya, Pak. Saya Nastiti dan ini Mbo Darmi, kami tinggal dirumah dokter Rei beberapa bulan yang lalu," jawab Nastiti.


"Apa yang terjadi? Kenapa malam malam begini kamu ada di kandang kambing saya, Nak?"


Nastiti menceritakan kalau dirinya menjadi korban pembunuhan. Rumah yang selama ini ia tempati sudah hangus terbakar, Pak Dani sangat bersimpati. Tidak lama terdengar suara beberapa orang berlarian dari arah luar


"Kalian tunggu sebentar."


Pak Dani beranjak dan keluar rumah untuk memastikan. Dari cerita warga yang ia dengar, ternyata benar kalau rumah dokter Rei beserta isinya hangus terbakar tidak menyisakan apapun.


Tapi mereka belum bisa memastikan bagaimana keadaan penghuninya. Pak dani masuk kembali kedalam rumah. Saat peristiwa itu terjadi pak dani tertidur pulas.


"Tadi kata beberapa warga rumah kamu habis terbakar dan tidak menyisakan apa-apa, Nak."


Nastiti hanya menangis mengetahui keadaan ini tapi ia cukup bersyukur karena masih bisa selamat.


"Kamu tinggalah beberapa waktu disini, Nak. keuargaku saat ini sedang berkunjung kerumah saudara kami," pinta pak Dani.


"Saya tidak bisa tinggal disini, Pak. Saya tidak mau membahayakan Bapak. Orang yang mengincar saya adalah orang yang sangat jahat dan berkuasa."


"Lalu kemana kamu akan pergi dalam kondisi seperti ini? Apa kamu punya keluarga di kota ini?"tanya pak Dani.


Baik Natt dan Maxwell juga tidak ada yang mengenal Sraya dan ibunya.


"Saya ada satu kerabat di kota ini, Pak. Mungkin saya akan kesana."


"Apa kita akan kerumah ibu Emah, Nduk?"


tanya mbok Darmi memastikan.


"Iya, Mbok. Hanya beliau yang kita kenal dengan baik di kota ini."


"Kalian istrihatalah, selepas subuh Bapak akan mengantar kalian kerumah kerabat kalian."


"Terima kasih banyak, Pak," ucap Nastiti penuh haru.


Sesuai janji pak Dani. Selepas subuh lelaki paruh baya itu mengantar Nastiti dan mbok Darmi kerumah ibu Emah dengan mobilnya, di dalam perjalanan pak Dani menyempatkan untuk membeli roti dan air mineral untuk mereka.


"Makan lah, Nak. Kamu pasti lapar, maaf kalau hanya roti."


"Terima kasih banyak, Pak. Bapak sudah banyak membantu saya. Entah apa yang harus saya berikan untuk membalas kebaikan, Bapak."

__ADS_1


"Tidak usah dipikirkan, kamu harus bisa selamat. Nah, sekarang terimalah ini, isinya tidak banyak tapi mungkin akan berguna untuk kamu."


Pak Dani memberikan amplop cokelat berisi beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.


'Pak i-iniii … ?" tanya Nastiti bingung setelah menerima amplop tersebut.


"Jangan kamu tolak, Nak. Anggap ini adalah rejeki dari anak yang kamu kandung. Beberapa tahun yang lalu dokter Rei menyelamatkan nyawa putriku yang sakit keras, berkat jasanya putriku bisa hidup sampai sekarang. Sekarang Bapak akan membalas jasanya dengan menyelamatkan mu."


Pak Dani menjeda kalimatnya saat mendengar isak tangis Nastiti dan mbok Darmi.


"Bapak juga akan merahasiakan kejadian ini dari semua orang, biar tidak ada lagi yang akan menyakitimu dan bayimu."


"Terima kasih banyak, Pak. Saya gak bisa mengatakan apa apa lagi atas kebaikan Bapak pada kami."


Mobil berhenti di pekarangan rumah yang sederhana. setelah berpamitan dengan pak Dani, Nastiti mengucapkan salam kepada pemilik rumah.


"Assalamualaikum."


Tok tok tok tok.


"Assalamuakaikun …"


"Walaikumsalam …"


Ibu Emah membukakan pintu dan terkejut melihat kedatangan Nastiti yang terlihat pucat dan penampilan nya yang berantakan.


"Nastiti, Mbok Darmi, apa yang terjadi?"


"Kami baru saja mendapat musibah, Bu." Mbok darmi mewakili menjawab pertanyaan ibu Emah.


"Masuklah … mari silahkan."


Ibu Emah membawa masuk mereka, Nastiti terlihat lemah sampai kedua wanita paruh baya itu harus memapah jalan Nastiti.


"Ya Allah, Nas. Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya bu Emah bingung.


Belum sempat Nastiti menjawab pandangan nya menjadi kabur dan ia tidak menyadarkan diri.


"Nastitiiiii Naaaak …"


"Nduuuuukkkk …"


Teriak mbok Darmi dan bu Emah yang sama sama panik.

__ADS_1


__ADS_2