
''Melamar anak Saya, Pak?'' tanya bu Emah bingung.
''Iya, Bu. Kami ingin anak Ibu, Sraya. Menjadi menantu kami.''
''B-buuuu …'' tegur Akram.
Ibunya hanya melirik Akram dan mengedipkan matanya, memberi isyarat supaya Akram diam.
''Maaf kalau kesan nya terlalu dadakan. Kami tidak bisa berlama lama di Jakarta dan meninggalkan kebun, setelah saya melihat langsung keperibadian Sraya dan keluarga Ibu yang begitu tulus, jujur saya sangat ingin Akram menikahi Sraya.''
Semua nya kini memandang Sraya, Sraya hanya bisa mununduk dan sesekali meremas kedua tangan nya.
Melihat Sraya yang tampak gugup. Masayu mengambil tempat duduk disamping Sraya dan merangkul pundak gadis itu.
''Tetapi Ibu dan Bapak baru beberapa hari kenal dengan anak saya, saya takut kalau nanti kedepan nya Ibu merasa …''
''Menyesal … ?'' potong Permana cepat.
''Kami memang baru beberapa hari kenal dengan Sraya, tetapi putri kami Nastiti. Dia sudah kenal baik dengan Ibu dan Sraya. Bahkan Ibu mau mengurus putri kami, itu sudah menjelaskan betapa Ibu dan keluarga adalah orang yang tulus, baik, dan penyayang.'' Permana menyambung omongan nya.
''Selain itu anak kami, Nastiti. Sangat percaya dan ingin Sraya bisa menjaga Sagara, orang orang dikampung kami juga sudah tahu semua kalau Sraya istri dari Akram. Ada salah satu tetangga kami yang melihat mereka saat di hotel, kami bisa saja mengurus Sagara sendiri. Tetapi pasti akan banyak muncul pertanyaan orang tua dari Sagara? Lebih dari itu Sagara membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Kami tidak tau kapan Nastiti akan pulang, kami percaya Sraya putri Ibu dapat menjadi ibu yang tepat dan baik untuk cucu kami.''
Masayu menjelaskan tujuan nya, ia selalu menangis kalau sudah mengingat atau menyebutkan nama Nastiti.
''Saya bisa merasakan apa yang menjadi kekhawatiran Ibu dan Bapak, tetapi saya tidak bisa memaksakan. Ini adalah pilihan hidup Sraya, dia yang akan menjalankan. Maka saya menyerahkan semua keputusan pada anak saya, Sraya.''
Sraya yang nama nya disebut mengangkat wajah nya dengan air mata yang sudah menetes.
Sraya memandangi satu persatu kedua orang tua Akram, Akram, ibunya, mbo Darmi, kemudian Sagara. Bayi itu terlihat mengerti pembicaraan mereka dan seketika menangis.
''Bagaimana, Nak ?'' tanya pak Permana.
''Bisakah Bapak dan Ibu memberi saya waktu untuk berpikir?'' pinta Sraya.
__ADS_1
''Tentu saja! Kami tidak memaksa kamu untuk memberikan jawaban sekarang juga, kamu bisa berpikir lebih dulu.Tapi Ibu harap, Nak. Sraya mau menerima lamaran ini.''
''Bagaimana dengan Nak Akram sendiri? Kita juga harus tau pilihan Nak Akram.''
Mbok Darmi yang sedari tadi menggendong Sagara dan hanya jadi pendengar, memperhatikan Akram dan Sraya yang tampak masih sangat terkejut atas lamaran dadakan ini. Dan merasa penasaran kemudian bertanya.
''Mbok Darmi benar, Nak Akram. Bagaimana pendapat kamu tentang semua ini?'' tanya bu Emah.
''Saya sangat percaya dengan pilihan kedua orang tua saya, Bu. Kalau Ibu dan Bapak saya memilih Sraya untuk menjadi istri dan ibu sambung bagi Sagara, saya siap menikahi Sraya,'' jawab Akram mantap.
Sraya merasa tersipu malu atas perkataan Akram, ia melirik Akram dan tertunduk lagi.
''Bagaimana dengan perasaan Nak Akram sendiri terhadap anak Ibu, Sraya?''
Akram yang mendapat pertanyaan bu emah itu memandang Sraya dengan lekat, ia mengingat hari hari kemarin. Saat pertemuan mereka pertama kali di kebun kopi, dirumah sakit, dan saat Sraya dalam kesibukan nya selalu menyempatkan untuk menengok dan membantu mengurus Sagara
''Kami memang baru kenal, tapi saya bisa melihat ketulusan pada diri Sraya. Sama seperti alasan yang Ibu saya katakan, Sraya memang wanita penyayang. Untuk itu kalau Sraya menerima lamaran ini, saya berusaha akan menjaga Sraya dan menjadi suami yang baik untuk Sraya. Saya tidak akan memaksa kehendak atau kewajiban yang harus Sraya lakukan sebagai istri, saya akan memunggu dengan sabar sampai Sraya bisa menerima pernikahan ini dan kami sama sama memiliki rasa yang sama.''
Sraya merasa ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya, jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya, bulu kuduknya sampai merinding mendengar jawaban Akram.
Sraya juga mengingat hari hari saat bersama Nastiti, Akram, dan juga Sagara. Nastiti sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
Dia mempercayakan bayi nya kepada Sraya. Lalu dia ingat kepada Akram, lelaki yang belakangan ini ada bersama dirinya. Akram sangat bertanggung jawab dan menghormati keluarga nya.
Terlihat saat Akram menangis karena menyesal dan merasa tidak bisa menjaga Nastiti.
Akram juga selalu berusaha membuat Sraya nyaman saat ada bersamanya. Lalu Sraya melihat pada Sagara, seorang anak yang Nastiti jaga mati-matian.
Bahkan Nastiti harus berpisah saat baru saja melahirkan Sagara hanya untuk keselamatan ibu dan anaknya itu.
Sraya juga sangat menyayangi Sagara. Ia selalu merasa rindu pada Sagara, Sagara seperti sebuah candu bagi Sraya. Saat memandang bayi itu, Sraya merasa bahagia dan tenang
Hening.
__ADS_1
Sampai suara bu Emah mampu mengembalikan lamunan Sraya.
''Nak … kamu engga apa-apa ?'' tanya sang ibu.
''Tidak apa-apa kalau, Nak Sraya menolak lamaran ini, Nak Sraya selama ini sudah banyak membantu kami. Maafkan kami karena tidak berpikir bagaimana perasaan Nak Sraya sendiri.'' Masayu mengelus lembut punggung gadis itu.
''Saya menerima lamaran ini.''
Hening kembali, mereka semua saling tukar pandang. Takut kalau sudah salah tangkap, suara Sraya terlalu kecil di kuping mereka tetapi masih bisa di dengar.
''Kamu bilang apa barusan, Nak?'' tanya bu Emah memastikan.
''Sraya menerima lamaran Mas Akram dan keluarga nya bu," jawab Sraya mantap setelah mengambil nafas cukup panjang.
''Nak, Sraya. Bapak tidak salah dengar kan? katakan sekali lagi Nak Sraya mau menerima lamaran ini?"
"Bapak engga salah dengar, Sraya dengan ikhlas menerima lamaran ini. Tapi Sraya masih butuh belajar banyak untuk menjadi isti Mas Akram, ibu Sagara, dan menantu bagi Ibu dan Bapak.''
Masayu memeluk erat Sraya dan menangis di pundak gadis itu. Ia terlalu senang sampai tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Keesokan paginya. Permana dan Masayu yang sudah tidak sabar untuk meminang Sraya menjadi menantu mereka, memutuskan mengadakan ijab kabul sederhana dirumah ibu Sraya
Dengan mas kawin cincin yang bermatakan berlian, satu set perhiasan, dan juga uang tunai senilai dua ratus juta rupiah yang disiapkan secara mendadak. Akram menikahi Sraya di depan orang tuanya, ibu Emah, mbok Darmi, penghulu, dan seorang wali hakim.
''Saya terima nikah dan kawin nya Sraya Lituhayu Nirbita Rumi binti Shahih Athalla dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.''
''Saksi sah?"
''SAAAAHHHHH!"
''Alhamdulillah …''
Hari itu juga Sraya dan Akram menikah, mereka berdua mendadak menjadi suami istri untuk menjadi orang tua sambung bayi Sagara.
__ADS_1