
Amel bertanya kepada Labiqa karena penasaran dengan sosok gadis yang ada di depannya, iya nilai penampilan Labiqa dari ujung kepala sampai kaki. Kedua tangannya dia sedekapkan di depan dada.
Labiqa berdiri dan tersenyum ramah kepada Amel, tangan kanannya terulur untuk menjabat Amel. "bus Sraya dan pak Akram ada di dalam, Mbak. nama saya Labiqa."
Namun, Amel yang tidak kenal sama sekali dan belum pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya, mengacuhkan Labiqa dan memilih untuk di sofa. "kamu pelayan di sini?"
Labiqa masih dalam posisi berdiri, bisa dia nilai kalau Amel adalah gadis yang cukup sombong dari respon yang ia berikan. antara ada hubungan apa Amel dengan Srayaa dan Akram. "Saya baru ngelamar di cafe ini, Mbak, barusan pak Akram menginterview."
"Oh, gitu," jawab Amel singkat.
Tidak berapa lama muncul Sraya sambil menggendong Sagara, ia sudah mendapati Amel duduk santai di salah satu soffa. "Kamu kesini naik apa, Mel?"
"Naik taksi, Mba, caffe nya bagus deh, mas Akram emang gak salah pilih."
"Iya, Mel. Kami akan ngerubah sedikit interiornya aja. oh iya, Mbak, mau tes masak Labiqa dulu, kamu bisa kan jagain Sagara sebentar?"
Amel berpikir, daripada ia diminta bantu beres-beres. lebih baik ia menjaga Sagara yang tengah tertidur pulas. "Tentu, Mbak. Biar Sagara sama Amel, Mbak, fokus aja sama kerjaan."
"Makasih ya, Mel."
"Eh, Mbak. Itu ada lantai dua ya? boleh gak kalau Amel jagain Sagara di sana, soalnya ada email yang harus Amel kirim juga." Amel memberikan alasan, padahal ia hanya ingin bebas berseluncur di media sosial, tanpa terpantau Sraya.
"Yaudah kalo gitu, Mel. lantai atas juga bersih kok."
__ADS_1
Setelah meninggalkan Amel dan Sagara, Sraya mengajak Labiqa langsung ke kitchen. Di sana Akram sudah menyiapkan bahan dan peralatan memasak.
Labika segera mencuci tangannya dan memakai apron yang disediakan oleh Sraya, sebelum memulai acara memasaknya ia berdoa di dalam hati, satu hal yang sudah menjadi kebiasaan Labiqa-- sebelum memulai sesuatu.
Bahan yang disediakan oleh Sraya adalah aneka seafood. Ada cumi-cumi, udang, dan ikan yang sudah digiling halus. Selain itu ada bahan tambahan yaitu kwetiau, beras, sagu, terigu, lengkap dengan bumbu-bumbunya.
Labiqa diberikan kebebasan untuk mengolah semua bahan itu dalam waktu satu setengah jam. Dalam kepala Labiqa, ada beberapa ide yang melintas. Beras akan ia pasangkan dengan cumi-cumi yang akan ia oleh menjadi nasi bakar, kwetiaw akan ia pasangkan dengan udang menjadi olahan mie, dan untuk ikan giling akan ia pasangkan dengan sagu dan terigu, menjadi olahan otak-otak.
Ia segera mencuci beras dan memasaknya, dengan cekatan ia membersihkan udang dan cumi-cumi. sambil menunggu nasi matang, Labiqa menyiapkan bahan untuk tiga jenis masakannya.
Untuk nasi bakar, Labiqa-- hanya memerlukan bumbu iris dan kaldu jamur. Udang yang sudah ia bersihkan segera diblender bersama bawang putih dan beberapa tambahan bahan lainnya untuk bumbu kwetiaw.
Otak-otak yang Labiqa buat, memakai perbandingan sagu yang tidak seberapa banyak, agar rasa dari ikannya dapat terasa saat masuk kedalam lidah. Untuk menghemat waktu, Labiqa mengerjakan nasi bakar dan otak-otak, lalu membakarnya bersamaan.
Sambil menunggu dua menu sebelumnya matang, Labiqa memasak kwetiaw. Aroma masakan Labiqa sangat harum tercium seisi kitchen. Dari wanginya saja, Sraya yakin kalau masakan gadis ini akan terasa enak dan menggoyang lidah.
Akram yang masih fokus dengan maacbooknya, segera menghampiri Sraya dan Labiqa. "Wah, ternyata udah selesai ya masaknya?"
"Udah, Mas. Ini semua hasil masakan Labiqa, ayok kita coba," ajak Sraya.
"Keliatannya enak nih, platting nya juga cakep. Kaya makanan di restoran terkenal," puji Akram.
"Oh iya ... aku panggil Amel dulu, biar suruh ikutan nilai." Sraya bangkit dari duduknya, namun tangan Akram menghentikan Sraya. "Kenapa, Mas?" tanya Sraya.
__ADS_1
"Amel biarin aja jaga Sagara di atas, untuk makanannya nanti bisa kita sisihkan, lagian kayaknya dia masih ngerjain sesuatu di laptopnya."
Labiqa sedari tadi berdiri dengan perasaannya yang campur aduk. Meskipun ia cukup yakin, tetapi ada sedikit rasa takut dalam hatinya, takut kalau masakannya tidak sesuai dengan selera Sraya dan Akram. Sampai ia lupa menyediakan sumpit untuk alat makan otak-otak buatannya, tersadar. Labiqa langsung masuk kembali ke dalam kitchen untuk mengambil sumpit.
"Permisi."
Suara dari seorang laki-laki membuat Sraya dan Akram menoleh, Sraya mengingat kembali siapa sosok pemuda yang berdiri di pintu masuk caffe. laki-laki tampan yang seumuran dengannya. "Daren?"
"Pak Daren?" tanya Akram pura-pura tidak tahu. "Silahkan masuk."
Sraya kini memandang suaminya, mencari jawaban kenapa Daren bisa ada di sini. Darren melangkahkan kakinya masuk ke dalam caffe dan tersenyum menatap Sraya. "suatu kebetulan bisa bertemu dengan kalian, apa kalian sedang makan di sini juga?" tanya Daren.
"Caffe sebelumnya sudah tutup dan kami beli, rencana kami akan membuka caffe ini dengan konsep baru," jawab Sraya.
Daren bukannya tidak tahu. Ia dan Akram sebelumnya sudah ada janji temu, Akram meminta Daren untuk membawakan data yang ia minta, karena tidak mungkin untuk meninggalkan Sraya-- maka ia memutuskan agar Daren saja yang mengunjungi dirinya ke Caffe.
"Silahkan duduk," pinta Akram.
Daren menuruti perkataan Akram yang notabene adalah atasannya, ia mendudukkan bokongnya di sebrang sofa yang Akram dan Sraya tempati. "Jadi caffe ini sekarang milik Pak Akram dan Bu Sraya? Saya baru tahu, karena sebelumnya saya cukup sering makan disini," ucap Daren memainkan perannya, agar istri Akram itu tidak curiga, ditambah ada Amel di sini. Untung saja Amel berada di lantai atas.
"Benarkah? suatu kebetulan, Pak Daren. Kalau gitu sekalian saja anda ikut mencicipi masakan calon koki kami." Akram menatap Sraya, seakan meminta persetujuan.
Sraya yang mengerti dengan tatapan suaminya kemudian mempersiapkan piring dan alat makan lainnya untuk Daren. "Anda gak boleh nolak, meskipun ini masakan dari calon koki kami. Aku bisa jamin kalau rasanya enak."
__ADS_1
"Pak, Bu. Maaf tadi saya lupa membawakan sumpit," ujar Labiqa.
Daren spontan membalikan badan. Matanya bertemu dengan mata Labiqa. Gadis itu menahan nafas saat tahu kalau lelaki yang kini ada di hadapannya adalah sosok lelaki yang arogan, ia ingat kalau Daren adalah lelaki yang memesan bunga dan membuat dirinya dipecat dari pekerjaan sebelumnya.