
Akram
Malam ini aku menemani Amel yang minta dirawat karena katanya merasa sesak, dokter sudah menjelaskan bahwa alergi nya di sebabkan oleh reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh yang salah.
Sistem kekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi protein dalam hewan laut tersebut sebagai zat berbahaya. Akibatnya, tubuh melepaskan histamin dan bahan kimia lain yang menyebabkan reaksi alergi.
Sebenarnya dengan melakukan terapi uap saja selama setengah jam Amel sudah diperbolehkan pulang, tetapi Amel bersikeras untuk di rawat semalam. Aku memesan kamar VIP untuk nya.
Amel menjadi sangat manja saat sakit, berulang kali aku harus menuruti permintaan-permintaan kecil nya.
Mas tolong ambilkan Amel minum.
Mas tolong suapi Amel makan.
Mas tolong oleskan salap.
Mas tolong antarkan Amel ke kamar mandi.
Mas tolong kipasi Amel.
Padahal ruangan VIP ini sudah dingin dan pasien sesak harusnya bisa menjaga suhu nya terjaga, Entahlah?
Semenjak aku menikahi Sraya dan menjadikan nya sebagai istriku, rasanya aku tidak ingin dekat dengan wanita lain lagi. Termasuk Amel, meskipun dia adalah sepupu angkatku dan sebelum nya aku tinggal selama satu tahun di rumah ayah Amel, pakde Trisna.
Saat masa kuliah semester satu aku dekat dengan seorang gadis. Hubungan kami menjadi semakin baik karena intensitas pertemuan kami yang bukan hanya di kampus, tapi juga merambat keluar kampus.
Aku, wanita itu, dan juga sahabat baikku, Aslan Benjamin Pradipha. Kami seringkali terlihat bersama dimana pun kami pergi.
Pada semester ketiga aku memberanikan diriku untuk menyatakan cinta kepada gadis itu, bagai gayung bersambut. Pernyataan cinta ku diterima dengan baik sampai akhirnya kami menjalin kasih hingga lulus S2 Magister Managemen Bisnis.
Perjalanan cinta yang panjang selama lima tahun tidak selama nya mulus, aku dan gadis itu beberapa kali putus sambung.
Alasan terakhir kami berpisah adalah dia ingin melanjutkan karier nya bekerja pada perusahaan besar di luar negeri. sedangkan aku memilih melanjutkan jejak ayah angkatku sebagai petani.
Tidak aku sangka kalau itu hanyalah alibi nya saja, padahal ia dan Aslan ternyata telah menjalin kasih dibelakangku yang sudah berjalan tiga bulan. Miris bukan?
Aku ditikung sahabat ku sendiri dan di khianati kekasih ku. Kami bertiga berasal dari keluarga yang mampu, tetapi sebutan sebagai petani rupanya tidak cukup bagus untuk gadis itu.
Belum tau saja dia berapa aset yang aku miliki, saham-saham yang aku beli, serta warisan dari kakek kandungku. Aku selama ini memilih hidup sederhana, berbeda dengan Aslan yang terlalu menunjukan gaya hidup nya yang mewah.
__ADS_1
Tiga bulan setelah kami putus, gadis itu menikah dengan Aslan. Berarti pernikahan mereka sudah berjaan selama tiga tahun, karena kami bertiga seumuran saat lulus S2 yaitu dua puluh empat tahun.
Dan selama itu aku menjomblo sampai akhirnya aku bertemu dengan Sraya Lituhayu Nirbita Rumi dan menikahinya.
Ah sial!
Mengapa aku jadi teringat kepada gadis itu dan juga Aslan. Aku menyibukan diriku untuk mempelajari bisnis yang memiliki prospek baik, selain itu aku selalu memantau grafik saham yang aku beli.
Sekarang aku tinggal di Jakarta, akan terlihat sangat aneh kalau aku tidak bekerja tetapi memiliki pemasukan. Apa kata Sraya dan orang-orang nanti? aku harus membuat bisnis yang terlihat secara fisik, hanya sekedar kamuflase saja.
Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari tetapi rasa kantuk tidak urung datang jua, jujur saja saat ini aku membutuhkan pelukan Sraya.
Aku bisa tertidur pulas hanya dengan mendekap tubuh istriku dan menghirup aroma tubuhnya yang membuat aku ketagihan dan merasa nyaman ada di dekatnya. Aku baru bisa tidur saat sudah jam tiga subuh.
Selepas sholat dzuhur aku membawa Amel untuk pulang kerumah, tadi pagi aku mendapatkan kiriman sarapan dari Sraya. Ia tidak bisa datang kemari karena ada petugas yang akan memasang CCTV.
"Mel apa ada yang ketinggalan?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam mobil dan hendak pulang ke apartment.
"Gak ada kok, Mas. Kenapa sih aku ga di rawat semalam lagi, Mas?" Amel bertanya dan memandangku dengan tatapan yang berbeda. Entah mengapa semenjak aku menikah anak ini seperti berubah.
Aku memalingkan wajahku dan fokus menyetir. "Kamu aneh, Mel."
"Orang-orang gak mau di rawat lama di rumah sakit, sedangkan kamu malah mau nambah."
"Ya aku pingin nya di rawat sampai aku bener-bener sembuh, Mas," ucap Amel
"Emang apa yang kamu rasaian? Bukan nya kata dokter tadi kamu udah jauh lebih baik? Saturasi pernapasan kamu juga udah stabil, Mel." Aku memandang ia sekilas dan terlihat Amel memanyunkan bibir nya.
Aku merasa kaget saat tangan kiriku dipegang amel dan mengarahkan ke lehernya. "Ini Mas badan aku masih anget."
Aku segera menarik tangan ku dari leher Amel, ternyata gadis itu ingin aku mengecek suhu tubuhnya. Kenapa harus di leher? Kenapa tidak di dahi?
"Badan kamu gak panas kok, Mel," jawabku singkat.
Jarak rumah sakit dan apartment miliku tidak jauh, dua puluh menit kami sampai di tower apartment kami. Aku ingin segera menemui Sraya dan Sagara, aku juga sudah lapar ingin makan masakan istri cantikku.
Bell apartment aku tekan dan tidak butuh waktu lama Sraya menyambut kedatanganku dengan senyum hangat nya.
"Assalamualaikum." Aku mengucapkan salam dan memberikan tanganku untuk Sraya salim. Sraya menerima uluran tangan dan mencium punggung tanganku. "Mas udah pulang." Sraya tersenyum cerah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Dik. Amel udah sembuh." Aku mencium kening Sraya sambil menjawab pertanyaan nya.
Amel dan Sraya tampak mengobrol sambil masuk ke dalam apartment disusul aku yang paling akhir.
"Loh, Mba. Ada tamu ya?" tanya Amel pada Sraya.
Akupun menatap tiga orang yang sedang duduk di ruang keluarga. Satu lelaki dewasa dan satu wanita dewasa duduk membelakangiku, satu lagi balita yang menatap ke arahku sambil meminum susu kotak kemasan.
Aku perkirarakan mereka adalah keluarga, tetapi siapa?
"Mas kenalin ini Mba Sofia dan Mas Aslan." Bertepan Sraya menyebutkan nama mereka, sepasang pasutri itu pun membalikan badan nya menatap kearahku.
"Dan ini anak mereka, Mas. Dedek Aska, yang usianya tiga tahun," tambah Sraya menjelaskan.
"Sofi ... Aslan?" Aku tersenyum sinis setelah mengetahui tamu siang hariku ini adalah mantan pacar dan juga mantan sahabatku di masa lalu.
"Akram!" Sofi dan Aslan menyebut nama ku bersamaan.
Aku duduk di seberang mereka tanpa mau bersalaman. "Apa kabar kalian? Ternyata sudah punya anak ya, kok nikah ga undang-undang sih?"
Sraya dan Amel yang dari tadi memperhatikan ikut penasaran. Hingga Amel duduk di sebelahku dan bertanya, "Mas kenal dengan mereka?"
Sraya sendiri memilih untuk mengambilkan aku minum lebih dulu baru bergabung bersana kami.
"Mereka temen kuliah mas dulu, Mel. Temen kuliah dari semester pertama sampai lulus S2."
Aku sengeja menekan kata-kata teman saat menyebutkan kan, menyindir mereka secara halus. Sraya datang dan meletakkan dua gelas minuman untuk aku dan Amel.
"Mba Sofi dan Mas Aslan temen kuliah, Mas?" tanya Sraya.
"Iya sayang, mereka temen kuliah Mas."
"Kebetulan banget, Mas. Mereka itu tetangga baru yang akan tinggal di unit apartemen depan," ucap Sraya.
Aslan yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara dan menegakkan posisi duduknya. "Jadi kamu suami Mba Sraya, Akram?"
Belum juga aku menjawab, Sofi sudah angkat bicara. Ia melingkar kan tangan nya pada tangan Aslan. "Pantas aja aku gak asing dengan wajah Sraya, aku baru inget pernah liat fotonya di grup anak-anak kampus kita dulu. Tepat nya poto pernikahan kalian."
"Ternyata dunia itu sempit ya," ujar Aslan.
__ADS_1
Ya sangat sempit sampai aku harus bertemu lagi dengan mantan pacar dan mantan sahabat.