Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Melahirkan


__ADS_3

"Saya jemput mas Akram, Boss?" tanya Sraya lagi.


"Iya kamu. Sraya Lituhayu Nirbita Rumi," jawab Willem memperjelas.


"Kau sudah kenal dengan nya kan. Jadi kau saja yang menjemput dia, kalau Rio pasti akan sibuk."


Sraya menengadahkan tangan nya dan menatap Willem.


"Apa lagi?" tanya Willem.


"Ongkos Boss, masa saya harus berjalan kaki," pinta Sraya.


"Ck, kau ini."


Willem mengeluarkan lima lembar pecahan seratus ribu, membuat Sraya matanya berbinar bahagia.


"Terima kasih, Boss yang terbaik."


Sore itu juga Sraya memesan taxi online menuju bandara untuk menjemput Akram. Tadi sebelum berangkat Willem juga meminta Sraya untuk langsung mengajak Akram ke hotel yang telah di pesan.


Pesawat telah landing sepuluh menit yang lalu. Akram menginjakan kakinya di kota Jakarta, lelaki itu menjadi pusat perhatian beberapa orang di bandara.


Dengan mengenakan kaos turtle neck cream, dibalut jaket kulit hitam, celana dasar senada, ditambah kacamata yang bertengger di hidung mancung nya. Siapa sangka kalau dia adalah seorang petani, penampilan nya sungguh menipu mata.


Akram mengedarkan pandangan nya. Tadi Willem memberitahu kalau Sraya yang akan menjemput dirinya setiba di bandara.


Sampai matanya tertuju pada satu sosok gadis yang sore itu mengenakan dress vintage berwarna hitam sepanjang betis. Rambut nya yang hitam bergelombang seakan melambai saat tertepa angin.


''Sraya …''


Sapa Akram yang membuat Sraya fokus menatap dirinya selama beberapa detik. Akram berdehem merasa salah tingkah diperhatikan seperti itu oleh seorang Sraya.


''Ehhh Mas Akram. Kupikir wisatawan asal Korea," jawab Sraya polos.


"Hahaha kamu bisa saja, Dik."


'Dik' Sraya bermonolog dalam hatinya.


''Selamat datang Mas di kota Jakarta,'' sapa Sraya dengan senyum manisnya.


''Terima kasih, Dik Sraya. Apa kamu menunggu lama?''


''Tidak juga, Mas. Cuma sekitar sepuluh menit, Mas mau langsung ke hotel atau mau makan dulu?''


''Bagaimana kalau restaurant dulu? Apa kamu lapar?''

__ADS_1


Akram dan Sraya memesan taxi online menuju restaurant. Di dalam mobil mereka merasa canggung.


Di jam yang sama di kota Bandung. Setelah membantu bu Emah dan mbok Darmi memilih sayuran, Nastiti merasakan perutnya sangat sakit. Sebenarnya sudah dari subuh tadi, hanya saja masih bisa Nastiti tahan.


Ia takut kalau ini hanya kontraksi palsu saja, Nastiti pernah mengalaminya beberapa kali di bulan-bulan sebelumnya. Ia tidak mau membuat bu emah dan mbok Darmi cemas.


Bu Emah menyadari perubahan wajah Nastiti. wanita yang sebentar lagi menjadi seorang ibu itu terlihat beberapa kali meringis menahan sakit, wajah nya menjadi pucat, dan keluar bulir bulir keringat sebesar biji jagung.


''Nak, Nastiti apa kamu tidak apa-apa?'' tanya ibu Emah memastikan.


''Anu bu … perut Nastiti sakit sekali.''


''Sejak kapan kamu merasa sakit seperti ini, Nduk?''


''Sejak subuh tadi, Mbok.''


''Kenapa kamu ga bilang sama kami, Nduk,'' mbok Darmi terlihat sangat khawatir akan keadaan Nastiti.


''Mbok, sepertinya Nastiti akan melahirkan, ayo Mbok kita harus segera ke bidan,'' seru bu Emah tidak kalah cemas.


Mbok Darmi dan bu Emah dengan sigap membawa Nastiti ke bidan yang membuka praktek di kampung sebelah. Rasa sakit yang di alamai Nastiti semakin menjadi, air ketuban nya pun sudah mengalir dari kedua sela kaki Nastiti, namun bayi nya tidak kunjung keluar.


Bidan tidak sanggup mengambil tindakan lebih, alat-alat di tempat praktek nya tidak selengkap dirumah sakit. Nastiti harus melahirkan caesar.


Akhirnya dengan ambulans Nastiti dilarikan ke rumah sakit di kota Bandung. Bagai sudah menjadi takdir mereka, orang suruhan Rei berhasil menemukan keberadaan Nastiti dan segera mengabarkan kepada Rei.


Rei langsung menancap gas saat menerima kabar tentang Nastiti. Saat ini Nastiti dilarikan kerumah sakit Mitra Keluarga dan mendapat tindakan operasi caesar.


Rei mengubungi kenalan nya yang seorang penyewa pesawat pribadi untuk mengurus keberangkatan nya dan Nastiti hari ini juga. Setelah sampai dirumah sakit ia langsung menuju ke ruang persalinan.


Di depan ruang operasi tampak mbok Darmi dan bu Emah cemas menantikan kabar Nastiti.


''Mbok Darmiiiiiii."


Mbok Darmi menoleh, tangis nya hampir pecah. Ia tidak menyangka akan dipertemukan lagi dengan majikan yang sudah ia ikuti selama sepuluh tahun.


''Den, Reihaaaaaan." Keduanya saling bepelukan melepas kerinduan juga kekhawatiran.


''Alhamdillah akhirnya aku bisa nemuin Mbok, Nastiti. Bagaimana kondisi Nastiti, Mbok?'' tanya Rei tidak sabar.


''Non Nastiti ada di dalam kamar operasi. Den, Dia melahirkan caesar."


Rei menghela nafas panjang. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa cemas di dadanya, ia mengingat kesepakatan dan juga ancaman Natt. Mata dan telinga Natt ada dimana-mana. Dia harus bergerak cepat sebelum Natt mendapati Nastiti dan anaknya.


Mbok Darmi mengenalkan bu Emah pada Rei dan menceritakan semua yang telah ia alami bersama Nastiti. Beberapa kali Rei mengucapkan terimakasih pada bu Emah.

__ADS_1


Lampu ruang operasi telah dimatikan pertanda operasi telah selesai. Pintu dibuka dan keluar seorang dokter pria yang menangani persalinan Nastiti.


''Dokter Farhan?'' Rei menyapa dokter Farhan yang dulunya adalah kakak tingkat di fakultas kedokteran yang sama.


''Dokter Reihan?''


''Iya, Dokter. Ini saya, apa Dokter yang menangani kelahiran Nastiti?"


''Ya benar Dokter Rei, selamat Nastiti melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki yang sehat. Hanya saja tadi ada sedikit kendala yang membuat Nastiti tidak bisa lahir normal,'' jelas dokter Farhan.


''Lalu, bagaimana kondisi Nastiti, Dok?"


''Nastiti baik-baik saja, saat ini dia dalam masa pemulihan.''


Setelah mendapatkan jawaban dari dokter Farhan mereka bisa bernafas lega. Satu jam akhirnya Nastiti dipindah keruang rawat, rasa khawatir pada wajah bu Emah dan mbok Darmi berganti menjadi binar wajah yang bahagia.


''Selamat, Nduk. Kamu sudah jadi seorang ibu,'' ucap mbok Darmi haru.


''Makasi Mbok, makasih udah selalu menemani Nastiti selama ini.''


''Kamu melahirkan bayi yang sehat, Nak,'' tambah bu Emah.


''Alhamdulillah Bu, maafin Nastiti yang selama ini menyusahkan Ibu dan mba Sraya.''


Dalam keadaan panik tadi mereka lupa memberikan kabar pada Sraya, ibu Emah mencoba mengubungi Sraya untuk memberikan kabar kelahiran Nastiti. Dua kali ibu Emah berusaha menelpon Sraya tetapi tidak ada jawaban, sampai panggilan ketiga terdengar suara Sraya dari sebrang sana.


''Halo assalamualaikum ibu ku yang cantik.'' Goda Sraya disambungan telepon nya. Saat ini Sraya dan Akram tengah menunggu pesanan di salah satu restaurant tradisional di kota Jakarta.


''Halo walaikumsalam Sraya, kamu lagi dimana nak?''


''Sraya lagi makan malam aja bu sama teman Sraya, ibu lagi dimana?'' tanya Sraya.


Akram menyedot es teh manis nya yang baru saja diantarkan waitress sambil telinga nya menangkap pembicaraan Sraya dengan seorang yang tadi disebut ibu.


''Ibu dirumah sakit nak.''


''Siapa yang sakit bu? Apa asam lambung ibu kumat?'' tanya Sraya cemas.


''Bukan nak, Nastiti melahirkan. Bayi nya sudah lahir.''


''Apa lahiran buuuu …''


Sraya agak menekan suara nya katena terkejut. Akram mengernyitkan dahi nya.


'Tadi asam lambung ? Sekarang lahiran' gumam Akram dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2