Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Bertemu ayah ?


__ADS_3

Setelah melaksanakan akad nikah yang sederhana, mereka kembali ke Jakarta. Akram dan sraya tinggal bersama di apartment.


''Nak, kamu mau gaun yang model nya seperti apa?''


''Terserah ibu saja, Sraya percaya pilihan Ibu."


''Pokoknya kamu pilih sesuai selera kamu, seorang perempuan pasti pernah memimpikan gaun yang akan dipakai saat acara pernikahan nanti.''


''Kalau boleh Sraya ingin gaun yang simple dan sederhana saja bu.''


''Apa kamu enggak kepingin yang mewah? Seperti orang orang, Ibu berencana akan mengadakan acara gede-gedean nanti.''


''Untuk acaranya Ibu bisa mengatur sesuai keinginan Ibu seperti apa? Ibu juga pasti pernah memimpikan pesta untuk anak-anak Ibu kan? Kalo Ibu bahagia, Sraya akan lebih bahagia.''


Sraya yang sedang mendadani baby Sagara yang baru mandi sore itu terlihat sedang berdiskusi dengan ibu mertuanya. Masayu berniat akan mengadakan pesta resepsi Akram dan Sraya di desa nya dua minggu lagi


Akram dan Permana yang ikut mendengarkan mertua dan menantu itu, hanya menanggapi kalau sesekali Masayu bertanya tentang pendapat mereka. Mereka lebih fokus pada penjualan hasil bumi dari kebun mereka.


''Akram kamu mau tema nya yang bagaimana? untuk warnanya lebih suka cerah atau pastel?''


Masayu terliat antusias. Lalu Akram menoleh pada ibuya sebentar kemudian beralih pada Sraya yang masih mendandani baby Sagara


''Dik Sraya, kalau kamu mau yang seperti apa?''


Akram meletakkan macbook nya dan duduk lebih dekat dengan Sraya, Sraya tampak berpikir dan sesekali menciumin baby Sagara dengan gemasnya.


''Tema adat atau nasional aku engga keberatan salah satunya, Mas. Kalau untuk warna aku lebih suka warna nude atau nuansa putih.''


Akram tersenyum mendengar Jawaban istrinya, Sraya bukan orang yang terlalu pemilih dan gadis itu ternyata sederhana


''Apa Ibu bisa mengatur saat pagi acara adat, dan siang harinya bertema nasional?''


''Tentu sajaaaa! Kalian serahkan semuanya pada Ibu."


Setelah disepakati tentang acara resepsi nanti, Masayu dan Permana memutuskan untuk pulang ke esokan harinya. Tidak seperti malam kemarin, untuk pertama kali nya Akram dan Sraya tidur di ranjang yang sama.


Masayu sengaja membuat mereka tidur berdua, karena ingin membuat mereka lebih dekat lagi. Dengan begitu hubungan mereka yang mendadak suami istri bisa berkembang.


Sraya sangat canggung saat Akram mengambil tempat di sebelahnya, sedangkan baby Sagara tidur bersama Masayu dan Permana. Dengan alasan besok mereka akan pulang kampung.


''Apa kamu menyukai kamar ini? Apa ada yang harus, Mas. Ubah, cat nya atau furnitur nya?'' tanya Akram berbasa basi untuk memancing agar Sraya bisa lebih nyaman


''Aku suka semuanya, Mas. Kamar ini sudah bagus. Cumaa …'' potong Sraya.

__ADS_1


''Apa ada yang kurang?'' tanya Akram penasaran.


''Kita belum menyiapkan box bayi untuk Sagara. Juga barang-barang nya, Mas.''


''Apa ada lagi? hmm ... setelah kita mengantar Bapak dan Ibu kebandara besok, pulang nya kita belanja kebutuhan Sagara bagaimana?''


'Kurasa sudah cukup, Mas. Untuk saat ini."


''Apa kamu nyaman tidur berdua sama, Mas?''


Sraya terdiam sesaat lalu mengganti posisinya menghadap suaminya, dari tadi mereka mengobrol menatap atap kamar. Akram juga membalikan badan sehingga mereka bisa bertatapan.


''Aku percaya dengan ucapan, Mas. Saat melamarku, Mas. Gak akan memaksakan sesuatu sebelum aku siap.''


Akram tersenyum. Dipandangi nya wajah sang istri, membuat Sraya tersipu malu. Akram menarik selimut untuk mereka berdua dan mengganti lampu tidur.


''Tidurlah, Mas. Akan menepati janji Mas. Mas, Akan berusaha menjaga kamu. Terima kasih sudah mau menjadi ibu Sagara dan terimakasi buat apa yang sudah kamu lakukan untuk Nastiti''.


Sraya tersenyum dan memejamkan matanya, Akram juga melakukan hal yang sama. Namun disaat Sraya sudah terlelap dalam tidurnya, Akram membuka mata.


Diam diam Akram menatap wajah Sraya yang sedang tertidur. Wajah nya yang polos, terlihat cantik dimata Akram meski tanpa polesan makeup.


Bibirnya merah muda alami, yang membuat Akram ingin suatu saat bisa mencium nya. Ada perasaan yang membuat lelaki itu tenang saat bersama Sraya.


Beberapa kali Masayu dan Permana menciumi cucu mereka yang masih bayi merah, ada perasaan yang enggan untuk berpisah.


Setelah menitipkan Sagara pada Akram dan Sraya mereka, pasangan suami istri paruh baya itu siap berangkat dengan pesawat.


Sesuai janji Akram pada Sraya. Setelah dari bandara mereka berkeliling di mall untuk memberi kebutuhan Sagara.


''Mas, aku lupa kalau nanti malam ada undangan makan malam dirumah mister Willem.''


''Oh ya? Jam berapa acaranya ?''


''Jam tujuh malam, Mas. Apa aku boleh datang?''


''Tentu saja, Mas. Engga melarang kamu. Apa Mas boleh ikut?''


Akram ingat andrean sepertinya menyukai Sraya, terlihat dari cara lelaki belasteran Perancis itu menatap Sraya. Akram tidak suka itu.


Sraya berpikir, tidak mungkin menolak permintaan suami nya tetapi dia belum meberitahu teman teman nya kalau sudah menikah.


''Boleh, Mas. Aku juga mau memberi tahu teman temanku kalau sudah menikah.''

__ADS_1


''Lalu Sagara? Bagaimana kamu akan menegenalkan nya pada mereka?''


''Tentu saja aku akan mengenaklan bayi tampan ini sebagai anakku.''


Sraya mengelus pipi sagara yang terlihat anteng di baby stroler yang didorong suaminya, sampai ia tidak sengaja menabrak seorang bahu pria didepan nya.


''Ahhhhwww …''


Bahu pria yang Sraya tabrak terasa keras sampai hidung nya sedikit sakit


''Ah maafkan istri saya yang tidak memperhatikan jalan,'' ucap Akram.


Sraya mengangkat kepalanya dan mendapati pria itu adalah Maxwell? Seketika tubuhnya membatu memandang wajah Maxwell yang angkuh menatap tepat ke mata Sraya.


''Hmm tidak apa, lain kali perhatikan jalanmu, Nyonya.''


Ucap Maxwell datar, kemudian perhatian pria itu teralih menatap Sagara yang menggeliat dalam tidur nya.


Lalu beberapa detik memperhatikan Sagara yang membuka matanya, seakan tahu kalau sedang bertemu dengan ayahnya.


''Bayi yang tampan''


Maxwell tersenyum tipis, sangat tipis kemudian berlalu begitu saja.


''Terima kasih, Tuan,'' ucap Akram.


Akram melihat perubahan ekspresi pada Sraya sejak bertemu Maxwell. Lalu menyadarkan lamunan isti nya itu.


''Apa aku kalah tampan dengan pria itu?"


Tanya Akram asal, tangan nya mengelus pucuk kepala Sraya. Sraya terkejut dengan perlakuan kecil Akram padanya. Sraya tersenyum untuk menutupi perasaan nya.


''Apa kamu mau pulang?''


Akram mengajak istri nya untuk pulang karena melihat Sraya mulai tidak nyaman sejak bertemu Maxwell.


Sepanjang perjalanan saat Akram berusaha mengajak istrinya itu mengobrol, Sraya hanya merespon dengan senyuman. Sraya masih memikirkan pertemuan mereka tadi.


Maxwell untuk pertama kali melihat anaknya. Meski Sraya yakin Maxwell pasti tidak mengetahui Sagara adalah anaknya.


Akram tahu istrinya itu sedang memikirkan sesuatu, tetapi ia tidak bertanya langsung. Akram berniat ingin mencari tahu? sepertinya istri nya itu kenal dengan Max dan terlihat sedikit takut.


Sedangkan Maxwell sendiri, sejak menatap bayi yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ia masih saja memikirkan bayi itu. Saat menatap mata yang terbuka perlahan.

__ADS_1


Ia menemukan warna yang sama dengan mata milik dirinya. Maxwell juga merasa tidak asing saat melihat Sraya, tetapi ia lupa pernah bertemu dimana.


__ADS_2