
Aku langsung menyambut ibu dan bude Rus dengan bahagia, segera kucium punggung tangan keduanya sebagai takzim pada dua orang wanita yang kutahu sangat menyayangi suamiku.
Sungguh tidak disangka karena mereka sama sekali tidak memberi kabar terlebih dahulu. Ibu mertuaku itu langsung melepas rindu pada cucu kesayangan nya, Sagara.
Ditimang nya Sagara meskipun anak itu sedang tertidur pulas dan sama sekali tidak terganggu dengan apa yang sedang di lakukan ibu Masayu.
Dua gelas sirup leci dengan tambahan jeruk lemon, biji selasi, dan jelly aloevera aku suguhkan bersama risoles hangat yang baru saja aku goreng, lalu segera Kuhidangkan pada dua orang yang sangat aku hormati layaknya ibu kandungku.
"Ibu sama Bude kok gak bilang kalau mau datang? Aku sama mas Akram, 'kan bisa jemput ke bandara."
Ibu mertuaku yang sedari datang sampai sekarang masih betah menimang-nimang Sagara kini mengambil tempat duduk disamping bude Rus. "Kami sengeja gak kasih tau kalian, besok kami ada undangan dan sorenya langsung pulang lagi."
"Loh kok buru-buru banget Bu? Paling tidak Ibu sama Bude harus tinggal beberapa hari disini." Aku berusaha membujuk kedua wanita yang masih cantik di usianya untuk menginap.
Bude Rus yang baru saja meneguk sirup dingin yang aku buat menatap lembut padaku. "Kami ndak bisa lama-lama, Nduk. Kebun lusa mulai panen. Bude harus ngurus upah para pekerja."
"Iya, Nduk. Ibu juga gak bisa lama-lama, kasihan Ayah kamu di kampung sendirian ngurus konsumsi para pekerja, belum lagi nyatet semua laporan."
Aku memasang wajah sedih, pasti akan ramai kalau ibu dan bude bisa menginap.
Aku biarkan ibu dan bude beristirahat, malam ini aku akan membuat makan malam yang spesial untuk menyambut kedatangan ibu mertua dan juga bude Rus.
Lima ekor ikan gurame aku bersihkan dan telah aku marinasi dengan bumbu-bumbu agar lebih meresap, tempe telah aku potong tipis-tipis yang rencana nya akan aku goreng crispy, sayur capcay jamur dan udang sepertinya akan cocok bersanding dengan gurame goreng mentega.
Semua ku kerjakan dengan cekatan, tidak aku ijinkan bude maupun ibu untuk membantu, mereka akan aku layani sebaik mungkin.
Bertepatan dengan masakan yang selesai aku tata di meja makan, mas Akram dan Amel pulang bersamaan. Suamiku itu tampak terkejut mendapati kedatangan ibunya dan juga budenya.
Mas Akram tampak senang sekali sama seperti yang aku rasakan, berbeda dengan Amel yang sedikit canggung dan kikuk. Aku menyuruh mas Akram segera mandi dan kami menyelesaikan sholat magrib dengan mas Akram sebagai imam.
__ADS_1
Kami makan malan bersama tetapi Amel menolak dengan alasan sudah makan diluar bersama teman-teman nya tadi sebelum pulang. Gadis itu lebih memilih menjaga Sagara di ruang keluarga.
Ibu mencicipi dan dengan lahap memakan menu yang aku sajikan. "Benerkan, Mbak. Masakan Sraya ini sangat lezat dan pas di lidah. Gak kalah dengan masakan di restaurant."
"Iya kamu benar, masakan menantu kamu ini sangat enak sekali, Yu," puji bude.
"Masakan Sraya selalu enak dan lezat Bu, Bude. Lihat aja Akram sekarang, jadi lebih gendut kayaknya setelah nikah dengan Sraya," goda mas Akram.
"Kalau gitu kenapa kalian gak buat restauran atau caffe, Bude yakin kalau Sraya yang buka bakal ramai pelanggan," ucap bude memberikan ide.
"Ibu setuju, Sraya pantas dan cocok punya caffe, kalau kalian mau nanti akan ibu modalin."
Aku merasa sangat bahagia mendapatkan dukungan dari orang-orang yang dengan tulus menyayangiku. Melihat mereka tersenyum dan puas dengan usahaku, rasanya aku ingin menjaga semua yang sudah aku dapatkan sejauh ini dan aku sangat bersyukur.
Lepas makan malam ibu dan bude berniat ingin menginap di hotel dengan membawa Sagara dan juga Amel, tentu saja hal itu kami tolak. Mengapa harus tidur di hotel?
Bukan hanya aku dan mas Akram yang menolak keinginan ibu dan bude, rupanya Amel juga tidak mau kalau dirinya ikut bersama mereka.
Sebelum pergi ibu memberikan sebuah paperbag kepadaku, entah apa isinya? Ibu hanya berkata kalau aku harus mengenakan nya dan berdandan yang cantik.
Mas Akram masih melanjutkan mengerjakan laporan keungan kebun di ruang keluarga. Aku memilih untuk segera mandi karena tadi aku memasak, pasti tubuhku bau bumbu.
Kuletakkan paperbag pemberian ibu di meja rias, aku segera masuk ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Sejenak kupandangi tubuh ku di depan cermin.
Tubuhku cukup semampai dengan tinggi 168 centi, aku tidak gemuk dan juga tidak kurus, dengan kulit lumayan bersih dan ukuran buahh daadaku yang sedang dan padat.
Aku merasa cukup bangga karena sampai sekarang tidak ada satupun pria yang pernah menyentuh aset berhargaku dari ujung kepala sampai kaki kecuali mas Akram suamiku.
Guyuran air yang terasa dingin saat menyentuh kulit membuatku merasa segar, kutuangkan shampo dan sabun untuk mebersihkan kotoran dan keringat yang menempel di badan, setelahnya kupakai handuk dan mengeringkan rambut di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Aku mematut diriku didepan cermin, kupakai lipbalm dengan aroma buah-buahan dibibirku, aku menatap pada paperbag pemberian ibu mertua, karena penasaran akhirnya aku buka.
Kotak merah yang mewah dengan logo gambar pakaian dalam. Aku mengerutkan keningku, setelah kubuka lagi kotak itu tenyata isinya sebuah lingerin berwarna hitam.
Ya ini sebuah lingerin! Tapi untuk apa ibu memberikan nya padaku?
Ponselku berbunyi karena notif panggilan video, ahh ternyata itu adalah ibu mertuaku. Kebetulan sekali.
"Halo Sraya assalamualaikum, nduk."
"Walaikumsalam, bu. ibu sudah sampe hotel?" tanyaku.
"Sudah, nduk. kami baru saja sampai hotel ... Sraya, kamu udah buka hadiah dari ibu belum?"
Aku memandang lingerin yang ada di hadapanku. "S-sudah,bu."
Tampak ibu mertuaku itu sangat antusias dan menyuruhku untuk mencobanya karena ingin melihat langsung. Aku sungguh canggung sekali, tetapi tidak bisa kutolak permintaan dari ibu Masayu.
Setelah aku kenakan baju haram berwarna hitam itu, segera aku menunjukan pada ibu mertuaku. "Walah kamu cantik sekali nak, auramu bertambah berkali-kali lipat. Ibu gak salah pilih ternyata, semoga Akram suka ya nak."
Aku tersenyum malu-malu dan kini kurasakan pipiku mulai memanas. "Makasih ya, bu."
"Yaudah ibu mau istirahat dulu, kamu pakai itu ya malam ini. Sampai ketemu besok, nak. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, bu."
Setelah aku menutup telepon dari ibu, aku masih menatap pada cermin meja rias.
Baju haram berwarna hitam, berbahan tipis dan sangat pendek hanya lima belas senti dari pinggang, dipadu dengan lace pada bagian dada, belahan yang sangat rendah menapakan belahan buahh dadda ku, dengan tali yang sekali tarik pasti akan melorot.
__ADS_1
Aku tersadar saat mendengar suara pintu tertutup. Kubalikan badan dan kulihat mas Akram berdiri mematung menatapku tanpa kedip.
"Dik," sapa mas Akram dengan suara beratnya, tatapan menjadi sayu, dan wajah merona merah.