Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Telepon dari Nastiti


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, nomor yang Akram dial kembali, dijawab oleh suara seorang wanita yang sangat familiar bagi Akram.


"Hallo assalamualaikum, mas Akram," ucap Nastiti. Suaranya terdengar tertahan seperti ada rasa sesak yang disebabkan karena rasa rindu kepada kakaknya.


"Walaikumsalam, Nastiti. Ini kamu, kan, Nas. Mas tahu benar ini adik Mas, alhamdulillah, Nas. Akhirnya kamu memberi kabar, mas sangat menantikan dan sangat mengkhawatirkan kamu, Nas."


Bukan hanya Akram yang merasa bahagia, saat Akram menyebut nama Nastiti, Sraya langsung bangkit dari posisi tidurnya. Ia memberi syarat pada suaminya untung membesarkan volume panggilan tersebut.


"Bagaimana mas tahu kalau ini Nastiti?" tanya wanita disebrang sana.


"Bagaimana mas bisa melupakan suara kamu, Nas. Dari nomor yang masuk ke handphone mas saja, aku sudah tau kalau ini adik mas, Nastiti Maheswari."


Kini Sraya bisa mendengar jelas pembicaraan mereka. "Mas, maafkan Nastiti yang sudah banyak sekali merepotkan mas Akram. Maaf karena Nas, tidak menceritakan secara langsung kepada mas, ibu, dan bapak. Maaf karena, Nas. Tiba-tiba menitipkan seorang bayi kepada mas Akram--"


"Maafkan, mas, yang gabisa jagain kamu Nas. Sebagai seorang kakak, rasanya mas sudah gagal. Maaf kalo kamu menanggung semuanya sendiri, disaat mas sudah berjanji akan selalu menemani kamu. Maaf atas ketidaktahuan mas ...," lirih Akram.


Sraya memeluk pinggang Akram dari belakang untuk menyalurkan kekuatan. Selama dia mengenal Akram, belum pernah Akram terlihat seperti ini. Ia tahu suaminya itu berusaha menahan tangis, suaranya sangat berat, dan bisa Sraya rasakan, dada Akram berdebar lebih cepat, bahu nya juga bergetar.

__ADS_1


"Ini semua bukan salah mas Akram, maafin Nastiti yang sudah tidak jujur dengan kalian. Nas, cuma gak ingin membuat ibu, bapak dan mas Akram mendapat wirang. Masih banyak masyarakat kita yang menganggap korban pemerkosaan itu aib, Nas, gamau karena Nastiti, akan berdampak buruk untuk keluarga kita." Terdengar isak tangis dari Nastiti setelah mengucapkan itu semua.


"Kamu gak seharusnya memikirkan hal yang belum pasti terjadi, Nas. Mau sekejam apapun masyarakat menilai kamu, kami semua pasti akan selalu ada dan membela kamu, Nas. Terlebih itu bukan kesalahan yang sengeja kamu lakukan."


"Maafkan, Nas. Mas, Nastiti saat itu tidak bisa berpikir panjang. bagaimana kabar ibu dan bapak, mas?"


"Ibu dan bapak sudah tau semuanya, Nas. Maafin mas yang gabisa jaga rahasia kamu. Ibu dan bapak sempat shock, tapi sekarang mereka sudah bisa menerima faktanya. Dan Sagara--"


"Sagara ... anakku," ucap Nastiti sambil terisak.


"I--iya, mas. Nas, ingin sekali melihat Sagara."


"Tunggu sebentar, Nas. Mas akan melakukan panggilan video." Akram segera menyerahkan ponselnya pada Sraya, karena saat ini Akram hanya masih mengenakan sehelai anduk. Buru-buru ia menuju lemari dan mengambil baju dengan asal.


Sementara itu Sraya lebih dulu menelpon Nastiti dengan panggilan video. Saat panggilan nya tersambung. Baik Nastiti dan Sraya sama-sama saling terdiam beberapa detik, mata Nastiti terlihat memerah karena sedang menangis. "Nas ... ini aku, Sraya," sapa Sraya.


"Mba Sraya, mba sekarang bersama mas Akram?"

__ADS_1


"Iya, Nas. Setelah kepergian kamu malam itu dari rumah sakit, aku dan mas Akram memutuskan untuk menikah demi mengurus Sagara." Sraya tak kuasa menahan haru. Rasanya campur aduk, antara sedih, senang, dan rindu pada Nastiti.


"Terima kasih banyak, mba. Aku benar-benar senang dan bersyukur, mba, mau menikah dengan mas Sraya. Dan mau mengurus anak Nastiti. Jujur, Nas sangat memikirkan siapa yang mengurus Sagara. Dan aku sekarang bisa bernafas lega. Maafkan Nastiti, mba. Yang selalu merepotkan mba selama Nastiti hamil bahkan sampai melhirkan."


"Enggak, Nas. Ini semua bukan salah kamu, ini sudah menjadi takdir kita, Nas. Berkat kamu aku bisa mendapatkan suami seperti mas Akram. Dan mendapatkan anak yang lucu seperti Sagara. Meskipun pernikaham kami mendadak, kini antara aku dan mas Akram, sudah timbul rasa sayang dan cinta. Semua ads baik dan buruknya, Nas. Jangan kamu salahkan diri kamu lagi."


Tidak lama Akram sudah bergabung dengan Sraya. "Kamu mau lihat Sagara, Nas. Dia lagi tidur sekarang," ujar Akram.


Nastiti tentu saja tidak menolak tawaran dari Akram, dasarnya Nastiti sudah sangat rindu dan penasaran seperti apa rupa anaknya itu. Meskipun Sagara bukan anak yang diinginkan, tetapi Nastiti sudah menerima itu semua dan berdamai dengan diri sendiri. Kecuali dengan Maxwell, tidak akan pernah ada kata damai.


"Boleh, Nas. Lihat Sagara sekarang juga, mas?"


Sraya dengan kepekaannya segera membawa Sagara dari box bayinya. Ia menggendong Sagara dengan hati-hati agar bayi itu tidak sampai terbangun dari tidurnya. Akram segera mengarahkan kamera ponselnya pada Sagara.


Sekarang Nastiti sudah bisa melihat dengan jelas rupa anaknya.


"Sagara ... anakku, dia mirip sekali dengan--"

__ADS_1


__ADS_2