Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Rencana pulang


__ADS_3

Setelah acara pernikahan yang berlangsung sangat sederhana, bahkan hanya dihadiri oleh para keluarga. Kini Amel resmi menjadi istri kedua dari Maxwell. Namun, keberadaan gadis itu seolah ditutup dari para khalayak.


Memasuki kandungan Amel yang sudah berusia delapan bulan, Tepat hari ini juga Sagara merayakan ulang tahun pertama nya. Sebuah pesta bertemakan animals zoo digelar di kafe milik Sraya


setiap sudut kafe dihias dengan berbagai pernak-pernik boneka dari tokoh kartun Madagaskar, serta balon-balon yang didominasi dengan warna hijau coklat dan putih seperti nuansa di hutan.


semua semua karyawan kafe terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing tak terkecuali Labiqa, iya terlihat fokus menata dan menghias meja yang akan dijadikan tempat meletakkan kue ulang tahun yang sedang dibuat oleh sraya. gadis itu sangat berantusias dalam acara ini.


Orangtua Akram hadir, begitu juga ibu dari Sraya. Mereka semua sangat bersuka cita. Tamu-tamu undangan dari para langganan, kerabat, maupun relasi, serta anak dari panti datang untuk merayakan acara ulang tahun hari itu. Namun, ada satu yang kurang. Nastiti-- ibu kandung Sagara itu belum bisa hadir dalam acara penting anaknya.


Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan memotong kue bersama-sama. Banyak doa-doa yang di panjatkan untuk keluarga mereka, termasuk doa agar Sraya bisa memberi Sagara seorang adik.


Tepat setelah acara berakhir. kejutan datang dari perusahaan yang saat ini di pimpin Maxwell, satu tahun yang lalu. Adik dari Akram dipaksa untuk pergi karena keadaan dan ancaman-ancaman yang selalu menyertai wanita itu. Maka, hari ini Akram mulai membalas semua dendam dan perlakuan yang dialami Nastiti.


Berkat pengaruh kedua kakeknya dan samaran yang sangat meyakinkan dari Darren, Akram membuat sedikit demi sedikit saham Maxwell mengalami penurunan. Berawal dari bukti-bukti petinggi yang memegang posisi tinggi melakukan korupsi, investor yang menarik investasinya, dan beberapa perusahan yang mengundurkan diri untuk menjadi rekanannya.


Kerugian yang Maxwell alami bukan jumlah yang kecil. butuh waktu yang lama untuk membuat perusahaannya stabil, apalagi ia kehilangan kepercayaan publik. Desas-desus tentang Maxwell yang suka main peremluam, atau keangkuhan istri sahnya pun tak luput dari pemberitaan.


Berbanding terbalik dengan keadaan Maxwell. Kebahagiaan kini tengah dirasakan oleh Nastiti dan dokter Raihan. Di Aussie sana, keduanya tengah berada di sebuah tempat yang romantis. Dokter Raihan sengaja menyiapkan semua itu untuk wanita yang kurang lebih dua tahun ini selalu menemani hari-harinya. Sosok wanita kuat yang mampu melewati semua nasib buruknya, wanita lembut namun disisi lain sangat tegas. Wanita yang tanpa sengaja ia kenal saat diminta temannya untuk merawat gadis itu.


Dokter Raihan menuangkan minuman sebagai penutup makan malam mereka kali ini. "Kau menyukai makanannya, Nas?"

__ADS_1


Nastiti tersenyum dengan lembut dan mengangguk. "Aku sangat suka, Mas. Semuanya sangat enak dan lezat. Tempatnya juga indah, aku pasti akan merindukan semua ini."


"Kau mau kita tetap tinggal disini?"


"Tempat ini tidak akan bisa aku lupakan, Mas. Tetapi rumah adalah tempat terbaik untuk pulang, selain itu. Aku sudah sangat merindukan Sagara, sudah satu tahun usianya, dan aku belum pernah sekali pun bertemu dengan anakku setelah melahirkannya." Nastiti menyenderkan tubuhnya pada kursi lalu menggoyangkan gelas minumannya.


"Selain itu, aku sudah banyak merepotkan mas Akram dan mba Sraya. Seharusnya mereka berdua bisa fokus pada pernikahan merek, mas Akram sejauh ini telah banyak membantu. Sisanya aku yang akan menyelesaikan."


"Kau yakin dengan semua rencanamu, Nas?" tanya Raihan.


"Aku sangat yakin, Mas. Ada kamu dan keluargaku yang selalu mendukung."


"Baiklah, lusa kita akan pulang ke Indonesia," ucap Raihan.


"Mas Akram, Sagara gak ada. Bangun, Mas!"


Akram melenturkan badannya dan menguap, menatap istrinya dan berusaha memulihkan kesadarannya. "Kenapa, Dik?" tanya Akram dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.


"Sagara gak ada, Mas. Ayo buruan bangun."


Akram membelalakkan matanya dan langsung bangkit dari ranjang. "Sagara kemana? Tadi aku masih meluk dia pas tidur, Dik."

__ADS_1


"Aku juga gak tau, Mas. ayo cepetan kita cari, di kamar mandi dalam udah aku periksa gak ada, Mas!"


Buru-buru Akram memastikan lagi tempat yang baru saja Sraya sebutkan, hasilnya nihil. Saat mereka hendak membuka pintu kamar, terdengar dari arah ruang keluarga suara yang sangat mereka kenali. Sraya dan Akram saling pandang dan segera berlari, di sana. Anak yang mereka cari sedang asik bermain seorang diri dengan mainan yang sudah berserakan di atas lantai.


"Ya Allah, Nak. Gimana bisa kamu sampe sini?" Sraya langsung memeluk anaknya karena panik, tetapi bayi itu hanya tertawa melihat ibunya.


"Anak ayah buat panik, gimana kamu ke tempat ini sendiri, Nak?"


"Mas, kamu gak kunci pintu kamar?" tanya Sraya penuh selidik, sedangkan suaminya hanya cengengesan.


"Mas ini gimana sih, Sagara sekarang sudah bisa merangkak dan sedikit berjalan. Kita harus ekstra hati-hati. Aku semalem gak enak badan, makanya aku titip Sagara sama kamu. Tapi malah kamu kebablasan," gerutu Sraya.


"Kayaknya, Mas. Lupa kunci, Dik." Akram mengusap lehernya perlahan. alhasil, pagi itu ia mendapatkan Omelan panjang dari istrinya.


Saat sudah selesai sarapan, Akram dan Sraya yang pagi itu memutuskan untuk berangkat ke kafe pada siang hari. Sedikit bisa bersantai, Labiqa sangat bisa diandalkan. Pekerjaannya tidak pernah salah dan baik dia bisa bekerjasama dengan yang lain dengan baik. Sampai terdengar suara bell sebagai penanda kehadiran tamu. Akram yang berinisiatif membukakan pintu karena istrinya sedang menyalini Sagara yang baru selesai mandi, dibuat terkejut atas kedatangan wanita dan pria yang ada di hadapannya saat ini. Akram bergeming dan terpaku sesaat, sampai pelukan hangat yang sudah setahun ini tidak pernah ia rasakan, segera menyadarkannya.


"Mas, aku pulang. Aku sudah di sini, Mas."


Akram segera membalas memeluk wanita tersebut dengan tidak kalah hangat. Tanpa sengaja, air matanya jatuh karena perasaan haru dan bahagia secara bersamaan. Dari dalam rumah, Sraya yang merasa panggilannya di abaikan oleh suami, segera menggendong Sagara yang sudah ganteng dan wangi dengan setelah baju yang sangat menggemaskan. Anak itu sedang asyik menghisap empeng berwarna biru miliknya.


Sraya berjalan untuk melihat dan memastikan siapa tamu yang datang pagi ini, karena biasanya Darren, Labiqa, atau pegawai kafe yang datang untuk masalah pekerjaan. "Mas, siapa yang datang. Kok diam aja?"

__ADS_1


Sraya menatap suaminya yang kini tengah berpelukan dengan seorang wanita yang mengenakan dress berwarna putih. Wanita itu tersenyum cerah saat melihat kehadiran Sraya.


"Mbaaaa Sraya!"


__ADS_2