Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Sepucuk Surat


__ADS_3

''Mas Akram ngapain disini?''


''Kamu sendiri ngapain disini, Dik?''


Dokter Farhan hanya memperhatikan mereka berdua yang tampak sudah saling kenal.


''Kalian sudah kenal? Mari, Pak Akram. Silahkan duduk.''


Dokter Farhan memberi isyarat dan mempersilahkan Akram untuk duduk, Akram mengambil posisi disebelah Sraya.


''Iya, Dok. Kami sudah kenal,'' jawab Akram.


''Apa Mas Akram tau kalau, Mba Sraya. Ini teman dari, Nastiti. Adik Pak Akram yang baru saja melahirkan"


''A-apa melahirkan?"


''Nastiti adik Mas Akram?''


Ucap Sraya dan Akram bersamaan, kemudian mereka saling pandang. Dokter farhan akhirnya menceritakan kepada Akram tentang Nastiti dan Rei sedangkan Sraya sudah tahu, yang ia tidak tahu adalah kenyataan Akram kakak angkat Nastiti.


Sraya menyerahkan surat yang tadi Nastiti titipkan kepada Akram.


…………………


Untuk mas Akram tersayang.


Mas, maafkan Nastiti yang tidak memberitahu mas Akram yang sebenarnya. Nastiti tidak ingin membuat mas Akram, ibu dan bapak menjadi khawatir tentang keadaan Nas dan membuat keluarga kita wirang (malu).


Beberapa bulan yang lalu Nastiti mengalami kejadian yang sangat menyakiti dan menghancurkan Nas. Ada seorang lelaki yang menodai Nastiti sampai hamil, tetapi lelaki itu bukan orang yang mudah untuk disentuh.


Ini juga alasan Nas, karena tidak ingin membuat keluarga kita dalam bahaya. Sekarang Nas sudah melahirkan, awalnya Nas sangat sulit mengambil keputusan. Ingin rasanya Nas menggugurkan bayi yang Nas kandung.


Tetapi Nas mengingat perjuangan ibu yang sudah menantikan kehadiran Nas begitu lama, Nas mengingat nasib anak-anak yang di telantarkan orangtuanya.


Nas mengingat resiko yang dapat membahayakan nyawa Nas kalau nekat menggugurkan bayi ini, Nas tidak mau membunuh bayi yang tidak berdosa.


Meskipun bayi itu hadir tanpa di inginkan, bagaimanapun di dalam darah bayi ini juga mengalir darah Nas.


Mas Akram, untuk saat ini Nas tidak bisa merawat bayi Nas. bukan karena tidak mau, tetapi ada beberapa alasan yang membuat Nas mengambil keputusan ini. Alasan terbesar adalah untuk keselamatan, mohon mas Akram mau mengerti.

__ADS_1


Mas Akram, Nastiti menitipkan bayi yang Nas beri nama Jagadita Sagara Biru, jagalah Sagara seperti mas Akram menjaga Nastiti.


Sayangi Sagara seperti mas Akram menyayangi Nastiti, Cintai Sagara seperti mas mencintai Nastiti. Karena sebagian dari Sagara adalah Nastiti.


Nas titipkan Sagara kepada mas Akram dan mba Sraya. Dia adalah wanita yang sangat baik, tulus, dan lembut. Selama ini mba Sraya dan ibunya adalah orang yang sangat berjasa bagi kehidupan Nastiti


Jagalah Sagara sementara waktu mas, Nastiti akan kembali suatu hari nanti untuk membalaskan semuanya


Salam sayang untuk mas Akram Jagadita Kemaswara, dari adik mas tersayang Nastiti Ishika Maheswari.


………………


Akram meremas surat yang Nastiti tulis dengan kuat, ia tak dapat membendung air matanya, bahu nya bergetar hebat saat membacanya. Tidak bisa ia bayangkan selama ini kalau adiknya sangat menderita tanpa Akram dan keluarga nya tahu.


Sraya mengelus punggung Akram, mencoba menenangkan lelaki itu walau ia sendiri di posisi yang sama. Sampai terdengar suara tangisan dari bayi sagara yang sedari tadi ada dalam gendongan Sraya, Akram menoleh pada bayi mungil itu.


''Sagara …'' ucapnya lirih.


Akram mencoba untuk lebih tenang, walau air matanya tidak bisa ia tahan dan terus mengalir. Ia mencoba menggendong bayi Sagara.


Sraya dengan hati-hati memberikan nya pada Akram. Lelaki itu mencium dengan lembut pucuk kepala bayi Sagara, kemudian kedua sisi pipinya yang berwarna merah.


Dokter Farham memberi ruang untuk Sraya dan Akram dengan meninggalkan mereka berdua.


''Mas tidak salah, Mas. Hanya tidak tau ,aku yakin kalau Mas Akram tau masalah yang sebenerarnya, Mas Akram. Pasti akan menjaga dan melindungi Nastiti dengan baik.''


Sraya memberikan Akram segelas air dan mencoba membuatnya semangat agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.


''Kenapa Nastiti mengambil jalan ini, kenapa ia menanggung semua beban sendirian? Padahal ada keluarga yang sangat menyayangi nya.''


''Nastiti punya alasan nya sendiri, Mas. Mungkin karena rasa sayang nya itu dia merahasiakan keadaannya. Sama dengan alasan yang Nastiti tulis dalam suratnya.''


''Padahal kalau dia memberitahuku, aku akan melakukan apa saja, Sraya. Bahkan aku akan memberikan nyawaku untuk melindungi dirinya.''


''Aku sangat yakin kalau, Mas Akram. Tau pasti akan melakukan hal itu, Mas Akram tidak boleh menyalahkan diri Mas sendiri. Sekarang satu satunya cara untuk membantu Nastiti adalah dengan menjalankan amanat Nastiti, Mas. Tidak bisa mengulang waktu.''


Akram menatap Sraya benar apa yang gadis ini katakan. Ia tidak bisa mengulang waktu, setelah Akram merasa lebih tenang Sraya mengajak nya untuk pulang kerumah orangtua Sraya, setelah dokter Farhan memastikan kondisi bayi Sagara ia mengijinkan mereka untuk membawa pulang.


Sepanjang perjalanan tidak banyak yang mereka katakan. Mereka hanyut dalam pikiran nya masing-masing, Akram belum tau semua yang terjadi pada Nastiti. Sengaja Sraya belum mau menceritakan nya.

__ADS_1


Mereka sampai dirumah Sraya pada dini hari. Ibu Emah dan mbok Darmi terkejut atas kedatangan mereka bertiga, apalagi setelah mendengar kalau bayi yang diberi nama Sagara itu dititipkan pada Sraya dan Akram.


Merka juga telah membaca surat yang ditulis Nastiti. Mereka tidak membahas banyak, mbok Darmi dan bu Emah membiarkan Sraya dan Akram untuk beristirahat.


Malam itu Sraya tidur bersama Sagara dan ibunya. Mbo Darrmi tetap tidur di kamar Nastiti sedangkan Akram tidur di kamar tamu.


Pagi hari mereka dibangunkan dengan suara tangis Sagara yang sebentar sebentar meminta jatah susu. Untung ada ibu emah yang sudah berpengalaman mengurus bayi.


Sedangkan mbok Darmi menyiapkan sarapan untuk mereka, setelah sarapan mereka berkumpul di ruang keluarga untuk membahas permaslahan ini.


''Jadi keputusan apa yang akan, Nak Akram. Ambil?'' tanya ibu Emah.


''Sesuai permintaan dari Nastiti, Bu. Saya akan mengurus Sagara, hanya ini yang bisa saya lakukan untuk Nastiti karena selama ini saya gagal menjaga adik saya.'' Akram tertunduk lesu


''Ini semua bukan kesalahan Nak Akram, ini semua sudah menjadi takdir yang di atas. Sebagai hambanya kita harus ikhlas dan menjalankan dengan sabar.''


Ibu Emah memberikan semangat pada Akram, Sraya hanya memperhatikan interaksi ibunya dan Akram.


''Iya Ibu benar. Tapi masih sulit bagi saya menerima kenyataan, saya tidak dapat membayangkan kesulitan yang Nastiti hadapi.''


Untuk kali ini hati ibu Emah terenyuh melihat kasih sayang Akram pada Nastiti. Akram bahkan sampai menitikan air mata, tidak dapat disembunyikan penyesalan dan rasa bersalah dari matanya.


''Lalu bagaimana Nak Akram akan mengurus Sagara?'' tanya mbok Darmi.


''Saya akan mengurus nya sendiri, Mbok. Saya akan tinggal berdua dengan Sagara. Saya akan berusaha menjadi ayah dan juga ibu untuk keponakan saya,'' jawab Akram sungguh-sungguh.


''Apa Nak Akram tidak punya pasangan? maksud Ibu pacar, kalau ada dan merasa cocok menikahlah, Nak. Tidak mudah bagi seorang lekaki untuk mengurus bayi," ucap bu Emah memberi nasihat.


''Tidak ada, Bu. Tapi biar Akram mencoba mengurus Sagara,'' jawab Akram sedikit malu.


''Kalau Nak Akram mau, kami bisa mengurus Sagara.''


''Terima kasih, Bu. Sebelumnya, atas bantuan Ibu, Mbok Darmi, juga Sraya pada Nastiti selama ini. Saya tidak mau menyusahkan kalian lagi.''


''Kami menyayangi Nastiti Nak Akram, kami merasa tidak disusahkan,'' seru mbo Darmi.


''Nastiti beruntung bisa kenal dan bertemu dengan Ibu, Mbo dan Sraya.''


Akram tersenyum sambil sesekali mengelus bayi Sagara yang sedang di gendong Sraya.

__ADS_1


Siang itu Akram membawa sagara bersama nya. Sraya ikut menemani karena Akram masih ada kerjasama dengan caffe mereka. Mereka berdua menuju Jakarta dan langsung ke hotel yang kemarin telah di pesan.


Di hotel itu tanpa Akram tau. Ada seorang yang memergoki Akram dan Sraya ke sebuah kamar hotel dengan membawa bayi.


__ADS_2