Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Apa Rencana Amel?


__ADS_3

Joe, lelaki yang selama ini menjadi lawan bermain Amel dalam bercinta-- kini sudah pindah ke luar negeri tanpa pemberitahuan lebih dahulu. Kenyataan yang terjadi di hari itu, membuat Amel tidak fokus dalam bekerja sampai ia mendapat teguran dari beberapa seniornya. Sudah berulangkali ia mencoba untuk menghubungi Joe, namun tidak ada satupun panggilan yang tersambung.


Waktu berjalan dengan cepat, sudah dua minggu berlalu sejak Amel mengetahui kalau dirinya tengah berbadan dua. Amel yang sebelumnya sudah beberapa kali menjalin komunikasi dengan Nattalie dalam hal pekerjaan, kini semakin menjadi dekat. Tak jarang, Natt memilih Amel untuk menemani beberapa meeting yang diadakan di luar kantornya dan urusan lain.


Sampai pada suatu hari, Amel yang mendapat perintah dari Natt untuk mengambil dokumen berisi data-data pekerjaan di ruangan istri Maxwell itu, menemukan sebuah amplop yang bertuliskan laporan kesehatan dari salah satu rumah sakit yang ada di kota Jakarta.


Amel yang merasa penasaran, membuka isi amplop itu dan membaca tulisan yang tercetak di rekam medik milik Maxwell. "Astaga ... apa ini benar milik tuan Max? ternyata selama ini dia--" Amel menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara langkah dari luar ruangan, buru-buru ia merapikan kertas-kertas itu seperti semula.


"Kenapa lama sekali, apa yang kamu lakukan? nyonya Natt menunggumu di ruang meeting, apa kamu menemukan apa yang diminta nyonya?" tanya seorang karyawan lain.


Amel berusaha bersikap sangat tenang seolah-olah tidak terjadi apapun, padahal otak liciknya sedang berpikir untuk merencanakan sesuatu. "Maaf, Kak. Saya tadi agak kesulitan mencari berkas-berkasnya, ini barusan ketemu, akan saya antar kan langsung pada nyonya Nattalie."


"Yasudah kalo gitu, buruan kamu sudah ditunggu, Mel."


Amel melangkahkan kakinya dengan ringan. "Akhirnya ... kalau rencana ini berhasil, aku akan mendapatkan solusi atas masalah yang aku hadapi," ucap Amel dalam hatinya.


Siang ini cafe milik Sraya dan Akram yang dinamakan comfy O' Stories sudah resmi dibuka satu Minggu yang lalu. Sejak hari pertama grand opening sampai sekarang, pengunjung terus ramai mengunjungi cafe mereka.


Daren ikut andil dalam mempromosikan Cafe milik atasannya. Lelaki itu memanfaatkan media sosial dan menyewa beberapa selebgram untuk memposting pengalaman mereka selama menjadi customer di sana. Bahkan Sofa dan Aslan yang notabene mantan kekasih dan mantan sahabat Akram itu, beberapa kali makan siang di sana dengan membawa beberapa rekan kerja dan sahabat-sahabat mereka.


Karyawan yang tadinya hanya berjumlah hanya delapan orang, kini ditambah menjadi dua belas orang yang terbagi dua shift. Kalau Sraya menghandle karyawan yang bekerja di shift pagi, maka Labiqa akan menghandle karyawan yang bekerja di shift sore.


Jika Sraya sibuk di sesi kitchen, lain dengan Akram yang sibuk menjadi waiters di area dinning. Penampilan dari suami Sraya itu, mampu membuat banyak pengunjung menjadi terpana. Apalagi Akram melayani para customer dengan sangat ramah dan senyum yang tidak pernah terlepas dari wajah tampannya-- kecuali jika tamunya Sofi dan Aslan, maka Akram akan bersikap cuek, bukan karena Akram tidak suka pada mereka. Tetapi lebih ke perasaan gengsi dan canggung untuk memulai pertemanan dengan orang yang sempat Akram benci.

__ADS_1


"Hai, Ram. Mana Sraya?" tanya Sofi yang siang itu datang bersama anaknya-- Aska.


"Sraya lagi di dapur, kamu mau pesan apa, Sof?"


"Aku pesen SOP buntut aja deh, sama chicken katsu untuk Aska," pinta Sofi tanpa melihat daftar menu.


"Oke tunggu bentar ya, aku pesenin dulu." Akram memperhatikan Aska yang sibuk dengan mainan yang ada di tangannya. "Aska mau ice cream?"


Aska yang mendapatkan pertanyaan dari sosok lelaki seusia ayahnya itu, menatap pada Sofi seakan meminta persetujuan. Stelah ibunya itu mengangguk dan tersenyum, Aska tampak terlihat senang. "Mau, Om. Aska mau lasa stobeli," jawab Aska dengan bahasa khas balita yang sedikit cadel.


"oke tunggu sebentar ya, Om. buatkan dulu."


Akram segera ke meja barista dan menyampaikan pesanan Sofi pada Sraya. Tak lama, ia kembali ke meja yang berisi ibu dan anaknya dengan membawakan satu mangkuk ice cream rasa strawberry dan satu cup medium moka float untuk mantannya.


"Ini gratis, buat kamu. Tumben gak sama Aslan, kemana suami kamu?"


"Aslan lagi ke Singapura, Ram. Urusan kantornya, thanks ya untuk moka floatnya." Sofi segera mengesap minum buatan Akram. "Eh kalo kamu sama Sraya di cafe, yang jaga Sagara siapa?" tanya Sofi.


"Kan, ada ibu di apartemen, jadi dari pagi sampe sore Sagara dijaga sama neneknya."


"Kalo gitu nanti aku mampir ya ke unit kamu, aku udah lama gak ketemu sama Tante Ayu. Kangen banget aku sama tante, boleh kan, Ram?"


"Mba Sofi," sapa Sraya yang mebawakan satu tray makanan pesanan Sofi.

__ADS_1


"Eh Sraya, makasih loh sampe dibawain khusus sama owner nya."


"Mba bisa aja, ayo dimakan dulu mumpung masih panas," ucap Sraya.


Sofi tanpa banyak bicara langsung melahap menu yang tadi ia pesan begitu juga dengan Aska, Sraya dan Akram menemani mereka siang itu.


Macetnya jalanan ibukota Jakarta tidak menyurutkan semangat Amel yang kini berada dalam satu mobil bersama Nattalie. Setelah rapat di kantor cabangnya selesai, Natt langsung meminta Amel ikut dengannya ke bandara. Gadis itu-- untuk sementara waktu menggantikan Assisten pribadi Natt yang sedang cuti, itupun berkat bakat Amel yang pintar mencari muka di depan Nattalie.


Setelah sang sopir memarkirkan mobil mewah majikannya, Natt dan Amel langsung bergegas menuju area kedatangan. mereka memilih menunggu di salah satu kedai kopi yang ada di sana, setelah lima belas menit menunggu. akhirnya, orang yang kedatangannya sangat ditunggu oleh Natt, kini menampilkan batang hidungnya.


Natt melambaikan tangannya saat sosok pria itu mengitari pandangan ke semua sisi cafe. "Sebelah sini," ucapnya.


Amel mengikuti arah pandangan dari atasannya, dan melihat lelaki yang sangat tampan namun memancarkan aura yang dingin. Lelaki itu mengenakan kemeja hitam dengan celana dasar slim fit berwarna putih, serta kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


Lelaki itu menyeret koper dan berjalan dengan langkah yang tegap tanpa memberikan senyum sebagai balasan atas penyambutan Natt dan dirinya.


Natt segera bangun dari duduknya dan mancium pipi kiri dan kanan lelaki itu bergantian. "Bagaimana perjalananmu? aku sudah tidak sabar mendengar hasilnya."


"Tidak ada yang istimewa, sama dengan perjalanan yang sudah-sudah. untuk hasilnya--" Lelaki itu menghentikan omongannya dan beralih memandang Amel. "Siapa gadis ini?"


"Dia Amel, kamu sudah pernah bertemu dengan dia sebelumnya, dia menggantikan Vanya untuk beberapa waktu ke depan," jelas Natt.


"Selamat datang kembali, Pak." Amel mengulurkan tangannya untuk menyalami lelaki yang berdiri dengan tubuh yang menjulang tinggi, namun lelaki itu hanya bergeming memandang penampilan Amel.

__ADS_1


__ADS_2