
Selang satu minggu dari rencana yang sudah disiapkan oleh Natt-- malam ini mereka berada disebuah restauran yang ada di salah satu hotel mewah yang ada di ibukota. Sesuai rencana, Natalie menyiapkan satu meja VVIP yang dikhususkan untuk menyambut kedatangan Darren. Amel-- berdandan sangat cantik dengan gaun berpotongan bagian dada yang rendah dengan belahan rok yang memamerkan kaki mulusnya. Ia ingin tampil menggoda, tetapi bukan untuk Darren melainkan untuk suami Nattalie, yang tak lain adalah tuan muda Maxwell.
Gaun hitam dari desainer ternama itu membalut tubuh Amel dan terlihat sangat kontras dengan kulit Amel yang putih. Darren yang melihat penampilan Amel pun sampai menelan Saliva nya, bagaimanapun ia adalah lelaki normal. Begitu juga dengan Maxwell, lelaki dengan postur tubuh tinggi menjulang dan tubuh yang atletis itu sempat berpikiran kotor saat memandang Amel.
Mereka berempat menikmati setiap hidangan yang disajikan. Mulai dari appetizer, main course, dan dessert yang semuanya bernilai mahal karena menggunakan bahan premium. Sampai pada satu titik, Nattalie memberikan kode pada Amel dengan kedipan matanya. Amel yang mengerti kode dari Natt-- segera menyiapkan obat tidur yang ada di dalam tasnya. Alih-alih mengajak suaminya, istri Maxwell itu mengajak Darren ke lantai dansa.
Nattalie tahu kalau Maxwell bisa saja menolak permintaan nya dan akan membuat wanita itu hanya kehilangan muka di depan Amel dan Darren. itulah alasan kenapa Darren yang ia pilih sebagai pasangan dansanya.
Setelah mendapat kesempatan akhirnya Amel berhasil menuangkan obat tidur dengan dosis tinggi dan reaksi yang cepat, ia segera memberikan gelas wine itu kepada Max yang langsung mencecap nya sedikit demi sedikit. Sedangkan Nattalie, wanita itupun berhasil Amel kelabui agar meninggalkan hotel dengan sebuah alasan yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Selepas kepergian Nattalie, Amel segera mengarahkan Maxwell kedalam kamar yang sudah dipesan. Lelaki itu masih dalam keadaan sadar saat memasuki kamarnya, dan untuk mengurangi kecurigaan, Amel bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia segera pamit keluar dan menunggu reaksi obat itu bekerja.
Lima belas menit menunggu Amel kembali kedalam kamar Max dan mendapati pria tampan itu sudah terkulai di atas ranjang yang berukuran king size. Sebelum memulai rencana selanjutnya, Amel terlebih dahulu membuka handphone milik Max dengan meletakkan finger print lelaki itu pada bagian layar gawai berteknologi tinggi itu sehingga terbuka, kemudian gadis dengan otak yang licik itu mengetik pesan singkat ke nomor pribadinya dari handphone milik Max.
"Datanglah ke kamarku, aku menunggu kamu."
Seolah-olah memang Maxwell yang menginginkan dirinya. Malam ini adalah malam terbaik untuk Amel, semua rencananya berjalan dengan sangat lancar dan ia yakin sebentar lagi ia akan mendapatkan apa yang menjadi keinginan dan tujuan utamanya.
__ADS_1
Hingga siang menjelang dan cahaya mentari masuk melalui selah-selah gorden berwarna broken white itu, Maxwell. Lelaki yang sudah menjadi suami dari putri tunggal keluarga kaya raya terbangun. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut, efek dari wine dan obat tidur yang diberikan oleh Amel.
Ia membuka matanya yang terasa berat dan menyesuaikan cahaya lampu yang berpendar remang-remang. Dapat dirasakan kalau ada tangan yang saat ini sedang memeluk tubuhnya dengan mesra, saat ia menoleh ke arah wanita itu. Bukan Nattalie yang ia dapat, tetapi sosok lain yang ia kenal.
"Amel," ucap Maxwell lirik, memastikan kalau ia tidak salah lihat.
Maxwell bergegas bangkit dari tidurnya dan menghidupkan lampu yang lebih terang, dan benar saja. Sosok wanita yang menjadi teman tidurnya adalah Amel, gadis itu terlihat terlelap dalam keadaan t e l a n j a n g bulat persis dengan kondisi dirinya saat ini. Max mencoba memastikan kembali dan mengingat peristiwa yang telah terjadi semalam, namun sayang ia tidak mendapati potongan ingatannya.
Amel menggeliat dan membuka matanya perlahan, seolah korban. Gadis itu menangis dan meratapi apa yang telah terjadi pada dirinya. Bahkan Amel telah meneteskan darah pada sprei putih khas hotel itu. Tanda bahwa ia telah melepaskan kehormatannya kepada Maxwell untuk pertama kalinya, Amel juga menunjukan pesan yang dikirim kepadanya dari gawai Maxwell.
Dua bulan berlalu sejak kejadian itu, kini Akram perlahan memperlihatkan taringnya. Ia mulai gencar menjadikan Max dan perusahan yang ia pimpin sebagai objek incarannya. Berkat bantuan kedua kakeknya, Akram--membuat usaha Maxwell hancur sedikit demi sedikit. Walaupun sedikit demi sedikit, saham mereka mengalam penurunan yang setiap waktunya.
"Kamu gila, Max. Bahkan dalam keadaan seperti ini kamu masih ingin menikahi gadis picik dan tak tahu malu itu," pekik Natt.
Nattalie menatap tajam dengan penuh amarah kepada suaminya, lelaki yang belum genap menikah dengan dirinya kini akan menikah kembali untuk kedua kalinya dengan seorang wanita yang beberapa bulan lalu sempat ia andalkan. Tidak terbayang dalam benak Nattalie kalau gadis itu seperti bumerang yang menyerang balik dirinya.
"Sudahi perdebatan ini Natt, kau harus menerima Amel sebagai istri keduaku. Kau sangat tau aku tidak suka dibantah!"
__ADS_1
"Aku?" tunjuk Amel pada dirinya sendiri. Amel tertawa meremehkan ucapan suaminya. "Seorang Nattalie harus bersaing dengan wanita desa? kau sadar, Max? kurasa standarmu memang wanita-wanita rendahan sekelas Amel dan Nastiti." Natt dengan angkuh menyilangkan kedua tangannya.
Maxwell yang sangat arogan dan paling tidak suka direndahkan dengan gerakan sangat cepat segera mencengkram rahang Nattalie.
"Kau merendahkan seleraku dan menilai dirimu sangat tinggi, Natt? lihatlah kenyataannya, gadis yang kau anggap rendahan dan tidak sebanding dengan dirimu. Amel dan Nastiti, bahkan mereka berdua berhasil mengandung anakku dengan sekali berhubungan saja. Sedangkan kau? berapa lama kita menikah dan berapa kali kita saling bertukar peluh? adakah satu saja usaha kita membuahkan hasil? kau sadar, Natt? selama ini masalahnya bukan padaku!"
Maxwell mengendurkan cengkeramannya pada rahang Nattalie dan mulai berganti mengelus pipi mulus istrinya.
"Selama ini aku menjalankan sejumlah terapi dan pengobatan, ku kira bahwa aku yang bermasalah dengan alat reproduksi, ternyata aku salah. Nastiti dan Amel membuktikan kalau aku baik-baik saja. Dan kupikir mulai sekarang kaulah yang harus memeriksakan keadaan kamu, Natt. Sebagai wanita yang sangat cerdas, kamu pasti sangat paham apa arti perkataanku."
Sebagai wanita tentu saja perkataan Maxwell sangat menyakiti hati Nattalie, terlebih dari mulut suaminya langsung. Keangkuhan wanita berlatar belakang keluarga yang terhormat itu seakan hancur. "Aku tetap tidak menyetujui pernikahan ini, Max," ucap Natt lirih.
"Kau ikuti saja rencanaku, Natt. Kamu akan mendapatkan keuntungan dari pernikahan ini." Max membenarkan dasi yang sudah terpasang di kerah kemejanya kemudian memasang tuxedo untuk acara pernikahannya hari ini dengan Amel.
"Rencana? apa yang telah kau rencanakan, Max?" tanya Natt bingung.
Max menatap istrinya dan tersenyum penuh arti. "Bukan rahasia kalau pernikahan kita berdasarkan kepentingan semata, bukan karena cinta. Apa kau pikir aku akan menjatuhkan reputasiku dengan seorang gadis miskin? gunakan otakmu itu untuk mencerna apa yang sudah ku katakan."
__ADS_1