Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Ajakan berkencan


__ADS_3

Setelah dua hari dari pesta resepsi berlangsung, ibu Emah dan mbok Darmi memutuskan untuk pulang ke Bandung. membuat rencana orangtua Akram untuk mengajak mereka jalan-jalan pupus.


Tetapi tidak dengan rencana utama. Permana dan Masayu menyiapkan bulan madu untuk Akram dan Sraya. Bali adalah kota tujuan untuk pengantin baru itu.


Riverfront One-Bedroon menjadi pilihan mereka, karena tempatnya yang romantis bagi pasangan. Memiliki ranjang dengan atap kanopi, pancuran alam terbuka, dan pemandangan yang luar biasa.


Masayu sengaja melarang Akram mengajak Sagara, dengan alasan bayi itu baru sebulan dan belum bisa di ajak perjalanan jauh, apalagi Sraya belum banyak pengalaman tentang bayi.


 


Dengan penerbangan pagi Akram dan Sraya langsung menuju bali. Mereka sempat menolak, tetapi orang tua Akram itu tetap saja memaksa.


"Mas, ibu apa gak salah memesan villa ini?" tanya Sraya.


"Memang nya kenapa, Dik?" Akram melirik Sraya yang ada disamping nya.


"Aku yakin ini sangat mahal!"


"Harga gak akan bisa mengalahkan kepuasan," jawab Akram santai.


"Ah, kalian pasti sangat kaya," ucap Sraya terkekeh.


Akram memilih untuk mandi, sedangkan Sraya menikmati teh madu di teras kamar mereka yang berada di lantai delapan. Susana yang sangat menenangkan bagi Sraya.


Akram lupa membawa baju ganti nya ke kamar mandi. Ia sempat memanggil istrinya itu untuk meminta diambilkan pakaian, tetapi Sraya tidak menyahuti Akram.


Dengan rambut masih basah dan handuk yang di ikat sampai pinggang Akram keluar untuk mengambil baju nya sendiri, tetapi ia tidak mendapati keberadaan Sraya dikamar mereka.


Akram menuju teras dan mendapati istrinya itu sedang tertidur di sofa. Akram ingat kalau Sraya tidak tahan dingin dan akan terserang flu.


Karena khawatir Akram mengangkat tubuh Sraya untuk dipindahkan ke dalam kamar mereka, dengan perlaham Akram meletakkan Sraya ke ranjang.


Saat bersamaan istrinya itu membuka mata dan terbangun. Sraya tampak terkejut dengan penampilan Akram yang hanya mengenakan handuk dan berada diatas tubuhnya.


"M--as mau ngapain?" tanya Sraya terbata.


"Kamu tadi ketiduran di teras sofa, jadi aku pindahin kamu kedalam," ujar Akram masih diatas Sraya.


Sraya memandang lekat Akram, dengan susah payah ia berusaha menelan saliva nya sendiri. Akram yang saat ini ada di atas tubuhnya terlihat sangat tampan.


Tubuh suaminya ini sangat tegap dan tinggi, dengan dada bidang dan otot perut yang sangat kencang. Kulitnya putih untuk ukuran seorang petani.


Akram sendiri yang ditatap lama oleh istrinya, seolah hanyut kedalam manik cokelat Sraya. Bibir Sraya sangat menggoda untuk di cium, dan tubuhnya yang padat pasti nyaman dipeluk.

__ADS_1


Akram tersadar dengan janjinya, untuk membuat Sraya nyaman dan tidak akan menyentuh Sraya tanpa ijin. Ia menggeser tubuhnya menjauh dari Sraya.


Sraya sedikit kecewa dengan sikap Akram, tetapi ia sendiri belum bisa memastikan perasaan nya. Bagaimana pun mereka mendadak jadi suami istri karena keadaan.


"Maafkan Mas, Dik. Mas gak bermaksud apa-apa."


"Engga masalah, Mas. Makasi ya."


Mereka berkeliling di resort yang dipesan Masayu sampai sore hari, untuk acara besok Sraya telah menjadwalkan tempat mana saja yang ingin mereka kunjungi.


Saat makan malam pihak hotel telah menyiapkan candle like dinner untuk Akram dan Sraya. Tepat di pinggir kolam yang dihiasi lampu-lampu dan bunga mawar putih.


"Mas, aku merasa benar-benar bulan madu," ucap Sraya polos.


"Kita memang lagi bulan madu, Sraya." Ia menatap Sraya gemas.


Pelayan menuangkan makanan dan minuman untuk mereka, lalu Akram memberi isyarat untuk para pelayan itu menjauh.


"Tapi beda, Mas."


"Beda nya apa, Dik?" tanya Akram bingung.


"Kalau bulan madu kita sudah melakukan hubungan suami istri, Mas." Ia memandang suami serius.


"Mas, kok malah ketawa," ucap Sraya cemberut.


"Bagaimana kalau kita melakukan hubungan suami istri? Biar kita benar-benar bulan madu," goda Akram.


Sraya melemparkan setangkai bunga mawar ke Akram dan memicingkan matanya.


"Mas mesum."


"Mesum sama istri sendiri ndak apa toh, anggap aja kita lagi berkencan. Mas masih ingat janji Mas kok."


Sraya tampak berpikir, ia mengingat kebersamaan mereka satu bulan ini. Sebagai pria normal Akram pasti setidaknya pernah menginginkan Sraya.


"Tapi, Mas. Pasti gak suka aku. Iya kan, Mas?"


"Kenapa bicara seperti itu." Ia mulai menatap Sraya serius.


"Karena, Mas. Gak ada perasaan sama aku, mungkin, Mas hanya …"


Belum sempat Sraya menyelesaikan perkataan nya, Akram meraih tangan Sraya untuk di genggam. Membut gadis itu terkejut.

__ADS_1


"Kata siapa Mas gak ada perasaan? Saat pertama ketemu kamu di kebun kopi, Mas. Sudah suka, saat kamu jemput Mas di bandara Mas seneng, saat kamu jadi istri Mas sebulan … Mas ngerasa mulai sayang sama kamu."


Jantung Sraya berdetak kencang, di dalam perutnya seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang.


"Mas …" ucapnya lirih.


"Kamu sendiri gimana perasaan nya?" tanya Akram.


"A--aku juga mulai suka sama Mas," jawab Sraya malu.


Akram merasa bahagia, ia membawa Sraya berdiri dan lebih dekat dengan nya.


"Apa mau kamu berkencan dengan Mas?"


"Sraya mau, Mas." Ia mengangguk dan tersenyum.


Akram memeluk Sraya karena terlalu bahagia. Untuk pertama kali nya mereka berpelukan, ada rasa nyaman dan tenang serta perasaan berdesir dihati mereka.


Mulai malam itu hubungan Sraya dan Akram semakin dekat, bukan lagi karena tanggung jawab pada Sagara. Tetapi karena perasaan dari mereka.


Saat tidur entah siapa yang memulai nya lebih dulu, Akram dan Sraya berpelukan. Tangan Akram melingkar di perut ramping istrinya, dan Sraya membalas pelukan Akram.


Akram teebangun lebih dulu, melihat Sraya yang cantik dan polos Akram semakin mengeratkan pelukan mereka. Sraya membuk mata dan menatap mata Akram.


Suaminya ini tersenyum membelai pucuk kepala Sraya. Seakan Sraya sedang bermimpi ia meminta sesutu yang aneh pada Akram.


"Mas, coba cubit aku," pinta Sraya.


"Cubit?" tanya Akram bingung.


"Iya, Mas. Apa aku lagi bermimpi?"


Aktam tertawa, bukan nya menyubit sesuai permintaan istrinya. Akram malah mencium pipi Sraya. Membuat gadis itu bersemu merah dan membenamkan wajahnya di dada bidang Akram.


Akram terkekeh setiap kali Sraya malu, wajahnya sangat menggemaskan dan Akram tidak mau kehilangan hal ini.


Telepon Sraya berdering, Masayu menelpon mereka pagi-pagi. Sraya yang masih di peluk Akram panik dan meminta Akram melepaskannya.


"Halo ibu," sapa Sraya.


"Halo, Nak. Kalian sudah bangun?"


"Sudah, Bu. Apa sagara baik baik saja?" tanya Sraya.

__ADS_1


"Sagara baik-baik saja. Apa kalian sudah belah duren?'' tanya Masayu tanpa dosa.


__ADS_2