
Daren melangkahkan kaki nya di ballroom yang sudah di hias semewah mungkin. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit berbentuk kubah menambah kesan elegant.
Semua mata wanita dan pria tamu undangan memandang penampilan Daren dari ujung rambut sampai ujung kaki, malam itu kharisma Daren sungguh terpancar.
Semua yang hadir tampak terlihat menawan, mereka seakan memamerkan status sosial dari gaya berbusana yang dikenakan. Termasuk sang tuan rumah.
Pasangan Maxwell dan Natt begitu menjadi pusat perhatian. Senyum yang tunjukan oleh mereka, nyatanya tidak mengurangi aura dingin dan arogan dari mereka.
Berbagai menu internasional mulai dari appetizer, main course, dan dessert dari berbagai menu yang ada dunia tersaji di beberapa stand makanan. Tidak ketinggalan wine dan juga vodka.
Maxwell mengenalkan Daren sebagai investor kepada para dewan direksi dan juga pemegang saham yang sudah berkecimpung terlebih dahulu di perusahaan mereka.
Para wanita sedari tadi seperti berusaha memikat Daren dengan segala pesonanya, tidak ketinggalan dengan Amel. Gadis itu tidak menyangka kalau Daren akan menjadi orang penting di perusahaan nya magang.
Bagai mendapat point plus karena pertemuan mereka sebelumnya, Amel terus berusaha terlihat lebih akrab dengan Daren dari siapapun yang menjadi saingan nya.
Terlebih Natt yang memang sudah memiliki rencana sendiri semakin mudah untuk menjalankan nya, Natt berniat untuk mendekatkan Daren dan Amel pada nalam itu.
Memberikan hadiah berupa 'kesenangan' seperti nya lazim dilakukan oleh pengusaha papan atas, terlebih dari data yang mereka terima. Daren telah hidup dan tinggal lama di luar negeri.
Namun sayang, seberapa kuat usaha-usaha yang dilakukan oleh Amel atau beberapa wanita lain, tidak cukup untuk membuat Daren meliriknya barang sedikit saja, lelaki berusai dua puluh lima tahun itu lebih prefer mengobrol dengan para orang penting.
Itu membuat mata-mata lapar para gadis yang mendewakan kekuasaan tidak berani untuk mendekat.
Maxwell menaiki podium yang sudah disediakan dengan langkah yang mantap saat sang master ceremony meminta nya untuk menyampaikan sebuah sambutan.
__ADS_1
Beberapa kata ia lontarkan dalam bahasa Inggris. Max menjelaskan beberapa tujuan, visi, dan misi perusahaan. Tidak lupa semua prospek ia jabarkan.
Di akhir pidato singkat nya ia meminta Daren untuk bergabung di atas podium. Sebuah akta kesepakatan mereka tandatangi sebagai sebuah kesepakatan. Beberapa kamera langsung berlomba untuk dapat mengabadikan moment tersebut.
Setelah perjamuan makan malam selesai Daren memutuskan untuk segera pulang, ia merasa kurang cocok dengan pesta dan suasana yang saat ini berlangsung. Hal ini sudah barang membuat Amel kecewa.
Tapi tidak masalah, bukankah ia masih memiliki Akram yang kenal dengan Daren kalau hanya sekedar ingin mendekatinya? Tanpa Amel dan yang lain ini bahwa ini hanyalah sebuah permainan.
Pagi itu Akram mendapatkan pesan dari Willem. Lelaki keturunan Perancis itu membantu Akram mendapatkan sebuah caffe yang memang ingin dijual oleh pemiliknya.
Setelah pamit dengan Sraya, akram memacu mobilnya ke alamat yang dikirim dan membuat janji dengan Willem. Hanya empat puluh menit saja ia sudah sampai ditempat tersebut.
Sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, seperti tiga buah ruko yang digabungkan dengan memiliki dua lantai. Terdapat halaman yang mengusung tema garden bagian depan.
Tempat yang dipilih Willem sudah strategis, tetapi caffe yang nampaknya masih beroperasi ini terlihat sepi pengunjung. Akram memasuki caffe tersebut yang sudah ada Willem didalamnya.
"Kamu sudah menunggu lama?" tanya Akram yang sudah terlihat lebih akrab dengan Willem.
"Tidak terlalu lama, aku sudah disini sekitar lima belas menit yang lalu," jawab Willem santai.
Akram dan Willem duduk di salah satu meja yang menghadap ke jendala kaca besar. "Apa ini caffe yang menjadi rekomendasi kamu, Will?"
Willem mengangguk mantap. "Ya ini adalah caffe salah satu temanku, terlihat nyaman dan tempatnya strategis. Namun sayang pengunjungnya sepi sejak enam bulan yang lalu." ucap Willem.
Akram mengitari pandangan nya di caffe ini, apa yang dikatakan Will memang benar, hanya ada dua orang pengunjung yang memesan es kopi di salah satu sudut caffe. "Kamu benar, apa yang salah dengan caffe ini?" tanya Akram penasaran.
__ADS_1
"Temanku kurang mengerti tentang managemen caffe, selain itu menu yang ia tawarkan terlihat biasa saja dan sangat umum ditemukan di caffe-caffe lain. Untuk konsep dan desain nya sendiri menurutku sudah bagus dan cocok bagi para anak-abak muda," jawab Will menjabarkan.
"Kau benar, Will. Caffe ini sudah punya konsep akan tetapi mungkin lemah dengan variasi menu dan juga kurang marketing. Lalu dimana pemilik caffe ini?"
"Sedang dijalan menuju kesini, tadi aku sudah menghubunginya, bagaimana kalau kita ke area lantai dua untuk sekedar melihat-lihat," ajak Willem.
Akram tentu saja tidak menolak. Dengan teliti ia memperhatikan setiap detail dan sudut caffe ini yang memilih warna putih dominan, sedangkan lantainya memakai bahan wood vinyl berwarna cokelat alami.
Dilantai dua desain interiornya tidak jauh berbeda dengan lantai satu, dari sini para customer dapat melihat pemandangan dari atas karena dinding terbuat dari bahan kaca.
Ditenga-tengah mereka berkeliling, seorang lelaki menyapa Will dengan ramah. "Willem."
Willem melihat dan tampak sudah familier dengan pria tersebut. Dia adalah Erik, sang pemilik caffe. Will pun mengenalkan Akram pada Erick.
Mereka melanjutkan pembicaraan mengenai caffe ini ditemani dengan suguhan tiga gelas kopi dan beberapa camilan dari menu yang ada di tempat ini. Akram menyicip maindish yang di telah dihidangkan.
"Rasanya biasa saja, pantas sepi. Apalagi harganya yang terbilang mahal," batin Akram dalam hatinya.
"Apa alasan anda ingin menjual caffe ini?" tanya Akram.
"Sebenarnya caffe ini di kelola oleh adik saya, tapi karena adik saya beberapa waktu lalu mendapat musibah kecelakaan, maka saya yang meneruskan. Biaya pengobatan adik saya cukup besar, oleh karena itu kami memutuskan untuk menjual caffe ini. Selain itu saya masih kurang dalam hal management." tukas Erick menjelaskan.
Didalam kepala Akram sudah tersusun beberapa rencana dan melihat peluang yang menguntungkan jika membeli caffe ini, apalagi kalau ditunjang dengan skill memasak Sraya yang sangat lezat dan bervaratif.
Akram juga berniat ingin membantu masalah ekonomi yang dihadapi Erick, terlebih ini juga demi kemanusiaan. Hati Akram tersentuh karena ia juga memiliki adik perempuan.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu yang lama atau perdebatan panjang mengenai harga yang di tawarkan, akhirnya Akram membeli caffe tersebut yang akan menjadi kejutan untuk Sraya.
Seulas senyum terbit dari wajah tampan Akram saat membayangkan ekspresi dan juga respon dari istrinya tercinta, Sraya.