Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Secondary infertillity


__ADS_3

Sraya tidak pernah tau Akram adalah kakak dari Nastiti, Akram juga tidak tau Nastiti berteman baik dengan Sraya. begitulah takdir mempertemukan mereka.


Sraya, Willem, dan Rio kembali ke Jakarta. Mereka menjalani hari seperti biasanya.


Dirumah sakit Siloam Jakarta. Tampak Maxwell dan Natt sedang melakukan pemeriksaan, sudah dua bulan pernikahan mereka belum ada tanda-tanda kehamilan. Sedangkan kedua orangtua mereka menuntut untuk cepat memiliki keturunan.


Setelah melewati berbagai macam test dan pemeriksaan. Dokter mendiagnosa Maxwell menderita Secondary Infertillity.


Yaitu suatu keadaan seseorang susah mendapatkan anak kedua karena penurunan kualitas ******, butuh beberapa waktu untuk bisa memiliki anak kembali.


Natt sangat frustasi dengan keadaan ini. Dia tidak menyangka Maxwell akan mengalami hal demikian, mereka belum mengatakan masalah ini kepada keluarga mereka. Apa ini sebuah karma.


Maxwell segera bertolak ke Singapura untuk berkonsultasi dengan dokter disana. Natt tidak ikut karena ada pekerjaan di Bandung.


Kandungan Nastiti samakin membesar karena sudah berusia tujuh bulan. Hari ini Nastiti dan mbo Darmi memeriksa kandungan nya ke rumah sakit di kota Bandung.


Tanpa sengaja Nastiti dan Natt bertemu kerena dihari itu keduanya memeriksa kan diri di rumah sakit yang sama.


"Bukan kah gadis itu … ?"


Natt bermonolog pada dirinya, dia mengingat gadis yang tadi dia lihat sedang menebus obat di apotek adalah Nastiti. Dia mengikuti langkah Nastiti yang menuju ke toilet wanita.


Nastiti yang sedang mencuci tangan nya di wastafel di kejutkan dengan tarikan yang begitu keras sampai ia tersentak. Keadaan toilet saat itu sedang kosong hanya mereka berdua saya.


"Kau bukankah gadis itu? gadis yang ditiduri suamiku, Maxwell? karena obat perangsang," tanya Natt meng-intimidasi Nastiti.


"Jangan menggangguku lagi. Aku tidak punya urusan dengan kalian, baik dulu maupun sekarang!"


"Apa yang sedang kau lakukan disini?"


"Sudah kubilang bukan urusanmu!" bantah Nastiti.


Nattasya bukan orang yang bodoh. Ia memperhatikan tubuh Nastiti yang semakin berisi karena hamil, perut nya pun membesar


Seingat nya dulu Nastiti telah kehilangan bayi nya.

__ADS_1


Natt mencengkram kuat tangan Nastiti.


"Bukan kah kamu telah kehilangan bayi mu? Lalu anak siapa yang sedang kau kandung?" tanya Natt penuh selidik.


"Apa kau membohongi Maxwell? Apa anak yang kau kandung adalah anak Maxwell?"


Nastiti berusaha bersikap tenang untuk menghindari kecurigaan Natt, ia menarik nafas panjang.


"Bukan kah suami mu itu melihat sendiri kondisi janin yang tidak bernyawa? bukankah suami mu itu membaca sendiri laporan kesehatan ku? Bahkan dia ada disaat aku kehilangan bayi yang tidak kami inginkan." Nastiti menjawab penuh percaya diri.


"Lalu anak siapa ini? bukankah sudah kuperingatkan jangan coba-coba bermain main denganku!"


"Ini anak dari dokter Rei kalau kamu sangat ingin tau. Tanyakan pada suami mu apa hubungku dengan dokter Rei."


Nastiti melawan dengan menghentak tangan Natt yang sedari tadi mencemgkram nya, ia tatap wanita arogan itu dengan tatapan yang nyalang.


"Jangan pernah mengurusi hidupku lagi dan jangan pikir aku akan terus bersikap sabar dengan semua perlakuan mu!"


Natt terpaku melihat keberanian Nastiti. Sampai beberapa detik ia menyadari kalau Nastiti sudah tidak ada di hadapannya, ia mencari Nastiti dan melihat gadis itu pergi menggunakan taxi dengan seorang wanita paruh baya.


Natt tidak percaya begitu saja dan langsung menghubungi seseorang.


Setelah memberi perintah pada orang kepercayaan nya ia kembali masuk kedalam rumah sakit, Natt ingin memastikan kebenaran ucapan Nastiti. Dengan kekuasaan dan uang natt berhasil mendapatkan laporan pemeriksaan Nastiti.


Matanya terbelalak saat mengetahui usia kandungan nastiti yang memasuki tujuh bulan. Ia remas kertas laporan itu dan meninggalkan rumas sakit.


Nastiti tidak menyadari kalau taxi yang ia tumpangi di ikuti oleh seseorang. Pikiran nya terlalu kacau setelah bertemu Natt, banyak kekhawatiran yang muncul dalam benak nya saat ini.


Mbok Darmi menyadari kegelisahan Nastiti, wanita itu mengelus lembut tangan Nastiti.


"Apa yang terjadi dirumah sakit, Nduk? Sepulang dari sana kamu tampak sangat gelisah."


"Aku bertemu dengan Natt, Mbok. Aku takut dia akan curiga dan merencanakan hal yang membahayakan."


''Natt, istri dari tuan Maxwell?" tanya mbok darmi memastikan.

__ADS_1


"Maaf, Mbok. Tapi jangan pernah sebut nama lelaki itu di depanku, hatiku sangat sakit saat mendengar namanya."


Nastiti membaringkan badan nya di pangkuan mbok Darmi yang ia anggap ibu.


"Maafkan si Mbok yang tidak tau ini, Nduk. Lantas kamu sudah memberi tahu hal ini pada den Rei?"


Mbok Darmi membelai lembut rambut Nastiti.


"Aku akan memberi kabar pada mas Rei besok, Mbok. Aku mengkhawatirkan mas Rei seandainya lelaki bajingan itu mengetahui rencana mas Rei selama ini'."


"Tidurlah, Nduk. Kamu jangan banyak pikiran. Mbok yakin kita semua akan baik baik saja."


Di sebuat kamar hotel mewah di kota Bandung. Natt meneguk sedikit demi sedikit anggur mahal yang ia pesan, ia menatap pemandangan kota Bandung dari dinding kamarnya. Ia tidak tertarik sama sekali dengan pemandangan yang sedang ia lihat.


Pikiran nya jauh melayang pada pertemuan nya dengan Nastiti, fakta bahwa suami nya mengidap secondary infertillity, dan fakta bahwa Nastiti masih mengandung anak Maxwell.


Ia tidak bisa memberitahu Maxwell tentang semua ini. Kalau saja Maxwell dalam kondisi repoduksi yang baik baik saja pasti dengan senang hati Natt menceritakan semua kepada Maxwell.


Tapi bagaimana kalo Maxwell tidak dapat memiliki keturunan lagi. Bukan kah dia masih memiliki anak dari Nastiti.


Satu satu nya jalan adalah dengan melenyapkan Nastiti. Natt kembali menghubungi orang yang ia suruh mengikuti Nastiti.


"Lenyapkan gadis itu sekarang juga, jangan tinggalkan jejak sedikitpun!" perintah Natt saat telepon tersambung.


Dirumah milik dokter Rei. Nastiti sudah tertidur pulas, mbok Darmi yang baru saja tidur terbangun karena ia seperti merasakan sesuatu yang aneh. Tadi ia seperti mendengar pergerakan orang yang mencurigakan.


Mbok Darmi bangun dan mengintip ke jendela. Diluar ia melihat dua orang sedang menyirami derigen berisi cairan ke dinding rumah dokter Rei, mbok Darmi membekap mulutnya sendiri karena hampir berteriak karena terkejut.


Ia segera membangunkan Nastiti yang tengah teritidur.


"Nas. Bangun, Nduk," Ia menepuk pelan pipi Nastiti.


"Nduk, kamu harus bangun!"


Nastiti yang tidurnya terganggu dengan suara mbok Darmi mengerjap dan mulai bangun.

__ADS_1


"Mbok, ada apa? Apa sudah pagi? Aku merasa baru saja tertidur." Nastiti menggeliat dan menguap.


"Gawat Nduk, Kita harus pergi sekarang juga ini sangat bahaya!"


__ADS_2