
Pagi itu Amel melakukan absensi biometrik dengan menempelkan sidik jarinya ke sebuah sensor, dan dengan otomatis akan mencatat jam kehadiran dan kepulangan karyawan.
Tampak dua orang teman Amel melakukan hal yang sama, mereka bertiga menaiki lift untuk sampai di lantai divisi tempat mereka magang.
Pagi ini ada yang berbeda, karena sebanyak lima peserta magang yang terpilih akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti jamuan makan malam bersama para dewan direksi dan pemegang saham.
Khusus untuk karyawan magang pagi itu dikumpulkan di salah satu ruang rapat berukuran besar. Termasuk Amel yang pagi itu mengenakan rok span ketat lima centi di atas lutut, kemeja putih press body, dan juga blezer navy yang senada dengan warna rok nya.
Sebanyak tiga puluh gadis berusia dibawah dua puluh empat tahun dengan tenang menduduki kursi yang telah disediakan. Mereka sendiri tidak tahu kalau sebuah kesempatan besar menanti, bagi mereka yang beruntung.
Suara hentakan high heels dari seorang wanita yang memasuki ruang rapat, mengalihkan perhatian mereka yang sedari tadi berbisik-bisik karena rasa penasaran.
Seorang wanita cantik yang mengenakan sheath dress hitam sederhana yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Wanita itu menenteng sebuah tas dengan merk terkenal yang mencapai harga milyaran rupiah.
Wanita itu adalah Nattasya Indri Husana yang tak lain istri dari Maxwell dan juga anak dari pemilik Andalah Husada, sebuah perusahan yang tidak kalah besar dari Sedayu Buana Group.
Semua mata memandang kagum pada sosok Natt yang terlihat sempurna. Seorang asisten Natt yang sedari tadi mengikuti langkah nya dari belakang mengambil alih proses seleksi pagi itu.
Asisten Natt menjelaskan kalau akan mengadakan seleksi mendadak untuk mencari lima karyawan magang yang terbaik, mulai dari penampilan, table manner, kecakapan dalam berinteraksi, pengetahuan seputar dunia kerja, dan juga bahasa asing.
Sebagian menyambut antusias, sebagian lagi ada yang merasa tidak siap. Untuk Amel sendiri, gadis itu sangat percaya diri dapat menjadi salah satu kandidat.
Sebanyak lima orang HRD menjadi penilai dalam proses seleksi tersebut. Amel mendapati penilainya seorang lelaki dewasa yang cukup tampan dimatanya, setelah menunggu tiga peserta akhirnya namanya disebut.
Untuk kecakapan dalam berbicara, penampilan, dan juga etika di meja makan Amel mendapatkan point yang tinggi. Bahasa asing standart, dan pengetahuan dunia bisnis tidak terlalu tinggi.
"Terima kasih, Mbak. Amel telah mengukuti proses seleksi ini, semoga hasilnya nanti seperti yang di harapkan," ujar penilai yang bernama Joe.
__ADS_1
Amel melihat kesekeliling ruangan itu, semua orang fokus pada dirinya masing-masing. Dengan suara agak di pelankan Amel bertanya dengan Joe. "Pak, apa gak bisa saya tau hasil nya sekarang?"
Joe mengangkat sebelah alisnya kemudia ia teringat dengan gadis yang ada di hadapannya ini, Joe pernah melihat Amel di salah satu diskotek yang ada di Jakarta. Malam itu Amel begitu semangat meliuk-liukan badannya mengikuti irama musik.
Kemudian otak licik Joe mulai bekerja. "Sebenernya nilai kamu kurang beberapa point dan maaf, Mel. Kamu kayaknya belum berkesempatan untuk mengikuti acara dinner resmi perusahan. Ah sayang sekali," ucap Joe menunjukan simpati nya.
Amel yang pantang gagal dan pantang membuang kesempatan harus menggunakan cara apapun untuk mencapai keinginan nya, sebuah ide gila muncul dari otaknya. "Apa Bapak bisa bantu untuk meloloskan saya?" tanya Amel memancing Joe.
"Bisa saja, tapi apa yang bisa kamu kasih sebagai penawaran? Ini adalah kesempatan besar dan tidak datang dua kali untuk karyawan magang."
Amel mengerti apa yang dimaksud dengan Joe, ia juga sudah banyak dengar dari senior-seniornya kalau kehidupan Joe tidak bisa lepas dari hiburan dan wanita cantik.
Amel mengelus punggung tangan Joe yang diletakan di atas meja, gadis itu menggigit sensuall bibir bawahnya yang memakai lipstik berwarna merah. "Bagaimana kalau sedikit bersenang-senang setalah pulang kantor nanti," tawar Amel penuh arti.
"Kamu mengerti, Nona. Dengan apa yang kau tawarkan ini?"
"Baiklah, aku bisa memberikan jaminan untuk kamu. Sepulang kantor nanti aku akan menunggumu di parkiran belakang."
Amel dan Joe mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ibarat simbosis mutualisme.
Setelah perjanjian panas dengan Joe, Amel melangkahkan kaki nya dengan ringan keluar dari ruang rapat. Saat jam makan siang nama nya keluar di board pengumuman.
Senyum sensual terbit di bibir seksi Amel, ia melanjutkan pekerjaan nya dengan perasaan bahagia hari itu. Tepat dua jam sebelum pulang, kelima peserta dipanggil menghadap keruangan Natt.
Amel beserta yang lainnya dengan antusias bertemu dengan Natt. Mereka semua berdiri berjejer mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir wanita yang sangat arogan itu.
"Aku tidak mau kalian menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan oleh perusahaan. Saat acara berlangsung nanti, pilihlah pakaian yang pantas! Berdandanlah semenarik mungkin, jangan ada yang membuat malu dengan penampilan kalian. Menegerti?"
__ADS_1
Mereka semua serempak mengangguk dan menjawab apa yang di peringatkan oleh Natt.
"Mengerti, Nona."
"Bagus!."
Mereka semua kembali keruang masing-masing untuk menyelesaikan sisa pekerjaan mereka. Disisi lain Daren telah memiliki janji temu dengan Max di anak perusahaan tempat Amel magang.
Tidak sengaja ia bertemu dengan Amel di lobi perusahaan, gadis itu tidak mengetahui kalau Daren adalah inveator dan tamu Maxwell. Ia berani menyapa dan mengobrol ringan dengan Daren karena sebelumnya mereka pernah makan malam bersama dengan Akram dan Sraya.
Dari lantai atas, Natt yang telah mendapat berita bahwa Maxwell dan Daren akan ke kantor, tidak sengeja melihat kedekatan Daren dan Amel yang terlihat seperti sudah saling mengenal.
Ia memerintahkan kepada asisten nya untuk memanggil Amel keruangan nya untuk bertemu setelah ini.
Daren dan Akram sore itu sedikit membahas kembali kerjasama mereka dan merevisi apa saja yang kurang dalam MoU sebelumnya. Sedangkan diruang lain nya Amel dan Natt berbicara empat mata.
"Aku membutuhkan satu orang lagi sebagai asistenku untuk acara makan malam nanti, apa kau bersedia?" tanya Natt tanpa basa-basi.
Amel seperti mendapatkan durian runtuh hari itu, bagaimana tidak? Dirinya terpilih di acara penting perusahaan, sore nanti ia akan berkencan sengan HRD senior dikantornya sekaligus akan memanfaatkan posisi Joe untuk bisa bertahan di perusahaan, dan dia mendapatkan tawaran yang sangat bagus dengan menjadi asisten Natt.
"Tentu saja, Nyonya. Aku tidak akan mengecewakan anda. Terimakasih atas kemurahan hati anda karena telah memilih saya." Amel membungkukan sedikit badan nya sebagai penghormatan.
Natt tersenyum sangat tipis, kalau memang gadis ini telah mengenal Daren, rencana nya ia akan menggunakan Amel sebagai umpan yang baik untuk menyenangkan hati Daren. Ia akan meminta Amel memuaskan Daren.
Lekaki mana yang akan menolak kesenangan? Apalagi orang-orang high calss seperti Maxwell dan Daren, untuk Amel sendiri kalau gadis ini berhasil menyenangkan Daren. Ia berniat akan menjadikannya karyawan tetap dan memberikan sejumlah uang.
Natt sengeja mengajak Amel untuk keruang Max namun nyatanya kedua lelaki itu sudah menuju lobi. Terlihat suami nya tengah mengantar kepulangan Daren yang sudah menaiki mobil.
__ADS_1
Sebelum Daren memacu mobilnya, ia melihat dari dalam mobil Amel dan Natt yang menyusul Max tampak begitu dekat.