
Aku tidak menyangka kalau Sofi dan Aslan akan menjadi tetanggaku, tadi sebelum pulang. Sraya mengajak mereka makan siang dulu. Tidak ikhlas sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi kalau Sraya yang meminta?
Mantan kekasih dan mantan sahabatku ini rupanya baru pindah dari Den Haag, Belanda. Aku heran mengapa mereka memilih tinggal di apartemen? Padahal setahuku mereka sangat mampu membeli rumah yang mewah di ibukota Jakarta ini.
Sofi sangat antusias menikmati makan siang yang Sraya masak, apapun yang di masak istriku itu seperti dibuat dengan cinta sehingga menghasilkan rasa yang lezat.
Sore ini aku bersantai dikamar bersama Sagara. Melihat anak ini, aku seketika jadi teringat dengan Nastiti adik ku. Apa kabarnya dia sekarang?
Sungguh aku tidak akan pernah memaafkan lelaki yang sudah membuat Nastiti sangat menderita, sebuah rencana sudah aku susun dan diam-diam aku jalani tanpa banyak yang tahu.
Hanya rich grandpa ku, Daren, Dan paman Levie yang aku anggap sangat cocok untuk menunjang rencanaku agar berhasil. Tinggal menunggu waktunya saja bom itu akan meledak dan membuat Maxwell menyesal karena sudah membuka sisi gelapku.
Aku mengambil handphone ku yang memiliki teknologi tinggi, segera ku ketik pesan yang aku kirim untuk Daren. "Bagaimana perkembangan, Nastiti?"
Satu menit, dua menit, sampai lima menit akhirnya terdengar notifikasi dari gawai yang ku letakkan di atas nakas, Sebuah pesan balasan dari Daren. "Nona Nastiti baik-baik saja tuan, dokter Rey juga bekerja di salah satu rumah sakit kota Brisbane berkat tuan besar Aaron."
Kakek Aaron? Jadi kedua kakek ku ingin ikut kedalam masalahku. Apa tujuan mereka sebenarnya, apa karena rasa bersalah mereka selama ini kapadaku? Dan ingin membuat diri mereka berguna.
Hubungan keluargaku memang rumit. Aku baru mengetahui tuan Kim sebagai kakek ku saat aku berumur tujuh belas tahun, aku memilih tidak ingin mengetahui apa alasannya aku bisa terpisah dengan mereka dan ditemukan di villa kosong dekat dengan perkebunan bapak Permana.
Meskipun sedari kecil aku mengetahui kalau aku bukan anak kandung dari bapak Permana dan ibu Masayu. Karena garis wajahku sangat berbeda dengan mereka, tetapi itu semua membuat aku kekurangan sedikitpun cinta yang aku dapat. Aku juga tidak khawatir kalau Nastiti sudah dalam jaminan kakek Kim dan Kakek Aaron.
"Datanglah ke Jakarta, aku tunggu dalam dua hari." Kembali aku mengirim pesan untuk daren, semua yang aku perintah pada lelaki muda yang berumur dua puluh lima tahun. Seumuran dengan Sraya, selalu di selesaikan dengan baik dan tepat.
"Mas, Sagara anteng kan?" Sraya masuk ke kamar dan mengecek Sagara yang sedang anteng tidur setelah menghabiskan sebotol susu.
Aku tersenyum dan menarik tangan Sraya yang sedang duduk disampingku hingga ia berbaring, kini satu tanganku segera memeluk Sraya dan satu tangan lagi menyangga kepalaku.
"Mas ini asal narik aja, gimana kalo kena Saga," gerutu Sraya karena aksi dadakan yang aku lakukan.
"Enggak! aman kok, Mas kangen sama kamu. Waktu dirumah sakit Mas gabisa tidur, Dik." Aku membelai pipi mulus Sraya dengan sangat lembut, lagi-lagi pipi Sraya bersemu merah.
Aku paling suka menggoda Sraya sampai ia malu-malu pada suaminya sendiri, ia balas memeluk ku dan menatap mataku yang sering ia katakan memiliki mata yang tajam. "Kenapa gak bisa tidur, Mas?"
"Soalnya Mas gak bisa tidur kalo gak meluk kamu, cuma kamu yang bisa Mas tidur dengan pulas." Aku mengecup bibirnya singkat setelah mengatakan hal itu.
__ADS_1
Sungguh itu adalah perkataan yang aku ucapkan dengan jujur, pelukan yang Sraya berikan bagaikan selimut yang menghangatkan malam yang dingin, aroma harum tubuh Sraya bagaikan obat tidur yang mampu membawaku lelap, dan hembusan nafas Sraya yang begitu halus menyalurkan ketenangan yang aku rasakan.
"Aku juga gak bisa tidur kemarin, terus aku buat risoles ayam buat ngusir rasa bosen aku," adu Sraya kepadaku.
"Oh ya? Mas kok gak tau kamu bikin makanan, masih ada gak? Mas mau nyicip."
"Masih banyak, Mas. Tenang aja aku buat banyak, hmm ... rencana nya mau aku bagi sama mba Sofi sih, itung-itung menyambut tetangga baru."
"Jangan!" Aku menolak cepat rencana Sraya.
"Kenapa, Mas? Diakan temen kuliah Mas juga. Mas gak boleh gitu, kalau kita punya makanan lebih itu harus berbagi. Gak boleh pelit-pelit." Sraya memberikan ceramah singkatnya dengan bibir yang di manyunkan.
Aku mendekap Sraya dengan kedua tanganku. "Bukan nya enggak boleh, cuma Mas gak rela aja masakan kamu di cicipin orang luar. Cuma Mas aja yang berhak."
"Mana bisa kayak gitu Mas," protes Sraya.
Sraya melepaskan pelukanku dan menatap serius kepadaku. "Alasan macam apa itu? Masa iya masakan aku gak boleh di cicipin orang lain, apa masakan aku gak enak? Sampe Mas malu kalo orang-orang ikut ngerasain rasanya?"
"Bukan gitu, Justru karena masakan kamu rasanya sangat enak. Mas gak rela sampe orang lain muji-muji masakan istri, Mas."
Pembicaraan kami rupanya membangunkan Sagara yang sudah tidur selama dua jam. Sraya segera bangkit dari ranjang kami dan beralih pada bayi itu, ia mengangkat tubuh anak kami dengan hati-hati dan menimang-nimang Sagara.
Aku memperhatikan interaksi Sraya dan Sagara, sangat terlihat jelas kasih sayang di mata wanita ini. Aku berinisiatif untuk membantu Sraya dengan mengambilkan tissue basah yang sering di gunakan untuk membersihkan Sagara, pampers serta celana gantinya.
"Ini Dik celana gantinya." kuserahkan apa aja yang aku ambil tadi pada Sraya.
"Makasih," jawab Sraya singkat.
Tok tok tok.
"Mas Akram? Di dalem ya." Amel mengetuk pintu dari luar yang segera aku bukakan.
"Iya, Mel. Kenapa?"
"Mas bantuin Amel dong ngerjain laporan, ada materi yang gak Amel ngerti bisa, kan. Mas?"
__ADS_1
"Bisa, yaudah kita ngerjain di ruang tamu aja." aku melihat Sraya yang kini sudah selesai membersihkan Sagara. "Dik, Mas bantuin Amel dulu ya."
"Iya," jawab Sraya singkat, tanpa senyum seperti biasanya dan tanpa menatap. Aku hanya menghela nafas saja, menutup pinta dan menyusul Amel.
"Apa yang gak kamu bisa, Mel?" tanyaku sambil mengambil tempat duduk disebelah Amel. Kulihat Amel memakai dress bermotif macan tutul dengan tali satu tanpa lengan.
Entah kenapa aku sedikit risih dengan penampilan Amel, apalagi saat mencium aroma parfum nya yang kutahu itu adalah merk bacarat. "Mel, pake jaket gih sana. Gak dingin kamu make baju kaya gini."
"Mana ada dingin Mas, lagian di dalam rumah ini, aku gak kemana-kemana juga," jawab Amel.
Ah dia tidak tahu saja, apa dia memang sengaja memancingku? Aku abaikan penampilan Amel dan fokus kepada materi yang di tanyakan gadis ini.
Kebetulan Amel mengambil ekonomi sama sepertiku, maka dari itu aku cukup tahu dan membantu Amel. Beberapa kali Amel menggeser tubuhnya mendekat kepadaku. Sekali, dua kali, tiga kali.
"Mel, geser dong. Kamu mepet banget duduknya Mas udah mentok ke ujung sofa ini," tegurku pada Amel.
"Abis nya Mas ngejelasin jauh-jauhan gimana Amel bisa ngerti."
"Dosen aja ngasih materi dari jarak beberapa meter mahasiswa pada ngerti," cetusku yang membuat Amel manyun.
Sudah setengah jam dan tugas Amel hampir selesai. Terdengar suara bell apartemen kami berbunyi, rupanya Amel telah memesan kopi dan donat kesukaanku. Ia menghidangkan nya disamping laptop di meja.
"Wah kapan kamu pesen semua ini, Mel?"
"Tadi, Mas. Sebagai bayaran Mas Akram udah mau bantu Amel."
Aku menyedot kopi yang tadi Amel pesan dan baru memakan satu gigitan donat dengan rasa tiramisu saat Sraya keluar dari kamar.
"Mbak, mau donat gak? Ini donat kesukaan Mas Akram, loh."
Sraya menatapku dan Amel bergantian lalu. "Makasih, Mel. Tadinya Mba mau gorengin kamu risoles buatan, Mba. Tapi gak jadi deh."
"Loh, kenapa Mba?" tanya Amel.
"Masakan, Mba ga enak. Kalian makan donat aja."
__ADS_1
Sraya kembali masuk ke kamar dan menutup pintu kembali.
Apa Sraya ngambek?