
Flashback on …………
Malam itu setelah menjalankan sholat isya berjamaah, bapak-bapak di desa Sukomukti tampak berkumpul di teras mushola untuk sekedar mengobrol. Pak RT Darmadi melihat Pak Suseno yang tampak nya baru saja tiba di desa.
''Pak Senoo,'' sapa pak Darmadi.
Pak seno menghampiri para warga yang sedang bersantai di teras.
''Assalamualaikum, Pak RT, Bapak-bapak semuanya.''
''Walaikumsalam Pak Seno,'' jawab bapak-bapak kompak.
''Wah baru pulang ya, Pak Seno?'' tanya salah satu warga.
''Iya, Pak. Habis dari Jakarta mengurus kuliah putri saya disana.''
''Anak Bapak yang perempuan? Ajeng toh kalo ndak salah?'' tebak pak Darmadi.
''Iya, Pak. Bener putri saya Ajeng, dia milih kuliah di Jakarta.''
''Wah sama toh dengan putri nya Pak Permana, nduk Nastiti. Dia juga kuliah di Jakarta dan kerja di luar negeri sekarang, bener toh Pak permana?''
Semua orang menatap pak Permana yang sedang menyenderkan tubuhnya di pilar mushola.
''Bener, Pak. Putri saya Nastiti. Sekarang kerja nya jauh,'' jawab pak Permana membenarkan.
Pak Seno detik itu juga mengingat anak Pak Permana yang lain, Akram. Yang kemarin ia temui di hotel bersama wanita, dan seorang bayi.
''Oalah aku kemarin juga ketemu sama Akram Pak di jakarta.''
''Tenan Pak Seno? Mungkin putra saya sedang mengurus pesanan kopi pakdenya dengan orang Jakarta.''
''Tapi kok Pak Permana nda bilang kalo, nak Akram sudah menikah?'' tanya pak Seno.
''Menikah?'' beberapa warga bergumam.
Sedangkan pak permana merasa bingung dengan pernyataan pak Seno.
''Iya Bapak-bapak saya kemarin lihat nak Akram bersama istri dan anaknya yang masih bayi menginap di hotel yang sama toh dengan saya, wong saya sempet ngobrol dengan nak Akram.''
''Apa bener, Pak Permana?'' tanya Pak Darmadi.
''Ah nda mungkin. Kalo nak Akram menikah pasti Pak Permana buat acara toh, sudah pasti ngundang-ngundang,'' seru warga lainnya.
Pak Seno dengan sigap membuka hp nya, dan menunjukan sebuah video.
''Ini loh buktinya, waktu saya makan malem di restoran hotel itu saya buat vidio buat upload di status wa saya. Eh kok nak Akram kesorot ke vidio saya.''
Pak Suseno menunjukan vidio dirinya sedang makan di restoran, kamera mengarah ke segala sisi restoran dan kemudian Akram, Sraya, san Sagara tertangkap kamera pak Suseno.
Pak Permana yang tengah ikut melihat ke ponsel pas Seno membatu.
''Lah bener. Ini kan, Nak Akram. Putra Bapak,'' ucap seorang warga.
''I-i-ya Akram menikah di Jawa Tengah tempat pakde nya. Re--rencana akan di adakan hajatan setelah ia pulang ke desa ini,'' ucap pak Permana memberi alasan.
__ADS_1
Flashbak of …………
Tadi setelah orang tuanya bilang sudah tiba di Jakarta, Akram tidak bisa lagi mengelak. Setelah memberi alamat apartment nya kini Akram menunggu dengan cemas.
Sraya terduduk lemas setelah Akram tadi memberitahunya. Entah alasan apa yang nanti akan mereka berikan pada orangtua Akram.
''Kamu tega, Nak. Sama Bapak dan Ibu, Kenapa kamu merahasiakan ini semua dari kami ?''
Ibu Masayu menangis di depan Akram dan Sraya yang hanya bisa tertunduk, saat ini mereka duduk di ruang keluarga di apartment Akram.
''Sudah lah, Bu. Tenangkan dulu hati ibu. Jangan seperti ini,'' Permana mengelus punggung istrinya.
''Bagaiamana Ibu bisa tenang toh, Pakkk! Tiba- tiba mendapat kabar anak kita sudah menikah dan punya anak, sedangkan kita tidak tau apa apa.''
''Akram coba kamu jelaskan pada kami," pinta Pak Permana.
''Maafin Akram, Pak. Bu, Akram sudah mengecewakan Bapak dan Ibu,'' jawab Akram masih tertunduk.
''Kamu ya kenapa ga ngomong toh Akram pada kami. Kami ini tidak melarang kamu mau menikah dengan siapa saja, asal kamu bahagia, Nak. Tapi kenapa kamu bisa menyembunyikan hal sebesar ini dari kami?''
Air mata bu Mahayu terus saja mengalir, sesekali ia mengelus dada nya.
''Bukan Akram ndak bermaksud memberi tahu, Ibu dan Bapak, tapi ini semua bukan seperti yang Bapak dan Ibu pikirkan.''
''Terus apa, Le. Beri Ibu dan Bapak mu ini penjelasan!"
Akram mengangkat wajahnya memandangi ibu dan ayahnya bergantian, kemudian menatap pada Sraya yang terus saja menundukan wajahnya.
''Nama kamu siapa, Nduk?'' tanya pak Permana pada Sraya.
''Kamu aslinya orang mana to?''
''Sa--saya tinggal di Jawa Barat, Pak. Tetapi saya bekerja dan kost di Jakarta, Pak.''
''Apa kerjaan kamu, Nduk?'' tanya pak Permana pada Sraya dengan nada yang lembut.
''Saya bekerja di caffe, Pak. Sebagai cook helper.''
''Cook helper iku opo?'' kali ini ibunya Akram yang bertanya.
'E--emm ... a--anu bu … sebagai asisten koki, membantu masak.''
''Kamu kenal dengan Akram dimana, Nduk?''
''Di Jawa Timur, Pak. Saat saya ke kebun kopi pakde Mas Akram,'' jawab Sraya jujur.
''Oalaaah. Pakdemu sudah kenal dengan Sraya, Nak?'' pak permana memandang Akram.
''Sudah, Pak.''
''Nak Sraya, apa Akram berbuat macam-macam dengan kamu? Apa kalian melakukan itu diluar nikah?''
Tiba-tiba pertanyaan itu lolos begitu saja dari bu Masayu. Membuat Akram dan Sraya mengangkat wajahnya dan saling pandang.
''Ti--tidak, Bu. Saya dan Mas Akram tidak seperti itu."
__ADS_1
''Terus kenapa kalian harus merahasiakan hubungan kalian, Nak?''
Kepala Akram tiba tiba ingin pecah, ia menghela nafas. bingung harus memberi tahu alasan sebenarnya atau mencari alasan lain. Ia juga tidak mau membawa Sraya lebih jauh kedalam permasalahan keluarganya.
''Jawab, Nak. Jangan buat Ibumu ini mati penasaran.''
''Ibu, eling tohhh, nda boleh bicara seperti itu! tegur pak pramana.
''Bawa Ibu dan Bapak menemui orang tua Sraya sekarang juga,'' pinta bu Masayu.
''Ta--tapi, Bu. Ini sudah malam, Ibu dan Bapak baru saja sampai Jakarta.''
''Akram benar Bu, besok saja kita temui orang tua Sraya. Bapak takut ibu jadi sakit kalau terlalu kecapean,'' bujuk pak Permana.
Malam itu pak Permana dan bu Masayu menginap di apartment Akram. Orangtuanya tidur di kamar tamu, sraya dan Sagara di kamar Akram. Dan Akram sendiri di ruang keluarga.
Sraya yang baru saja keluar dari kamar untuk mencuci botol susu Sagara, mendapati Akram yang sedang melamun di kursi yang ada di pantry.
''Mas Akram kok belum tidur?''
''Eh, Dik. ini Mas lagi mau buat kopi.''
''Biar Sraya aja, Mas. Yang buatkan.''
Sraya membuatkan Akram secangkir kopi dan duduk bersama Akram.
''Apa bapak dan ibu sudah tidur, Mas?''
''Sudah, Dik. Bapak dan ibu memang tidak bisa tidur terlalu larut, saat dikampung saja jam sembilan sudah tidur. Apalagi ini habis perjalanan jauh.''
Akram menjelaskan kebiasaan ibu dan bapak nya pada seraya, sesekali Akram menyecap kopi buatan Sraya yang sangat pas dilidahnya.
''Maaf ya, Dik. Gara-gara Mas kamu mendapat masalah ini, Mas. Bingung harus berbuat apa?''
''Ini bukan kesalahan, Mas. Bagi aku wajar seorang ibu sangat mencemaskan anaknya. Dan pasti butuh waktu untuk menjelaskan, Mas. Tidak bisa buru buru takutnya nanti terjadi sesuatu yang engga kita inginkan.''
''Kamu bener, Dik. Maaf tadi Mas hanya bisa diam saja saat ibu mencecar kita dengan pertanyaan,'' ucap Akram tampak menyesal.
''Aku mengerti apa yang, Mas. Rasakan, besok kita coba bicara pada ibu dan bapak pelan pelan, Mas.''
''Lalu apa kita harus bilang yang sebenarnya kalau Sagara adalah anak Nastiti? Yang telah di titipkan pada kita. Kamu tau alasan Nastiti menutupi ini semua dari kami, dia engga ingin keluarga nya tau.''
Akram menghela nafas dan memainkan cangkir kopi yang isinya tinggal setengah, lalu melanjutkan omongan nya.
''Apalagi ibu besok minta bertemu dengan ibu kamu, Dik.''
''Kalau urusan dengan ibuku gampang, Mas. Ibu bisa diajak kerja sama. Selama ini juga ibuku sudah tau semua kebenarannya. Yang saat ini Sraya khawatirkan adalah ibu Mas. Bagaimana kalau ibu mas tau kalo anak itu anak Nastiti?''
PYAAAAARRRR.
Ditengah pembicaraan Sraya dan Akram yang sedang serius itu, tiba tiba terdengar suara gelas yang pecah karena terjatuh.
'IBUUUUUU ………''
Ucap Sraya dan Akram bersamaan karena terkejut.
__ADS_1