Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Kedatangan Nastiti


__ADS_3

Nastiti memeluk erat Akram dan Sraya bergantian, tangis ketiganya tumpah di pagi yang cerah itu. Untuk beberapa saat tidak ada kata yang dapat terucap, sepasang suami istri itu cukup terkejut mendapati Nastiti ada di hadapan mereka lagi. Sraya yang sudah bisa menenangkan diri beranjak dari duduknya, saat ini ia dan suaminya juga Nastiti dan Reyhan tengah duduk di ruang tamu.


"Mbak sampai lupa membuatkan kalian minuman, tunggu sebentar." Sraya langsung menuju dapur membuatkan empat gelas teh hangat.


Akram menggendong Sagara di pangkuannya. Mata Nastiti tertuju pada anaknya, ada rasa sesak bercampur sedih yang saat ini berkecamuk di dalam hatinya. Senang karena bisa bertemu dengan buah hatinya, dan sedih karena selama ini ia tidak bisa mengurus bahkan memberi Asi pada Sagara, seperti ibu pada umumnya. Akram yang melihat perubahan besar di wajah Nastiti saat memandang Sagara, langsung duduk di samping adiknya.


"Dia tumbuh menjadi anak yang tampan dan sehat, Sagara adalah anak yang aktif dan membuat kami sangat bahagia bisa mengurusnya, Nas."


Tenggorokan Nastiti serasa di tusuk oleh jarum yang tajam. Ia berkali-kali menumpahkan air matanya, tangannya bergetar saat di angkat untuk membelai pipi tembam Sagara. "Nak," ucap Nastiti dengan suara yang tercekat.


Sagara yang baru pertama kali melihat Nastiti memandang wanita itu untuk beberapa saat, lalu beralih memandang lelaki yang selama ini ia kenal sebagai ayahnya. Bayi berusia satu tahun itu menangis, menolak sentuhan tangan Nastiti di pipinya.


Nastiti terbelalak saat melihat reaksi sang anak yang di luar ekspektasinya. Sraya yang datang dengan membawa nampan berisi empat gelas teh hangat langsung meletakkan di atas meja. "Jangan bersedih, Nas. Mungkin Sagara sebelumnya tidak pernah melihat kamu secara langsung, dia butuh waktu."


"I--iya, Mbak. Nas mengerti, aku hanya ingin sekali menggendong anakku, Mbak."


Ucapan yang terlontar dari mulut Nastiti saat menyebut kata-kata 'anakku' tiba-tiba saja menimbulkan perasaan aneh di hati Sraya. Jujur saja, Sraya takut jika nanti berpisah dengan anak yang sudah ia urus sejak bayi merah. Bagaimanapun Sagara adalah anak Nastiti. Hanya saja ia belum siap untuk hal itu, jauh dari Sagara beberapa jam saja ia tak sanggup, apalagi kalau Sagara nanti di bawa oleh Nastiti?


Sraya menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran buruk yang mampir di kepalanya. "Mba gak menyangka sama sekali kalau kamu pulang hari ini, Nas. Apalagi tidak memberi kabar."


"Maafkan aku, Mbak. Aku memang ingin membuat kejutan untuk kalian dan juga ibu-bapak."


"Terima kasih, Dokter Reyhan. karena selam ini sudah menjaga Nastiti dengan baik. Saya sangat berhutang budi," ucap Akram yang baru saja memenangkan Sagara agar tidak menangis lagi.


"Panggil saya Reyhan saja, Mas. Jangan terlalu sungkan, dan tidak ada yang namanya hutang budi! Sesama manusia kita harus saling menolong jika mampu, apalagi selama ini Nastiti sama sekali tidak merepotkan."


"Bantuan yang kamu berikan sangat berati bagi keluarga kami, Rey. Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikannya. Apa yang bisa aku berikan untukmu?" tanya Akram.


"Saya sama sekali tidak menginginkan imbalan, Mas. Sungguh, saya melakukan ini semua kerena saya sayang dengan Nastiti," jawab Reyhan tanpa ragu.


Ucapan Reyhan menciptakan keheningan untuk beberapa saat. Sampai suara Sagara dalam bahasa bayinya ingin meminta gendong pada Sraya menyadarkan mereka semua. Akram berdehem beberapa kali sebelum melanjutkan kata-katanya. "Jadi kapan kamu ingin melamar Nastiti?"

__ADS_1


Pertanyaan Akram sontak membuat mereka terbelalak. Nastiti, yang menjadi bahan pembicaraan mereka seketika menunduk malu dengan wajah yang merah karena merasa malu. Namun, di sisi lainnya ia merasa senang. Kakaknya secara tidak langsung telah memberi restu untuk hubungan mereka, hubungan yang akan memberikan sebuah nama dan status bagi kedua insan itu.


"Saya selalu siap, Mas! Semua tergantung pada Nastiti, kalau pun ia meminta hari ini. Dengan senang hati akan saya lakukan!' seru Reyhan


Sraya dan Akram tertawa melihat antusias Reyhan, sedangkan Nastiti. Wanita itu semakin menundukkan wajahnya. Tangannya tiba-tiba saja terasa dingin.


"Apa kalian sudah sarapan?" tanya Sraya menormalkan keadaan, ia sadar kalau terus-terusan dalam situasi ini, adik iparnya akan berubah menjadi udang rebus karena wajahnya yang bersemu.


"Kami hanya makan sepotong roti saja, Mba, saat di bandara," jawab Nastiti.


'Kalau begitu akan aku buatkan sarapan untuk kalian. Untuk barang-barang kalian, bisa ditaruh di kamar masing-masing. Di rumah ini masih ada tiga yang kosong, kamu bisa mandi dan istirahat dulu di kamar itu." Sraya menunjuk satu kamar yang ada di depan ruang tengah.


"Dan untuk Reyhan, kamar kamu ada di atas, nanti Mas Akram yang akan mengantar," lanjut Sraya.


"Aku mau bantu, Mbak, masak!"


"Biar mba aja, Nas. Kamu mandi dulu aja, pasti perjalanan kalian cukup melelahkan." Sraya mengusap lembut punggung tangan Nastiti sambil tersenyum.


Nastiti tidak membantah, ia langsung membawa kopernya ke dalam kamar, begitu juga dengan Reyhan yang diantar Akram. Sedangkan Sraya memasak beberapa hidangan untuk sarapan mereka. Dengan cekatan, Sraya menanak nasi, mencuci sayur, memotong menjadi ukuran yang kecil lalu memberi bumbu.


"Ayo sini, kalian pasti lapar, 'kan." Sraya menata piring dan mangkok di kursi masing-masing.


"Wah ... wanginya enak banget, Mbak," puji Nastiti.


"Tentu saja, Nas. Masakan Sraya ini selalu luar biasa. Kamu perhatikan Mas." Akram membentuk angka lima pada jarinya. "Mas naik lima kilo berkat kakak ipar kamu."


Semua orang tertawa mendengar candaan Akram. Mereka semua menikmati hidangan yang disajikan oleh Sraya, beberapa kali terdengar pujian dari Reyhan dan Nastiti saat menyuapkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya. Sedangkan Sagara, bayi itu akan otomatis tertidur di jam segini. Jam sepuluh pagi.


Setelah selesai sarapan, Nastiti membantu Sraya membersihkan alat makan mereka, kemudian berkumpul ruang keluarga.


"Apa, Mas. Masih membantu hasil perkebunan bapak?" tanya Nastiti.

__ADS_1


" Mas masih bantu memasarkan dan menjual biji-biji kopi bapak, Nas. Sebagian juga masuk ke kafe kami," jawab Akram.


"Ah, ya. Nas hampir lupa kalau kalian buka kafe, apa boleh Nas main ke sana?'


"Tentu saja! Nanti siang kita akan kesana, Mbak mau kamu melihat kafe kami," ujar Sraya bersemangat.


Tiba-tiba saja suara dering handphone milik Reyhan menjadi fokus mereka, dokter tampan itu meminta izin untuk menerima panggilan yang sepertinya berasal dari seorang kerabat.


Setelah beberapa saat, ia kembali lagi bersama mereka.


"Hmm ... maaf sepertinya saya harus pergi keluar sebentar. Mas, Mbak, Nas. Ada sepupu yang mau bertemu."


"Tidak apa-apa, Rey. Kamu naik apa ke tempat sepupu kamu?" tanya Akram.


"Saya pesan taksi aja, Mas."


"Gak usah pesan taksi, kamu pakai aja mobilku." Akram berdiri dari duduknya dan mengambil kunci yang ia taruh di atas nakas. "Ini kuncinya, ayo aku antar ke garasi."


Setelah Akram dan Reyhan pamit. Kini tinggal Nastiti dan Sraya. Baru saja mereka ingin mengobrol banyak, suara tangis Sagara terdengar dari dalam kamar.


"Bentar ya, Nas. Mba liat Sagara dulu."


"Iya, Mbak. Nastiti tunggu sini," ucap Nastiti canggung.


Sraya hanya tersenyum, ia paham benar kalau Nastiti masih merasa malu dan tidak enak hati. Setelah Sraya masuk dalam kamar, datang Akram dari arah luar.


"Loh, mana Sraya, Nas?"


"Lagi liat Sagara, Mas. Tadi nangis."


"Kamu bisa ikut Mas keruang kerja, Nas? ada yang mau Mas omongin." Akram memandang adiknya dengan tatapan serius. Mereka berdua berjalan ke ruang kerja Akram yang ada di lantai dua menghadap balkon. Setelah sampai mereka mengambil tempat di sofa kulit milik Akram.

__ADS_1


Akram menyerahkan sebuah iPad pada Nastiti untuk di lihat.


"Mas, ini ...."


__ADS_2