
"Nona, bisa menyampaikan pada pemilik unit apartment ini? Kalau Tuan Kim mencarinya," pinta sosok pengawal tadi, sedangkan lelaki paruh baya tadi hanya diam dan melipat kedua tangan nya kebelakang
"Baik silahkan kalian tunggu," ucap Amel cepat
Amel bergegas masuk untuk menyampaikan pada Akram, lelaki tampan berwajah Asia itu ternyata sudah pindah ke balkon untuk menggantikan tugas sang istri menjemur baby Sagara.
"Mas Akram ada yang cari."
"Siapa, Mel?" tanya Akram.
"Hmm sudah kakek-kakek, Mas. Tapi masih keliatan ganteng, wajah nya mirip Mas Akram. Tadi dia nyebut dirinya tuan Kim."
Akram mengernyitkan kening nya lalu menghela nafas, ia tak menghiraukan penjelasan Amel. Masih menggendong Sagara, Akram bergegas menuju pintu dengan sorot mata nya menatap tajam pada Kim dan Levie.
"Kakek pasti memberi banyak tugas pada Paman Levie untuk mengawasi ku," sindir Akram.
Akram melirik Levie dan tidak memedulikan tuan Kim, asistent pribadi kakeknya itu sedikit tercekat dan memalingkan wajah nya.
Tidak ada kata sambutan dari mulut Akram saat mendapati sosok kakek nya, seperti biasa kedua lelaki itu tampak memasang muka datar saat bertemu.
Hening.
Kedua nya sama-sama diam dan tidak mengeluarkan kata-kata, hingga Sraya yang sedang sibuk memasak menjadi penasaran dan menghampiri tamu mereka di pagi hari itu. Dan suara Sraya mampu memecahkan keheningan diantara mereka.
"Siapa, Mas?" tanya Sraya mengelus lengan kokoh Akram.
Kim sedari tadi memandang Akram yang sangat mirip dengan almarhum anaknya, ada rasa rindu yang memupuk di dalam hati lelaki tua itu. Hanya saja sepuluh tahun penolakan Akram membuat Kim, yang dasarnya memiliki sifat mendominasi dan angkuh menjadi gengsi.
Pandangan Kim beralih ke sosok wanita disamping Akram, selama ini ia hanya tau Sraya dari laporan-laporan yang di berikan asistent nya, Levie. Wanita yang berwajah cantik dan lembut dengan rambut panjang bergelombang.
Lagi-lagi kenangan masa lalu Kim melintas, Kim seperti kembali bertemu dengan menantu nya yang tidak lain adalah ibu dari Akram.
"Ahh ... anda pasti Nona Sraya? istri dari cucu lelaki ku yang sangat keras kepala ini." Kim menyapa Sraya dengan hangat.
__ADS_1
Sraya sontak tersedak mendengar ucapan dari Kim, ia memperhatian dua lelaki di depan nya dengan seksama. Matanya membulat mendapati kemiripan anatara mereka, cepat-cepat Sraya menormalkan ekspresinya.
"Kau tak ingin mengajak ku masuk Bocah nakal?" tanya Kim memicingkan mata nya pada Akram.
Akram hanya mengangkat bahu nya dan menggeser posisi agak kesamping untuk membuka jalan, Sraya agak terkejut dengan sikap suaminya. Lelaki yang biasa lembut kini berubah sedikit dingin.
"Anda bisa masuk, silahkan bicara di dalam," ujar Sraya ramah.
Sebelum masuk Kim memberikan kode pada Levie untuk menunggu nya di mobil, lelaki tua itu pun mendudukan tubuh nya di sofa keluarga apartment Akram.
Sraya bergegas membuatkan minuman untuk mereka dan menyelesaikan masakan nya. Amel sendiri tengah sibuk di kamarnya karena pagi ini dia akan mengurus rencana magang nya.
Karena ini masih jam sarapan pagi dan Sraya sudah membuat makanan, akhirnya Sraya menyiapkan empat set peralatan makan untuk tamu-tamu nya di pagi itu.
Mereka makan bersama, tidak banyak pembicaraan sampai mereka menyelesaikan hidangan di piring masing-masing. Ketika Amel sudah pergi, Sraya mengajak Kim dan Akram ke ruang keluarga.
"Maaf kalau aku sedikit terlambat, tapi aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian." Kim akhirnya membuka omongan.
"Kau tidak mau memberi tahu Istrimu tentang siapa aku Bocah nakal?"
"Jangan panggil aku Bocah nakal, Lelaki tua." jawab Akram sengit.
"Kau ini ... ah sudahlah percuma berbicara dengan mu," balas Kim tak kalah sengit dengan cucunya.
"Aku adalah kakek dari Hyun, nama ku tuan Kim. Kamu bisa memanggil ku dengan sebutan Kakek, karena suami mu ini selalu memanggil ku dengan sebutan Lelaki tua." Kim melirik pada Akram yang masih sibuk dengan Sagara.
"Maaf, kakek ... saya masih belum mengerti," jawab Sraya hati-hati.
"Untuk jelas nya kamu bisa bertanya langsung dengan suami mu ini, aku adalah kakek kandung dari Hyun atau nama lain nya Akram."
"Mas ..." tegur Sraya lembut dan mampu mengalihkan tatapan Akram pada dirinya.
"Nanti Mas akan ceritakan semuanya ... tidak sekarang, Lelaki tua ini memang kakek Mas. Kamu sudah tau kalau Bapak Permana adalah ayah angkatku," jelas Akram lembut dan membelai rambut panjang Sraya.
__ADS_1
Sraya hanya mengangguk mendengarkan jawaban Akram, ia beralih membawa Sagara untuk dimandikan. Dari situasi nya, Sraya paham suami dan kakeknya ini butuh bicara empat mata.
"Apa yang kakek inginkan, sampai membawa kakek ke kediaman kecilku. Merindukan ku humm?"
"Aku hanya ingin melihat cucu menantuku, kau jangan terlalu percaya diri Bocah tengik," sanggah Kim karena gengsi.
"Ck, alasan. Katakan kakek ingin menyampaikan apa padaku?"
"Aku sudah tau semuanya, Hyun. Alasan kau menikahi gadis cantik itu, tentang bayi itu, dan juga tentang adik angkatmu Nastiti dan hubungan nya dengan Maxwell."
"Cih, sombong sekali. Bukan hanya kakek, aku juga sudah tau semuanya tentang Maxwell, perusahaan, juga keluarganya," jawab Akram tidak mau kalah dengan sang kakek.
"Ck, setidaknya Levie lebih cepat dalam bekerja dibandingkan asisten pribadi mu yang bernama Daren. Levie hanya membutuhkan beberapa jam untuk menyelidiki semuanya," ujar Kim menyombongkan kemampuan nya.
Akram kali ini membenarkan perkataan kakeknya, Levie. Pria dewasa itu memang memiliki semua semua kualifikasi untuk membantu kinerja Kim selama ini, Levie juga yang akhirnya menemukan keberadaan Akram sepuluh tahun lalu.
"Kenapa kakek ingin mencampuri urusanku?" tanya Akram datar.
Kim tidak langsung menjawab pertanyaan Akram, ia meletakkan sebuah flashdisk diatas meja dan meminum kopi yang dibuatkan Sraya. Ia menumpu kaki kanan nya ke atas kaki kiri.
"Aku bisa membaca rencana mu Hyun, perusahaan Maxwell termasuk perusahaan yang besar. Kau tidak akan mampu membalas dendam sendirian. Tapi kakek mu ini, apa yang tidak bisa aku lakukan?" lagi-lagi jawaban percaya diri yang keluar dari mulut Kim.
"Selain itu apa kau tau Hyun? Maxwell menderita secondary infertility, aku sudah melakukan sedikit sesuatu untuknya. Sisanya bisa kau lakukan sesuai keinginan mu, aku tau jalan pikiranmu," tambah lelaki tua itu.
"Apa kakek yang membuat pengobatan Max sia-sia dan tidak mengalami kemajuan?" selidik Akram.
"Ah ... anggaplah itu sebagai menu pembukaan, kau harus lebih berhati-hati lagi dalam menjaga bayi itu. Ibunya sendiri aku jamin aman dalam pengawasanku."
"Kenapa kakek ingin membantuku? Ingin mengambil hatiku humm?" sindir Akram masih menampikan raut datar.
"Kakek mu ini adalah orang dermawan dan berkuasa Bocah tengik, orang-orang yang berusaha kau lindungi sekarang. Akan aku lindungi juga ... dua puluh tujuh tahun yang lalu aku gagal menjaga kedua orang taumu."
Kini tidak ada lagi wajah dingin dan angkuh Kim. Ia berubah menjadi sendu dan terlihat sebagai lelaki tua yang rapuh saat mengingat kenangan kelam masa lalu, karena kejadian itu menyebabkan dirinya terpisah dengan cucu lelaki satu-satunya yang berniat akan dijadikan pewaris utama perusahaan miliknya.
__ADS_1