Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Telepon Dengan Nomor Asing


__ADS_3

"Hai, kalian lagi belanja juga?" tanya Sofi. Ia memperhatikan isi keranjang belanja milik Sraya. "Banyak banget belanjaan kamu, mau ada acara apa, Sraya?"


"Engga ada acara apa-apa, Mbak. Aku belanja buat perlengkapan caffe."


"Caffe?"


"Iya, Mbak. Aku dan mas Akram akan mulai usaha caffe kecil-kecilan," jawab Sraya dengan sopan.


"Wah selamat ya, Sraya dan Akram. Semoga caffe kalian ramai dan terkenal, undang kami kalo udah opening," ujar Aslan yang sedari tadi hanya memperhatikan istrinya juga Sraya.


Sedangkan Akram, lelaki itu seolah tidak peduli dan cuek atas ucapan dari Aslan. Ia lebih memilih fokus kepada aneka bentuk gelas-gelas yang tersusun rapih di rak. Melihat hal itu, Aslan hanya bisa mendecak.


"Aku yakin banget caffe kamu bakalan ramai, soalnya masakan kamu enak banget, Sraya," puji Sofi.


"Aamiin ... makasih, Mba Sofi."

__ADS_1


"Yaudah kita deluan ya, Sraya. Soalnya kita mau kerumah mamahnya Aslan." Sofi melirik pada Akram, mantan kekasihnya itu sungguh acuh. Padahal, baik Sofi maupun Aslan. Keduanya ingin sekali bisa kembali berteman dengan Akram. "Ram, kita deluan ya," pamit Sofi.


Akram menarik sudut bibirnya dan mengangguk sebagai respon. Setelah Sofi dan Aslan berlalu, Sraya mengelus dengan lembut lengan kekar suaminya. "Mas, kenapa sih cuek banget sama mba Sofi dan mas Aslan?"


"Mas biasa aja kok, cuma sudah malas aja untuk ngobrol sama mereka berdua." Akram mendorong keranjang belanjaan Sraya, mengikuti istrinya yang masih melihat-lihat berbagai macam vas bunga.


Sraya menghentikan langkahnya dan menatap Akram. Ia sudah mengetahui masa lalu Akram, Aslan, dan juga Sofi.


"Mas, gak baik menyimpan dendam ataupun kebencian. Mba sofi dan mas Aslan gimanapun pernah menjadi sahabat, Mas. Cara mereka memang mungkin salah, tapi. Dengan, Mas, bersikap seperti ini. Mas, menunjukan pada mereka kalau, Mas, belum bisa melukapakan mba Sofi. Atau memang benar, masih ada sisa rasa buat mba Sofi?" tanya Sraya dengan hati-hati.


"Kalau begitu, coba pelan-pelan, Mas. Berbaikan dengan mba Sofi dan Mas Aslan, yang sudah berlalu biarlah berlalu, Mas. Memang benar, sakit sekali rasanya dikhianati sama orang-orang yang sudah sangat dekat dan kita percaya, tapi. Ingat lagi kebaikan-kebaikan yang sudah mereka lakukan. Setiap manusia pasti punya kesalahan, dengan kita memaafkan mereka, itu sudah cukup membuktikan kalau kita lebih baik. Saling diam hanya akan membuat kita menebak-nebak sesuatu yang belum pasti, dan bisa saja menimbulkan kesalahpahaman lagi."


Akram diam sejenak dan mendengarkan baik-baik apa yang sudah Sraya katakan, istrinya benar. Dengan sikapnya Akram yang sekarang, hanya akan membuat Sofi dan Aslan berpikiran kalau Akram belum bisa melupakan Sofi ataupun masa lalu mereka.


Akram tidak mau dinilai seperti itu, hanya saja ia cukup gengsi untuk menyapa lebih dulu. "Iya, makasih ya, Dik. Kamu memang benar, nanti kalau Mas ketemu sama mereka lagi, Mas akan bersikap biasa aja." Akram tersenyum dan hendak mencium kening Sraya, namun Sraya lebih dulu membekap bibir Akram dengan tangannya. "Mas, ini di mall bukan di apartement, malu itu dilihat sama pengunjung lain."

__ADS_1


Buru-buru Sraya meninggalkan Akram yang terkekeh geli kalau sudah melihat pipi istrinya bersemu merah saat digoda. "Dik, jalannya jangan cepat-cepat, berat nih Mas dorong troli belanjanya." Sraya menoleh sedikit pada Akram. "Lihat ayah kamu, Nak. Hobinya kok godain Ibu terus, udah gitu gak lihat tempat lagi, Ibu kan jadi malu," ucap Sraya pada Sagara.


Setelah menyelesaikan pembayaran, sore itu mereka kembali ke apartement. Sraya lekas memandikan Sagara dan memakaikan baju tidur dengan motif animals yang sangat lucu, semenjak ada Sagara. Wangi minyak telon dan bedak bayi adalah wangi favorit untuk Sraya, bahkan. Sraya tidak memakai pengharum ruangan agar wangi khas bayi mengisi seluruh isi kamar.


Akram yang baru keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang menutupi bagian bawahnya saja, rambut yang basah, dan harum maskulin dari sabun khusus pria. Membuat Sraya sekian detik menatap suaminya tanpa kedip.


Menyadari hal itu, Akram langsung menghampiri Sraya yang baru saja menidurkan Sagara kedalam box bayi, ia mencium bibir istrinya dengan sangat lembut. Merasa tidak ada penolakan, dan Sraya merespon ciumannya. Akram menjadi semakin bernafsuu.


Mereka saling berpelukan, dari ciuman lembut kini menjadi lumatann yang bergairah. Bahkan Akram sudah membawa Sraya keatas ranjang. Saat ia hendak membuka kancing dress Sraya, sebuah panggilan masuk dari ponsel yang Akram letakkan di atas nakas berbunyi.


Sengaja Akram mengabaikan panggilan tersebut, kalau sudah dengan Sraya. Apalagi melakukan kegiatan favoritnya, Akram akan mengabaikan apapun itu. Dering ponselnya kembali terdengar, membuat Sraya menghentikan apa yang sedang mereka lakukan. "Mas coba angkat dulu, siapa tahu penting."


"Ah, sial," umpat Akram. Ia bangkit dari atas tubuh Sraya dan bergegas memgambil ponselnya, tertera nomor asing di layarnya. Nomor dengan kode negara asing.


Akram sempat terkejut dan merasa sangat senang sampai ia tersenyum, melihat hal itu Sraya semakin penasaran. "Siapa, Mas."

__ADS_1


"Orang yang selama ini kita nanti kabarnya, Dik." tanpa menunggu lama, Akram segera menelpon kembali panggilan yang sebelumnya ia abaikan.


__ADS_2