
"Mas, jangan aneh-aneh ini masih pagi."
"Enggak ada yang aneh, lagian wajar kalau pasang suami istri melakukan itu di pagi hari."
Sraya menghela nafasnya, igin dia menolak ajakan Akram, namun ia teringat satu postingan di media sosial, kalau seorang istri akan berdosa apabila menolak ajakan suaminya.
Akram tertawa melihat wajah pasrah Sraya-- kemudian ia tertawa dengan renyah. Sengaja ia menggoda istrinya, meskipun ia benar-benar menginginkan Sraya, tetapi setelah melihat kesibukan Sraya di pagi hari, ia jadi tidak tega apalagi siang ini mereka akan membutuhkan tenaga untuk mengatur caffe.
Sepuluh menit telah berlalu, namun Amel belum juga bergabung dengan Akram dan Sraya untuk sarapan pagi. Tidak ingin membuang waktu, pasangan suami istri itu memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.
Amel keluar dari kamarnya saat Akram dan seraya sedang bersiap-siap untuk pergi ke cafe. Ternyata gadis itu sudah rapi dengan mengenakan celana jeans ketat model high waist dan atasan blus crop top yang menampilkan kulit tubuhnya.
"Mas sama Mbak sudah sarapan," tanya Amel.
"Kami sudah sarapan, Mel, kamu masih lama nggak? soalnya kami sudah siap berangkat ke caffe."
"Mbak dan Mas duluan aja, Amel sarapan dulu. Belum lagi rambut Amel masih basah jadi harus dikeringin sebentar."
"Ya udah kalau gitu, nanti kamu nyusul pakai taksi aja. Alamatnya nanti, Mas. Sherloc."
"Siap, Mas. Amel pasti akan menyusul ke sana."
"Ya sudah, Mbak, tunggu di caffe ya, Mel, kami berangkat dulu." Sraya mendorong stroller Sagara, dan Akram membawakan tas yang berisi barang-barang keperluan anak dari Nastiti, mereka menuju tempat parkir khusus penghuni apartemen dan langsung mengemudikan mobilnya menuju Caffe pagi itu.
"Mas, kita beli bahan-bahan makanan untuk tesnya lewat online aja ya, biar diantar kurir agar lebih menghemat waktu."
"Boleh, pesan lewat market langganan kita, kan."
"Iya, Mas, aku mesen dari sana."
Selama ini kalau Sraya tidak sempat untuk membeli langsung bahan makanan maupun kebutuhan dapur lainnya, Sraya selalu memesan lewat sebuah aplikasi online.
Mobil Akram terlihat memasuki lahan parkir Caffe seluas tujuh kali meter. Seorang satpam yang berjaga menyambut kedatangan Akram dan Sraya. "Pagi, Pak Akram, Bu Sraya."
__ADS_1
"Pagi, Pak Marto, gimana semalam aman? tanya Akram.
"Alhamdulillah aman, Pak. Mari saya bantu nurunin barang-barang." Pak Marto lelaki berusia kurang lebih empat puluh lima tahun itu, dengan sigap membantu Akram untuk menurunkan barang-barang yang ia dan Sraya beli kemarin di mall.
Akram dan pak Marto dengan hati-hati, memindahkan setiap kardus dari bagasi mobil Akram, ke dalam Cafe. Apalagi kardus yang berisi barang pecah belah.
"Makasih ya, Pak Marto, udah dibantuin," ucap Sraya.
"Sama-sama, Bu, jangan sungkan kalau ada apa-apa, panggil aja saya di depan," jawab Marto dengan tulus.
"Pak Marto sudah sarapan?"
"Belum, Bu, ini nanti saya mau pesan nasi uduk di sebrang Cafe.
Sraya mengeluarkan dompet dari tasnya, dan memberikan pak Marto uang pecahan senilai seratus ribu rupiah. "Ini, Pak, untuk beli sarapan sama kopi biar kerjanya semangat."
Pak Marto sempat menolak tetapi Sraya tetap memaksa. "Ambil aja, Pak, rejeki nggak baik kalau ditolak," ucap Akram menengahi.
"Sama-sama, Pak Marto."
Selang dua puluh menit, seorang kurir mengantarkan bahan makanan yang tadi Sraya pesan. Setelah membayar sejumlah uang yang sesuai dengan total belanjaan, Sraya segera menyusun bahan-bahan tersebut dan menyiapkan peralatan memasak di kitchen.
Jarum jam yang menggantung di dekat pintu masuk kitchen menunjukkan pukul sepuluh kurang dua puluh menit. Seorang gadis yang sudah memiliki janji bertemu dengan Sraya dan Akram pun tiba pagi itu.
Labiqa terlihat berpenampilan sederhana, ia memakai kaos over size berwarna putih dan celana jeans panjang, serta sepatu kets yang senada dengan warna kaosnya.
"Assalamualaikum permisi," ucap Labika yang berdiri di ambang pintu.
Akram yang sedang duduk di salah satu sofa area dining, dan terlihat fokus dengan macbook di tangannya, seketika mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sumber suara.
"Waalaikumsalam silakan masuk, Labiqa."
Sebelum masuk, Labiqa mengambil nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan, di dalam hatinya ia berdoa untuk diberikan kelancaran dan keberuntungan agar ia bisa bekerja di cafe milik Akram dan Sraya.
__ADS_1
"Pagi, Pak Akram, apakah saya terlambat?"
Akram melihat jam tangannya. "Enggak kok, malah masih ada waktu sekitar dua puluh menit lagi sebelum tes dimulai."
"Ah ... syukurlah kalau gitu, Pak."
"Apa kamu bawa surat lamarannya, Biqa?"
"Saya bawa kok, Pak, beserta ijazah, SKCK, dan surat lainnya." Labiqa segera mengeluarkan sebuah map coklat dari ranselnya ,kemudian memberikannya kepada Akram.
"Semuanya ada di dalam map itu, Pak, silakan Bapak periksa."
"Silakan duduk dulu, Biqa."
"Iya, Pak, terima kasih." Labika mendudukkan bokongnya di sofa empuk yang ada di seberang Akram, sedangkan Akram membuka isi map yang berisi data diri Labiqa dan membaca setiap lembarnya dengan cermat, dalam ijazahnya baik akademik maupun praktek, Labiqa mendapatkan nilai tinggi.
Akram seseorang yang tidak terlalu terpaku dengan nilai, memutuskan untuk menginterview Labiqa saat itu juga. Bagi Akram nilai hanyalah sebuah angka, jauh dari itu Akram lebih mementingkan attitude, pengalaman kerja, skill, kreativitas dan juga team work.
Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh Akram, dan berhasil Labiqa jawab dengan sangat baik. Ia juga menceritakan tentang dirinya dan pengalaman kerjanya yang dimilikinya.
Sraya memperhatikan itu dibalik meja kasir, sambil menidurkan Sagara yang tadi sempat terbangun karena haus. Sama dengan Akram-- Sraya juga puas atas setiap jawaban dari Labika.
"Oke, Biqa. Silahkan diminum dulu airnya, setelah ini kita langsung test aja, gimana kamu sudah siap?" tanya Akram.
"Sudah, Pak. Saya sudah siap," jawab Labiqa dengan mantap.
Akram bangkit dari duduknya. "Saya tinggal ke dalam dulu ya, Biqa. Kamu istirahat dulu aja."
"Iya, Pak, silahkan."
Labiqa sekali lagi menghembuskan nafasnya dengan lega, karena ia yakin sudah menjawab pertanyaan Akram dengan baik. Saat ia membuka tutup botol mineral dan meneguk isinya, seorang wanita seumuran dengan dirinya datang menyapa. Wanita itu berpenampilan cukup seksi karena pakaian yang ia kenakan sangat memperlihatkan bentuk lekuk tubuh gadis itu.
"Hai ... kamu siapa ya? mba Sraya sama mas Akramnya mana?"
__ADS_1