Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Siapa yang lebih licik?


__ADS_3

Maxwell tidak menghiraukan sikap ramah yang Amel tunjukkan, dengan Natt-- yang notabene istrinya pun, ia bersikap dingin. "Tidak usah membuang waktu, aku ingin segera pulang ke rumah."


Natt hanya menghela nafas mendengar jawaban singkat dari suaminya. "baiklah, Max." Wanita itu kemudian menatap Amel dan segera memberikan perintah. "Amel, bawakan koper suamiku." setelahnya ia melangkahkan kakinya bersama Maxwell menuju tempat parkir.


"Sial, aku kesini hanya dijadikan pesuruh? lihat saja nanti," ucap Amel dalam hati.


Tidak lama Mereke bertiga bersama sang supir yang selalu setia mengantarkan kemanapun majikannya pergi, meninggalkan bandara menuju kediaman Natt dan Max, dengan posisi Amel berada di kursi bagian depan disampaikan sopir.


Satu jam perjalanan setelah memilih jalur bebas hambatan, akhirnya mereka tiba di rumah mewah milik Max dan Natt. Sebuah bangunan bergaya Eropa klasik dengan cat putih dominan dan halaman yang sangat luas. Bahkan di setiap sudut ada beberapa penjaga dengan pakaian yang seragam.


"Wah rumah ini lebih besar dari rumah milik Daren, sepertinya keputusanku untuk menjadikan tuan Max sebagai sasaran baru sangat tepat. Daripada mengharapkan mas Akram yang udah terlanjur bucin dengan istrinya, atau Daren yang susah untuk didekati, mending tuan Max, apalagi dengan kondisinya yang sekarang. Pasti dia sangat mengharapkan seorang anak, dilihat-lihat hubungannya dengan nyonya Natt juga dingin. Aku cuma butuh satu kali kesempatan untuk mencapai tujuan baruku."


"Hei, Mel. Kok bengong? ayo masuk ... dan jangan lupa bawain koper suamiku!" suara arogan dari Nattalie, sukses membuyarkan lamunan Amel. Gadis itu hanya mengangguk dan menuruti perintah atasannya. "Baik, Nyonya."


Sesuai apa yang dibayangkan oleh Amel, setelah memasuki bagian dalam rumah mewah itu, Amel semakin terpukau melihat setiap sudut ruang tamu yang berukuran sangat besar dengan beberapa set sofa serta furniture yang berasal dari luar negeri. figura-figura yang terbuat dari kayu jati, vas bunga dari keramik dan motif yang sangat mewah, serta lemari-lemari yang berdiri kokoh memamerkan berbagai macam pernak-pernik dibalik kaca.

__ADS_1


Lantai granit yang sangat mengkilap dengan plafon yang tinggi dilengkapi dengan lampu kristal yang sangat mewah. Amel sempat ternganga setiap memperhatikan apa yang ada di depan matanya. "Ini benar-benar gila," ucapnya dalam hati.


"Silahkan duduk dulu, Mbak. Akan saya ambilkan minuman untuk anda," sapa salah seorang maid yang bekerja di rumah Natt.


"Baik terimakasih sebelumnya," jawab Amel.


Natt yang terlihat sedang menuruni anak tangga dari lantai dua segera menghampiri Amel dengan memberikan sebuah map berwarna biru dongker. Wanita itu mengajak Amel ke bandara kemudian sampai kerumahnya untuk membicarakan sesuatu yang penting. "Sebaiknya kita bicara di ruang kerjaku."


Amel hanya bisa mengikuti apa yang dibilang oleh Nattalie. mereka berdua langsung menuju ruang kerja yang masih berada di satu. Setelah Natt duduk di kursi miliknya dan Amel berada tepat dihadapannya, Natt langsung memberi tahu rencana yang ada di kepalanya.


"Kau pasti sudah tau Daren? lelaki yang saat ini bekerjasama dengan perusahaan milik aku dan suamiku?"


"Minggu ini kami akan mengadakan acara makan malam, dan aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Tentu saja kalau kau berhasil, aku akan memberikan kamu sejumlah uang, bagaimana?"


Amel mengernyitkan dahinya. "aku lakukan apa yang bisa aku lakukan, Nyonya?"

__ADS_1


"aku akan mengajakmu ke acara itu, dan aku akan membuatnya menjadi mabuk. tugasmu adalah menemani dan memuaskannya, tetapi bukan itu tujuan utamanya."


"Lalu apa Nyonya? Anda bisa memberi tahu saya semuanya."


"Saat Daren benar-benar mabuk, kamu harus bisa memancing dia untuk mengatakan tujuan dia berbisnis dengan kita, dan mengapa dia memilih perusahaan kita sebagai salah satu penerima investor darinya."


Amel mendengarkan baik-baik apa yang diucapkan oleh Nattalie, untuk apa wanita arogan ini masih mempertanyakan tujuan Daren? bukankah harusnya ia bersyukur? belum sempat ia bertanya lebih pada Natalie, wanita yang kini sedang menyerap anggur mahal dihadapannya, segera memberikan penjelasan. "Aku memiliki kecurigaan kepada lelaki itu, dan aku ingin segala kecurigaanku itu bisa kau selesaikan dengan anggur dan kepuasaan yang kau berikan pada Daren di atas ranjang. Wanita dan minuman, itu adalah kombinasi yang memabukkan."


"Nyonya mempercayai saya?"


"Kalau aku tidak mempercayaimu, aku tidak mungkin membawamu sampai kemari dan menceritakan semua rencanaku, gadis bodoh! kalau kau setuju, aku akan menyiapkan segalanya. Dan saat rencana itu berjalan, aku dan Max akan memesan kamar tepat disebelah kamarmu."


Amel tidak merasa marah atas kata-kata bodoh yang barusan Natt lontarkan padanya, malah ia saat ini sedang tersenyum. "Anda bisa mempercayakan semuanya pada saya, Nyonya."


"Baguslah!"

__ADS_1


Setelah urusan dua wanita licik itu selesai, Amel kembali ke kantor dengan diantar oleh salah satu orang suruhan Nattalie. Sepanjang perjalanan gadis itu mengukir senyum yang penuh arti.


"Aku memang selalu beruntung karena diberikan otak yang pintar, lihat saja Natt, siapa yang akan terjebak oleh permainanmu? tanpa sadar kau telah memuluskan dan memberi jalan kepadaku."


__ADS_2