Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Drama di toilet


__ADS_3

"Maaf Amel gak sengeja, duh gimana ini foto Mas dan Mba jadi pecah." Amel seolah merasa menyesal.


Akram menatap foto yang bingkai nya sudah hancur, kemudian beralih menatap Amel sebagai pelaku dan menatap Sraya yang sedang menenangkan Sagara karena menangis.


Sraya tampak meringis menahan sakit, rupanya pecahan kaca itu mengenai tumit Sraya sehingga terluka. Akram dengan sigap membawa Sraya ke tempat yang lebih aman.


Permana menegur Amel karena sikap nya yang ceroboh. Baru sehari anaknya itu di apartment Akram, tetapi sudah membuat sedikit keributan kecil yang katanya tidak di sengaja.


Mau tidak mau Lita mengambil hati suaminya dengan mengambil alih Sagara, sementara Akram terlihat mengobati luka pada tumit istrinya.


"Apa sakit, Dik?"


Dengan telaten Akram membersihkan darah dengan kasa dan obat P3K yang selalu di sediakan di apartemen nya. Ia berlutut serta memasangkan plester di kaki istrinya.


"Hanya luka kecil, Mas. Enggak apa-apa kok. Amel juga enggak sengaja." Sraya melirik Amel yang menampilkan muka sedihnya.


"Maaf Mba Sraya karena Amel foto kalian hancur, Mba juga jadi terluka," ucap amel.


Sraya menatap lembut Amel, mengangguk dan tersenyum seolah memberi isyarat kalau dirinya baik-baik saja, padahal luka di tumit Sraya cukup lebar. Akram yang sudah selesai mengobati Sraya hendak menuntun istrinya itu untuk masuk ke kamar agar bersistirahat.


"Kamu istrihatat aja, Dik. Tidak perlu memasak kita bisa pesan makanan untuk makan malam kita."


"Gimana kalau kita makan di luar aja? Kalian jangan nolak, ini permintaan terima kasih bude pada kalian," seru Lita.


Setelah menunaikan ibadah solat magrib, mereka semua bersiap. Akram memilih Cordy Caffe tempat dulu Sraya bekerja menjadi tujuan mereka, Akram tau pasti istrinya ada perasaan rindu pada teman-teman nya dulu.


Sraya hanya mengenakan dress longgar selutut dengan di balut cardigan rajut, penampilan yang selalu sederhana.


Berbanding terbalik dengan Amel yang memakai baju berwarna cerah dan ketat membalut tubuhnya serta sepatu high heels tujuh centi.


Trisna sudah menyuruh anaknya untuk mengganti baju, tetapi Amel beralasan tidak ada waktu karena pakaian-pakaian nya masih belum di rapikan di lemari.

__ADS_1


Akram dan Trisna memilih untuk duduk di depan. Sedangkan para wanita duduk di kursi penumpang, sesampai nya mereka di Cordy Caffe Sraya disambut dengan baik oleh Willem dan teman-teman nya dulu.


Sagara yang menggemaskan itu seakan menjadi pusat perhatian. Tak jarang teman-teman Sraya meminta untuk foto bersama dengan bayi yang usianya hampir dua bulan itu.


Beberapa menu di pesan atas rekomendasi Sraya. Seperti biasa jika saat makan Sagara tidak mau lepas dari gendongan ibu angkatnya, ia akan bergantian dengan suaminya. Akram akan makan lebih dulu, setelah itu ia menyuapi Sraya.


Pemandangan itu membuat hati dan mata Amel panas. Beberapa kali ia dan Lita saling lirik sebagai tanda mereka mempunyai pemikiran yang sama, Amel saat itu sengaja memilih duduk di samping Akram.


Saat Akram sedang menyuapi Sraya, Amel dengan sikunya menyenggol minuman sehingga membuat sebagian baju dan celana Akram basah. Bahkan ia dengan sengaja meraih tisu dan tanpa permisi membersihkan cairan di pakaian Akram.


"Duh ... jadi basah baju nya, Mas. Tadi Amel gak sengeja nyenggol gelasnya." Amel masih sibuk menyeka baju Akram meski sudah menolaknya.


"Gak apa-apa Mel, biar Mas ke toilet aja untuk bersihin banju nya." Akram segera bangkit dan menuju toilet.


Lima menit Akram di toilet, saat itu handphone nya berdering. Amel mengambil inisiatif untuk mengantarkan nya langsung pada Akram, dengan alasan Sraya masih menggendong Sagara dan takut kalau itu berita penting.


Karena toilet di Cordy Caffe tidak di pisah antara toilet pria dan wanita. Amel dengan bebas memasukinya, ia menunggu sampai Akram keluar. Di benak nya sudah tersusun rencana untuk mengambil perhatian Akram.


"Mas, tadi ada telepon. Aku sengaja antar kemari takut nya penting." Amel memberikan handphone milik Akram.


Akram melirik sebentar pada layar ponselnya, nama Daren tertera di notifikasi panggilan nya.


"Makasi ya Mel, kamu mau ke toilet juga? Kalau gitu Mas mau deluan ya." Akram membalikan badan nya tetapi tangan Amel dengan sigap menahan Akram.


"Mas Akram, bisa tungguin Amel gak? Soalnya Amel takut kalau nanti ada yang masuk."


Akram sempat berpikir kalau Amel bisa mengunci pintu dari dalam dan akan aman, tetapi ia tetap menuruti permintaan Amel. Akram memanfaatkan waktu itu untuk menelpon Daren.


"Katakan padaku ada berita apa?" saat telepon tersambung Akram tanpa basa basi menanyakan tujuan Daren menelpon.


"Saya memiliki kabar kalau adik, Tuan. Nona Nastiti, beberapa hari yang lalu telah bekerja di salah satu perusahaan di kota Brisbane."

__ADS_1


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Akram singkat.


"Keadaan nona Nastiti dan dokter Rei sejauh ini baik-baik saja, Tuan. Tetapi … Nona Nastiti bisa bekerja di perusahan tersebut dengan mudah, karena ada campur tangan dari tuan Kim."


"Lelaki tua itu mengawasi adik ku juga ternyata, pantas saja paman levie turun gunung untuk memastikan dan mengabarkan langsung. Terus awasi, selagi tidak mengganggu biarkan saja. Hmmm … Temui aku satu minggu lagi."


"Baik tuan, seuai perintah."


Bersamaan Akram mengakhiri panggilan nya, Amel keluar dari toilet. Posisi Akram yang memunggungi gadis itu, Amel mengambil kesempatan. Ia pura-pura terpeleset dan jatuh.


BRAKKK


""Awwww sakit …" ucap Amel lirih.


Hendi teman Sraya yang sedang mengisi cairan handshop, tanpa sengaja melihat aksi Amel. Senyum sinis ia lemparkan pada amel yang mulai megaduh pada Akram.


"Astaga kamu kenapa, Mel ?" tanya Akram panik.


"Mas lantai nya licin, aku kepeleset dan sepertinya terkilir." Amel mengeluh dan berpura-pura memijit kakinya.


Hendi mengernyitkan dahinya dan mencoba membantu Amel yang jelas-jelas berbohong.


"Maaf Mba lantai nya sepetinya tidak licin, tetapi mungkin sepatu Mba terlalu tinggin apalagi Mba nya habis dari dalam," ucap Hendi yang sukses membuat Amel menatap tajam padanya.


"Mas ini gimana sih! Jelas-jelas mas lihat saya jatuh malah nyalahin saja."


"Udah-udah gak usah ribut, Mas nya ini bener Mel. Kamu make sepatu udah kaya mau kondangan aja … Kamu bisa jalan gak?" tanya Akram.


Amel merasa malu dan wajah nya merah padam, tetapi ia tidak boleh menunjukan rasa kesalnya. Ia memanfaat kan momen ini sebaik mungkin.


"kayak nya gak bisa, Mas. Mas bisa bantu gendong aku ga?" ucap Amel tanpa malu-malu.

__ADS_1


Hendi yang menyaksikan ini hanya memutar bola matanya malas. Ia berniat harus memberi tahu Sraya tentang Amel agar berhati-hati lagi.


__ADS_2