Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Konsep Sraya


__ADS_3

"Setelah, mas. Tahu apa yang menimpa kamu, sejak kepergian kamu dan dokter Rei ke Aussie lepas kamu melahirkan Sagara, mas diam-diam mencari tahu segala hal tentang Maxwell, Nas. Biarkan mas yang melakukan semuanya. Kamu fokuslah di sana, Nas. Kalau semua sudah berjalan dengan rencana mas. Kamu bisa balik ke Indo lagi," jelas Akram.


"Ja--jadi, mas. Sudah tahu? Bagaimana bisa, mas?"


"Mana mungkin aku diam saja, setelah tahu apa yang menimpa kamu, Nas. Ketahuilah, Nas, saat ini pun, Maxwell teha menerima balasannya."


"Balasan apa, mas?" tanya Nastiti penasaran, ia tidak menyangka kalau kakaknya, Akram. Sudah tau dan sudah mengambil langkah, bahkan Nastiti saja belum terpikirkan cara untuk membalas Maxwell.


"Kalau sudah saatnya, kamu akan tahu, Nas. Mas hanya meminta kamu untuk selalu mengabari mas mulai hari ini, kabari juga ibu dan bapak. Setiap hari mereka selalu memikirkanmu, Nas. Jaga diri baik-baik di sana, doakan semua yang sudah mas rencanakan, bisa berhasil dan sesuai dengan apa yang telah lelaki itu perbuat padamu."


Sore itu Akram mengakhiri pembicaraannya dengan Nastiti. Ia merasa kalau satu beban sudah terangkat dengan kabar dari adiknya.


Seperti biasa, Sraya selalu membuatkan Akram makan malam yang terasa lezat, kali ini Sraya memasak gurame asam manis, sejak Amel mulai magang, gadis itu selalu pulang saat matahari sudah terbenam. Lembur selalu menjadi alasan utama untuk Amel, kadang ia mengatakan jalanan sangat macet sehingga ia menghabiskan waktu lebih lama di jalan.


"Mel, kamu tiap hari kok lembur?" tanya Akram sambil mengunyah makanan suap demi suap ke dalam mulutnya.


"Iya, Mas. Mau gimana lagi? Amel haru mengikuti apa yang senior katakan."


"Bagaimana pekerjaan kamu di perusahaan itu, Mel?" Sraya yang baru saja menuangkan air digelas Akram, ikut bertanya.


"Amel belajar banyak ilmu dari para senior, Mba. Amel juga banyak kenalan. Oh iya, Mas. Cowok yang waktu kita makan malam, Daren. Ternyata dia itu investor di perusahaan Amel magang, Mas. Kemarin kami ketemu di gala dinner, cuma Darren gak lama di sana."


Akram seolah-olah tidak mengetahui apa yang baru Amel katakan, ia terus saja sibuk dengan isi piringnya. "Oh ya? Mas malah gak tahu apa-apa, Mel. Kami baru aja berteman, jadi Mas belum tahu banyak tentang Daren," ucap Akram.

__ADS_1


"Daren investor perusahaan kamu, Mel?" tanya Sraya.


"Iya, Mba. Amel juga baru tahu sehari sebelum makan malam, karena Amel dikasih misi sama--" Amel menghentikan ucapannya karena ia ingat, kalau misi yang hampir saja ia ceritakan pada Sraya dan Akram adalah membuat Daren seranjang dengan Amel malam itu.


"Misi apa, Mel?"


"Hmm ... bukan apa-apa, Mas. Cuma misi untuk menyukseskan acara makan malam kemarin," cicit Amel.


"Oh iya, Mel. Mas dan Sraya akan membuka caffe, besok kan sabtu. Kamu libur?"


"Mas dan Mba, buka caffe? Kok aku baru tahu?"


"Mba juga baru tahu, Mel. Mas kamu tuh tadi buat kejutan untuk aku. Mas Akram taunya sudah beli caffe atas nama, Mba," jawab Sraya.


Amel juga entah bingung pada dirinya sendiri. Semenjak menjalankan hubungan friend with benefit dengan Joe, ia semakin ketergantungan melakukan hubungan terlarang dengan atasan yang sudah menjamin posisi Amel di anak perusahaan milik Maxwell. Belum lagi, saat mengetahui tentang Daren yang merupakaan seorang investor.


Tetapi saat melihat kedekatan Akram dan Sraya, obsesinya terhadap sepupu angkatnya itu semakin menjadi.


"Mel, kamu besok libur, kan?"


"Iya, Mas. Amel libur kok besok."


"Besok kamu bantuin kami ya di caffe, rencanya besok mas dan Sraya mulai berbenah dikit-dikit."

__ADS_1


"Iya, Mas. Besok Amel akan bantu kok," jawab Amel yang dalam hatinya ia merasa malas dan keberatan.


Selepas makan malam Akram dan Sraya segera menuju kamar mereka, tempat favorit bagi Akram. Sraya terlihat sedang memainkan ponselnya, sekedar melihat-lihat rekomendasi beberapa caffe yang sedang hits dan ramai pengunjung.


Akram yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung merebahkan tubuhnya dan memeluk Sraya dari belakang. "Apa yang lagi kamu cari, Dik?"


Sraya langsung membenarkan posisinya menghadap ke Akram, sebelah tangan Akram ia jadikan sebagai bantalan kepalanya. "Aku lagi lihat-lihat beberapa konsep caffe, Mas. Coba lihat, gimana menurut, Mas?"


Akram memperhatikan ponsel Sraya, ia melihat satu caffe dengan konsep outdoor. "Kalo kamu mau konsep yang gimana, Dik?"


Sraya berhenti memainkan jari-jarinya pada ponsel pintar miliknya, ia menatap Akram dengan serius. "Aku memikirkan caffe dengan konsep keluarga, Mas."


"Konsep keluarga?" tanya Akram.


Sraya menjelaskan kalau ia ingin caffe miliknya kelak, tidak hanya dikunjungi oleh kaum muda-mudi saja, ia ingin caffe nya bisa dinikmati oleh semua kalangan. Sraya juga beinisiatif untuk membuat menu-menu nusantara, nantinya ia ingin sang ibu memberi ide untuk menu yang akan ada di caffenya.


Akram sangat menikmati ekspresi dari Sraya saat sedang berbicara serius. Istrinya memancarkan sorot mata yang berbinar dan bersemangat. Sampai satu notif panggilan yabg masuk dari ponselnya, membuat Sraya menghentikan obrolan ia dan Akram.


"Nomor baru, Mas. Kira-kira siapa ya, Mas?"


"Coba kamu angkat aja, Dik."


Sraya segera menggeser icon hijau yang berfungsi untuk menerima panggilan.

__ADS_1


"Hallo, assalamulaikum. Apa benar ini nomor dari ibu Sraya?" tanya seorang wanita dari sebrang ponselnya.


__ADS_2