
Amel yang telah memiliki janji dengan Joe sepulang kerja, akhirnya menunggu di parkiran belakang sesuai perjanjian. Gadis itu memilih tempat yang agak sepi dan jauh dari jangkauan CCTV.
Gadis itu berpikir akan memanfaatkan kedekatan nya dengan Joe setelan ini, mudah bagi Amel mendapatkan dan membuat lelaki bertekuk lutut di hadapannya, tetapi tidak dengan Akram. Lelaki tampan yang menjadi suami Sraya itu begitu sulit untuk di dekati.
Lima belas menit berselang sosok lelaki yang ditunggu Amel pun datang. Joe, langsung menghampiri Amel dan segera membawa gadis itu ketempat yang menjadi tujuan nya.
Mobil honda civic keluaran terbaru membawa mereka berdua berhenti di salah satu hotel bintang lima yang ada di kota Jakarta. Joe langsung memesan satu kamar hotel dan melakukan check-in detik itu juga.
Tanpa Joe dan Amel sadari, ada seorang pemuda yang mengikuti mereka sedari mereka pertama keluar dari perusahaan Max tadi sampai kehotel tersebut.
Sesampainya dikamar hotel, Joe yang sudah tidak sabar ingin mencicipi tubuh Amel sejak memergoki gadis itu di diskotek, langsung melucuti satu persatu pakaian yang menempel di badan Amel sampai polos.
Apa yang dipikirkan Joe tepat sasaran, sejak ia melakukan penyatuan dengan Amel. Dapat ia rasakan kalau gadis ini sudah tidak perawann.
Entah lelaki mana yang berhasil menidurii Amel pertama kalinya, Joe tidak peduli. Suara lenguhann dari kedua anak manusia itu sungguh memenuhi seisi kamar hotel.
Amel sungguh luar biasa di mata Joe, selama ini sudah banyak wanita yang ia tiduri. Mulai dari mahasiswi, karyawan, DJ, wanita bayarann, gadis yang hanya melakukan one night stand maupun istri orang. Tetapa pesona nackal dan sensual Amel sungguh berbeda.
Amel sangat menggairahkan dan terlihat cukup berpengalaman. Suara derit ranjang terdengar bersamaan suara-suara erangann kenikmatan.
Mereka mengakhiri permainan nya setelah Joe mengalami pelepasan sebanyak tiga kali. Tubuh mereka ambruk di atas ranjang karena lelah.
"Bagus sekali Amel, aku puas dengan servis yang kamu berikan," puji Joe sambil membawa tubuh Amel kedalam pelukannya.
Amel tersenyum bangga dan penuh kemenangan mendapat pujian dari Joe. "Sama-sama sayang, ini sebanding dengan apa yang telah kamu lakukan untuk aku."
"Katakan gadis nakal, apa yang menjadi tujuanmu untuk bisa ikut kedalam acara makan malam nanti?" tanya Joe penasaran.
"Tentu saja itu acara yang penting dan karyawan magang sepertiku mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan untuk yang kedua kalinya." Amel mengatakan itu dengan menelusuri wajah Joe yang dipenuhi bulu-bulu jambang yang halus.
"Mungkin disana nanti aku bisa berkenalan dengan orang-orang penting yang bisa menjamin karirku dimasa depan," jawab Amel.
"Apa kau sangat ingin bisa tetap bekerja sebagai karyawan tetap di perusahaan itu, Mel?"
"Tentu saja, siapa yang mau menolak menjadi karyawan dari Sedayu Buana Group? Walaupun hanya di anak perusahaan nya saja."
__ADS_1
"Aku bisa menjamin kamu untuk menjadi karyawan tetap dengan posisiku, asalkan ..." ucap Joe menggantung omongannya.
"Katakan, sayang?" tanya Amel tidak sabar.
"Kau mau menjadi FWB-ku, bukan kah itu saling menguntungkan buat kita?"
Amel berpikir sejenak, tawaran dari Joe yang ingin mengajaknya menjadi Friend With Benefit tidak ada salahnya. Ia bisa menggunakan power abush Joe dan mendapatkan kepuasan batin dari lelaki ini.
Lagipula lelaki yang menjadi obsesi Amel selama ini masih sulit untuk di dapatkan, Akram masih bersikap dingin kepadanya.
"Tentu saja sayang, siapa yang mampu menolak tawaran yang saling menguntungkan ini," jawab Amel mantap.
Sekali lagi mereka melalukan permainan di kamar mandi hotel sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang pukul delapan malam.
Disisi lain Akram yang mendapatkan kabar dari Daren tentang Amel yang terlihat dekat dengan Natt, dan di malam hari seperti ini gadis itu belum pulang merasa khawatir.
Bukan apa-apa, pasalnya ia sudah berjanji dengan pakde Tris untuk menjaga Amel selama di Jakarta. Beberapa kali ia menghubungi ponsel Amel tapi hasilnya nihil.
Sraya yang melihat suaminya sedikit gelisah dengan inisiatif membuatkan segelas minuman hangat untuk Akram, Sraya mengidangkan wedang jahe ke meja dan duduk bersama Akram. "Gimana, Mas. Amel belum bisa di telpon?"
"Mas minum dulu gih, ini udah aku buatkan wedang jahe," ucap Sraya lembut.
Akram tersenyum mendapatkan perhatian dari istri yang ia sayangi. "Makasih, sayang."
Baru seteguk ia meminum wedang jahe buayan Sraya, suara bell apartemen berbunyi. Ternyata itu adalah Amel yang baru pulang.
"Dari mana aja kamu, Mel. Mas udah nelpon kamu berkali-kali sejak tadi tapi gada satu pun panggilan dari Mas yang kamu jawab," cecar Akram.
"Maaf, Mas. Ponsel Amel mati dan aku gak bawa charger, selain itu dikantor tadi ada kerjaan yang lumayan banyak. Terus Amel juga ikut seleksi buat acara penting di perusahaan, makanya pulang telat," jawab Amel.
"Iya, Mel. Kami gak tau kalo kamu sibuk, seenggaknya kamu kabari kami meskipun cuma sekali aja. Biar Mas dan Mbak gak khawatir sama kamu," sambung Sraya.
Amel tidak suka Sraya berbicara seperti itu, omongan Sraya dianggap Amel bagaikan memanasi Akram untuk semakin marah padanya.
"Maaf, Mba. Amel lupa sangking banyak nya kerjaan dan Amel gabisa nolak permintaan senior, kayaknya mulai besok Amel bakal lebih sering pulang malem deh karena lembur." ujar Amel berbohong.
__ADS_1
"Karyawan magang pulang malam apa di hitung lembur, Mel?" tanya Akram.
"Iya dong, Mas. Kan lumayan lagian Amel juga bisa belajar lebih banyak lagi ... siapa tau aja nanti aku diangkat menjadi karyawan tetap.
Ingin bekerja di Jakarta? Tidak masalah, asalkan Amel gak terus-terusan tinggal dengan keluarga kecil Akram.
Setelah memberikan sedikit ceramah malam yang mau tidak mau harus Amel dengar, akhirnya Akram membiarkan gadis itu masuk kedalam kamarnya.
Sraya yang sedari tadi menimang Saga yang terbangun karena haus memilih untuk menunggu Akram di kamarnya, dirasa anaknya sudah terlelap kembali, Sraya meletakan Sagara kedalam box bayinya.
Suara pintu yang ditutup mengalihkan perhatian Sraya, ia melihat suami nya masuk dan langsung menyambut dengan pelukan. "Kamu tadi ngomongin apa aja sama Amel, Mas?"
Akram membawa Sraya ke atas ranjang yang beberapa bulan ini menjadi tempat favorit untuk Akram, ia ingin membuat Sraya lebih nyaman dengan melakukan pillow talk.
"Amel sepertinya kekeh ingin bekerja di Jakarata, Dik. Ia berencana untuk berusaha jadi karyawan tetap di kantor tempat dia magang."
"Jadi selama dia di Jakarta akan tinggal sama kita terus, Mas?" tanya Sraya memastikan.
Akram membelai lembut rambut Sraya yang masih menguarkan harum shampo karena habis keramass. "Kenapa? Kamu gak nyaman kalau Amel tinggal bersama kita?"
"Bukan gak nyaman, Mas. Aku cuma keinget pesan ibu sebelum pulang kemarin, ibu ngingetin kita buat segera mencarikan kontrakan atau kosan buat Amel. Aku sendiri gak keberatan kok kalau Amel disini."
"Kalau pakde Tris belum dapet kontrakan untuk Amel, Mas. Akan bantu carikan, kamu tenang aja. Lagian Mas ingin bebas kalo lagi main sama kamu," goda Akram.
Sraya mengernyitkan dahinya, permainan apa? Dan apa hubungannya dengan Amel. "Maksudnya, Mas" tanya Sraya polos.
"Ya maksud Mas ... Mas pengen kita bebas ngeluarin suara pas kita lagi berkembang biak dalam menjalankan program untuk memberikan Sagara adik."
Sraya menbulatkan matanya menatap Akram. "Mas ini, Sagara aja belum bisa tengkurap. Apa kata orang nanti," protes Sraya.
"Hmm ngapain mikirin perkataan orang ... mereka aja gak mikir perasaan kita kalo mau ngomong." Akram memeluk Sraya erat dan melumatt bibir ranum Sraya, suara Akram menjadi serak menandakan suaminya itu ingin meminta jatah dari Sraya.
Menolak ajakan suami adalah dosa!
Akhirnya malam itu untuk kesekian kali nya Akram dan Sraya memadu kasih melakukan ibadah suami-istri.
__ADS_1
Dikamar kamar lain tempat Amel tidur, gadis itu tampak sesang melakukan panggilan video dengan Frien With Benefitnya yang baru, yaitu Joe.