Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Rahasia mereka


__ADS_3

''Apa kita harus ke dokter?''


''Tidak, Mas. Terima kasih, aku … hanya kelelahan saja.''


Akram tahu kalau istri nya hanya menjadikan lelah sebagai alasan. Ia bergegas membuatkan cokelat panas untuk Sraya dan kembali lagi ke kamar.


''Minum lah, Dik. Cokelat ini akan membuatmu jauh lebih tenang.''


''Makasi, Mas.''


''Hmm lelaki yang tadi siang tidak sengaja kamu tabrak saat di mall, dan yang datang ke acara mister Willem. Apa kamu mengenalnya?''


Sraya berhenti meminum cokelat panas buatan suaminya. Akram belum tahu kalau lelaki itu adalah Maxwell, lelaki yang menjadi sumber penderitaan bagi Nastiti.


Sengaja Sraya belum memberitahu Akram, Sraya teringat kata kata suami nya saat dirumah sakit.


Akram akan melakukan apa saja untuk nastiti, bahkan nyawa sekalipun akan Akram berikan untuk menjaga Nastiti.


Sraya tidak mau mengambil resiko yang lebih jauh lagi, terlebih nastiti sendiri tidak menyebut nama Maxwell di suratnya. Sraya beranggapan adik Akram itu sudah punya alasan sendiri.


''Yang aku tahu lelaki itu adalah seorang pengusaha, Mas. Selebih nya aku tidak kenal langsung.''


Akram hanya mengangguk dan meminta Sraya menghabiskan minuman nya.


''Oh iya, Mas. Sudah kasih kabar sama pakde Mas? Apa pakde sudah tau kita menikah?''


''Hm belum Mas kabarkan, mungkin besok karena ini sudah malam.''


Akram merebahkan tubuhnya disamping baby Sagara dan menarik selimut untuk mereka bertiga, digenggam nya tangan mungil Sagara dan ia ciumi.


''Anak Ayah ganteng sekali, kamu sehat-sehat ya, Nak. Nurut apa yang Ibu Sraya bilang, kita akan menunggu ibu Nastiti sampai dia pulang.''


Sraya yang hatinya lembut seketika menitikan air mata.


''Kenapa menangis?''


Akram mengusap air mata Sraya dengan tangan nya, hati gadis itu menghangat. Melihat tidak ada penolakan dari Sraya, Akram dengan perlahan membelai pipi Sraya.


''Aku memikirkan Sagara, Mas. Aku takut tidak bisa jadi ibu yang baik untuk Sagara.''


''Mas sudah melihat bagaimana kamu menyayangi Sagara, Mas yakin kamu akan jadi ibu yang baik untuk Sagara. Hanya saja kamu harus sedikit tangguh untuk melindungi orang orang yang kamu sayangi.''


''Apa aku terlihat lemah?''


Baby Sagara menggeliat hendak menangis, Sraya dengan perlahan mengangkat Sagara dan bersandar pada kepala ranjang.

__ADS_1


Akram memberikan bantal pada punggung Sraya agar lebih nyaman. Dan ikut bersandar.


''Kamu tidak lemah, hanya saja terlalu baik dan terlalu menjaga perasaan orang lain … Sraya, Mas. Sudah menjadi suami kamu, meski pernikahan kita tidak direncanakan sebelum nya. Cobalah membagi semua yang kamu rasakan dengan, Mas.''


Dibalik perkataan Akram dia memberi isyarat agar Sraya menceritakan apa yang menjadi ketakutan Sraya.


''Makasi, Mas. Mungkin aku masih belum sepenuhnya siap. Tapi mulai sekarang Sraya akan coba lebih terbuka dan kuat seperti perkataan, Mas.''


''Mulai sekarang kita harus menyebut diri kita ayah dan ibu pada Sagara.''


Akram mengelus pucuk kepala Sagara dan menciumi pipi Sagara, Sraya tertawa mendengar Akram bicara begitu.


''Aku enggak nyangka udah jadi ibu, perasaan kemarin aku baru berniat berkencan dengan lelaki yang dekat denganku, Mas.''


Jawaban polos yang lolos dari bibir Sraya, membuat Akram cemberut dan sangat gemas.


''Termasuk chef Andrean?'' tanya Akram penasaran.


''Aku dan Andrean hanya teman kerja saja, tidak lebih Mas.''


''Kalau begitu kamu harus berkencan dengan Mas! Urungkan niat kamu untuk cari lelaki lain, siapa tau selain jadi ibu Sagara. Kamu bisa jadi ibu dari anak-anak kita.''


Sraya menatap suami nya itu seperti anak anak yang sedang merajuk. Mereka tertawa bersama.


Banyak yang mereka bicarakan malam itu. Termasuk keputusan Sraya yang berniat akan resign untuk menjaga baby Sagara sepenuhnya.


''Baiklah cari tahu apapun tentang orang itu dan segera kabari aku. Selain itu apa kamu sudah mendapat kabar dari Nastiti?''


''Anda akan mendapat kabar sebelum dua puluh empat jam tuan, mengenai nona Nastiti. Kami masih melakukan pencarian.''


Sambung seseorang dari sebrang sana, Akram memandangi suasana kota jakarta dari teras balkon nya.


''Aku percayakan semua padamu seperti biasanya. berusalah lebih keras lagi, aku menanti kabar darimu.''


''Terima kasih atas kepercayaan yang tuan berikan. Saya akan berusaha sebaik mungkin dan tidak akan membuat tuan kecewa.''


Akram mematikan panggilan nya. Ia menatap tajam dan mengerskan rahang nya yang tegas.


Tengah malam Sraya tidak mendapati suami nya di kamar, ia bergegas untuk mencari suaminya.


Saat keluar kamar ia mendapati Akram tertidur di sofa sambil memangku macbook.


Sraya mencoba membangunkan suami nya, sebelum Akram terbangun ia sempat melirik macbook milik Akram. 'Laporan sebuah saham' gumam Sraya dalam hati.


''Jam berapa ini?'' tanya Akram dengan suara seraknya.

__ADS_1


''Sudah jam dua malam, Mas.''


''Maaf sepertinya Mas ketiduran, Dik.''


''Apa yang sedang, Mas. Kerjakan?'' tanya Sraya penasaran.


''Hmmm hanya laporan hasil penjualan kopi, ayo kita kembali ke kamar,'' ajak Akram.


……………………


Pagi itu di desa Sukomukti Masayu dengan semangat menyiapkan acara resepsi Akram dan Sraya. Semua tetangga, kerabat, juga seluruh pekerja di kebunnya di beri tahu.


''Maaf kang mas kalo Masayu baru bisa memberitahu mas Tris mengenai hal ini, karena kondisi saat itu sangat mendadak.''


''Apa kamu tidak menganggap aku ini sebagai kakak mu Masayu? Kabar sebesar ini baru kamu sampaikan. Padahal aku juga menganggap Akram sebagai anakku! Bahkan perkebunan kopi aku percayakan padanya.''


''Sekali lagi maafkan kami mas Tris. Begitu mas sampai di Jawa Tengah, aku akan menceritakan semua nya pada kangmas.''


''Kamu dan Permana sungguh keterlaluan Masayu, Akram sudah menikah kamu tidak memberitahu kami! Akram ku kirim ke Jakarta untuk urusan bisnis, bukan untuk kamu nikahkan.''


Telepon terputus begitu saja, tampak Masayu hanya menghela nafas.


''Trisna marah?'' tanya seorang wanita paruh baya berbadan agak gemuk, dia adalah kakak pertama dari Masayu yang bernama Rusnina.


Sedangkan yang tadi menelpon Masayu adalah kakak keduanya yang bernama Trisna, atau sering Akram sebut sebagai pakde.


''Iya, Mba. Mas Tris marah sama ayu.''


Ucap Masayu sambil cemberut, bude Rus menghentikan kegiatan nya yang sedari tadi sedang memilih milih kain batik yang dibawa seorang pedagang, dan memberi isyarat agar pedangang itu meninggalkan mereka.


''Wajar Trisa marah, dia kehilangan calon mantu nya,'' ucap bude Rus datar.


''Tapi mas Tris hanya menganggap Akram sebagai anak, bagaimana bisa mas Tris ingin menjadikan mantu, Mba?''


''Kita semua tau, Yu. kalau Akram bukan anak kamu. Wajar jika Tris ingin menjadikan nya mantu! Tapi aku bersyukur kamu sudah menikahkan Akram dengan wanita lain meski Mba belum kenal langsung dengan gadis itu.''


''Aku selalu menganggap Akram sebagai anak kandungku, Mba. Tidak ada sedikitpun aku menbedakan Akram dan Nastiti. Kenapa Mba bersyukur? Aku engga paham, Mba.''


Bude Rus menatap tajam pada Masayu.


''Trisna adalah pria yang baik. Tapi tidak dengan istri kedua si Lita dan anak mereka Amel, dari dulu Mba tidak setuju Trisa menikahi wanita itu. Terlihat bagaimana sekarang Lita berhasil membujuk Trisa untuk menjadi Akram mantunya!''


''Kenapa, Mba. Bicara seperti itu?'' tanya Masayu bingung.


''Kamu engga tahu bagaimana kelakuan Amel Yu, saat anak itu berkuliah di kota, anak ku Damar yang sering menceritakan Amel dan. Aku sendiri pernah melihat langsung, hanya saja kami memilih untuk diam.''

__ADS_1


''Memang nya amel gadis yang seperti apa, Mba?''


''Nanti kamu tau sendiri, yang jelas aku bersyukur Akram telah menikah.''


__ADS_2