
Berita tentang kebangkrutan perusahaan yang dipimpin Maxwell, tersiar di televisi dan media sosial. Ditambah dengan kamar miring yang menghebohkan, Pria tampan itu diduga telah menghamili mantan sekretarisnya, ditambah kasus kekerasan yang disertai bukti-bukti nyata. CCTV di salah satu villa dan rekam medis saat Nastiti tengah hamil beredar luas. Maxwell terancam hukuman pidana, belum lagi ia harus berhadapan dengan dewan direksi dan petinggi perusahaan.
Nastiti berdiri di balkon ruang tamu lantai dua milik Akram dan Sraya. Gadis itu melemparkan pandangannya ke arah taman mawar yang sedang berbunga. Bulan malam ini sangat terang dan membulat sempurna, cahayanya yang keperakan menerpa wajah ibu satu anak itu. Sebuah selimut tebal membungkus tubuhnya, dengan segelas minuman di tangan kanannya.
"Kau tidak kedinginan?" Reyhan yang seminggu lagi akan menjadi suaminya itu datang menghampiri.
"Kita menang, Mas!"
"Bukan kita, tapi kamu. Kamu yang telah memenangkan semua ini, satu tahun kamu menanggung derita, dan satu tahun kamu bekerja keras untuk membalikkan keadaan. Kamu berhasil menuntut keadilan, Nas." Reyhan kini berdiri tepat di samping Nastiti, kedua tangannya bertumpu pada pagar yang menjadi pembatas balkon.
"Bukan hanya aku, Mas. Lebih dari itu semua. Mas Akramlah yang selama ini telah berusaha keras membantuku. Dia bahkan rela mengurus Sagara dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak itu. Mbak Sraya, dia sudah mencurahkan segenap cintanya untuk Sagara dan menganggapnya sebagai anak kandung. Dan kamu, kamu sudah menemaniku dari awal sampai akhir."
"Kita tidak boleh merasa sudah menang sebelum pria itu menerima hukumannya, Nas."
"Aku sangat yakin sekali besok dia akan menerima segala hukumannya!"
Sejak satu tahun lalu, saat Nastiti kembali ke Indonesia. Akram dan Reyhan bekerja sama untuk membantu wanita itu untuk menuntut keadilan. Meskipun harus membuka luka lamanya kembali, Nastiti tidak merasa keberatan. Semuanya sudah dipikirkan dengan matang saat ia harus mengambil keputusan untuk membuka aibnya ke publik. Kedua orang tuanya sempat jatuh sakit saat mengetahui fakta yang sebenernya.
Akram memberi tahu Nastiti tentang semua rencananya, suami Sraya itu berpikir kalau adiknya harus tahu. Ia tidak ingin adiknya selalu bersembunyi walaupun tidak bersalah. Dua tahun ini Akram bekerja keras untuk menggoyangkan kestabilan perusahaan Maxwell dari dalam, Darren pun berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Akram dan Darren-- satu kombinasi yang mematikan.
Tidak sedikit uang yang harus Akram gelontorkan untuk membalikkan keadaan, untungnya, pria itu ditunjang oleh kedua kakeknya yang kaya raya. Akram terus bermain di belakang layar, ia hanya perlu memantau tanpa harus muncul ke permukaan.
Bisnis kafe yang dijalaninya bersama sang istri-- Sraya, berjalan sempurna. Bahkan dari tempat itu, kisah cinta Labiqa dan Darren mulai tumbuh menjadi hubungan yang indah. Agar tidak mematikan rejeki karyawan Maxwell, kedua kakeknya merekrut mereka untuk bekerja di beberapa usahanya. Meskipun tujuan Akram ingin membalas dendam. Ia tidak ingin menyusahkan orang-orang yang tidak bersalah.
Sebuah kabar baik datang tiga bulan yang lalu, Sraya dinyatakan hamil dan tengah mengandung anak kembar. Sagara tumbuh menjadi anak yang semakin tampan, meski garis wajahnya memonopoli wajah Maxwell. Balita yang sudah berumur dua tahun itu hampir tidak mau lepas dari keberadaan Sraya. Membuat istrinya agak kerepotan di tengah masa kehamilan yang masih muda. Baik kakek-neneknya dari pihak ayah dan ibunya, ditambah Nastiti yang notabene ibu kandung anak itu, Sagara tidak ingin lepas barang satu detik pun dari Sraya.
"Aku harap di dalam penjara nanti, kau bisa hidup lebih baik dan merenungi semua kesalahanmu. Terimalah semuanya dengan senang hati, Maxwell. Karena aku akan menikmati semuanya. Kau terlalu angkuh, sampai berpikir tidak akan ada orang yang bisa mengalahkanmu." Nastiti memandang Maxwell dengan dingin saat pria itu lewat dengan tangan di borgol. Lima menit yang lalu hakim sudah mengetuk palu dan memvonis Maxwell delapan tahun hukuman.
"Aku tidak akan pernah melupakan semua ini! aku akan menuntut semua tindakanmu, lihat saja dan tunggu waktunya!" Maxwell berlalu begitu saja dengan di kawal beberapa petugas polisi. Sedangkan para pemburu berita sudah seperti semut yang mengerumuni gula.
Nattalie sendiri melarikan diri dan tengah menjadi buronan. Ia dituntut atas kejahan perencanaan pembunuhan yang terjadi saat Nastiti tengah hamil. Wanita itu menyuruh beberapa orang untuk membakar rumah yang sedang adik Akram tempati.
Amel saat ini kembali kepada orangtuanya saat Maxwell mulai di tahan dengan status tersangka. Wanita itu hampir gila karena tidak ada satu pun rencananya yang berhasil dengan sempurna, ditambah ia harus membesarkan seorang anak yang lahir dari rahimnya. Amel tidak mendapatkan kekuasaan, harta, atau pun cinta.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya-- Nastiti Ishika Maheswari binti Permana dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai!"
Suara lantang yang keluar dari mulut Reyhan mampu membuat semua orang menangis. Lelaki itu resmi menjadi suami Nastiti meski di awal keluarnya menolak. Dengan lembut dan tanpa menyerah, Reyhan dan Nastiti memberikan keyakinan pada orangtuanya. Pesta yang digelar begitu sederhana, tidak seperti Akram dan Sraya. Tamu-tamu undangan berasal dari para keluarga dan teman dekat.
"Jadi kapan kalian menyusul?" goda Sraya saat melihat Labiqa yang baru saja membenarkan baju batik kekasihnya.
Labiqa bersemu dan tersenyum malu-malu. "Aku berniat ingin melanjutkan pendidikanku dan mendaftar kuliah dulu, Mbak."
Sraya terkekeh. "Kamu yakin? kelihatannya Darren sudah tidak sabar. Lihat saja bagaimana posesifnya dia terhadapmu, Biqa. Aku sama sekali tak menyangka kalian bisa jatuh cinta, padahal. awal-awal kalian bertemu ada saja perkataan sinis atau tatapan tidak suka yang saling kalian lemparkan." Sraya memandang ke satu titik di mana Akram dan Darren saat ini berada.
"Entahlah, Mbak. Aku pun tidak pernah menyangka, mungkin saat Darren mabuk waktu itu. Aku masih ingat bagaimana ia bertingkah. Laki-laki yang aku kira sombong dingin, ternyata ada sisi dalam dirinya yang menjadi titik lemahnya."
"Aku selalu menantikan hari bahagiamu, Biqa. Aku akan menjadi orang pertama yang akan mendampingi setiap prosesnya, sampai kamu resmi menjadi suami Darren," ucap Sraya tulus.
Labiqa mengelus perut Sraya yang sedkit membuncit. Karena mengandung anak kembar, ukuran perutnya sedikit lebih besar dari wanita kebanyakan. "Aku juga tidak sabar menantikan kehadiran dua keponakan baruku ini."
"Begitu pun aku sebagai ibunya."
Tentu saja dengan dibantu tangan dingin dan pemikiran luas Darren.
Di tengah kesibukan Akram, sebuah panggilan masuk ke ponsel pintarnya, mengabarkan kalau sang istri akan segera melahirkan. Ia menancap gas menuju rumah sakit di mana Sraya berada. Sudah ada orangtuanya dan ibu Sraya di depan ruang bersalin.
"Cepat masuk! istrimu akan segera melahirkan, dari tadi Sraya mencarimu!" tegas Masayu.
Akram masuk ke dalam ruang bersalin, tampak istrinya yang tengah diperiksa dokter spesialis kandungan. Sraya tampak menahan sakit, keringat mengucur deras dari dahinya. Berkali-kali wanita itu mengelus perutnya yang makin membesar.
"Andai kamu bisa membagi rasa sakit ini, aku tidak keberatan. Dik." Akram mengelus puncak kepala Sraya dengan penuh sayang.
"Meskipun rasanya sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, aku akan berusaha berjuang dengan si kembar. Aku berjanji akan melahirkan mereka berdua dengan selamat ke dunia ini, Mas. Aku sudah tidak sabar melihat mereka, kurasa Sagara juga sudah menantikan kedua adiknya." Sraya tersenyum di sela-sela rasa sakitnya.
"Mas rasanya seperti sudah ada di ujung, aku sudah tidak tahan, tolong panggilkan dokter!"
Akram dengan panik menekan nurse call yang ada di atas kepala Sraya, tidak lama dokter dan beberap perawat datang membawa alat-alat yang dibutuhkan. Akram tidak mau meninggalkan Sraya sendirian, dengan menahan sejuta perasaan, lelaki itu menemani istrinya berjuang melahirkan kedua anaknya.
__ADS_1
Sraya berkali-kali mengambil nafas panjang sesuai petunjuk dokter, ia menekan dengan kuat otot perutnya agar si bayi cepat keluar. keringat terus bercucuran meskipun AC sudah diatur dengan suhu yang dingin. Sampai suara tangisan pertama seorang bayi laki-laki memecah Kepanikan suaminya. disusul beberapa menit kemudian seorang bayi perempuan keluar dari liang kewanitaan istrinya.
Tangis Akram dan Sraya pecah. Mereka telah menjadi orangtua yang sesungguhnya, memliki anak-anak dari benih mereka berdua. setelah dokter membersihkan kedua bayi itu, Akram mengumandangkan adzan di telinga kanan si kembar bergantian.
Kebahagiaan Akram dan Sraya menular pada seluruh keluarga. Mereka semua hanyut dalam suka cita, ratusan hadiah diberikan oleh karyawan dan teman dekat. Tidak kecuali Sofi dan suaminya.
"Adik," ucap Sagara saat melihat kedua adiknya tidur terlelap di box bayi.
Akram segera menggendong Sagara, ia tidak ingin anak pertamanya merasakan kasih sayangnya berkurang karena telah memiliki anak lain. Pria itu bertubi-tubi menciumi kening, wajah, dan tubuh Sagara, membuat balita itu tertawa karena geli.
"Sagara mau nama apa untuk adik-adik Sagara?" tanya Akram penuh cinta.
"Adik," ucap Sagara sekali lagi.
Akram menatap sang istri yang kini berjalan ke arahnya. Saat ini mereka sudah berada di mansion setelah Sraya dirawat selama tiga hari di rumah sakit.
"Jadi kita mau menamai si kembar apa?"
"Banyak sekali nama yang disarankan oleh ibu, bapak, Nastiti, Reihan, Labiqa,. Darren, bahkan Sofi. Mereka semua masingmasing sudah menyiapkan nama, Mas."
Akram memeluk pinggang Sraya dengan mesra. "Kalau gitu kita pakai saja semuanya," canda Akram.
"Aku takut kamu tidak bisa menghapal nama anak-anakmu lima tahun ke depan, Mas." Sraya bergelayut manja di bahu sang suami.
Akram tergelak dan mencium pipi Sraya bertubi-tubi. "Darrel untuk si jagoan dan Darla untuk si tuan putri, Bagaimana baginda ratu?"
"Darrel Jagadita Kemaswara dan Darla Arumi Kemaswari?"
"Aku suka, terima kasih karena mau menjadi istriku, Dik." Akram mengecup lembut bibir Sraya.
Mentari sore itu hampir tenggelam, semburat cahaya jingga masuk ke sela-sela gorden kamar Akram dan Sraya. Mereka bedua, ditambah Sagara. Menikmati pemandangan sore itu dengan penuh suka cita, si kembar anteng dalam tempat tidur mereka.
TAMAT
__ADS_1