
Sraya menatap tajam ke arah Akram yang tengah menggendong Amel, meski pernikahan mereka sebelum nya tidak berlandaskan cinta. Tetapi beberapa waktu ini ikatan mereka menjadi semakin dekat.
Amel tersenyum dalam hati menangkap perubahan wajah Sraya, lengan nya semakin melingkar pada leher Akram dan masih mempertahankan ekspersi nya menahan sakit.
"Amel kamu kenapa, Nak?" tanya Permana panik.
"Amel kepeleset dikamar mandi, Pakde," jawab Akram cepat, kemudian ia mendudukan Amel di kursi yang sebelum nya gadis itu duduki.
"Sudah Bapak bilang toh, ndak usah pakai sepatu tinggi-tinggi. Ya kok kamu ndak denger," gerutu Permana.
"Sudah toh, Pak. Lagian siapa yang bakal tau Amel akan jatuh." Lita membela anak nya, ia tahu anaknya hanya sedang pura-pura.
Hendi yang menyaksikan ini berinisiatif mengambilkan obat P3K dengan mengajak Sraya, bukan karena peduli. Tetapi ia ingin memanfaatkan keadaan ini agar bisa berbicara dengan istri dari Akram itu.
Setelah menitipkan Sagara pada Akram, Sraya mengikuti Hendi ke lantai dua ruangan karyawan. Hendi menceritakan apa yang ia lihat di toilet tadi, Amel meminta Akram menunggunya dan sengaja menjatuhkan diri.
"Tapi mungkin Amel memang kepeleset, Kak. Diakan pakai sepatu hak tinggi," sangkal Sraya.
Hendi hanya menghela nafas, lagi-lagi teman yang sudah ia anggap sebagai adik ini mudah percaya dengan orang. Harus ada bukti untuk membuat Sraya percaya, kemudian ia mengajak untuk melihat CCTV bersama.
"Kamu udah percaya sekarang?" tanya Hendi setelah melihatkan CCTV pada Sraya.
Sraya hanya terdiam, ia mengingat kembali saat di desa Akram beberapa waktu lalu. Tidak sengaja ia mencuri dengar saat Lita dan Amel sedang berbicara tentang Akram, kemudian ia mengingat poto pernikahan nya yang pecah karena tersenggol Amel.
Sraya tersenyum dingin, ia memang gadis yang bisa baik kepada semua orang. Tetapi statusnya sekarang adalah seorang istri dan juga ibu, Meskipun belum bisa memastikan langsung apa tujuan Amel? Baik itu disengaja atau tidak? Ia akan berhati-hati lagi.
"Sraya ... Kamu baik-baik aja? Kenapa malah bengong?" Hendi mengibaskan tangan nya di depan wajah Sraya yang beberapa menit terdiam.
"Aku baik-baik aja, Kak. Makasih udah ngingetin aku, Sraya akan lebih hati-hati lagi."
Setelah nya mereka membawakan obat P3K dan salep yang bisa meredakan sakit karena terkilir. Akram menatap Sraya dan Hendi bergantian, istrinya ini terlalu lama hanya untuk mengambil obat saja.
"Kenapa lama sekali, Dik" tanya Akram yang masih menggendong Sagara.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Tadi kak Hendi lupa dimana dia nyimpan salep nya," jawab Sraya.
Pandangan Sraya beralih ke Amel yang sebelah kaki nya di angkat ke kursi, Sraya mendekati gadis itu. Terlihat pergelangan kaki Amel sedikit menunjukan warna biru, Sraya mengernyitkan dahi nya.
Padahal saat Sraya melihat CCTV, Amel jelas tidak kepeleset. Sraya mengambil selembar tisu basah milik Sagara, saat ia hendak mengusap pergelangan kaki yang sepertinya memar itu Amel menahan gerakan Sraya.
"Mbak, mau ngapain? Kaki aku sakit banget, jangan di pegang," ucap Amel sedikit panik.
"Mbak cuma mau mengoleskan salep ini kok Mel, cuma harus dibersihkan dulu kaki kamu. Kamu gak pingin kan kesakitan saat dibawa jalan?"
"Akram bisa bantu Amel kayak tadi kalo kakinya masih sakit," sebuah jawaban dari Lita yang terlalu percaya diri.
Sraya tidak memedulikan perkataan Amel dan ibunya, ia tetap mengusapkan tisu basah itu. Sraya tersenyum tipis, bahkan sangat tipis saat mendapati noda biru yang samar di bekas tisu itu. ia tetap melanjutkan mengoleskan salep pada kaki Amel.
Trisna memesan hotel di dekat bandara untuk menginap. Besok ia dan Lita memutuskan untuk pulang langsung ke Jawa Timur, mereka semua terlebih dulu mengantarkan Trisna baru setelahnya pulang ke apartment.
"Mel, seprei dan bad cover nya tadi udah Mba ganti sama yang baru, kamu bisa langsung istirahat." Sraya membantu Amel berjalan ke kamar tamu.
"Iya, Mba. Makasih banyak ya," jawab Amel datar.
"Mas udah pesen foto dan bingkai nya yang lebih besar dari sebelum nya, Dik. Mungkin dua hari lagi jadi terus bisa langsung di pasang."
Akram membaringkan tubuhnya disamping Sraya, Sagara sendiri tidur di dalam box bayi di samping ranjang mereka. Sraya menatap suami nya dan tersenyum lembut.
"Berapa hari Amel akan tinggal bersama kita, Mas?"
"Mas udah minta seseorang buat bantu cari tempat tinggal untuk Amel, apa kamu keberatan Amel sama kita?"
"Engga, Mas. Aku gak keberatan, hmm ... kayaknya kita harus masang CCTV deh, Mas."
"CCTV?" ulang Akram memastikan.
"Mas keberatan?" Sraya tidak menjawab pertanyaan Akram.
__ADS_1
"Tentu aja enggak ... apapun permintaan istri, Mas. Pasti Mas turutin, Kapan kita harus memasangnya?"
"Bersamaan dengan bingkai foto aja, Mas."
Sraya berani memeluk Akram, tentu saja suami nya itu sangat senang. Akram membalas pelukan istrinya itu dengan hangat lalu mengecup pucuk kepala Sraya.
"Ternyata seperti ini rasanya pacaran setelah menikah," Akram terkekeh mengucapkan nya.
"Mantan Mas Akram pasti banyak."
"Sangat banyak sampai gak bisa di hitung pakai jari tangan dan kaki," goda Akram.
Sraya mencebikkan bibir nya dan melepaskan pelukan pada Akram, suami nya itu merasa gemas dan menahan tubuh Sraya.
"Kan, kamu sudah dengar dari kawan Mas di desa yang nama nya Restu. Mas gak pandai merayu perempuan, walau mas tau Mas sangat tampan," ucap Akram dengan mengedipkan satu matanya.
Sraya hanya tertawa saja melihat tingkah suaminya yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, ia meraba setiap bagian wajah suaminya. Benar Akram memang tampan.
Mata yang sangat tajam berbentuk monolid, hidung yang nya yang mancung sempurna, bibir yang tipis, ditambah rahang yang sangat tegas. Akram terpejam menikmati setiap sentuhan jari Sraya di wajahnya.
Saat Sraya membelai pipi Akram, suami nya itu menahan gerakan Sraya. Akram membuka matanya dengan sorot mata teduh yang mampu menenggelamkan Sraya pada pesona Akram.
Dengan begitu lembut Akram mengecup bibir Sraya, manis dan membuat candu bagi Akram. Meskipun hasat Akram sangat tinggi, ia masih bisa menahan diri untuk tidak berbuat lebih.
Sampai suara tangis Sagara mampu menyadarkan sepasang suami istri yang terlena dengan hisapan di bibir masing-masing. Bayi itu meminta jatah susu yang langsung Sraya buatkan.
Pagi hari saat Sraya tengah sibuk menyiapkan sarapan, bell unit apartment mereka berbunyi. Akram yang sedang bermain dengan Sagara di ruang keluarga hendak membukakan pintu, tetapi Amel terlebih dulu membukakan nya.
"Permisi, Nona," ucap seorang lelaki paruh baya yang terlihat berwibawa. Lekaki itu di temani seorang yang terlihat seperti pengawal.
"Maaf cari siapa ya, Pak?" tanya Amel dengan pandangan menilai dari ujung kepala sampai kaki.
"Siapa, Mel?" tanya Akram sedikit mengeraskan suaranya.
__ADS_1
Lelaki tua itu tersenyum saat mendengar suara Akram.