Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Gadis Pengantar Bunga


__ADS_3

Sore berganti malam, tepat satu jam lagi acara perjamuan makan malam Sedayu Buana Group akan dimulai.


Daren mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di dalam walk in closet mansion mewah milik Akram yang berada di daerah Pondok Indah.


Sudah satu minggu dirinya tinggal di sana, hunian dengan luas lebih dari lima ratus meter persegi itu tampak mewah dan juga mencerminkan gaya hedonisme bagi pemiliknya.


Namun terasa sangat sepi karena hanya ada Daren dan dua orang penjaga saja yang menempati mansion. Seorang asisten rumah tangga akan datang dipagi hari dan pulang saat petang untuk mengurus mansion tersebut.


Daren memandang pantulan dirinya di dalam cermin. Tubuh ideal nya kini dibalut dengan setelan jas dinner suit, dengan jenis tuxedo dari desainer kenamaan House of Bijan by Bizan Pakzad.


Desainer asal Iran ini mengatakan setelan jas bukan sekedar baju atau fashion, tetapi juga pernyataan politik. Untuk itu tuan Aaron memesan langsung demi membuat penampilan Daren terlihat menonjol.


Sekali lagi Daren tidak menyangka kalau ini semua nyata, dirinya tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Mengingat dirinya saat lima belas tahun ke belakang berada dan tinggal di panti asuhan.


Sebuat notifikasi masuk kedalam ponselnya, mengabarkan kalau bunga segar yang ia pesan mengalami kendala pengiriman karena sang kurir terjebak macet.


Daren tidak ada waktu lagi untuk memesan bunga baru dari toko lain, dengan kesal Daren menelpon kurir bersangkutan yang membawa barang pesanannya. "Apakah seperti ini servis yang diberikan oleh tokomu? Kalau tidak bisa tepat waktu mengapa kalian meng-confirm pesananku?" ketus Daren dengan suara yang terdengar dingin.


"Maaf, Pak. Atas ketidak nyamanan nya. Saya berusaha untuk on time tetapi padatnya jalanan di Jakarta membuat saya terjebak macet, ini diluar perkiraan saya," jawab seorang wanita dari sambungan ponsel Daren.


"Kau tau, Nona. Aku sama sekali tidak menerima alasan! Aku tunggu kamu dalam dua puluh menit, aku sudah membayar mahal beserta tips pada tokomu. Jadi kuharap kau tidak mengecewakan pelanggan sepertiku. Ingat dua puluh menit!"


Terdengar suara sambungan telepon yang terputus begitu saja dari Daren, membuat gadis pengantar bunga itu menghelas nafasnya kasar. "Cih, dasar orang kaya sombong!"


"Pak apa kita gak bisa cari jalan lain? Customer saya ini kayaknya orang kaya yang sombong, dia minta saya mengantarkan pesanan nya dalam waktu dua puluh menit," ucap gadis pengantar bunga.


"Maaf, Non. Sekarang ini lagi jam-jam nya macet, Non bisa pesan ojek online aja kalau mau. Biar sampe nya cepet," ujar sopir taxi yang mengantar gadis itu.


Mau tidak mau sang gadis akhirnya menuruti solusi yang diberikan oleh sopir. Tepat dua puluh menit ia sampai di alamat yang telah memesan bunga mawar berwarna merah yang sudah dirangkai dengan indah dan tampak masih sangat segar.

__ADS_1


Seorang penjaga mempersilahkan gadis itu untuk masuk dan membukakan gerbang. Langkah kaki kecil gadis itu membawa nya masuk ke pekarangan yang terdapat air mancur di depannya.


Mata gadis itu tak henti-hentinya memandang kagum pada banguan mewah yang ada di hadapannya. Sebelum ia memencet bell, ia kembali memeriksan mawar pesanan dari sang tuan rumah.


Setelah tiga kali menekan bell, akhirnya pintu dibuka oleh seorang lelaki yang terlihat tampan dan juga rapi. Gadis itu sempat terkesima dengan sosok yang ia temui.


"Apa kau orang yang aku telepon tadi?" suara bariton yang keluar dari bibir Daren membuat gadis itu tersadar.


"Iya, Pak. Saya yang bapak telepon tadi, dan ini bucket bunga yang anda pesan," Gadis itu menyerahkan bunga itu kepada Daren.


"Dasar lamban! aku hampir saja terlambat karena menunggumu. Kalau saja aku tau kalau pelayanan dari tokomu seperti itu, aku gak akan memesan disana," papar Daren dengan wajah dinginnya.


Penilaian terhadap Daren yang tadinya berkisar seratus karena pesona nya, kini terjun bebas ke angka terendah.


"Cih! Untuk apa tampan kalau sikapnya sombong dan dingin seperti itu? Memang nya aku dapat mengendalikan kemacetan yang ada di Jakarta." gumam gadis terebut di dalam hatinya.


"Pak? Apa aku terlihat sudah tua dimatamu? Lagian aku gak akan memesan dari tokomu lagi. Pergilah! Usir Daren.


Gadis itu merasa kesal tetapi tidak mungkin membalas perkataan Daren, ia pun bergegas meninggalkan hunian yang tadi sempat ia kagumi.


Daren menatap punggung wanita itu sampai menghilang dibalik pagar mansion. Wajahnya manis dan juga menarik tapi sayang tidak profesional.


Dengan teliti Daren mengecek lagi bucket pesanan yang gadis itu antarkan. Ia tidak ingin bunga mawar yang ia pesan untuk Natt sebagai penghormatan jamuan makan malam ada kerusan sekecil apapun. Apalagi bunga yang ia pesan bernilai belasan juta rupiah.


Benar saja, setelah diperhatikan lebih jeli oleh Daren. Ia menemukan satu tangkai mawar yang patah. Bergegas ia menelpon toko bunga untuk mengajukan komplain.


Karena tidak ada waktu lagi, Daren membuang satu tangkai itu dan untungnya tidak mempengaruhi penampilan dari bucket yang akan ia berikan pada Natt.


Segera Daren melajukan mobil nya ke salah satu Ballroom hotel bintang lima yang terkenal mewah di pusat kota Jakarta dengan mobil sport mahalnya.

__ADS_1


Di sisi tempat yang berbeda namun di jam yang sama, gadis pengantar bunga itu telah kembali toko tempatnya bekerja. Rambutnya di ikat asal agar tidak berkibar tertiup angin saat menaiki ojek online.


Hoodie yang ia kenakan pun belum sempat ia lepas, tetapi bos toko bunga itu memanggilnya untuk menghadap ke ruang kerja.


"Aku cuma nyuruh kamu untuk mengantar pesanan, Bica. Kenapa pekerjaan kayak gitu aja kamu gak becus," cecar bos toko.


Gadis itu sudah paham arah pembicaraan ini, pasti lelaki tadi yang melaporkan kepada bos nya. Sungguh berlebihan sekali, padahal ini bukan sepenuhnya salah dirinya.


"Maaf, Bos. Aku terjebak macet. Aku juga sudah berupaya mengantarnya tepat pada waktunya," ucap gadis itu.


"Kamu tau tidak? Customer kita barusan adalaha orang penting, buktinya saja ia memesan bucket bunga paling mahal seharga belasan juta dari toko kita. Belum lagi ia sudah memberi tips terpisah untuk upah merangkai bunga."


Gadis itu hanya menundukan kepala nya, tak tau harus menjelaskan bagaimana. Bawahan hanya bawahan, peraturan pertama bos selalu benar. "Maaf ..." ucapnya lirih.


"Aku memaklumi semua kesalahan yang selama ini kamu buat, Bica. Mulai terlambat kerja, tidak bisa merawat bunga-bunga dengan baik, tapi kesalahan kamu kali ini fatal. Dan maaf, Bica. Besok kamu tidak usah masuk kerja lagi karena ini hari terakhirmu di toko ini." Bos wanita itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan memberikan nya pada gadis itu.


"Ini sisa gaji kamu yang sudah aku potong dengan pinjaman kamu bulan lalu, semoga kamu bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik selepas dari sini. Terima kasih untuk dedikasi kamu selama bekerja di toko ini."


"Apakah Bos benar memecatku?" tanyanya lirih.


"Kesalahan kamu kali ini sungguh fatal, Bica. Kau tau? Bukan cuma pengantaran yang telat, tetapi ada kerusakan pada bunga yang kamu bawa."


labica melangkahkan kakinya keluar toko. Air mata nya seketika luruh tak terbendung. Kemana lagi ia harus mencari pekerjaan, Labica akui dirinya sangat sering masuk kerja mepet pada waktunya tetapi bukan berarti telat.


Pagi harinya ia harus bekerja di pasar membantu berjualan soto ayam pada pak haji yang sudah mau berbaik hati mem pekerjakan nya.


Siang ia akan bekerja di toko bunga. Semua itu ia lakukan karena menjadi tulang punggung keluarga, ia hanya hidup berdua bersama sang adik yang kini sudah menginjak bangku SMP.


Kalau dirinya tidak bekerja di dua tempat ia tak akan mampu membayar biaya sekolah sang adik. Lelaki yang ia temui sungguh jahat di mata Labica, ia mengutuk lelaki itu di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2