
"Mungkin maag aku kambuh, Mas."
Akram membantu Sraya berjalan dan mengelap mulut istrinya dengan selembar tissue. "Nanti kita ke dokter ya," pinta Akram.
"Gak usah, Mas. Nanti juga baikan, aku kayaknya stress dan tegang karena bentar lagi cafe akan dibuka."
"Jangan terlalu tegang, Dik. Mas akan selalu mendukung kamu dan membantu kamu." Akram membawa Sraya ke salah satu sofa yang memanjang dan meminta Sraya untuk duduk.
"Mas, susul ibu dulu kasian takut kelamaan."
"Kamu gak apa-apa, Mas, tinggal sendiri?"
"Gak apa-apa, Mas, lagian banyak anak-anak."
Saat ini di caffe ada karyawan yang sedang fokus pada sectionnya masing-masing, mereka bertanggung jawab atas area yang mereka pegang. mulai dari alat-alat, sampai condiments yang akan dipakai.
"Biqa," panggil Akram.
Labiqa yang saat itu sedang mengasuh Sagara, dan tidak jauh dari sofa yang diduduki Sraya-- segera menoleh dan menyahuti atasannya. "Iya, Pak Akram?"
"Saya titip ibu ya, tolong buatkan wedang jahe. Ibu lagi masuk angin, saya mau jemput orang tua saya di bandara."
Labiqa segera menghampiri Sraya, dilihatnya
wanita yang cantik dan anggun, dengan penampilan khasnya yang selalu memakai dress, sudah dua hari ini terlihat pucat. "Baik, Bapak, tenang aja. Saya akan menjaga, Bu Sraya."
Setelah menitipkan Sraya pada Labiqa, Akram segera menuju bandara. Labiqa menghampiri salah satu temannya yang seorang barista, lelaki berkulit sedikit cokelat dan berambut kribo. "Mas Iko, bisa ajak Sagara main bentar? aku mau buatin ibu minuman hangat."
"Ibu kenapa, Biqa?" tanya Iko.
"Kata bapak, ibu lagi gak enak badan. Tadi sempat muntah, ini aku mau buatkan wedang jahe dulu, Mas. Tolong ajak main Sagara ya."
Iko dengan tanggap langsung menggendong Sagara. "Kayaknya Sagara bakal punya adik lagi."
"Huuust ... mas ini, kayaknya ibu cuma masuk angin, masa Sagara baru umur mau empat bulan mau ada adik lagi," ucap Labiqa. Gadis itu segera menuju kitchen.
Di dapur sudah ada Dinda, Yanda, dan Nindi yang juga merupakan koki. "Mbak Dinda, ada jahe gak?" Gadis yang ditanyai oleh Labiqa-- saat ini tengah sibuk memindahkan rempah-rempah ke dalam box setalah dicuci dengan bersih sebelumya. "Ada, Biq. Kamu mau buat apa?"
__ADS_1
"Aku mau buat wedang jahe buat ibu, Mbak."
Dinda memberikan dua tiga ruas jahe merah dan beberapa bahan lainnya untuk meracik minuman yang akan Labiqa buat. "Ini semua bahannya, Biq. Gula aren nya tanya aja sama kak Yanda, tadi dia yang beresin."
Setelah wedang jahe matang, Labiqa segera menuangkan pada gelas dan membawanya pada Sraya. "Bu, ini silahkan diminum mumpung masih hangat."
Sraya yang duduk terpejam dan bersandar pada sofa segera membuka matanya. "Makasih ya, Biq. Taruh aja di meja, nanti saya minum."
"Biar saya pijitin ya, Bu." Labiqa duduk di belakang Sraya, ia memijat Sraya mulai dari kepala, bahu, dan punggung Sraya.
Di bandara, Masayu tampak duduk di salah satu kedai kopi dan menunggu Akram datang menjemput, iya sudah mengirim pesan pada akram terlebih dahulu. tiga puluh menit berselang Akram pun datang. setelah menghabiskan kopi pesanannya, Masayu dan Akram segera meninggalkan bandara dan langsung menuju Cafe.
"ibu kangen banget sama Sagara dan juga Sraya, bagaimana kabar mereka?"
Akram melirik sekilas kepada ibunya kemudian memfokuskan kembali pandangannya ke arah jalan raya. "Sagara sehat, Bu, berat badannya selalu bertambah. Ia demam kalau habis imunisasi, Sraya merawatnya dengan baik. Untuk Sraya, sudah dua hari ini iya kurang enak badan."
"Loh ... menantu ibu sakit dan kamu baru bilang, Akram?"
"Ibu, kan, baru nanya tadi--"
"Biarin aja, kamu loh ... kalau enggak ibu tanya, mungkin kamu bakal diem aja. Iya, kan?"
"Bukan gitu, Bu, maksud Akram. Sraya bilang maag nya kambuh, Akram udah nawarin buat periksa ke dokter tapi katanya nanti aja."
"Kamu gak merhatiin makan dia? sampe maag nya kambuh? kamu ini keterlaluan ya Akram, istri sampe sakit gitu!" cerocos Masayu.
Akram menghela nafasnya, ibunya selalu saja suka berspekulasi dengan pemikirannya sendiri. Akhirnya-- Akram menceritakan keadaan Sraya dengan detail, Masayu menganggukkan kepalanya mendengar cerita Akram. "Apa Sraya selalu muntah di pagi hari?" tanya Masayu.
"Enggak, Bu. Sraya muntahnya baru tadi aja, saat Akram mau nyusul Ibu ke bandara," tutur Akram.
Waktu tempuh dari bandara kurang lebih satu jam, mereka sempat terjebak macet karena saat ini masuk jam makan siang. Banyak karyawan-karyawan kantor yang keluar untuk mengisi perutnya dengan makanan atau sekedar beristirahat. Setibanya di cafe, Sraya dan para pegawainya menyambut kedatangan Masayu.
Masayu memeluk menantu kesayangannya itu dengan hangat, ia juga mencium kening Sraya-- serta pipi kanan dan kiri bergantian. Masayu juga langsung menimang Sagara dengan penuh cinta. Sudah sebulan lebih ia hanya berkomunikasi dengan cucunya lewat video call.
Labiqa dan Nindi memasak makan siang untuk mereka semua. Sop daging dan perkedel kentang menjadi menu hari ini. Sraya dan Akram tidak membeda-bedakan antara boss dan karyawan, mereka berkumpul di sebuah meja yang memiliki dua belas kursi untuk makan bersama.
"Loh, pak Marto mana? kok ga ikut makan siang bareng?" tanya Sraya.
__ADS_1
"Bentar, Bu. Biar saya panggilkan," ucap Andri yang merupakan salah satu barista partner Iko. Pria itu langsung bergegas memanggilkan pak Marto yang sedang berjaga. Tidak lama, Marto datang dan mereka makan bersama.
Saat Sraya ingin menguapkan sop daging yang masih hangat dan mengepulkan asap, Sraya merasa perutnya seperti diaduk dan ia merasa tidak nyaman. Bau aroma dari sayur sop buatan Labiqa dan Nindi terasa aneh di hidung Sraya. Tidak tahan dengan aroma masakan itu, Sraya langsung berlari ke kamar mandi.
Semua orang merasa simpati dengan kondisi Sraya, mereka tahu kalau Sraya sedang tidak enak badan. Masayu yang sedang menggendong sang cucu, segera berdiri dan menghampiri menantunya yang tengah memuntahkan isi perutnya di wastafel kamar mandi, begitupun Akram yang dengan sigap memijit-mijit tengkuk Sraya. "Kamu beneran gak apa-apa, Dik? habis ini kita langsung ke dokter!" tegas Akram.
"Gak apa-apa, Mas. Cukup belikan aku obat maag di apotek, nanti pasti aku akan baikan."
Masayu menyodorkan minyak angin kepada Akram. "Nak, coba kamu baluri tengkuk Sraya dengan ini." Akram mengambil botol yang diberikan Masayu dan langsung menuruti perkataan ibunya.
"Maaf aku merepotkan, Ibu dan Mas, lanjut aja makannya. Kali boleh Sraya mau istirahat di kantor."
"Tapi kamu belum makan, Nak. Seenggaknya makan dulu walaupun sedikit," ujar Masayu.
"Ibu benar, Dik. Kalau kamu enggak makan, yang ada maag kamu makin parah."
"Nanti tolong bilang Labiqa, aku ingin dibuatkan roti bakar aja, Mas. pakai selai cokelat." Sraya kemudian memandang Masayu dan menggenggam lengan ibu mertuanya. "Bu, maafin Sraya ya, aku gak bisa nemenin ibu makan siang."
"Udah, Nak. Kamu jangan mengkhawatirkan ibu. Kalau kamu mau istirahat silahkan, ibu akan menjaga Sagara."
Akram langsung membawa Sraya ke kantor. Ruangan dengan luas tiga kali tiga meter itu, terdapat meja kerja, lemari besi, televisi, dan sofa yang berbentuk huru U dan bisa untuk dipakai tiduran.
"Aku gak apa-apa, Mas. Kamu makan siang dulu, aku gak mau makan kalau, Mas, sendiri belum makan!" tegas Sraya.
Akram tidak mau mendebat sang istri, meskipun hatinya sedih melihat kondisi Sraya yang sedang sakit. Setelah memastikan Sraya dalam posisi nyaman, Akram segera menghampiri para karyawannya dan makan bersama mereka.
Ingin rasanya Akram meminta Labiqa untuk segera membuatkan roti bakar seperti apa yang diinginkan Sraya, tetapi-- ia tidak enak kalau mengganggu acara makan Labiqa, saat mereka semua sudah selesai bersantap siang, Akram menghampiri Labiqa yang sedang ada di kitchen.
"Biqa, bisa minta tolong buatkan ibu roti bakar dengan isian selai cokelat?"
"Tentu aja, Pak. Akan segera saya buatkan." Labiqa langsung bergerak cepat membuatkan pesanan Sraya, tidak butuh waktu lama. Lima potong roti bakar full isian cokelat telah selesai ia buat. Akram segera membawa nampan berisi roti dan segelas susu ke kantornya.
Baru saja ia ingin memutar handle pintu, Masayu menahan tangan Akram. "Beneran Sraya cuma maag aja?"
"Katanya begitu, Bu. Dia terlalu tegang dan memikirkan cafe ini, bisa jadi itu berpengaruh pada maagnya karena merasa stress."
"Kapan terakhir Sraya datang bulan?" tanya Masayu.
__ADS_1