
Akram
Selepas kepergian ibu dan yang lainnya ke hotel, aku memilih menyelesaikan sisa pekerjaanku di ruang tamu. Aku meneliti setiap angka pada tabel microsoft excel.
Dengan cermat aku menambah, mengurang, membagi angka-angka tersebut sampai aku mendapati jumlah yang sesuai dengan jumlah fisik dan total saldo di rekening.
Saat kupastikan semuanya benar segera kututup macbook dan menyusul Sraya di dalam kamar. Cuaca kota Jakarta yang siang sangat panas dan kadang dingin saat malam hari.
kudorong gagang daun pintu hingga terbuka, aku terpaku dengan pemandangan yang ada di hadapanku.
Sraya? Dia benar istriku? Aku tidak salah lihat?
Penampilan Sraya malam ini sungguh menyita perhatianku, bagaimana tidak? Dia berdiri menghadap cermin dengan menggunakan lingerin berwarna hitam yang sangat seksi dan semakin membangkitkan nafsuu yang selama ini kutahan demi membuatnya nyaman.
Apakah setelah melihat ini semua aku masih tetap kuat?
Sraya menyadari kehadiranku, aku seperti anak kecil yang sedang tertangkap basah memergoki sesuatu, ingin rasanya aku membuang pandangan. Tapi nyatanya pesona Sraya membuat otak dan tubuhku tidak sinkron.
"Dik."
Hanya kata itu yang mampu aku ucapkan.
Langkahku kaki ku membawa diriku semakin dekat dengan Sraya, aku mencium puncak kepalanya kemudian memandang matanya yang manjadi sayu.
Sraya hanya terdiam tanpa bertindak, sesekali ia hanya membasahi bibir saat aku mulai menelusupkan jari-jariku di sela rambutnya yang terurai dan dengan rakus menghirup aroma wangi di tengkuknya.
Satu lenguhann lolos dari bibir indahnya, kami saling pandang. Terlihat dari sorot mata kami yang seakatan mengatakan kalau kami ingin yang lebih dari ini, "Mas menginginkan kamu, apa boleh?" tanyaku penuh harap dengan suara yang semakin serak.
Sraya terpejam sesaat kemudian membuka matanya dan mengangguk mantap. "Aku siap, Mas. Mari kita lakukakan, maaf membuat kamu menunggu terlalu lama."
Aku semakin merapatkan tubuhku pada Sraya, bisa kurasakan kalau jantung kami saling berlomba memacu debaran yang semakin kuat. Kurebahkan Sraya ke atas kasur kami yang selalu tertata rapi tanpa melepaskan pelukan.
Kami makin terbuai dengan ciumann panas kami malam ini, kutarik lingerin Sraya menuruni bahunya sampai lolos dari tubuhnya. Satu persatu kubuka pakaianku dan sisa kain yang membalut tubuh istriku.
__ADS_1
Kurasakan tubuh Sraya meremang saat mendapatkan cumbuann-cumbuann kecil dariku, aku tidak dapat lagi membendung hasrat ini, dengan beberapa kali usaha. Aku berhasil melakukan penyatuan.
Malam ini rasa syukurku, rasa cintaku, dan rasa sayangku, semakin bertambah untuk Sraya. Kami berhasil menyempurna kan apa yang orang-orang bilang sebagai salah satu ibadah suami istri.
Aku semakin terlarut dengan setiap rasa yang tercipta. Malam ini kami mencicipi apa itu cinta yang berhias hangat cummbu mesra, Kami menyatu dalam birahii yang tak dapat lagi terpendam.
Erangan dilenguhkan, kami mengejangg saling ingin terpuaskan, deru nafas tak lagi tertahan. Lalu kami berdekapan tidak ingin terpisahkan. Kami telah berhasil melepas gairah, memadu cinta, dan menyatukan raga.
Tiga kali aku menggaulli tubuh Sraya dan wanita ini tampak tidur karena kelelahan, kututupi tubuh polosnya dengan selimut tebal. Saat aku melirik ada noda darah sebesar uang logam sebanyak tiga titik.
Aku merasa bangga dan berterima kasih pada istriku karena telah menjaga kesuciannya dan ikhlas memberikan padaku. Kupeluk erat tubuhnya sampai kami tertidur dengan lelap.
Pagi telah menjelang, kulirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
KAMI KESIANGAN!
Melewatkan solat subuh yang biasa kami lakukan berjamaah bersama, apakah ini karena tidak ada Sagara yang biasanya membuat kami bangun tengah malam sehingga kami bisa tertidur pulas, atau?
Aku menggeliatkan tubuhku dengan gerakan pelan karena takut kalau membangunkan istri cantikku yang masih terlelap. Kujejakan kaki ke karpet kamar kami, rupanya bajuku masih berserakan di lantai.
Tak tega rasanya membangunkan Sraya, kukecup kening istriku. Wajah nya yang damai saat tertidur seperti menjadi magnet untukku bermalas-malasan agar bisa selalu mendekap tubuhnya sepanjang hari.
Kubiarkan ia beristirahat, aku sendiri memilih segera beranjak kedapur untuk membuat sarapan agar saat Sraya bangun nanti, ia bisa langsung sarapan tanpa harus repot-repot memasak lagi seperti biasanya.
Empat potong sandwich berisi telur, irisan daging yang disebut ham, keju, dan daun letuce dengan diberi sweet mayo juga saus sambal tomat telah selesai aku buat.
Kutunggu sampai Sraya bangun lalu kami sarapan bersama, sebuah pesan masuk dari Daren. Mengabarkan kalau anak itu baru saja tiba di Jakarta hari ini.
Biasanya setiap pagi ada Sagara yang membuat ramai pagiku, rasanya sepi sekali tanpa anak itu. Saat aku fokus menonton berita pagi di televisi, Sraya keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih segar.
Sraya tampaknya sudah mandi dan memakai baju turtle neck lengan panjang, aku tersenyum dan terus memperhatikan dirinya yang berjalan mendekat kepadaku.
Kenapa jalan Sraya agak aneh hari ini?
__ADS_1
Aku beranjak dari duduk dan menyambut Sraya dengan memeluk dan memberikan kecupan singkat di bibirnya yang selalu terasa manis. "Pagi sayang nya, Mamas."
Sraya memandangku dengan ekspresi geli, "Mamas?" ulangnya mengikuti perkataanku. Aku menganggung dan memeluknya lagi. "Mamas lebih mesra dan lebih manis, kan?"
"Pagi, Mamas. Hmm ... maap aku kesiangan." ucap Sraya malu-malu.
Aku mengajaknya untuk duduk. "Makasih ya, Dik. Untuk yang semalam, Mas bener-bener bahagia kamu udah nerima Mas dan ngasih ijin buas buat ..." kalimatku terpotong karena tiba-tiba Sraya membekap bibirku dengan tangannya.
See, Sraya tampak malu-malu saat aku menggoda atau membicarakan sesuatu yang intim. Sangat menggemaskan sekali sehingga rasanya ingin aku telan Sraya sekali lagi seperti semalam.
Namun aku tidak tega, melihat jalan nya saja pagi ini membuatku sadar kalau istriku itu masih merasakan sakit akibat perbuatanku semalam.
"Hmm ... yang semalem ... hmmm aku, aku juga bahagia kalo, Mas. Bahagia." ucap Sraya tertunduk malu.
Aku mengangkat dagu Sraya agar wajah kami sejajar. "Gimana rasanya?"
"Rasanya?" jawab Sraya dengan membulatkan mata indahnya, aku jadi semakin gemas karena telah berhasil membuat rona merah di wajah Sraya pagi ini.
"Hahahahaha," tawaku pecah
Sebuah cubitan panas di bagian pinggang mampu membungkam bibirku, mengganti tawa dengan ringis kesakitan karena ulah kecil Sraya.
Istriku itu kini memasang wajah sinis, "Mas itu suka banget godain aku, ini masih pagi. Aku aja belum sempet buat sarapan buat isi tenaga biar bisa bales, Mas," omel Sraya.
"Maaf, soalnya Mas gemes banget liat kamu malu-malu. Untuk sarapan kamu gak perlu khawatir, Mas udah buatin sandwich untuk tuan puteri Sraya."
Bergegas aku ke dapur untuk mengambil sandwich dan menuangkan dua gelas susu untuk diriku dan Sraya, kami makan dengan lahap karena tenaga kami yang terkuras karena penyatuan semalam.
Jam sebelas ibuku dan yang lainnya mengabarkan akan pulang dari hotel dan meminta Sraya tidak memasak hari ini karena ibu membeli makanan dari luar.
Benar saja selang satu jam kemudian bell apartemen berbunyi, aku membukakan pintu untuk mereka dan langsung mengambil Sagara dari gendongan ibuku karena sudah merasa rindu.
Sraya juga tampak menyambut ibu dan bude dengan salim terlebih dahulu kemudian membawakan makanan yang tadi ibuku serahkan padanya.
__ADS_1
Sraya tampak membawa makanan yang ibu bawa langsung ke dapur, langkah nya terhenti saat ibu membuka suara dan bertanya padanya.
"Sraya, Nduk. Kok jalan kamu aneh gitu toh?" sebuah pertanyaan polos dari ibuku, ibu Masayu tercinta.