
"Nastiti alhamdulillah baik-baik aja, sekarang dia lagi kerja di luar, Mas." jawabku atas pertanyaan mas Aslan.
"Udah lama banget aku gak ketemu sama ibu dan bapak kamu, Ram. Kabar mereka gimana?" tanya mba Sofi.
Aku melirik mas Akram seakan mengisyarat kan ia untuk menjawab nya, mas Akram seperti paham apa arti tatapanku, "Mereka baik," jawab mas Akram singkat.
"Oh iya, kenapa kalian baru melaksanakan resepsi setelah satu tahun menikah dan punya anak?" Mba sofi kembali bertanya kepada kami.
Aku dan mas Akram kembali saling lirik, aku merespon dengan cepat pertanyaan mba Sofi. "Kami menikah saat pandemi, Mba. Jadi kami hanya akad saja karena dilarang melaksanan acara yang menimbulkan keramaian."
Jawaban ku cerdas bukan? Saat masuk akal dengan logika dan situasi serta kondisi.
Mba Sofi hanya menganggukan kepalanya saja. "Lama juga yang, Ram. Kamu nge jomblo, aku aja taunya kamu menikah dari grup alumni. Anak kalian usianya berapa bulan? Terus rencana untuk punya anak kedua kapan nih?"
"Anak kami usianya dua bulan, bayi laki-laki yang sangat tampan dan sehat. Aku beruntung punya Sraya sebagai istriku, dia baik, cantik, dan setia!"
Aku melirik pada kedua pasang suami istri yang duduk di depanku ini, mereka terlihat seperti canggung setelah mendengar jawaban dari mas Akram.
"Dan rencana nya kami akan segera punya anak kedua, ketiga, dan keempat. Kalo bisa tiap tahun. Iya kan, sayang?" tambah mas Akram.
Aku agak tersenyum meringis mendengar jawaban mas Akram, aku bahkan belum menunaikan kewajibanku sebagai istri kepada mas Akram dan seketika aku merasa bersalah.
__ADS_1
"Kami doakan semoga terkabul ya keinginan kalian, karena kami sendiri sudah dua tahun ini berusaha untuk memberikan Aska seorang adik. Tapi nyatanya belum dikasih juga," Mas Aslan mengatakan semua itu dengan wajah yang tidak bisa ditutupi kalau ia menyimpan harapan.
Kunjunganku bersama mas Akram ke apartemen mba Sofi tidak lama, setelah berbincang-bincang sekedarnya yang didominasi dengan percakapan antara aku dan mba Sofi saja. Selebihnya mas Akram memilih untuk diam dan menjawab jika di tanya.
Aku merebahkan tubuhku di samping mas Akram yang sedang berbaring dan menatap layar handphone nya. "Mas, boleh gak aku tanya sesuatu?"
Salah satu yang aku suka dari mas Akram adalah ketika aku mengajaknya bicara saat ia tengah fokus pada sesuatu, ia akan berhenti sejenak dari kegiatannya dan menanggapi aku dengan baik.
Seperti saat ini, ia melepas kacamata bacanya kemudian menaruh di atas nakas bersamaan dengan handphone nya. "Boleh, mau nanya apa?"
Mas Akram merentangkan tangan nya, tanda agar aku merapat pada tubuhnya. "Mas, mba Sofi dan mas Aslan. Apa ada cerita yang belum mas kasih tau ke aku?"
"Aslan Benjamin Pradipha dulu nya sahabat Mas saat kuliah dulu, dan Sofia Lorent Queena itu mantan, Mas." Mas Akram mengganti posisi dengan memiringkan tubuhnya menghadapku.
Aku cukup terkejut mendengar jawaban suamiku. Ternyata benar dibalik sikap dinginnya pada mereka, terdapat sebuah cerita yang sampai saat ini aku tangkap kalau mas Akram sepertinya tidak terlalu menyukai mereka.
Malam itu mas Akram menceritakan semuanya, aku tidak banyak komentar. Aku menghargai perasaan dan posisi mas Akram saat itu.
Satu minggu telah berlalu, saat ini aku sudah selesai dengan tamu bulananku. Amel sudah mulai magang dan pulang saat sore hari, sedangkan mas Akram sesekali meminta izin untuk melakukan penjualan biji kopi dari kebun keluarga nya ke beberapa hotel dan restaurant.
Aku menghabiskan waktu dengan bayi kesayanganku yang tiap hari semakin lincah. Handphone ku berdering, kulihat ibu yang meneleponku. Dengan senang hati aku menrima panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
Ibu banyak bercerita dan memberi kabar nya dan mbo Darmi baik-baik saja di Bandung. Mas Akram juga memberikan ibu modal untuk membuka usaha toko bunga, salah satu impian ibu dan juga hobinya.
Di akhir obrolan kami, ibu menanyakan perkembangan hubungan kami. Ibu berbasa-basi menanyakan janji mas Akram yang tidak akan memaksa aku untuk memenuhi tanggung jawab sebagai istri, yaitu nafkah batin.
Aku menjawab dengan jujur karena mengerti maksud dari pertanyaan ibu.
"Ibu hanya berharap pernikahan kalian selalu bahagia. Sejauh ini ibu liat Akram sebagai lekaki yang bertanggung jawab dan sangat baik. Sraya, bagaimana pun Akram adalah lelaki normal, tidak baik megulur waktu terlalu lama. Kamu paham maksud ibu, kan. Nak?"
Aku terdiam sesaat mendengarkan nasihat ibuku, benar mas Akram adalah lelaki normal. Aku juga sudah ada perasaan pada mas Akram, lalu apa salahnya?
"Nak." tegur ibu dari sebrang sana.
"Iya bu Sraya ngerti apa yang ibu maksud, ibu benar. Sraya akan memberika yang terbaik untuk hubungan dan rumah tangga kami."
Setelah berbincang cukup lama, ibu menyudahi panggilan telepon kami.
Sudah jam lima, sebentar lagi mas Akram akan pulang. Aku memilih untuk memasakan makan malam untuk kami mumpung bayi kesayanganku sedang terlelap. Aku bersykur karena Sagara adalah bayi yang sangat anteng.
Bell apartemen berbunyi aku segera membukakan pintu, aku sangat terkejut setelah mendapati siapa yang datang.
"Ibu, Bude."
__ADS_1