Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Fakta


__ADS_3

''I--bu belum tidur?'' tanya Akram panik.


''Coba kamu katakan sekali lagi, Nak. Apa yang tadi kalian bicarakan?'' tanya masayu pada Sraya.


Tangan nya kini menggenggam tangan Sraya dan matanya menatap lurus pada mata Sraya.


''Ka-kami tidak membicarakan apa-apa, Bu. Bukan hal penting,'' jawab Sraya tertunduk.


Masayu seketika menangis, Sraya dengan sigap membawa nya keruang keluarga. Dan Akram membersihkan serpihan kaca yang berserakan.


''Ibu duduklah dulu, Sraya akan ambilkan air.''


Namun saat Sraya hendak berdiri tangan masayu menahan nya.


''Duduklah disini Ibu tidak haus, tolong katakan apa yang tadi kalian bicarakan?" tanya Masayu sekali lagi.


Suasana hening sesaat, kemudian Akram duduk diantara mereka dan menjawab pertanyaan Masayu.


''Ka--kami enggak membicarakan sesuatu yang penting, Bu. Hanya masalah … "


Belum selesai menjawab Masayu memotong perkataan Akram, kemudian dia menatap Akram dan Sraya bergantian.


''Ibu dengar semuanya, Nak. Saat kamu mengatakan bayi itu anak, Nastiti. Ibu kira telah salah dengar. Lalu Ibu terus mendengarkan kalian, sampai Nak Sraya mengatakan yang kedua kalinya kalau bayi itu memang anak Nastiti … Ibu …''


Akram memeluk sang ibu, tangis Masayu semakin pecah. Ia menumpahkan semua air matanya di dada bidang anaknya.


''Tatap mata Ibu Akram, dan katakan kalau Ibu salah dengar!''


Masayu meminta Akram melakukan sesuatu yang tidak bisa anaknya lakukan. Lidah Akram terasa kelu, matanya menatap mata sang ibu yang sedari menagis, raham Akram mengeras sampai bibirnya bergetar.


''Loh, Ibu, kenapa toh nangis malam-malam gini, bukan nya tadi Ibu mau ambil air?'' tanya pak Permana yang baru saja bangun.


''I-ibu … duduklah, Pak,'' pinta Masayu.


''Akram. Sraya, tolong katakan pada kami apa yang fakta sebenarnya, Nak?"


''Fakta? Maksud Ibu fakta apa toh?'' tanya pak Permana bingung.


''Bapak duduklah dulu, biar kita dengarkan dari mereka. Tadi Ibu ndak sengaja dengar mereka menyebut bayi itu adalah anak Nastiti.''


''A--apaaaa? Bagaimana bisa. Akram apa yang Ibu kamu bilang barusan benar?''


''I-iya Bu bayi itu anak dari Nastiti,'' jawab Akram lemas.


Kedua orang tuanya sangat terkejut. Masayu semakin menangis dalam pelukan Akram, pak Permana terlihat memijit kepala nya. Sraya yang melihat semua ini berinisiatif mengambilkan mereka minum agar lebih tenang.


''Ibu, Bapak, Mas Akram minum lah dulu. Agar bisa lebih tenang.''

__ADS_1


Sraya meletakan tiga gelas air ke atas meja, kemudian duduk bersama mereka lagi.


''Makasi Nduk,'' ucap pak Permana yang dibalas senyuman.


''Bapak dan Ibu, sebenarnya Mas Akram engga salah. Mas Akram juga baru tahu baru baru ini setelas Nastiti melahirkan.''


Akram menatap Sraya begitu juga kedua orangtua nya yang menunjukan wajah yang semakin terkejut.


''Apa benar, Akram?'' tanya Permana memastikan.


''Iya, Bu. Akram baru tau setelah Nas melahirkan.''


''Coba kalian ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Nastiti dan dimana dia sekarang?'' Masayu merasa tidak sabar.


Akram melirik pada Sraya dan gadis itu hanya memberi kode yang langsung di pahami Akram.


''Saya kenal dengan Nastiti setalah Nas menjadi langganan tetap caffe kami. saat itu Nas bekerja di perusahaan yang tidak jauh dari tempat Sraya kerja, selama saya kenal Nastiti. Saya bisa melihat dia adalah anak yang baik, sopan, dan ramah… Semua temen kerja Sraya suka dengan pribadi anak Ibu dan Bapak.''


Sraya mengawali cerita nya dengan mengatakan hal hal baik untuk memberikan semangat kepada orang tua Akram.


''Tapi selama tujuh bulan Sraya tidak pernah bertemu Nastiti lagi, sampai dua bulan yang lalu tepatnya. Kami bertemu di Bandung dengan keadaan Nastiti sudah mengandung.''


''Apa yang kamu ceritakan ini benar? Apa Nastiti benar benar hamil, apa kamu punya buktinya?''


Apa yang di tanyakan Masayu tidak salah bagi Sraya, wajar bagi seorang yang baru kenal pasti tidak mudah percaya begitu saja. Sraya terseyum dan bangun dari duduknya.


Sraya masuk kedalan kamar untuk mengambil handphone nya sambil mengecek bayi sagara yang masih tertidur pulas, kemudian kembali pada mereka.


''Ini adalah foto Nastiti, dan ibu saya, juga mbok Darmi.''


Sraya memperlihatkan beberapa foto yang dulu Nastiti ambil dan dikirim ke Sraya saat masih hamil.


''Dan ini adalah foto saya dan Nastiti. Ibu bisa memastikan, ini Nastiti atau bukan?''


Kali ini Sraya menunjukan foto-foto saat dirinya bersama Nastiti saat terakhir kali memeriksakan kandungan nya ke bidan desa.


Masayu dan Permana melihat foto foto yang ditunjukan Sraya, mereka tidak dapat berkata kata lagi. Handphone Sraya bahkan hampir terjatuh kalau Akram tidak menahan nya.


''I--ini anak kita Nastiti, Pak. Terus bagaimana kalian bertemu dan Nastiti bisa bersama kamu, Nak?''


''Kami bertemu lagi dengan Nastiti di Bandung saat usia kandungan Nastiti berusia tujuh bulan. saat itu Saya membawa Nastiti untuk main kerumah, dan ternyata Nastiti sangat menyukai tinggal di desa saya, Bu, Pak.''


''Lantas apa ayah dari bayi itu bersama Nastiti saat kalian bertemu?'' tanya Permana.


Akram terus memperhatikan Sraya yang bersikap tenang saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari orangtuanya.


''Saya engga pernah melihat Nastiti bersama lelaki, Pak. Saat Nastiti memilih untuk menetap di desa saya, ibu melarang Nastiti untuk tinggal sendiri dirumah yang akan Nas beli. Ibu meminta Nas tinggal bersama ibu saya dan mbok Darmi, pernah kami menanyakan ayah dari anak yang Nastiti kandung? Tapi Nas masih enggan untuk bercerita. Jadi kami tidak bisa memaksa, karena itu menyangkut privasi seseorang.''

__ADS_1


''Kenapa Nastiti engga pernah cerita ke kita, Pak? Kenapaaa? Nastiti anak kita itu orang yang lembut, sangat baik, dan tidak pernah menyusahkan kita. Bagaimana bisa seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi dengan anak kita?'' Masayu masih saja menangis sesegukan.


''Karena Nastiti anak yang sangat baik. Maka dari itu dia tidak ingin membuat Bapak dan Ibu susah apalagi bersedih, mungkin ada alasan lain yang belum bisa Nastiti beri tahu ke kita. Tapi saya berani jamin selama Nastiti tinggal bersama orangtua saya, Nas sangat baik dan berprilaku sopan.''


Akram tau kalau Sraya tidak menceritakan semuanya kepada orang tuanya. Dia sangat berterima kasih kepada Sraya.


''Lantas bagaimana kamu bisa tau, Nak. Kalau Nastiti melahirkan?'' sekarang giliran Permana bertanya pada Akram.


''Saat Nastiti melahirkan Akram masih di Jawa Timur, Pak. Nastiti sendiri yang menghubungi Akram. Tapi karena jarak yang jauh Akram tidak sempat bertemu dengan Nastiti, dia hanya meninggalkan surat,'' jawab Akram sedikit berbohong.


''Memangnya kemana Nastiti pergi saat baru saja melahirkan, lalu dimana surat yang Nastiti tulis? Ibu mau membaca nya.''


''Surat nya ada dirumah ibu saya, Bu. Mas Akram kemarin lupa membawa nya,'' potong Sraya dengan cepat.


''Benar, Bu. Surat nya ada dirumah ibu nya Sraya. Tapi disurat itu Nastiti menuliskan permintaan maaf nya pada kita, dia pergi ke suatu tempat karena ada hal penting yang harus Nastiti lakukan. Suatu hari nanti Nastiti berjanji akan pulang dan meminta kita untuk tidak khawatir karena Nastiti dalam kondisi yang baik-baik saja, tidak ada masalah. Nas, juga menitipkan bayi nya pada Sraya dan Akram.''


''Orangtua mana yang tidak khawatir, Nak. Mendapati kabar putri semata wayang nya tiba-tiba telah memiliki anak tanpa kita tahu ayah dari anak itu? ditambah, Nastiti pergi begitu saja. Perasaan Ibu sekarang ini sangat sedih, hancur, dan khawatir.''


Masayu mengatakan hal itu sambil memukul mukul dadanya yang begitu sesak. Permana langsung memeluk istrinya dan menangis bersama. Akram memalingkan muka saat melihat kedua orangtuanya, ia tak dapat membendung air matanya lagi.


Lalu Akram pindah ke sisi Sraya, gadis itu mengelus punggung Akram perlahan untuk menenangkan.


''Akram berjanji akan mencari Nastiti, Pak. Bu, Akram akan mencari adik satu satunya yang Akram punya. Maaf karena tidak bisa menjaga, Nas.''


''Bapak percayakan semunya pada kamu, Nak. Carilah Nastiti, Bapak. Yakin ada alasan Nastiti melakukan semua ini, Nastiti adalah anak yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya.''


Setelah bu Masayu terlihat lebih tenang, Sraya membawa bayi sagara pada mereka. Masayu menimang cucu nya itu, ia perhatikan wajah Sagara dengan seksama.


Ada raut wajah Nastiti yang terlihat sangat jelas, Masayu menciumi sagara di setiap inci wajah mungil bayi tersebut.


''Jadi kamu dan Nak Sraya tidak memiliki hubungan Akram?'' tanya Permana memastikan.


''Engga Pak saya dan Sraya tidak memiliki hubungan, Sraya sesekali datang kesini untuk memastikan keadaan sagara. Dia tetap tinggal di kosan nya dan tetap bekerja,'' jelas Akram.


Mendengar hal itu Masayu menjadi terharu. Gadis yang ada di hadapan nya ini selain terlihat cantik ternyata juga sangat baik dan hangat.


Ia dan keluarga nya mau menerima anaknya Nastiti saat mengandung, Sraya juga mau membantu mengurus Sraya di tengah kesibukan nya.


Masayu menggengam tangan Sraya dengan lembut


''Sraya, maafkan Ibu ya, Nak. Ibu sudah berpikiran dan menanyakan hal yang macam macam ke kamu.''


''Sraya bisa mengerti apa yang Ibu pikirkan dan rasakan, hal yang sangat wajar, Bu. Sraya tidak marah sama sekali.''


''Apa besok Ibu boleh bertemu dengan orang tuamu, Nak?'' tanya Masayu lembut.


Sraya dan Akram saling tatap mendengar permintaan Masayu.

__ADS_1


__ADS_2