Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Pesona Akram


__ADS_3

''Boleh, Bu. Tentu sangat boleh, tapi apa bisa menunggu dua hari lagi? Saat Sraya libur kerja?'' tanya Sraya.


''Tentu, Nak. Tentu maaf kalo sudah salah paham dan merepotkan Nak Sraya selama ini.''


''Tidak sama sekali, Bu.'' Sraya tersenyum.


''Jadi ini alasan kamu memilih untuk tidur di sofa Akram? Karena kalian bukan suami istri,'' celetuk pak Permana.


''Ya jelas toh, Pak. Masa kami harus berpura -pura jadi suami istri dan tidur berdua.''


Jawaban Akram membuat Permana terkekeh.


''Yasudah kamu tidur sama Ayahmu saja di kamar tamu, Ibu akan tidur sama Sraya dan cucu ibu. Kamu mau, Sraya?'' tanya Masayu.


''Iya, Bu. Sraya mau,'' jawab Sraya malu-malu.


Akram bisa bernafas lega, Sraya bisa membantunya mengendalikan situasi yang ada meski Akram yakin orangtua nya masih sedih, setidaknya kesalahpaham antara dirinya dan Sraya sudah bisa diluruskan.


Pagi itu masayu untuk pertama kalinya memandikan dan mengurus cucunya, Sraya menyiapkan sarapan untuk mereka berempat. Kemarin ia tak jadi masak dan tidak ada yang bernafsu makan.


Ayam goreng, capcai udang, tahu dan tempe, serta salad buah sudah tertata rapi di meja makan yang berisi empat buah kursi. Jumlah yang pas untuk mereka, Sraya mengajak Akram dan orangtuanya untuk sarapan.


''Makasi Sraya kamu sudah mau masak untuk kami, padahal Ibu bisa nyuruh Akram untuk beli saja diluar.''


''Sama-sama, Bu. Kemarin Sraya memang berniat untuk masak tapi enggak jadi. Semoga masakan saya pas dilidah, Ibu.''


Gadis itu menuangkan nasi ke piring Permana, Masayu, dan Akram bergantian. Masayu mencicipi masakan Sraya dan memandangi gadis itu beberapa detik, membuat Sraya sedikit gugup.


''Sraya masakan kamu enak sekali, bumbunya sangat pas, dan rasanya sangat pas di lidah, Ibu. Pak coba kamu cicipi ayam goreng nya, sayur nya juga.''


Masayu terihat sangat antusias, Permana menuruti istrinya dan mulai mencicipi masakan Sraya. Pujian juga datang dari Permana, membuat Sraya tersipu malu sekaligus senang.


''Masakan, Dik. Sraya memang enak Pak, Bu. Akram juga senang kalo Sraya sudah masak. Serasa Akram makan masakan rumahan.''


Masayu sangat senang mendengar nya begitu juga dengan permana. Kedua suami istri yang sudah berumur tetapi masih cantik dan tampan diusianya itu saling pandang dan tersenyum. Senyum yang menyimpan makna, hanya mereka yang tahu.


''Nak, Sraya. Apa setelah ini akan kerja?''


''Iya, Pak. Jam delapan nanti Sraya berangkat kerja, harus nya jam tujuh tadi tapi saya sudah minta ijin.''


Sraya membereskan piring piring bekas sarapan pagi mereka dan mencuci nya. Masayu hendak membantu tetapi dicegah oleh Sraya.

__ADS_1


''Maaf ya, Nak. Kami mengganggu waktu kamu.''


''Ahhh … Ibu jangan minta maaf terus. Ini hari pertama Ibu dan Bapak disini, jadi Sraya melakukan apa yang Sraya bisa"


Setelah selesai mencuci piring Sraya bersiap siap untuk pergi bekerja.


"Kamu berangkat kerja dengan siapa, Nak?'' tanya pak Permana yang saat itu sedang menimang Sagara di sofa.


''Sraya ada yang jemput, Pak. Kebetulan kami searah. Mungkin sebentar lagi akan sampai.''


''Apa dia pacar kamu, Nak?'' semua nya kini memandang Masayu.


''Bukan, Bu. Dia teman kerja Sraya."


''Akram apa kamu engga berniat membeli mobil? Biar mudah kalau kita mau bepergian, biar kamu juga bisa mengantar Sraya kerja. Masa Sraya sudah banyak membantu kita, masih dibiarkan pergi sendiri,'' cecar sang ayah.


Akram memandangi ayah nya yang tampak serius.


''Iya, Pak. Nanti Akram beli, Akram juga kan baru beberapa hari di Jakarta. Akram juga gak bisa kemana-mana karena mengurus Sagara.''


''Makanya kamu ini cari istri Akram, umurmu sudah dua puluh tujuh. Sudah waktu nya untuk menikah, kamu ini kebanyakan nolak perempuan sampe pindah ke Jawa Timur.''


Masayu memberi ceramahnya pagi-pagi, Sraya hanya tersenyum mendengarnya. Akram sendiri muka nya sudah terlihat merah.


Handphone Sraya berdering, telepon masuk dari chef Andrean yang akan pergi bekerja bareng dan menunggu di parkiran apartment. Sraya pamit kepada orang tua Akram.


''Pak, Bu. Sraya pamit pergi kerja dulu, kalo ada sesuatu yang Ibu perlukan jangan sungkan untuk kasih tau saya ya, Bu. Mas Akram tau kok nomor hp Sraya.''


Sraya menyalami Masayu dan Permana bergantian kemudian menciumi Sagara dengan gemas.


''Kamu pulang jam berapa, Nak?''


''Sraya pulang jam empat, Bu''


''Apa bisa kamu pulang nya kesini lagi, Nak? Ibu butuh teman. Bisa ngga, Sraya,'' pinta Masayu sedikit memaksa.


''InsyaAllah, Bu. Tapi Sraya akan pulang ke kosan dulu untuk berganti baju.''


''Iya, Nak. Engga masalah, kamu hati hati dijalan ya, Nak. Ibu tunggu kamu pulang kerja.''


Sraya pergi bersama chef Andrean. Sesampai nya di caffe Rio sudah tampak sibuk prepare mengolah bahan makanan, hendi dan ferdi sibuk dengan mesin dan alat alat barista

__ADS_1


Beberapa karyawan lain nya juga demikian, termasuk Sulis dan Rara mengelap lcd dan mesin edc di meja kasir.


''Mba Sraya berangkat sama chef Andrean?'' tanya Rara pada Sulis.


''Iya. Itu kamu liat sendiri, kan?'' Sulis masih sibuk membersihkan area kasir.


''Kayaknya chef Andrean suka sama Mba Sraya deh, coba kamu perhatikan beberapa hari belakangan ini mereka tampak lebih dekat.''


Rara mengajak Sulis untuk olahraga mulut di pagi hari, Sulis menghentikan pekerjaan nya dan memperhatikan Sraya dan Andrean yang baru saja memakai apron untuk membantu Rio.


''Wajar sih chef Andrean suka sama mba Sraya. Kak Rio, Hendi, dan Ferdi saja suka, tapi mba Sraya nya enggak pernah nanggapin sampe mereka menyerah,'' kekeh Sulis.


''Kak Rio kan emang playboy waktu aku baru kerja disini aja jadi sasaran kak Rio.''


''Bukan kamu aja Ra, aku juga pernah di deketin kak Rio.''


''Tapi chef Andrean keliatan nya lebih cool dan kalem ya." Rara membandingkan Rio dan Adrean.


Di dapur saat Sraya dan Andrean baru masuk, Rio sempat misuh-misuh karena mereka berdua telat. Rio hampir kewalahan mengolah bahan yang ada.


Caffe semakin hari semakin ramai pengunjung. Bukan untuk sekedar makan atau memesan kopi, tapi beberapa customer sengeja datang utuk melihat Andrean dan Willem.


Sangat menarik di mata mereka karena wajah bule nya. Willem seorang darah Perancis asli, sedangkan Andrean belasteran Indo. Andrean tak lain keponakan dari Willem.


Saat bergantian shift dan bersiap untuk pulang, Willem mengumpulkan seluruh karyawan nya dan memberikan mereka satu persatu undangan makan malam.


Sebenarnya tiga hari lagi willem dan istrinya akan mengadakan acara natal. Karena semua karyawan nya beragama muslin willem hanya mengadakan acara makan malam saja satu hari hari setelah natal, Willem melarang seluruh karyawan nya membawa hadiah


Semua karyawan menerima undangan Willem dengan senang dan caffe akan tutup lebih awal dihari itu karena Willem ingin berkumpul dengan seluruh karyawan nya.


Mereka berkumpul di area dining lantai satu yang menghadap pintu masuk, caffe Willem termasuk caffe yang cukup besar hingga tidak mengganggu customer yang sedang makan..


TINGGGGGG.


Suara pintu caffe yang dibuka. semua orang seketika memandang kearah pintu.


Lelaki yang tinggi dan tegap, terlihat tampan dimata mereka. mirip artis artis asia, lelaki itu mengenakan sweater hitam dan celana dasar putih serta kacamata hitam.


Saat dia masuk tercium wangi parfum yang sangat harum dari brand ternama.


''Gilaaaa ganteng banget,'' seru Sulis dan Rara bersamaan.

__ADS_1


Beberapa customer perempuan mulai menunjukkan gestur tubuh yang seakan mencari perhatian.


__ADS_2