
''Bude Rus udah tau tentang aku, Bu. Dia mengancam Amel.''
''Sudah Ibu bilang kan Amel, pikirkan dulu sebelum bertindak. Bude Rus itu orang yang cerdik.''
''Amel kesal Ibu, Amel ga terima mas Akram menikahi mba Sraya."
"Kamu tenanglah Amel, jangan sampai bapak kamu tahu kalau kamu yang sudah menyebarkan fitnah pada Akram dan Sraya."
"Seharusnya sekalian aja Amel kasih tau orang-orang kalau Sagara itu anak mba Nas.''
Lita membekap mulut anaknya yang mulai mengeraskan suara, ia tidak ingin ada yang tahu semua rencana mereka.
"Pelankan suaramu Amel, ingat! Yang tahu masalah ini hanya keluarga. Kalau sampai orang-orang pada tau, mereka akan curiga sama kita. Sekarang lebih baik kamu cari buktinya saja."
Sore itu Akram mengajak istri dan keponakan nya jalan-jalan di sekitar desa. Banyak warga yang menyapa mereka.
Akram dan Sraya sangat serasi ketika mereka berjalan berdampingan, sesekali Sraya mengangguk saat berpapasan dengan warga desa.
Ada yang menatap sinis pada Sraya, ada juga yang menyapa. Penampilan Sraya yang sederhana namun terlihat elegan itu membuat banyak pasang mata merasa iri dan kagum.
Akram mengajak Sraya mampir ke warung bakso yang cukup terkenal di desa nya, cuaca yang sedikit panas dan sedang ramai pembeli. Membuat Sagara tidak nyaman sampai menangis.
Sraya menggendong Sagara saat bakso yang mereka pesan sudah diantar.
"Kamu makan aja dulu aja biar aku yang gendong Sagara."
"Engga, Mas. Kamu makan aja dulu, kalau udah dingin gak enak. Aku mau nenangin Sagara dulu," jawab Sraya.
Akram tahu kalau Sraya tidak akan tenang kalau ponakan nya itu sudah menangis. Akram dengan cepat menghabiskan baksonya.
Sagara sudah tenang, tetapi tidak bisa lepas dari gendongan Sraya. Akhirnya suami nya itu dengan perlahan menyuapi Sraya sesendok demi sesendok bakso ke mulutnya.
"Mas Akram …" Akram menoleh pada orang yang menyapa, tangan nya tetap fokus menyuapi Sraya.
"Loh, Mas Restu?"
"Apa kabar Mas Akram? lama ndak liat tau-tau pulang sudah bawa keluarga.''
Akram memberi isyarat agar pria yang bernama Restu itu duduk bersama mereka setelah bersalaman.
"Iya Mas Restu, alhamdulillah sudah ketemu jodohnya. Kenalin ini Sraya Istri saya, dan ini Bayi kami namanya Sagara."
"Saya Restu, Mba. Temen ronda Mas Akram," ucap Restu mengenalkan dirinya
"Salam kenal, nama saya Sraya, Mas," Sraya mengenalkan dirinya dan berjabat tangan.
__ADS_1
"Mba Sraya, tau ndak? Mas Akram ini dari kami kecil sampai sekarang, selalu jadi idola perempuan di desa ini," seru Restu.
"Kamu ini bisa aja Mas Restu," Akram kembali menyuapi istrinya bakso.
"Apa Mas Akram ini banyak mantan nya, Mas?" tanya Sraya bercanda.
"Mas Akram ini selalu menghindar, Mba. Makanya saya kaget tau-tau dapet undangan."
Mereka semua terkekeh, obrolan mereka berlanjut dengan membicarakan banyak hal. Mulai dari pekerjaan, masa kecil, dan petemanan mereka.
Sraya yang ditanya tentang kehidupan nya pun sesekali menjawab. Orang-orang yang sedang makan di warung itu ikut mendengarkan.
Bagaimana tidak? Akram dan Sraya beberapa hari ini menjadi perbincangan hangat. Mereka mendapat informasi kalau Sraya adalah seorang chef di sebuah caffe di jakarta.
Setiap berita tentang pasangan pengantin baru itu cepat menyebar, bahkan sebelum bakso yang dimakan Sraya habis.
Saat mereka pulang dan berjalan kerumah. Beberapa ibu-ibu mengajak Sraya berkenalan dan mengundang Sraya untuk hadir di perkumpulan seperti PKK.
Hari resepsi Sraya dan Akram tiba. Sebuah aula yang cukup besar di dekat desa telah Masayu pesan.
Aula itu disulap menjadi sangat mewah dengan bernuansa putih yang sakral, sengeja Masayu memilih vendor-vendor yang terkenal dari kota mereka.
Sraya pagi ini dirias oleh MUA ternama, riasan dengan look flawless menyempurnakan wajah cantik Sraya.
Akram sendiri terlihat seperti pangeran dengan penampilan gagahnya, sebuah keris dikenakan di belakang baju. Menambah wibawa seorang Akram.
Para tamu undangan dibuat ternganga menghadiri pesta yang Masayu buat. Makanan dengan berbagai macam hidangan, mulai dari masakan nasional sampai internasional.
Siang hari Sraya dan Akram mengganti baju dengan tuxedo dan gaun pengantin yang membalut tubuh indah Sraya.
Willem dan beberapa teman Sraya dari Cordy Caffe tampak hadir, mereka berfoto bersama
Sraya dan Akram. Makin menambah gosip di antara warga kampung.
Ditengah acara bahagia mereka ada beberapa orang yang tidak suka. Amel dan Lita memasang wajah pura-pura bahagia, sesangkan Andrean semakin sendu melihat Sraya.
Saat Akram menyapa beberapa tamu, Sraya tetap memilih duduk di pelaminan. Tidak sengaja Sraya melirik ponsel Akram yang bergetar karena notif pesan masuk.
Sebuah pesan dengan aksara yang tidak Sraya ketahui, tidak lama ponsel Akram berdering. Menampilkan foto profil dari seseorang yang menelpon.
Seorang wajah pria yang sudah berumur, mirip dengan Akram tetapi rambutnya sudah memutih. Meski begitu tidak mengurangi ketampanan si penelpon.
"Mas Akram … ada telepon," ucap Sraya agak tinggi karena suara musik yang menggema.
Suaminya itu segera meghampiri dan menerima handphone yang Sraya berikan. Akram melihat ada beberapa pesan dari orang berbeda.
__ADS_1
Satu pesan dari penelpon yang istrinya lihat ia abaikan. Ia lebih antusias menerima pesan dari satu orang lainnya.
"Nona Nastiti terkonfirmasi sedang berada di Brisbane, Australia. Tuan. Ia bersama seorang dokter bernama Reihan. Dokter Rei yang selama ini membantu nona Nastiti'."
Akram membaca pesan itu dan segera membalasnya.
''Kirim semua detail tentang dokter Rei, tetap awasi dan bantu mereka kalau mengalami kesulitan saat disana.''
Sebuah pesan balasan kembali masuk ke handphone Akram.
''Perintah anda akan saya terima dengan baik tuan. Selain itu saya juga telah menerima laporan tentang orang yang anda minta tuan, dan telah mengirimkan ke email milik anda. Silahkan tuan baca.''
Sraya menyadari raut wajah suami nya berubah menjadi serius saat menatap ponselnnya. Mata akram yang memang sangat tajam itu, menambah ketegasan dan memancarkan aura yang mendominasi.
"Mas, ada apa?" Sraya menyentuh lengan Akram.
"Tidak apa-apa, Dik. Hanya ada masalah kecil di perkebunan. Beberapa batang kopi terkena hama," jawab Akram berbohong.
"Berapa banyak, Mas?" tanya Sraya.
"Hanya sekitar tiga ratus batang, Dik. Tidak perlu khawatir karena para pekerja sudah mengurusnyan. Mereka hanya memberi kabar."
Acara hari itu berjalan lancar dibawah pengaturan vendor dan Mc. Beberapa foto diambil sebagai kenang-kenangan.
Meski begitu tetap dihati Masayu dan Permana terdapat kesediahan dan luka yang mereka tutupi sebaik mungkin.
Jauh dari desa Sukomukti. Tepatnya kota Brisbane, Australia
Nastiti dan dokter Rei sibuk membenahi sebuah rumah yang mereka tempati. Sudah satu bulan mereka tinggal di kota tersebut.
Nastiti memansang lurus dari dinding kaca rumah yang dibeli dokter Rei, kedua tangan terlipat di depan dadanya.
"Sudah satu bulan aku meninggalkan anakku."
Rei menghampiri Nastiti dengan membawakan nya secangkir teh hangat
"Aku sangat yakin Sraya dan kakakmu Akram, mengurus Sagara dengan baik."
"Aku berjanji akan membalaskan semua luka yang sudah Max dan Nat buat!"
"Aku percaya kamu mampu, Nas. Aku bahkan sudah melihat kekuatanmu dalam menghadapi semua ini," ucap Rei memberi semangat.
Nastiti menatap wajah tampan dokter Rei. Kemudian ia mengingat masa-masa sulit di tengah kehamilan nya.
Nastiti sudah bertekad dalam hatinya. Ia akan mengubah dirinya yang dulu selalu lemah lembut, menjadi wanita yang berhati dingin untuk orang-orag yang sudah menghancurkan kehidupan nya.
__ADS_1