Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Makan malam


__ADS_3

Sraya sedang bermain dengan baby Sagara di kamar, Akram berada Dikamar mandi. Kemudian handphone suaminya berdering.


''Mas, ada telepon." Sraya agak berteriak.


''Angkat saja, Dik,'' jawab Akram dari kamar mandi.


''Halo selamat sore,'' sapa Sraya.


''Halo selamat sore, apa benar ini nomor handphone bapak Akram?'' tanya seseorang dari sebrang sana.


''Ya benar, saya istrinya. Apa ingin bicara langsung dengan suami saya?''


''Oh saya kurir yang mengantar barang pesanan pak Akram, bu. Unit apartrment pak Akram ada dilantai berapa ya. Dan nomor berapa?''


''Lantai dua puluh delapan, nomor empat-A, pak.''


''Baik saya sedang ada di loby apartement. Apa bapak atau ibu ada di tempat?'' tanya kurir memastikan.


''Ada, pak. Silahkan antar langsung kemari.''


Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan kurir. Sraya meletakan hp Akram kembali ke nakas, ia kemudian sibuk dengan hp nya sendiri untuk memotret baby Sagara.


Akram yang sudah selesai mandi dan telah memakai pakaian lengkap bergabung dengan mereka. Sesekali Akram menciumi ponakan yang menjadi anaknya.


Bell berbunyi, segera Akram membukakan pintu dan memberi tips untuk kurir. Sraya melihat Akram masuk ke kamar dengan membawa lima buah paperbag dari butik yang cukup terkenal.


''Dik, tadi Mas memesan baju untuk acara makan malam dirumah Mister Willem nanti.''


Akram menaruh paperbag itu di dekat Sraya, dan meminta Sraya untuk membuka nya.


''Mas beli baju baru?''


''Ya, baju untuk kita. Kamu, Mas dan Sagara.''


Sraya menahan nafas melihat tag harga ketiga baju tersebut, dan memandang sang suami.


Akram hanya mengangkat bahu nya santai, kemudian meminta Sraya untuk mencoba baju yang ia pilihkan untuk istrinya.


Sebuah dress berwarna hitam dengan model sederhana tetapi sangat terlihat elegan, sangat pas di badan Sraya.


Tak hanya itu Akram juga membelikan istrinya sepatu berwarna cokelat muda dengan hiasan manik yang sangat indah, juga sebuah tas senada dengan sepatu.


'M-mas ini sangat mahal … aku masih ada baju yang bisa dipakai acara nanti malam.''


''Tidak ada kata mahal untuk seorang istri, pakaian, tas, dan sepatu itu sangat pantas untuk kamu Sraya. Anggap saja sebagai pemberian pertama, Mas. Sebagai suami.''


Akram terpesona dengan penampilan istrinya, ia memperhatikan dari ujung kepala sampai kaki membuat pipi Sraya bersemu merah.


Akram sendiri memilih pakaian dengan warna yang sama dengan Sraya. Sebuah kemeja slimfit yang membentuk badan sixpack Akram, baby Sagara juga terlihat menggemaskan dengan jumpsuit nya.


''Kamu yakin ingin mengenalkan Sagara sebagai anakmu, Sraya?'' tanya Akram.


''Tentu saja, Mas," jawab Sraya mantap.


''Delapan jam dalam sehari kamu bersama mereka, bagaimana mungkin mereka akan percaya?''


Sraya tampak berpikir, ia baru sadar kalau omongan Akram benar adanya. Ia hanya terlalu menyayangi Sagara dan menganggap anak.

__ADS_1


''Katakan kalau anak ini adalah anak Nastiti, jika mereka bertanya. Kamu bisa bilang Nastiti saat ini sedang ada urusan dan menitipkan bayinya pada kita.''


''Tapi maaas …"


''Aku tidak ingin membuat kamu menanggung semua nya, Sraya. Kamu sudah mau mengurus Sagara dan menyayangi nya saja, Mas. Sangat senang.''


Mereka bertiga datang ke undangan makan malam Willem, agak telat dari jadwal karena harus mengurus Sagara lebih dulu.


Sesampai nya dirumah Willem, semua teman nya tampak sudah berkumpul.


Sraya menjadi pusat perhatian karena datang dengan Akram dan mendorong stroler bayi. Mereka lebih terkejut saat mengetahui Sraya telah menikah dengan Akram.


''Aku ga nyangka Mba Sraya menikah dengan Mas Akram, ini benar-benar berita yang sangat, sangat, sangat mengejutkan!'' tegas Sulis.


''Benar! Bagaimana bisa mendadak, ah aku sudah curiga sejak Mas Akram menjemput Mba Sraya di caffe waktu itu,'' tambah Rara.


Mereka berkumpul di sebuah meja yang melingkar di pinggir kolam renang. Ada Sraya, Akram, Sulis, Rara, Rio, dan Andrean.


Akram sesekali melirik Andrean yang berubah sendu sejak mengetahui Sraya telah menikah, Akram semakin yakin kalau Andrean memang menyukai istrinya.


''Tentu saja saya harus bergerak cepat, saya takut kalau Sraya dipinang lelaki lain.''


Jawaban Akram sekali lagi sukses membuat Sraya bersemu merah di depan teman teman nya, sedangkan Sulis dan Rara hanya terlihat heboh.


''Sejak kapan kalian dekat dan memulai hubungan?" tanya Rio penasaran.


''Saat pertama bertemu kali sengan Sraya saya sudah menyukainya. Ditambah kedekatan Sraya dengan, Nastiti. Adik saya, siapa sangka mereka sangat dekat. Takdir memang tidak bisa ditebak.''


Kali ini Akram menjawab jujur. Baby Sagara sejak pertmama mereka datang sudah berpindah kedalam gendongan nyonya Sarah, istri dari Willem.


Willem dan Sarah memang belum memiliki anak meski sudah menikah selama lima tahun, saat melihat Sagara. Mereka sangat senang dan membawa bayi itu kesana kemari seperti anak sendiri.


''Wellcome Max, Natt. Senang sekali kalian bisa hadir di acara makan malam sederhana kami.''


''Tentu, Sarah. Kamu adalah salah satu teman baikku saat aku kuliah di Paris. Tentu saja aku dan Max akan datang.''


Kedua wanita itu berpelukan dan cipika-cipiki ala perempuan, Max sendiri hanya terlihat datar dan fokus nya sekarang kepada Sagara yang ada dalam gendongan Sarah.


"Bayi ini adalah bayi yang tadi ia temui di mall, suatu kebetulan bisa bertemu lagi." Maxwell membatin


Pikiran Sraya berkecamuk. Bagaimana kalau Maxwell bertanya sesuatu dengan Sarah mengenai Sagara? Apalagi Akram dan Sraya mengenalkan sebagi keponakan mereka, anak dari Nastiti.


Willem yang hendak menghampiri Max dan Natt ditahan Sraya dan membawa nya ke sisi lain. Willem sangat bingung dengan sikap Sraya yang panik seperti ketakutan.


''Hei ada apa? Kenapa kamu tampak tegang sekali, Sraya. Apa terjadi sesuatu?''


''Sa--Sagara, Boss … Sagara,'' ucap Sraya terbata.


''Oke tenang lah, ada apa dengan Sagara? Terjadi sesuatu?'' tanya Will bingung.


Saat Willem hendak mengambilkan Sraya minum agar lebih tenang, lagi-lagi Sraya menahan nya.


''Boss ada hal yang sangat penting yang akan aku katakan! Apa Boss mengenal pria itu, Maxwell ?''


''Ya aku kenal dengan Max, dia suami dari Natt. Teman dari istriku, Sarah. Ada apa Sraya?''


Sraya menarik nafas dalam, ia akan menceritakan kepada Willem tentang hubungan Max dan nastiti serta Sagara.

__ADS_1


Selama lima tahun bekerja dan mengenal Will, Sraya sangat percaya Will adalah orang baik dan dapat dipercaya. Selain itu Will selalu netral.


Willem sangat terkejut mendengar cerita dari Sraya, ia bergegas menyusul istrinya sebelum sang istri mengatakan yang sebenarnya saat Max atau Natt bertanya tentang Sagara.


Dan benar saja Natt sudah penasran dengan Sagara dan bertanya pada Sarah, Willem sempat memperhatikan Max yang terus saja memandangi Sagara.


''Jadi siapa anak tampan yang kau gendong ini, Sarah?'' tanya Natt.


''Oh ini adalah anak dari …''


''Max, Nat. Selamat datang. Kenapa kalian telat? Aku berpikir kalian tidak datang dan sempat kecewa.''


Willem memotong cepat perkataan istrinya. Akram yang daritadi tidak melihat keberadaan Sraya mulai mencari.


Akram melihat Sraya mematung dan mengikuti arah pandangan istrinya itu. Lagi lagi Sraya terkihat takut saat ada Maxwell.


Tanpa Sraya sadari Akram sudah menghampiri Sarah dan mengambil alih Sagara.


''Maaf Nyonya Sarah, sepertinya anak saya menangis, boleh saya mengambilnya?'' pinta Akram sopan.


''Ohh tentu. Maaf karena aku sudah terlena dengan anak ini.''


Sarah menyerahkan Sagara pada Akram, dan Akram langsung membawa pergi Sagara setelah mengangguk pada mereka.


''Jadi dia ayahnya?'' tanya Natt.


''Oh sebenarnya dia …''


''Sayang, kenapa kamu tidak mengajak Max dan Natt duduk. Ohh apa ini bingkisan untuk kami.''


Willem mengalihkan perhatian mereka pada sebuah kotak mewah berisi sampanye mahal berharga ratusan ribu dollar Amerika yang di pegang Maxwell.


Armand De Brignae Midas, sampanye yang dibuat pesohor Amerika. Jay Z, suami dari penyanyi kelas dunia Beyonce.


Akram melihat Sraya menghela nafas lega, tetapi wajahnya masih pucat.


''Apa kamu sakit?''


Tanya Akram, tangan nya menyentuh dahi Sraya untuk memastikan keadaan istrinya.


''A--aku sedikit tidak enak badan, Mas?''


''Baiklah sepertinya kita harus ijin pada mister Willem, karena Mas akan membawa kamu dan Sagara pulang sekarang.''


Akram mengambil keputusan sendiri dan hanya mengangguk. Mereka berpamitan untuk pulang lebih dulu pada Willem dan teman teman Sraya.


''Apa dia karyawan mu, Will ?''


Tanya Max pada Willem, pandangan nya terus menatap pada punggung Akram yang menggendong Sagara keluar dari tempat acara.


''Ya, istrinya adalah karyawan di caffe ku. Kalau tidak salah dia tidak sengaja menabrakmu di caffe beberapa waktu yang lalu.''


Willem mencoba untuk tetap tenang menjawab pertanyaan Max setelah mengetahui cerita dari Sraya.


''Ada apa Max?''


''Karyawan mu, istri dari pria berwajah asia itu. Tadi dia juga menabrak ku saat di mall siang tadi.''

__ADS_1


Max mencecap anggur yang dituangkan pelayan di geleas kristal.


__ADS_2