Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Penawaran rei


__ADS_3

Mbo Darmi menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya dan Nastiti pada bu Emah.


Kedua wanita paruh baya itu menangis, tidak bisa dibayangkan kalau hal ini terjadi pada anaknya Sraya. Ingin bu Emah membawa Nastiti kerumah sakit karena kondisinya.


Tapi ia urungkan, takut kalau orang jahat itu tau Nastiti selamat. Tempat yang aman untuk sekarang adalah rumahnya.


Bu emah menyiapkan makanan, mbo Darmi sendiri tidak beranjak dari tempat nya untuk menjaga Nastiti. Seakan kalau dia pergi sedetik saja Nastiti akan hilang.


Nastiti mulai meraih kesadaran nya jari nya bergerak lemah, matanya mulai terbuka perlahan, namun kepala nya terasa masih pusing.


"Kamu sudah sadar, Nduk?" tanya mbok Darmi cemas.


"Mbok Darmi …"


"Iya, Nduk. Ini si Mbok, kita sudah selamat dan kita aman."


Nastiti langsung memeluk mbok Darmi, ia menangis dalam pelukan nya.


"Kamu sudah siuman, Nak?" tanya bu Emah.


Bu Emah yang baru saja masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi air dan makanan untuk Nastiti. Ia meletakkan nampan di nakas sisi ranjang, lalu mengusap rambut hitam Nastiti.


"Ibuuuuu …"


"Ibu sudah dengar semuanya dari Mbok Darmi. Untuk sementara kalian boleh tinggal disini, Nak. Ibu tidak keberatan sama sekali."


"Terimakasih sekali Ibu sudah mau menerima kami, maaf Nastiti sudah merepotkan Ibu. Nastiti engga tau harus kemana lagi," lirih Nastiti.


"Ibu tidak merasa direpotkan, Nak. Sekarang makan lah kamu harus banyak makan. Ibu pergi sebentar mau memanggil bidan kampung sini untuk memeriksa keadaan kamu."


"Terima kasih banyak, Bu," ucap mbok Darmi.


"Saya pergi sebentar, Mbok. Mbok juga harus makan saya sudah menyiapkan di dapur."


Mbok Darmi mengangguk dan bu Emah pergi memanggil bidan.


Setelah bidan memeriksa keadaan Nastiti untuk memastikan kondisinya, bidan kampung itu memasang selang infus dan memberikan beberapa obat. Ia berpesan agar mereka menjaga kandungan Nastiti dengan baik.


Ibu emah memberikan kabar tentang keadaan Nastiti pada Sraya, ia menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat.


Di desa di Pengalengan dua orang pelaku pembakaran kembali kerumah dokter Rei yang sudah tidak berbentuk. Mereka menyamar sebagai polisi yang sedang melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengajukan beberapa pertanyaan pada warga.


"Gimana ini, Bang. Kita engga bisa nemuin jasad gadis itu bersama pembantunya, apa mereka selamat?"


"Mustahil mereka selamat. Pintu sudah kita kunci agar mereka tidak bisa keluar, tidak ada teriakan minta tolong sama sekali!"


"Lalu dimana jasad kedua orang itu. Apa mereka tidak ada dirumah?"


"Semalam saat kita melakukan rencana ini kita sudah memastikan dengan mata kepala kita sendiri bukan, kalau mereka tidak keluar sama sekali sebelum kita membakar rumahnya."


Telepon berdering. Salah satu pelaku itu menjawab panggilan yang berasal dari Natt


"Bagaimana?" tanya Natt.

__ADS_1


"Kami sudah menjalankan semunya nona tetapi …"


"Tapi apa katakan?"


Orang itu menceritakan apa semuanya tanpa ada yang ditutupi, karena percuma melakukan nya. Natt pasti akan meminta jasad Nastiti secara langsung untuk memastikan.


"Kalian sangat bodoh! Sudah kubayar mahal tapi tidak bisa melakukan dengan becus, cari sampai dapat aku tidak menerima kegagalan!"


………


Di Singapura dokter Rei bertemu dengan Maxwell yang sedang berkonsultasi, ia berusaha bersikap sewajarnya meski ada rasa takut kalau Maxwell mengetahui kalau Nastiti masih mengandung anak Maxwell.


Dokter Rei juga mengetahui kondisi kesehatan reproduksi Maxwell yang mengalami secondary infertillity.


Waktu terus berjalan, perasaan Rei semakin tidak tenang. Sudah sebulan ini dirinya tidak mendapat kabar apapun dari Nastiti. Sudah ia menyuruh orang untuk mencari Nastiti namun belum ada kabar baik yang datang.


Rei memutuskan kembali ke Jakarta, Natt mendengar kepulangan Rei dan berniat menemuinya.


"Kau tau Maxwell sangat membenci kalau dirinya di bohongi? Apalagi dari orang terdekatnya." Natt duduk di sofa kulit milik rei.


"Apa yang kau bicarakan, Natt?"


"Kau tau apa yang aku maksud, Rei. Bayi itu, Nastiti masih mengandung nya bukan?"


Rei memicingkan matanya, menatap tajam kepada Natt. Bagaimana wanita angkuh ini bisa tau, Sangat kebetulan dengan peristiwa hilang nya Nastiti.


"Jangan pura-pura tidak tau, Rei. Aku tau semuanya."


"Dimana kamu menyembunyikan Nastiti?"


Natt menggoyangan gelas kaca yang berisi anggur dengan santainya.


"Bukankah kau tau Nastiti masih mengandung anak Maxwell, artinya kau tau keberadaan Nastiti?" tanya Rei.


"Aku memang tahu Nastiti masih mengandung anak Maxwell, tetapi aku tidak tau dimana gadis itu berada."


"Kau yang melakukan pembakaran rumah ku?" tanya Rei masih bersikap tenang.


"Kau menuduhku, Rei?"


"Aku tau kau orang yang seperti apa, Nat. Aku bisa saja memberitahu Maxwell kalau Nastiti masih mengandung anak nya." Tantang Rei yang membuat Natt terkesiap.


"Dan membahayakan nyawamu, Rei?"


"Aku tau Maxwell mengalamai masalah reproduksi. Butuh waktu untuk kalian memiliki anak. Setahun, dua tahun, tiga tahun, sepuluh tahun? Atau bisa tidak sama sekali."


Natt semakin sesak mendengar jawaban Rei yang tidak ia duga.


"Aku tidak keberatan kalau Maxwell menyakitiku. Tapi bisa kupastikan anak yang dikandung Nastiti suatu hari akan Maxwell cari." Rei bangun dari duduknya dan membenarkan jas yang ia pakai.


"Apa yang kau mau, Rei?" tanya Natt penasaran.


"Kalau aku berhasil menemukan Nastiti jangan coba-coba kamu menyakitinya lagi. Biarkan dia dan anaknya bersamaku, aku akan mengurus mereka berdua. Sekali kau mencoba melakukan nya lagi aku tidak segan untuk memberi tahu max!"

__ADS_1


"Kau berani denganku? Bahkan keluarga mu memiliki hutang yang besar pada kekuargaku, Rei."


"Terserah kau saja, aku sudah memberikan penawaran yang baik."


Rei hendak pergi meninggalkan Natt, tetapi wanita itu menahannya.


"Baik. Aku tidak akan mengganggu gadis itu, jangan berpikir untuk menceritakan hal ini dengan Maxwell tapiii …" ucap Natt terputus.


Natt bangun dan mengambil tas seharga miliaran rupiah yang ia letakkan di sofa milik Rei.


"Bawa pergi gadis itu dari negara ini. Aku tidak peduli kau membawanya kemana. Aku tidak ingin melihatnya lagi, bukan kah kau tau aku ini orang yang seperti apa Rei?"


Natt meninggalkan rei begitu saja …


Semenjak Nastiti tinggal dengan ibunya, Sraya pulang ke Bandung dua minggu sekali. Ia dan ibunya mengurus kehamilan Nastiti dengan baik, namun Nastiti tidak bisa melupakan bayang-bayang saat dirinya hampir mati terbakar. Seakan menjadi trauma besar.


Nastiti juga takut kalau Maxwell atau Natt mengetahui dirinya masih hidup, apalagi saat ini ia menumpang hidup pada keluarga Sraya. Ia tak ingin membuat kedua orang itu dalam bahaya, bulan ini kandungan nya sudah sembilan bulan dan bersiap untuk melahirkan


…………


"Apa kamu sudah membuat saus yakiniku dan spageti" tanya chef Rio pada Sraya.


Suasana Cordy Caffe saat ini sangat ramai. Semua karyawan terlihat sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing.


"Aku sudah membuat saus spageti, Kak. Untuk yakiniku aku baru mau mencampurnya dengan unsalted butter," jawab Sraya.


"Kalau sudah kau koreksi lagi rasanya. Aku percayakan semuanya padamu, Sraya."


"Siap, cheeeeffff" Ia merasa semangat.


Tingggg …


Bell pesanan masuk dari arah kasir.


"Chicken wings satu tanpa sesame seeds, rice box teriyaki dua, double cheese burger ekstra mayo empat, cream soup tiga, sirloin steak with mesh pottato dua," teriak sulis menyebutkan pesanan.


"Yaaaa akan siap dalam sepuluh menit," balas Andrean chef baru di caffe mereka.


"Seperti nya kita harus minta kenaikan gaji," cetus Hendi yang baru saja lewat. Membuat Sraya, Rio, dan Andrean tertawa.


Semua pesanan sudah mereka selesaikan, beberapa customer sudah meninggalkan caffe hanya tersisa beberapa orang saja yang masih makan.


"Sraya, apa kau sibuk?" tanya Willem.


"Tidak, Boss. Caffe tidak seramai tadi, apa yang Boss perlukan?"


"Ikutlah aku keruanganku," pinta Willem.


Sraya mengikuti langkah boss nya itu yang terletak di lantai dua. Setelah masuk Sraya menutup pintu dan Willem menyuruhnya duduk.


"Aku punya tugas untukmu, Sraya."


"Tugas apa, Boss?"

__ADS_1


"Pergilah ke bandara, susul Akram disana. Aku lupa kalau hari ini dia ke Jakarta untuk mengurus kerja sama pemesanan biji kopi dari perkebunan nya."


Perasaan Sraya berdesir begitu saja saat mendengar nama Akram disebut.


__ADS_2