Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Pengganggu kecil


__ADS_3

"Pak minggu depan Amel magang di salah satu perusahan di Jakarta."


Amel memberikan kabar itu pada Trisna yang sedang menghitung hasil penjualan kopi bulan lalu. Berkat inovasi dari Akram selama satu tahun ini, ia mendapatkan keuntungan.


Kebun kopinya mengalami peningkatan pemasukan sebesar 40 persen, hampir menyaingi kebun kopi milik adik iparnya Permana di Jawa Tengah.


"Kenapa mendadak sekali, Nak?" tanya Trisna.


"Iya, Pak. Soalnya pengajuan Amel baru di ACC tiga hari yang lalu, Amel kira Amel gak bisa magang di perusahan itu," jawab Amel.


"Memang nya diperusahaan mana kamu akan magang?"


"Di PT. Sedayu Royal Furniture, Pak. Amel magang selama tiga bulan di perusahaan itu."


Trisna menghentikan pekerjaan nya, dan menyuruh anak semata wayang nya itu untuk duduk di sebrang kursi kerjanya.


"Seminggu itu singkat sekali Amel, apa kamu gak mau magang di perusahan yang ada di kota ini saja?" tawar Trisna


Seperti biasanya Amel bersikap lemah lembut di depan Ayah nya itu, ia memerankan sosok anak gadis yang polos dan akan menuruti semua permintaan Trisna.


"Baik kalo Bapak maunya seperti itu, nanti Amel akan segera menghubungi pihak kampus, Pak." Amel berkata lirih dan pasrah.


Lita masuk keruang kerja suami nya untuk membantu akting sang anak, ia duduk disebelah Amel dan mengusap kepala gadis itu.


"Ndak apa-apa, Nduk. Belum rejeki nya kamu. Ibu tau kamu sangat ingin seperti mba mu Nastiti, yang bisa bekerja dan sukses di Jakarta. Tapi kalau Bapak mu meminta untuk tetap tinggal disini, kamu harus menuruti nya ya."


Trisna menatap istri dan anaknya itu yang sudah menampilkan wajah sendunya. Sebagai ayah ia khawatir melepas anak gadis satu-satunya itu, tetapi ia tidak ingin membuat sedih. Apalagi saat mendengar ucapan Lita kalau itu adalah impian Amel.


"Apa kamu sangat ingin magang di Jakarta, Nak?" Permana bertanya memastikan.


"Iya, Pak. Anak kita ini sudah sering cerita sama Ibu kalau dia ingin sekali merasakan bekerja di Ibukota. Sebenarnya Amel ingin kuliah disana seperti Nastiti, tapi ia urungkan saat Bapak melarang."


Lita istrinya Trisna itu menjawab pertanyaan yang diberikan Amel.


"Baiklah Bapak memberi ijin kamu Amel," ujar Trisna.


Amel dan Lita saling lirik dan tersenyum kemenangan mendengar jawaban suaminya. Amel segera bangkit dan memeluk ayahnya.


"Makasih banyak Bapak sudah ngijinin Amel buat magang disana, Amel seneng banget."

__ADS_1


"Tapi kemana kita harus mencari tempat tinggal selama kamu tinggal di Jakarta nanti?"


Trisna tampak bingung, seminggu adalah waktu yang singkat untuk mempersiapkan keberangkatan Amel dan segala kebutuhan nya disana, apalagi anaknya akan tinggal selama tiga bulan di Jakarta.


"Gimana untuk sementara Amel menumpang di apartemen Akram, Pak. Ibu dengar beberapa hari lagi Akram dan Sraya akan kembali ke Jakarta?" timpal Lita.


"Bapak tidak enak kalau meminta pada mereka, sekarang Akram sudah memiliki istri, Bu."


"Hanya sementara saja, Pak. Tidak mudah mencari tempat tinggal yang aman di Jakarta, kalau kita sudah dapat, Amel bisa pindah dari apartemen Akram," desak Lita pada suaminya.


Trisna menghela nafas, benar apa yang dikatakan Lita. Sebenarnya ia merasa tidak enak, tetapi setelah memikirkan nya lagi ? Ini adalah pilihan terbaik. Apalagi ada Akram yang bisa menjaga Amel di Jakarta.


Pagi itu Trisna segera menghubungi adik iparnya Permana, dan mengutarakan permintaan dan maksud tujuan nya.


…………


"Anak Ibu ganteng banget, kita jemur dulu ya, Nak. Biar sehat." Sraya membawa Sagara ke halaman rumah Akram yang luas.


Di teras sudah ada Permana dan Akram yang sedang membahas masalah pekerjaan, aroma kopi yang dihidangkan dari hasil perkebunan mereka tercium sangat harum.


"Yasudah Bapak mau ke kebun dulu, Akram kamu nanti jangan lupa kabarin pakde kamu."


"Iya Pak nanti Akram telepon pakde Tris," balas Akram.


"Bapak sudah mau berangkat?" tanya Sraya pada mertuanya itu.


"Iya, Nak. Bapak udah ditunggu dikebun. Bapak berangkat dulu." pamit Permana.


Akram mendekati Sraya dan anak angkatnya, bayi itu merespon dengan menghentak-hentakan kaki saat Akram menggendong nya dan mencium pipi kanan kiri Sagara bergantian.


"Anak Ayah lagi apa ini?" Akram menggelitik anaknya dengan hidung.


"Aku lagi berjemur sama Ibu Sraya, Ayah."


Akram melirik wajah cantik istrinya itu dipagi hari, lalu tanpa malu ia mengecup pucuk kepala Sraya di halaman rumahnya.


Sraya sendiri sontak terkejut dengan aksi kecil Akram yang sangat mendadak. Bagaimana tidak ? Pagi itu banyak orangtua yang mengantar anaknya ke sekolah dan lewat depan rumah Akram.


Belum lagi ibu-ibu atau anak gadis yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan berpura-pura menyapu halaman. Sraya menatap suaminya itu tajam dan berdecak.

__ADS_1


"Mas, ini kenapa gak liat-liat situasi kalau mau melakukan ini!" tegas Sraya.


Akram hanya terkekeh geli melihat reaksi istrinya. Masayu yang sedari tadi melihat interaksi sepasang pengantin baru itu hanya menggelengkan kepalanya, kemudian menghampiri mereka.


"Akram, siapa tadi yang menelpon bapak pagi-pagi?" tanya Masayu penasaran.


"Oh … pakde Trisna, Bu. Yang menelpon," jawab Akram santai sambil menimang Sagara.


"Pakde kamu emang bilang apa, kok kalian serius sekali tadi, Nak?"


"Pakde minta tolong ke Akram, minggu depan Amel akan magang di Jakarta. Karena waktunya sempit pakde minta Amel tinggal bersama Akram dan Sraya di apartement."


Akram menjelaskan pada ibunya dan Sraya perihal permintaan Trisna. Masayu merasa sangsi mendengarnya, ia teringat perkataan Rusnina beberapa waktu lalu tentang Amel.


Meskipun Masayu tidak menyatakan langsung tentang keberatan nya itu, tetapi ia tetap mengingatkan mereka untuk tidak berlama-lama memberi tempat pada orang lain ditengah keluagra kecil mereka.


Sraya yang tidak tahu apa-apa tidak maslah dengan semua itu, apalagi Amel adalah anak dari pakde nya Akram. Sewaktu Sraya pertama kali ke kebun Trisna, ia dan teman-temannya disambut dengan baik.


Akram sendiri merasa tidak enak, karena uang yang dipakai untuk membeli apartemen itu sebagian nya berasal dari penjualan kopi di kebun Trisna, walaupun itu sudah hak Akram sebagai gajinya.


Selang dua hari setelah kepindahan Akram dan Sraya ke apartemen, Amel dan orangtuanya juga datang ke Jakarta untuk menemui mereka. Amel membawa dua koper besar yang berisi baju dan barang-barangnya.


"Makasi ya Akram dan Sraya, kalian sudah mengijinkan Amel untuk sementara tinggal disini," ucap Lita sambil tersenyum.


"Sama-sama, Bude. Amel bisa tinggal disini sebelum mendapati kosan atau kontrakan selama di Jakarta," ujar Sraya sopan.


"Makasi banyak Mba Sraya, Amel janji gak akan nyusahin Mba dan Mas Akram," tampak Amel berbasa-basi di depan Sraya.


Mereka bertiga sedang berada di ruang keluarga apartemen Akram. Sedangkan Akram menemani Trisna yang sedang merokok di teras balkon.


Pandangan Amel mengitari seluruh sisi ruang keluarga, ia melihat poto pernikahan Akram dan Sraya yang di pajang di dinding apartement Akram.


Tangan Amel mengepal ia mendekati pigura, Akram terlihat sedang mencium kening Sraya di poto itu.


"Wah poto ini sangat bagus sekali. Mba dan Mas Akram terlihat sangat serasi sekali disini."


Kemudian Amel melirik Sraya yang sedang sibuk memberi susu Sagara dan duduk membelakangi nya.


PYAAAAARRRRR ……

__ADS_1


Dengan gerakan cepat tanpa di ketahui siapapun, kecuali Lita ibunya. Amel menyenggol kuat pigura itu sampai jatuh dan pecah berantakan.


Semua orang menatap pada Amel dengan reaksi terkejut, Sagara sendiri sampai menangis kencang.


__ADS_2