
"Benar, dengan saya sendiri. Ini siapa ya?" tanya Sraya.
"Saya Labiqa, bu. Pelayan warung soto yang kemarin, pak Akram ngasih nomor, ibu. Ke saya."
Begitu Labiqa menyebutkan namanya pada Sraya, istri Akram itu langsung teringat pada gadis cantik penjual soto. Ia dan Akram memang menawarkan pekerjaan pada Labiqa, ternyata Akram memberikan nomor handphone Sraya pada gadis manis itu.
"Oh iya ... Saya ingat, Biqa. Ternyata kamu toh."
"Iya, bu. Hmm ... tolong simpan nomor saya ya, bu. Kalau sudah ada info untuk test memasak, ibu bisa kabari saya," ucap Labiqa dengan nada lembutnya.
Sraya memandang Akram, lalu ia sedikit menjauhkan ponselnya. "Labiqa bilang soal test masak, Mas. Kira-kira kapan bisa kita bisa mulai?" tanya Sraya meminta pendapat.
"Besok aja, Dik. Sekalian kita bebenah, minta Labiqa untuk datang jam sepuluh pagi," ucap Akram.
"Tapi kita belum menyiapkan bahan-bahan makanannya, Mas."
"Itu gampang, nanti kita bisa belanja dulu sebelum ke caffe."
Sraya mengangguk mendengar saran dari Akram, kemudia ia kembali berbicara dengan Labiqa. "Halo, Bica. Untuk test nya diadakan besok jam sepuluh pagi ya. Alamatnya akan saya shareloc lewat pesan."
"Besok, bu? Baik-baik, besok saya akan datang tepat waktu. Terima kasih banyak, bu. Untuk kesempatannya, saya akan memberikan yang terbaik. Dan maaf sudah mengganggu waktu istirahat ibu, karena saya menelpon malam-malam," ujar Labiqa semangat.
"Oke, Biqa. Gak masalah, sampai ketemu besok ya."
"Iya, bu. Sampai ketemu besok, assaalamualaikum."
__ADS_1
"Walaikumsalam, Biqa."
Setelah mengakhiri panggilan telepon dari Labiqa, Sraya kembali membahas tentang konsep caffe yang akan diusung. Akram mendengarkan baik-baik setiap ide dari istrinya. Ia merasa kagum pada Sraya, karena wanita yang kini menjadi bagian dari kehidupannya, ternyata memiliki bakat dan pemikiran yang cerdas. Walaupun Sraya hanya lulusan kelas kursus tataboga.
Malam berganti pagi yang sangat cerah, sinar matahari yang hangat, menerpa kulit kemerahan Sagara yang saat ini sedang berjemur di balkon. Sudah menjadi kegiatan rutin Sraya di pagi hari. Dari ibu dan mertuanya, Sraya mendapatkan ilmu untuk mengurus bayi.
Dirasa sudah cukup, Sraya langsung beralih ke tugas selanjutnya. Yaitu mengurus keperluan Akram, termasuk sarapan wajib bagi suaminya. Bisa saja Sraya memesan makanan dari luar, tetapi dari awal mereka menikah. Sraya selalu menyiapkan makanan yang ia masak sendiri. Kecuali mereka berdua memutuskan untuk makan di luar.
Saat Sraya memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah, Akram akan mengasuh Sagara. Kecuali Sagara tertidur, ia akan membantu Sraya menyelesaikan pekerjaan istrinya.
Wangi dari bumbu yang Sraya gunakan untuk memasak, tercium sangat harum seperti biasanya. Membuat orang lapar dan ingin mencicipi. Amel, yang hari ini libur bekerja, tampak belum bangun dari tidurnya.
Menu sarapan sudah terusun di atas meja makan, Sraya mengetuk pintu kamar Amel untuk membangunkan gadis itu.
Tok tok tok
"Mel, udah jam delapan pagi. Ayo bangun, sarapan. Nanti kalau masih ngantuk kamu bisa tidur lagi."
Amel yang mendengar suara Sraya yang mencoba membangunkannya mengumpat karena kesal. "Ahhh sialan ... ganggu banget sih, gatau apa orang lagi tidur malah dibangunin. Sok rajin banget."
Amel menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian dengan malas ia menuju pintu dan membukakannya. "Iya, Mba. Amel udah bangun kok, maaf kesiangan, Mba."
Sraya memansang Amel dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu mendorong Amel untuk masuk kembali ke dalam kamar. "Duhhh ... kenapa sih, Mba. Tadi bangunin Amel, ini kok malah myuruh Amel masuk lagi?"
Sraya melipat tangannya di depan dada kemudian berdecak memandang Amel. "Mel, kamu mau keluar kamar dengan pakaian seperti ini?" tanya Sraya.
__ADS_1
"Emangnya kenapa, Mba?"
"Minimal kamu sikat gigi dan cuci muka dulu, Mel. Lalu ganti baju kamu. Aku aja sebagai perempuan malu liat kamu pakai baju tidur yang minim kaya gini, kaya saringan tahu. Apalagi mas Akram yang sebagai laki-laki, takutnya dia akan merasa gak nyaman dan kikuk sendiri."
Amel yang mendengar perkataan Sraya hanya tersenyum terpaksa, ia merasa tersinidir. "Iya, Mba. Maaf, nanti aku ganti baju dulu."
"Yaudah, kamu cuci muka dulu, mba tunggu di meja makan." Sraya langsung keluar dari kamar Amel, dan langsung duduk bersama Akram yang sedang menggendong Sagara.
"Kenapa, Dik. Amel belum bangun?"
"Sudah, Mas. Aku suruh ganti baju."
"Loh, mau makan aja pake ganti baju segala, kita kan ga makan di luar," ucap Akram yang tidak tahu apa-apa.
Sraya yang sedang mengambilkan nasi ke piring milik Akram, seketika menghentikan tangannya dan melotot pada suaminya. "Ya harus ganti baju dong, Mas. Aja yang gak tau, tadi baju Amel minim banget, tipis. Seperti saringan tahu," jawab Sraya kesal.
Akram menahan tawa dengan menggigit pipi bagian dalamnya saat melihat ekspresi Sraya dan nada bicaranya. Ingin sekali rasanya Akram mengigit pipi istrinya. "Pfttt ... saringan tahu?"
"Iya, Mas. Aku heran, Amel kok punya ya baju dinas kayak aku."
Akram yang mendengar kata baju dinas, pikirannya langsung melanglang buana. Membayangkan saat Sraya memakai baju haramnya karena permintaan dirinya. Ia tersenyum penuh arti pada Sraya sambil menaik-turunkan alisnya.
"Dik, Mas pingin sarapan yang lain," pinta Akram.
"Mas mau sarapan pake apa? Ini aku udah masak loh, coba aja, Mas. Bilangnya tadi sebelum aku masak. Mendadak banget sih, Mas, jadi aku harus masak lagi? Emangnya, Mas. Mau makan apa?"
__ADS_1
Akram langsung berdiri sambil menggendong Sagara, kemudian ia menggengam tangan Sraya. "Mas mau makan kamu."