
Aku langsung membawa Sagara kedalam kamar dan membaringkan nya di box bayi, kuselimuti anak ku itu agar tubuhnya hangat. Lalu ku kecup pipi nya kiri dan kanan.
Aku menyusul mas Akram di ruang tamu bersama Amel. Gadis itu tampak mengeluh kepada suami tampan ku, nyata sekali dia ingin mencari perhatian. Salah siapa alergi udang malah memakan nya?
"Mas, badan Amel gatal semua. Liat ini merah-merah, kan?"
Bukan badan kamu saja yang gatal, tapi kelakuan kamu juga gatal. Cihhh, batinku dalam hati. Mas Akram tampak khawatir dengan kondisi Amel.
"Mel, kalo kamu alergi udang kenapa masih di makan?" tanya mas Akram.
"Aku gatau, Mas. Kalau alergi sama udang, kalau Amel tau, pasti Amel milih makan yang lain ... hisk." Amel terisak lemah.
"Yaudah sebaiknya kita ke dokter saja," ajak Mas Akram.
"Mas, sebentar lagi azan magrib. Sebaiknya solat dulu baru ke dokter," ucapku memberi saran.
Mas Akram menurutiku, mereka baru pergi ke dokter setelah solat magrib terlebih dahulu. Kebetulan apartement kami jarak nya tidak jauh dari rumah sakit, hanya sekitar lima belas menit saja. Apalagi aku sudah memesan antrean online lewat aplikasi.
Aku mengirim pesan kepada Mas Akram, menanyai suamiku hendak dimasakan apa untuk makan malam.
"Mas gimana Amel, sudah di periksa dokter?" sebuah pesan aku kirim, sambil menunggu balasan aku melipat baju-baju Sagara yang baru saja kering sehabis di cuci.
Lama, tidak ada balasan. Apakah Amel parah? Hatiku jadi bertanya-tanya? sampai satu jam tidak ada balasan aku pun menelpon mas Akram. Panggilan pertama tidak terjawab, sampai panggilan ketiga Mas Akram baru menjawab nya, Sagara juga jadi terbangun.
"Halo Assalamualaikum, dik," sapa Mas Akram dari seberang telepon.
"Halo, walaikumsalam, Mas. Gimana keadaan Amel? Kenapa lama sekali?" tanyaku.
"Amel dirawat dik, selain ruam tadi dia merasakan sesak juga. Jadi harus di bantu oksigen untuk bernapas."
Aku menghela nafas karena ragu akan keadaan Amel sampai separah itu. "Jadi Amel dirawat mas? Apa mas akan pulang malam ini?"
"Hmm ... maaf, dik kayaknya mas bakal nemenin Amel di rumah sakit. Soalnya pakde sudah nitipin Amel ke mas, jadi mas merasa punya amanah," jawab mas Akram.
__ADS_1
Di dengar dari suaranya seperti nya mas Akram merasa tidak enak kepadaku. Sebenar nya aku merasa keberatan, tetapi akan terlihat sangat egois di mata mas Akram kalau aku melarang nya.
"Yaudah mas, gak apa-apa. Aku sama Sagara di apartement. Kalau mas butuh apa-apa segera telepon aku ya, Mas. Sampaikan pada Amel semoga lekas sembuh."
"Kamu hati-hati ya di apartment, maaf malam ini mas gak pulang. Semoga aja Amel besok udah bisa membaik, kamu hati-hati terus jangan lupa makan malam. Mas sayang kamu."
Perkataan mas Akram membuat hatiku menghangat. Ah, memang benar kalau wanita suka karena mendengarkan sedangkan lelaki suka karena melihat. Aku jadi senyum-senyum sendiri.
"Iya mas nanti Sraya makan malam, aku juga ... sayang mas Akram," jawabku malu-malu.
Malam ini aku hanya di temani Sagara saja, bayi gemas ini seakan tahu kalau mas Akram tidak bersama kami. Alhasil ia tidak kunjung tidur juga, biasanya jam tujuh malam Sagara sudah terlelap.
Aku kembali melakukan panggilan video dengan mas Akram, ajaib. Suara mas Akram yang mengajak Sagara berbicara sebentar membuat bayi ini tertidur. Mungkin ini yang di inginkan Sagara, suara mas Akram seakan jadi lagu nina bobok yang mengantar bayi ini ke alam mimpinya.
Jam sepuluh aku belum juga mengantuk, aku sudah terbiasa tidur dalam pelukan mas Akram selama kurang lebih dua bulan ini. Ada sesuatu yang hilang yang aku rasakan. Sungguh berlebihan sekali diriku ini, baru juga satu malam suamiku tak ada.
Aku memutuskan untuk membuat sesuatu untuk membunuh rasa bosan ku, setelah memastikan Sagara aman di dalam box bayi nya. Aku segera ke dapur.
Tadi aku membeli bahan makanan dan belum menyusun nya ke dalam kulkas dan lemari kitchen set, setelah selesai aku memutuskan untuk membuat risoles saja. Resep dari ibuku yang jago memasak.
Setelah menumis bumbu nya sampai harum, aku memasukan sayuran dan ayam nya. Aku mulai mengisi kulit lumpia sampai semua selesai. Agar lebih awet aku pun memasukan risole kedalan freezer agar awet dan siap di goreng.
Sudah jam setengah dua belas, akupun memutuskan untuk segera tidur. Sebelum nantinya Sagara menangis karena meminta jatah susu dan mengganti popok nya saat tengah malam.
Benar saja Sagara bangun jam tiga subuh, aku segera membuatkan nya susu dan menimang-nimang nya agar tertidur lagi. Setelahnya aku memilih untuk melakukan solat tahajud.
Meminta kepada sang pencipta untuk diberikan kemudahan bagi kami menjalankan kehidupan kami dengan baik, diberikan kesehatan, kelancaran, ketenangan, dan kekuatan. Aku berdoa untuk rumah tanggaku dengan mas Akram menjadi keluarga yang bahagia.
Aku menunggu sampai azan subuh berkumandang. Setelah menyelesaikan kewajiban solat subuh aku memilih untuk membuatkan sarapan yang rencana nya akan aku kirim buat mas Akram, dan aku mengabari nya lebih dulu.
Aku bersiap-siap dan memandikan anak angkat kesayanganku, membaluri badan mungil nya dengan minyak telon dan juga bedak khusus. Sungguh wangi khas bayi yang menjadi candu baru yang menemani hari-hariku.
Jam setengah sembilan saat aku ingin berangkat menjenguk Amel yang sedang dirawat inap, aku memeriksa ponsel yang ternyata sudah ada notifikasi dari orang yang ingin memasang CCTV.
__ADS_1
"Selamat pagi bu, kami dari Multi Media Control. Semalam kami sudah mengkonfirmasi pada pak Akram kalau pagi ini kami akan memasang CCTV, tetapi beliau tidak bisa di hubungi dan kami sudah di jalan menuju aparment ibu. Apakah ada orang yang bisa kami temui?"
Begitulah isi pesan yang aku baca. Dengan segera aku menelpon mas Akram, kemana saja suami ku itu. Dari subuh bahkan pesan dariku belum di baca nya. Apa terjadi sesuatu pada Amel?
satu panggilan tidak terjawab, aku mencoba menelpon nya lagi. "Hallo assalamualaikum, dik," sapa mas Akram.
"Hallo walaikumsalam mas, gimana keadaan Amel? Aku udah ngirim chat ke mas, tapi mas kayaknya belum baca ya?"
"Amel sudah mendingan dik, nanti jam sepuluh akan ada dokter yang visite. Mas semalaman gabisa tidur dan baru tidur subuh tadi," jelas mas Akram.
Aku merasa kasihan mendengar mas Akram yang baru bisa tidur saat subuh, pasti dia juga belum sarapan.
"Mas sudah sarapan" tanyaku.
"Mas belum sarapan dik, nanti mas beli di kantin rumah sakit aja."
"Gak usah, Mas. Aku udah buatin sarapan buat mas Akram, niat nya aku akan nganter langsung ke rumah sakit, Mas. Tapi tadi aku baca chat dari yang mau pasang CCTV, mereka lagi dijalan ke apartment kita." Aku memberi tahu pas Akram, karena ku yakin mas Akram lupa.
"Astagfirullah, mas lupa dik. Semalam mas juga di telpon dan mas udah kasih ijin pagi ini mereka bisa langsung kerjakan."
"Yaudah kalau mas udah janjian, aku gak jadi kerumah sakit. Sarapan buat mas aku kirim pakai gosend aja ya mas, kasian kan yang mau pasang CCTV harus balik lagi karena di apartment gak ada orang."
Setelah aku memutuskan panggilan dengan suamiku, aku segera memesan ojek online untuk mengirimkan makanan kerumah sakit. Tidak lama pesanan ojek aku datang.
Selang lima belas menit bell apartment aku berbunyi, segera ku buka kan karena terlihat dari layar kalau petugas CCTV yang datang. Pintu kubuka bertepatan dengan kedatangan suami istri dengan seorang anak lelaki berusia tiga tahun
Tampak nya mereka baru mau mengisi unit depan. Aku tersenyum ramah pada mereka, yang di balas sepasang suami istri itu.
"Pagi, Mba. Mba ngisi unit apartment depan?" tanya wanita cantik di depan ku ini
"Pagi juga, Mba. Iya saya tinggal dengan suami saya dan juga anak saya," jawab ku dengan ramah pada wanita itu
"Kayaknya aku ga asing dengan, Mba. Deh aku pernah kiat dimana ya?"
__ADS_1
Wanita itu tampak sedang berpikir, aku yang belum pernah bertemu dengan nya juga mencoba mengingat-ingat. Siapa tau kami memang pernah bertemu sebelum nya.