
setelah perjalanan panjang dan melelah kan akhirnya Ratih pun sampai di terminal desa nya, ia pun turun dari bus dan berjalan menuju pos untuk melihat apa kah sudah ada yang menjemput nya atau belum. karna sudah larut malam tak ada yang berjualan makanan maka Ratih pun tak jadi untuk membeli makanan
Ratih melihat ke sana ke mari belum ada yang menjemputnya, ia pun merogoh pinselnya dan menelfon seseorang
"hallo....ngga mbak sudah di terminal dan ini sedang di pos" ucap Ratih menelfon sang adik
"oh..iya mbak aku ini udah mau jalan, tadi sempet ketiduran. hehehe" jawab Angga menyengir
"hais...dasar kamu ini, ya sudah mbak tunggu" Ratih pun mematikan ponsel nya
ia menatap jalanan yang lengang oleh kendaraan semua rumah, toko, rumah makan, bahkan Restoran di terminal sudah tutup karna malam yang sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Ratih terdiam sendiri di pos itu karna penumpang yang bersama Ratih tadi sudaj di jemput masing- masing
Ratih menunggu Angga adiknya hanya di temani dengan lampu-lampu penerangan, untung saja di desa ia tinggal cukup aman hingga ia tak terlalu khawatir
sampai terdengar suara deru motor dari arah belakang, Ratih pun menengok ke arah sumber suara. senyum tersungging di bibir nya ia merasa senang karna Angga sudah sampai jadi Ratih tak perlu menunggu lama lagi
"maaf mbak gara-gara aku ketiduran, mbak jadi harus menunggu sendirian di sini" ucap Angga pada Ratih
"udah gak apa-apa yang penting kamu sudah sampai" Ratih menghampiri Angga lalu menyerahkan tas baju miliknya.
lalu ia pun naik ke atas motor, Angga pun putar balik arah dan melaju untuk pulang ke rumah.
•
•
cukup 15 menit mereka pun sampai di rumah karna jarak terminal dan rumah Ratih tak begitu jauh.
Ratih pun turun dari motor lalu ia mengambil tas pakaian miliknya dan masuk ke dalam rumah, nampak rumah sudah sangat sepi. hanya terlihat ibu sumarni menghampiri anak nya itu
"sudah sampai rupanya" ucap ibu Ratih
Ratih pun menghampiri ibunya dan mencium tangannya
"iya bu, rasa nya capek sekali" ucap Ratih dengan tersenyum
"ya sudah sana istirahat " ibu Sumarni meninggalkan Ratih menuju kamar nya kembali
Ratih pun masuk ke kamarnya, setelah Angga menutup pintu dan masuk ke kamarnya juga. Ratih membaringkan tubuhnya di ranjang tempat tidur yang hampir sebulan ini ia tinggalkan
terlihat Adrian terlelap dalam tidurnya, rupanya ia tidur sendiri di kamar tidak tidur dengan nenek atau pun pamannya.
__ADS_1
Ratih tersenyum dan mengelus kepala anak semata wayang nya itu, ia menarik selimut yang di kenakan Adrian hingga dada. lalu Ratih pun mulai memejamkan mata nya dengan tangan memeluk putra nya itu
Ratih seolah melepaskan semua bebannya dengan memeluk putranya itu, ia ingin melepas semua bebannya dengan mendekap anaknya itu.
•
•
burung mulai berkicauan setetes demi setetes embun membasahi dedaunan, suara ayam berkokok mulai terdengar riuh mencari makan. matahari mulai masuk menembus celah-celah jendela memberikan ke hangatan di pagi itu
nampak Ratih masih terlelap dalam tidurnya, karna hari ini adalah hari minggu maka Adrian pun belum bangun ia belum menyadari ibunya itu sudah pulang.
di dapur sudah terdengar suara penggorengan dan alat perkakas dapur lainnya yang tengah di pakai ibu Sumarni menasak, suara dentingan piring yang di cuci beradu dengan sendok dan gelas pun tak lantas membuat Ratih terbangun.
harum masakan mulai tercium dari dapur, sungguh suasana yang sangay di rindukannya masakan rumah yang lumayan sangat hemat ketimbang membeli apa lagi di kota yang semua serba mahal.
Ratih mulai membuka matanya dan melihat jam di dinding kamrnya yang menunjukan pukul 7:30 pagi, ia melihat ke samping di mana anak nya masih terlelap dalam tidur.
Ratih tersenyum lalu mencium pelan anak nya itu agar tak membangunkannya. Ratih turun dari ranjang dan mengambil pakaian ganti beserta handuk, ia menuju kamar mandi untuk memebersihkan tubuhnya agar hilang rasa capek dan akan membuat nys menjadi segar
"baru bangun Rat" tanya ibu Sumarni yang kini tengah menata nasi dan sayur di meja sedangkan untuk lauk masih ia goreng
"iya bu, Ratih mau mandi dulu" jawab Rati lesu dengan jalan yang gontai
•
•
Ratih pun selesai mandi dengan kepala yang di lilit handuk ia pun menghampiri ibu Sumarni yang masih sibuk di dapur. Ratih duduk di kursi meja makan
"apa Iyan menanyakan aku terus bu saat aku tinggal ke kota" tanya Ratih dengan menuangkan air putih di gelasnya lalu meminumnya hingga tandas
"nggak juga, ia hanya kadang-kadang saja bertanya" jawab ibu Sumarni yang sudah selesai menggireng ikan dan menaruh nya di piring lalu menyajikannya di meja makan
ibu Ratih ikut duduk di kursi meja makan
"och...Ratih jarang telfon ke Angga soal nya Ratih di sana juga sibuk bu, kerja juga di Restoran buat nambah-nambah uang makan di sana" ucap Ratih sembari mengambil tempe goreng di atas meja
"och kamu kerja juga di sana, ya bagu sih dari pada cuma diem aja kan" ibu Sumarni pun mmencomot tempe goreng
"iya bu, och iya bu. di hotel tempat ku menginap ternyata Yasril pun meenginap di sana, dia datang waktu sidang terakhir" Ratih berbicara dengan menyuapkan tempe goreng yang sisa sepotong itu ke dalam mulutnya
__ADS_1
di saat mereka mengobrol para lelaki pun menghampiri dan duduk di kursi yang sama, mereka akan memulai sarapan pagi sebelum memulai aktifitas
"Ratih, jam berapa pulang tadi malam" tanya pak Handoko pada Ratih karna ia yang tidur tak tahu anak nya itu pulang
"jam setengah dua sampe rumah pak" jawab Ratih
"oalah ...bapak sudah tidur" ucap pak Handoko sembari menerima piring dari ibu Sumarni yang sudah mengambilkan makan
"halah...bapak mu itu kok, kalo sudah tidur kaya orang pingsan gak bakaln denger apa-apa Rat" cibir ibu Ratih membuat mereka tertawa
"oh iya Rat, terus gimana yasril" tanya ibu Sumarni yang masih penasaran, karan obrolan mereka sempat terputus
"dia sama cewek nya di hotel itu, bahkan pas mau pulang ke sini kemarin aku sempat adu mulut sama istrinya Yasril" ucap Rarih menerawang kembali bagai mana pertemuannya dengan Yasril kemarin
"hah....istri" ibu Sumarni kaget dengan ucapan Ratih
"iya bu, mereka menikah siri di saat perempuan itu masih sekolah, tanpa orang lain tahu aku aja tahu dari kakaknya cewek itu yang tak setuju dengan hubungan mereka, tapi karna mereka yang ngotot akhirnya kakak dari perempuan itu pasrah" jawab Ratih menjelaskan dari mana ia mengetahui
"ealah, terus itu permpuan nya ngapain ngajak kamu ribut" tanya ibu Ratih yang tak perduli dengan dua laki-laki di hadapannya sedang makan
"ya dia ngata-ngatain ratih, punya wajah kusem, jerawatan, dan dekil...tapi Ratih balas aja dia " jawab Ratih masih bersungut-sungut
"dasar permpuan gak tahu malu, pokok nya Ratih kamu harus perawatan buktikan ke mereka kalau kamu itu mampu dan bisa perawatan kaya perempuan lainnya. jangan mau di rendahin terus sama mereka" ucap ibu Sumarni emosi
Ratih berfikir memang ucapan ibunya itu ada benarnya Ratih harus mulai perawatan, toh sekarang ia sudah sendiri maka tak masalah jika ia memanjakan diri sendiri
"sudah, ngobrol nya nanti lagi sekarang kita makan dulu" tegur pak Handoko
Ratih pun mengangguk, ia hendak menyidukan nasi ke piring ny namun ia melihat Adrian sudah bangun dan berjalan ke arah mereka
"sudah bangun nak" tanya Ratih
Adrian yang tak sadar pun melihat ke arah Ratih, betapa bahagia nya Adrian ia langsung berlari ke arah Ratih dan memeluknya
"mama kok lama banget sih ke kota nya" protes Adrian ketika sudah melepas pelukannya
"iya, mama minta maaf. tapi sekarang mama di sini dan ngga akan tinggalin iyan lagi" ucap Ratih dengan memegang kedua pundak anaknya
"bener ya ma" ucap Adrian
"iya sayang, ya sudah kita makan yuk" ajak Ratih
__ADS_1
ia pun mengambil nasi, sayur dan lauk untuk Adrian barulah ia mengambil nasi untuk dirinya sendiri. setelah itu mereka pun makan bersama