
setelah mengantarkan Ratih pulang, Andra baru saja sampai rumah
ia memasuki halaman rumahnya setelah pintu gerbang di buka oleh satpam rumahnya. Andra memasukan mobil nya ke garasi lalu ia pun keluar dari mobil
Andra masuk ke dalam rumah, namun ia tak langsung ke kamarnya melainkan ke kamar ibunya
ia membuka pintu kamar ibunya itu, terlihat wanta paruh baya tengah terlelap dalam tidurnya. Andra menghampiri tempat tidur dan membetulkan selimut ibunya
ia menecup kening ibunya itu, Andra sangat menyayangi ibunya karna kini hanya ibunyalah yang ia punya. ayah nya sudah meninggal 13 tahun yang lalu saat Andra masih duduk di bangku SMP.
dan selama itu pula ibunyalah yang banting tulang untuk menghidupi Andra hingga ia lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan hingga membuat Andra sesukses sekarang
sebenarnya Andra terlahir dari keluarga berada namun karna ayah nya sakit hingga tak dapat untuk memantau secara langsung maka ayah Andra pun meminta sang adik yakni paman Andra untuk memantau sebagai tangan kanan Ayah Andra
dan tanpa sepengetahuan tuan Andara Praditia Atmojo yakni ayah andra, ternyata sang adik Pratomo Artomojo melakukan kecurangan sedikit demi sedikit perusahaan tuan Andara di alihkan menjadi atas nama Pratomo.
hingga membuat tuan Andara menjadi bangkrut dan shok hingga membuat nya meninggal akibat serangan jantung mendadak
dan itu membuat Andra hingga sampai saat ini menaruh dendam pada pamannya itu yang tega merebut perusahaan papanya yang di rintis dari nol itu
"ma..Andra janji akan merebut kembali hak kita ma, Andra akan membalaskan sakit hati mama karna mereka papa meninggal" Andra mengepal kan tangannya menahan amarah yang ia pendam selama ini
kemudian Andra pun keluar dari kamar ibu Airin, ia menutup pintu kamar ibu nya itu dan Andra bersandar di pintu kamar ibunya.
Andra membuang nafas nya kasar merasakan beban yang sangat berat. lalu Andra mengambil ponsel di sakunya ia terlihat mencari nomor seseorang dan menelfonnya
"hallo...bro gue minta bantuan loe" ucap Andra pada orang di seberang sana yang nama nya tertera di layar ponsel Andra bernama Alexander
__ADS_1
"mau minta bantuan apa nih, tumben banget loe" ucap alex di seberang sana
"loe masih ingatkan sama permintaan gue dulu waktu loe gue suruh masuk ke perusahaan PA Corp" tutur Andra mengingatkan sahabatnya itu
"oh itu..iya iya gue ingat, sekarang gue udah jalanin misi lo dan sedikit lagi akan berhasil, terus loe mau minta bantuan apa lagi"
"benarkah, bagus kalau begitu gue tunggu kabar baik nya...dan untuk permintaan gue, loe bikin mereka menderita lebih dari apa yang pernah gue rasakan dulu"
"ok...itu masalah gampang, memang loe segitu sakit hatinya ya sama paman loe sendiri"
"ini lebih dari sakit hati lex, dia yang udah bikin bokap gue meninggal dan dia dengan teganya ngusir gue dan nyokap dari rumah kita sendiri hingga gue dan nyokap harus tidur di emperan toko di malam hujan deras, dan di dengan teganya bikin nyokap gue menderita. dan gue gak akan pernah terima itu" ucap Andra penuh rasa emosi ia berjalan ke kamarnya
"ok..ok gue faham karna pasti itu sangat berat buat loe, gue akan lakukan apa yang loe suruh, karna mereka gak tahu gue adalah orang loe, yang mereka tahu gue cuma karyawan biasa"
"ok, gue percaya sama loe..makasih karna loe udah mau bantu gue"
"sama-sama, gue akan selalu ada saat loe butuh bantuan gue karna gue ini sahabat loe jadi gue akan terima apa perintah loe"
"gue juga merasakan hal yang sama, loe tahu kan gue bahkan sudah gak punya siapa-siapa ndra gue di besarkan di panti, dan nyokap loe dengan begitu syang nya merangkul gue bahkan gue bukan siapa-siapa" ucap Alex mengingat bagai mana perhatiannya ibu Airin padanya
"iya mama memang orang yang berbeda dari yang lain, mama sangat baik kepada siapa saja" ucap Andra menerawang bagai mana perlakuan ibu nya
"eh..ndra udah dulu ya kaya nya ada orang ngetok pintu rumah gue" ucap Alex hendak mengakhiri
"baik lah, "
Andra mematikan sambungan telfonnya, lalu ia melempar ponselnya ke tempat tidur setelah itu ia menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Andra berendam di air hangat merileks kan tubuhnya dan untuk merileks kan fikirannya yang sembrawut.
di saat itu pula Andra teringat Ratih gadis sederhana yang ia kenal satu bulan yang lalu, karna Ratih datang ke Resto nya untuk mencari pekerjaan.
awal nya Andra merasa biasa saja karna hanya melihat Ratih sebagai karyawannya, namun lambat laun ia mulai tertarik dengan Ratih
melihat sikap nya yang baik, kesederhanaannya meski wajah nya tak glowing seperti kebanyakan perempuan lainnya namun entah kenapa Andra malah menyukainya
hingga ia mencoba mendekati Ratih yang awal nya merasa sungkan juga pada Andra yang merupakan bosnya. namun Andra mencoba meyakinkan Ratih hingga akhirnya Ratih pun luluh dan biasa memanggil dirinya dengan sebutan mas
yang awal nya Andra menginginkan Ratih memanggilnya dengan nama saja namun Ratih merasa tak enak jadi ia memanggilnya dengan sebutan mas.
hingga akhirnya Ratih mulai nyaman dan bercerita mengapa ia bisa sampai di sini dan mencari kerj di sini, karna ia sedang mengajukan gugatan cerai atas suaminya
saat mendengar Ratih sudah menikah punya snak bahkan akan melakukan gugatan cerai Andra merasa sedikit kecewa.
karna ia fikir Ratih masih lajang dan belum pernah menikah, namun Andra tetap mendengarkan cerita Ratih hingga ia merasa kasihan dengan nasib Ratih
yang di hianati suami nya sendiri, bahkan ia harus menghidupi anak nya seorang diri tanpa di beri nafkah oleh suaminya
bahkan yang membuat Andra tak habis fikir suaminya hanya memberi nafkah seratus ribu, bahkan Ratih sampai sering menjadi pelampiasan kemarahan suaminya itu
Ratih bahkan sampai di pukul berkali-kali namun ia tetap diam, padahal jika Ratih bertindak sudah pasti mantan suaminya itu masuk penjara.
namun lagi-lagi Ratih hanya diam dan menerima saja zemua perlakuan dari suami nya demi ke utuhan rumah tangga nya dan demi ank semata wayang nya
nmun sayang pengorbanan nya di sia siakan dengan penghianatan yang di lakukan suaminya itu.
__ADS_1
**☆☆☆☆☆☆☆☆
hallo reder semua selamat hari raya idul fitri 1443 H Minal Aidzin Wafaidzin mohon maaf lahir dan batin**.